She Wear a Red Dress

1570 Words
“Let’s hope that for every time that we get hurt or break our heart, there is something somewhere being written to make up for it, to make the happiness due even bigger and laughters even merrier, for after all good things must happen to good people.“ Mansi Soni Siapa bilang pria tidak merasakan patah hati? Justru pria mengalami masa paling sulit ketika mengalami patah hati. Rasa sakit yang dirasa jauh lebih dalam dari pada rasa sakit yang dirasakan seorang wanita. Wanita bisa saja melampiaskan semua yang dirasakan melalui bahasa verbal kepada sahabat, keluarga atau bahkan teman prianya. Tapi tidak dengan pria. Ia memendam apa yang ia rasakan. Tertutup begitu rapat. Selalu terlihat tegar, namun batinnya terluka. Ribuan lagu sedih, rangkaian kalimat sendu tidak mampu mewakilkan perasaan seorang pria. Begitu pula yang dirasakan Lenan Jahja. Pria 38 tahun ini mengalami patah hati di umurnya yang tidak lagi muda. Jauh lebih terkendali memang, daripada saat masih remaja dulu. Namun seberapa sering manusia merasakan patah hati, nyatanya tidak membuat manusia terbiasa. Entah apa yang membuat hal itu menjadi begitu berat dilalui. Mungkin kebiasaan yang hilang, atau perasaan insecure karena tahu orang yang diinginkan untuk mencintai tidak balik mencintai. Mungkin juga karena hati nurani yang dimiliki manusia untuk bertindak sesuai insting. Misalnya, insting mengasihi sesama manusia, dan ketika tidak ada penyaluran kemudian manusia akan merasa hampa dan kosong.  Tidak ada patah yang tidak menyebabkan luka, itulah sebab manusia merasakan sakit ketika patah hati. Impian Lenan untuk menikah sebelum berumur 40 tahun, terasa seperti angan saat ini. Sebagian besar teman-temannya bahkan sudah menggendong anak. Sementara Ia masih sibuk mengelola J group, dan kadang meluangkan waktunya yang tidak banyak untuk Cila. Mengurus sebuah perusahaan besar tidak mudah, apalagi kondisi perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi yang kurang baik. Berbagai macam strategi yang dikerahkan agar J group tetap eksis dilakukan Lenan, ekspansi besar-besaran, pembukaan cabang baru, meeting untuk membahas strategi pemasaran yang efektif dan efisien, pembuatan lini bisnis baru, perombakan struktur perusahaan, belum lagi harus berurusan dengan pemerintah terkait aturan aturan yang kadang tidak menguntungkan perusahaan dan juga kegiatan lain yang sangat menyita waktu Lenan. Kegiatan harus menghadiri pernikahan rekanan bisnisnya malam ini contohnya. Setelan jas Emporio Armani nampak begitu gagah di badannya. Lenan yang tinggi dan berotot begitu terlihat maskulin dan mengintimidasi. Parfum Dior yang beraroma khas karena mengandung aroma kayu, perpaduan daun aroma lavender dan lumut hijau semakin menambah sempurna penampilan Lenan malam ini. Lenan berjalan memasuki ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta, sambil sesekali tersenyum saat Ia bertabrakan mata dengan orang yang Ia kenal. Entah sudah berapa banyak acara pernikahan, meeting dan acara lain yang Ia hadiri, namun Lenan masih saja tidak terlalu nyaman dengan keramaian. Separuh jiwanya adalah introvert, kondisilah yang mewajibkan dia menjadi seorang extrovert. Dia tidak terlalu nyaman berhadapan dengan stranger namun ironisnya dia selalu berhadapan dengan stranger hampir setiap waktu. Pesan Shenan malam ini untuk Lenan Jahja adalah, jangan menjadi introvert, bersenang senanglah di pesta, dan mulai membuka hati, siapa yang tidak mau jadi pasangan seorang Lenan Jahja, drop dead gorgeous man! Lenan masih saja tersenyum bila mengingat nasihat Shenan persis sebelum Ia masuk kedalam mobil tadi. Tidak sulit memang kalau hanya mencari sembarang wanita. Banyak wanita dari kalangan atas yang juga menyukai Lenan sampai karyawan-karyawan J Group pun mengidolakannya Selain itu sudah berapa banyak kertas bertuliskan nomer ponsel wanita yang dengan sengaja diselipkan ke saku baju kemejanya saat Ia dipaksa datang ke bar oleh Jimmy dan Hamifh, Duo Trouble Maker sahabat Lenan. Namun bukan itu yang Lenan Jahja cari. Ia hanya ingin menemukan wanita yang bisa membuatnya ingin hidup bersama selamanya, bukan hanya wanita yang dinikmati semalam dan selesai. Beberapa menit berlalu tanpa perubahan, Lenan masih berdiri ditempat yang sama sedang menimbang-nimbang kapan Ia harus memberi selamat kepada kedua mempelai, hingga Ia mendengar namanya dipanggil. "LENAN!" teriak seorang wanita dengan gaun berwarna emas yang bertabur banyak manik-manik cantik dibagian pundak dan d**a. Wanita itu mengibaskan rambutnya sambil berlari kecil menembus kerumunan menghampiri Lenan. "Udah lama banget gue nggak ketemu lo Nan. Gimana kabar? " Ujar wanita itu seraya menempelkan pipinya pada Lenan kekanan dan kekiri.  "Tasya Kumala?" tanya Lenan sedikit ragu.  "Iya ini gue. Temen SMA lo. Tega banget lo lupa. Kelamaan kuliah di luar negeri si lo dulu, jadi lupa kan sama gue." Cerocos Tasya membuat Lenan tersenyum dalam diam. "Lo sendiri aja? " sambung Tasya kemudian.  "Sama lo sih sekarang. " jawab Lenan santai.  "Lo single sekarang? Gue lama nggak update gossip anak-anak SMA kita nih. Maklum ribet ngurus anak mau masuk SMP. Lo masih irit ngomong aja by the way" Lenan tertawa tanpa suara. Tasya memang termasuk dalam golongan temannya yang menikah muda. Tapi kenyataan bahwa anak Tasya sudah mau masuk SMP masih mengejutkan Lenan. "Udah gede aja anak lo Sya." komentar Lenan. "Eh bentar-bentar Nan.Ya, halo? Kenapa Hun? Ooo, Ini aku di deket panggung MC Hun. Iya, aku kesana." Tasya menjauhkan gagang telfonnya dari telinga. "Nan, gue mau samper laki gue dulu ya. Dia mau ke panggung ngasih selamet Adam Amy terus mau langsung balik. Dari tadi bukannya ngasih selamet malah haha hihi dulu kesana kemari. Dasar laki." Rutuk Tasya kesal. "Eh, apa mau bareng aja yuk? " timpal Tasya lagi. "Lo duluan aja, gue mau minum dulu." Tasya mengangguk mengerti, kemudian Ia melambaikan tangannya dan pamit. Tasya melenggang pergi dan hilang di kerumunan. Namun alis Lenan tanpa sadar berkerut, sosok Tasya yang hilang dikerumunan itu tergantikan dengan seorang wanita bergaun merah yang terlihat mengusap air mata, lalu mengibaskan tangannya di depan wajah seolah kibasan tangannya akan menimbulkan sedikit angin, membuat Lenan semakin memperhatikan gerak geriknya. 10 menit kemudian, Lenan seperti terhipnotis dan mengikuti kemana Si-Wanita-Bergaun-Merah itu pergi. Bukan Lenan Jahja memang, mengikuti seorang wanita diam-diam. Ia yakin betul pernah bertemu wanita ini sebelumnya apalagi ingatannya sangat bagus walau kali ini si-wanita-bergaun-merah ini nampak begitu berbeda dari sebelumnya, mungkin karena gaun yang dikenakan pikir Lenan. Wanita yang tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di sBux dan mengatakan bahwa sudah kesekian kali kehilangan ponsel, bagaimana mungkin Lenan bisa melupakan moment itu? "Hahaha iya nih. Akhirnya gue laku setelah dibuang sama lo." kalimat mempelai pria terdengar di telinga Lenan membuat Lenan berspekulasi hubungan antara mempelai pria, mempelai wanita, si-wanita-bergaun-merah dan air mata yang menetes malam ini. Tanpa sadar Lenan tersenyum tipis, mempertanyakan apa yang Ia lakukan. Percakapan selanjutnya terdengar samar-samar karena Lenan sibuk memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Membuntuti seorang wanita asing dan menerka-nerka drama apa yang terjadi adalah hal yang hampir mustahil dilakukan oleh seorang Lenan Jahja.  Lenan tidak mengenal secara person kedua mempelai sebenarnya, Ia datang ke pernikahan tersebut karena Ibu dari mempelai wanita sahabat orang tuanya, selain itu Ibu Tere merupakan Senior General Manager Litigasi di salah satu lini bisnis J Group. Kalau ditilik dari struktur organisasi J Group yang masih terbelah menjadi berbagai lini bisnis dimana masing-masing bisnis memiliki struktur organisasi lagi yang lebih bercabang, seorang dengan jabatan Senior Manager memang jauh jaraknya dengan Presiden Direktur dan jajarannya. Lenan Jahja pun tidak terlalu akrab dengan Ibu Tere secara pribadi, namun dia datang karena orang tuanya tidak bisa datang dan juga sebagai wujud rasa hormat serta terimakasihnya karena Ibu Tere sudah memberikan waktu, tenaga, pikiran agar J Group capable of being sustained. Setidaknya itu alasan keberadaan seorang Lenan yang tidak menyukai keramaian malam ini, namun Lenan masih belum bisa menemukan alasan mengapa Ia meraih lengan wanita-bergaun-merah yang hampir jatuh dari tangga karena tersandung lampu sorot yang tertutup karpet. Impulsive memang, atau bisa jadi karena naluri. Lenan masih saja merengkuh lengan wanita itu hingga wanita-bergaun-merah itu menarik kembali lengannya.  Lenan membutuhkan alasan. Dia tipe lelaki yang melakukan sesuatu berdasarkan alasan, baginya semua hal yang terjadi di dunia ini pasti ada alasannya dan memang harus ada alasannya. Seperti alasan Tuhan menciptakan dunia ini, alasan seorang anak sekolah yang tidak mau berangkat sekolah, dan juga alasan mengapa Lenan mengajak si-wanita-bergaun-merah ini untuk menikmati pesta bersama malam ini.  "Istri sama anakmu nggak diajak?" tanya wanita-bergaun-merah yang Lenan ketahui bernama Ken setelah beberapa menit obrolan singkat. Lenan terdiam sejenak, bukan karena tidak tahu harus menjawab apa namun Ia kaget dengan pertanyaan yang ditanyakan Ken. Belum pernah dalam hidupnya ada orang yang menanyakan hal seperti itu. Lenan mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan bahwa Ia belum menikah dan belum memiliki anak tanpa harus terdengar seperti klarifikasi bahwa Ia masih single. That is supposed to be a thing kalau Lenan salah merangkai kalimat. Alih-alih menggunakan kata sapa Lo-Gue atau Aku-Kamu, Lenan juga memilih Saya dan Anda. Mengingat pemilihan kata yang salah, bisa menimbulkan makna yang berbeda. "Belum ada yang bisa diajak sayangnya." jawab Lenan yang kemudian Ia sesali. Is that supposed to be a thing?! Kesalahan rangkaian kata, sesal Lenan. Ken nampak tidak puas dengan jawaban Lenan. Begitupula Lenan yang tidak puas dengan pemilihan kalimatnya sendiri. Akan tetapi entah mengapa Lenan merasa harus meluruskan hal itu tanpa tahu alasannya. Lenan tidak ingin wanita ini mengira bahwa dia sudah menikah.  Lenan Jahja yang mengklaim dirinya sendiri sebagai pria rasional masih mencari alasan dibalik semua hal yang terjadi. Pertemuan Lenan dan Ken di sBux memang kebetulan, pertemuannya dengan Ken saat ini juga tanpa sengaja. Akan tetapi membuntuti Ken sampai di panggung dan meraih lengan Ken ketika Ken akan jatuh jelas bukan ketidak sengajaan.  Pada kenyataannya Alam semesta memberikan manusia pilihan jalan takdir bagi mereka yang menyadarinya, namun manusia sendirilah yang pada akhirnya menentukan jalan hidupnya sendiri. Seperti Lenan yang memilih meraih lengan Ken malam ini, seperti Lenan yang memilih mengajak Ken untuk berbincang. Semua itu adalah jalan takdir yang Lenan pilih sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD