Kesepuluh

1152 Words
Kesepuluh "Setiap orang menahan sakit dalam hatinya." —Fairy Tale— Keesokan harinya Rhea sengaja datang pagi-pagi ke sekolah setelah memastikan kalau Sagar akan datang. Dia menunggu di depan gerbang sambil sesekali melihat jam tangannya. Kata orang-orang Sagar selalu datang pagi-pagi tapi ini sidah hampir pukul tujuh pagi sedangkan cowok itu belum juga datang. Saat Rhea hampir menyerah, tiba-tiba dia mendengar suara motor yang ternyata sedang dikendarai oleh Sagar. Dari kejauhan saja wajah cowok itu sudah lebam-lebam, apa semalam Sagar kalah melawan Moza? Didera rada khawatir Rhea langsung menghalangi Sagar masuk ke dalam dan hampir membuat cowok itu hilang keseimbangan. "Ampun deh, Rhe. Kalau aku jatuh gimana?" pekik Sagar. Rhea mengangkat bahunya tidak peduli. "Kalau kamu jatuh ya tinggal bawa ke rumah sakit aja. Gampang, kan?" Sagar hanya cemberut, kemudian dia menyuruh Rhea untuk naik karena tahu Rhea sedang menunggu penjelasannya. Dengan tidak memedulikan tatapan semua orang Rhea naik ke motor maticnya Sagar walau yang mereka tuju tidak seberapa jauh. Tapi percayalah, Sagar ini satu-satunya cowok tukang ngiles. Kalau tidak ditahan, cowok itu tidak akan buka mulut. Diperhatikannya wajah Sagar yang penuh lebam kemudian memberikan kotak obat ke Sagar. Sagar tersenyum menggoda. "Gak mau sekalian obatin muka aku juga?" tanyanya. Kalau saja Sagar sedang tidak terluka sudah Rhea pukul tuh wajah, tapi Rhea malah tersenyum—terkesan menakutkan sesungguhnya. "Obatin? Kalau mau gue pukulin dulu baru gue obatin." Senyum di wajah Sagar luntur. "Yahh, gitu banget, sih." Dia mencebik, hanya menyimpan kotak obatnya, Rhea tidak peduli, dia hanya memanggil Sagar dan bertanya kenapa Sagar berusaha keras buat menang padahal dirinya saja tidak berusha untuk memperbaiki nilainya yang masih tetap jelek. Kenapa Sagar menolongnya dari Moza? Rhea tahu jika Sagar berurusan dengan ketua geng itu maka selamanya Sagar tidak akan lepas dari ancaman Moza sebelum cowok itu mengalahkan Sagar. "Aku udah tau semua resikonya, meski aku berusaha menahannya tapi semuanya tetap terjadi 'kan?" Sagar tersenyum. "Aku nggak suka mereka nyakitin kamu. Cuma pecundang yang mukul cewek, dan aku bukannya udah janji sama kamu bakalan nepatin janji aku? Aku berhasil menang, dan semua resikonya, bakal aku terima asalkan kamu baik-baik aja." Rhea diam. Mulutnya terkunci. Dia hanya bisa memandang senyuman lebar Sagar yang untuk pertama kalinya berhasil menyihirnya untuk terus menatap Sagar. Tidak ada orang yang berkata seperti itu selain kakaknya. Tidak ada yang mau dirinya baik-baik saja selain kakaknya yang meninggalkannya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada lagi orang yang menginginkan keberadaannya. "Lagi pula, kamu nepatin janji kamu kok." Sagar menunjukan kertas ulangan Rhea. "Nilaimu naik 0,5. Wahh, lain kali kamu harus lebih berusaha lagi ya?" Dan kali itu napas Rhea seperti habis. Hanya karena 0,5 Sagar mati-matian balapan melawan Feri dan berkelahi dengan Moza? Itu bukan 8 apalagi sepuluh tetapi Sagar mengorbankan segalanya? Untuk dirinya? Melihat Rhea yang banyak diam, Sagar mengelus kepala Rhea. Cewek itu mencebik kesal, setelah memukul lengan Sagar dia pergi ke dalam sekolah. Sementara Sagar tiba-tiba saja terjatuh sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Meski terengah bibirnya mengulas senyum kecil. "Udah gue bilang, jangan jatuh cinta sama gue," gumamnya. *** Dan untuk kesekian kalinya Sagar kembali membolos, setelah sakitnya mereda dia langsung pergi menemui dokter Satria dan memeriksakan dirinya. Dokter Satria bilang kalau kondisinya sedikit membaik tapi Sagar harus menjaga tubuhnya agar tidak terlalu kelelahan. Dalam hati Sagar tersenyum, apa itu berarti dia punya kesempatan untuk hidup? Keluar dari ruang dokter Satria cowok itu berjalan menyusuri lorong dengan senyum lebar di wajah sampai kemudian dia mendengar nama seseorang disebutkan. Penasaran, Sagar menguping dan berhasil mencari tahu di mana kamar nama itu berada. Setelah memastikan beberapa kali, Sagar masuk ke dalam kamar, melihat sosok cowok sedang marah-marah pada seseorang di telepon. Sagar tersenyum dan masuk ke dalam. "Udah gue bilang, gue nggak mau minum obat!" teriak cowok itu kesal, tanpa melihat wajah Sagar. Sagar hanya tersenyum. "Ternyata sifat lo nggak berubah ya, Sam?" Sedangkan di ujung sana Samudera terkejut melihat kedatangan Sagar. "Sagar?" *** Hari itu ketika anak-anak SMA 21 Jakarta mengumumkan bahwa mereka akan tawuran dengan SMA Century yang suka cari gara-gara dengan mereka semuanya langsung senang dan merencanakan strategi walaupun pada akhirnya cara tawuran itu tetaplah sama. Berantakan, tidak beraturan. Sagar yang memang selalu ikut tawuran seperti sejak dari SMP hanya berdiam diri sambil memerhatikan keadaan sekitar. Beberapa kali dia kena tonjokan hingga membuatnya marah. Sampai kemudian dia kena pukulan seseorang, saat Sagar hendak membalasnya tiba-tiba saja seseorang menarik kerah bajunya dan mau memukulnya. Namun Sagar malah bengong melihat cowok itu. "Lho, lo 'kan cowok yang di rumah sakit itu?" Cowok itu sama bingungnya seperti Sagar. Tangannya yang hendak meninju melayang di udara. "Bener, lo. Lo 'kan cowok yang mohon sama Tuhan buat nuker nyawa lo sama cewek lo." Cowok itu bergerak mundur, jelas dia sangat terkejut dengan perkataan Sagar. "Lo tau?" Sagar tersenyum. "Tentulah, lo bikin heboh se-UGD, bukannya temen lo juga tau? Siapa ya namanya? Lamar, Dinar, ahh ya Damar Prajasa. Gue liat namanya di name-tage." Kedua cowok itu menarik diri dari pertempuran dan duduk di depan minimarket dengan sebotol air mineral di tangan masing-masing. Keduanya saling menatap, Sagar lebih suka menghindari tatapan cowok itu yang seperti hendak menerkamnya hidup-hidup. "Ishh, berhenti mandang gue kayak gitu. Gue bukan hantu," kata Sagar pada akhirnya. Cowok itu menyandar, masih terus menatap Sagar. "Sam, Samudera," ujarnya memperkenalkan diri. "Sagar, Sagara." Samudera menaikan sebelah alisnya kemudian tersenyum kecil. "Kebetulan yang hebat," gumamnya tidak dimengerti Sagar. "Gue harap hidup kita juga nggak sama," lanjutnya mengangkat bahu. Sagar mengamati Samudera. "Lo orang baru ya? Gue baru liat lo." Samudera meminum air mineralnya sambil memandang Sagar. "Kayaknya lo keliatan banget sering tawurannya. Dan gue emang baru ikutan sekarang, seru juga ternyata." "Biar gue tebak, lo pasti sedang marah kan? Makanya lo ikutan tawuran?" Samudera menutup mulutnya dengan gaya lebay. "Wahh, bahkan lo juga tau masalah gue? Jangan-jangan dewasa nanti lo buka perusahaan cenayang lagi." Sagar mencibir sedangkan Samudera tertawa lebar sampai matanya berair. Dia hanya memerhatikan cowok yang baru dikenalnya itu, Sagar memang tidak tahu terlalu banyak tentang Samudera. Tapi ketika Sagar melihat Samudera setahun yang lalu—ketika cowok itu dimarahi oleh papanya dan mohon buat nuker nyawanya—Sagar merasa hidup Samudera tidak jauh beda darinya, dan mungkin hidup Samudera sedikit lebih beruntung darinya. "Nggak lucu, jangan ketawa gitu deh." Samudera hanya tersenyum. "Lo sering ikut tawuran?" Sagar mengangkat bahunya. "Bukan hal yang baru kayak lo." "Berarti lo banyak masalah juga." "Seenggaknya masalah gue gak seribet masalah lo." Kepala Sagar meneleng, menatap Samudera. "Bukannya lo lagi nyari mama lo 'kan?" Samudera terkejut, cowok satu ini kenapa bisa tahu banyak tentangnya? Apa Sagar melihat semua kehidupannya. "Gue nggak bermaksud buat ikut campur. Tapi ... gue nggak sengaja liat foto mama lo di rumah sakit. Dia ..." "Lo tau ada di mana mama gue?" Samudera bertanya penuh harap. Kepalanya mengangguk. "Heem, Someday Cafe. Dia ada di sana." Samudera tersenyum miring, antara bahagia dan heran. "Kayaknya hidup kita bener-bener sama deh, Gar." "Hah? Maksudnya?" Sanudera tidak menjawab, hanya tersenyum yang membuat Sagar penasaran dengan artinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD