Keempatbelas

1610 Words
Keempat Belas "Ada saat di mana aku ingin menghentikan waktu untuk selamanya. Yaitu saat ada kata-kata yang tidak ingin kudengar." —Man From the Stars— Mereka berdua duduk di meja pojok yang kebetulan kosong—meski tadi ada yang ingin menempati namun Noah malah mengusirnya dan menyuruhnya untuk duduk di lain tempat saja. Keren, sedikit ramah dan sedikit aneh itulah kesan Noah di mata Sagar. Lelaki bermata hitam itu menyilakan Sagar untuk duduk dan menyuruh salah satu pelayan di sana untuk membawa dua latte. "Jadi kamu sudah menentukan pilihannya?" Noah bertanya saat pelayan yang membawakan latte sudah pergi. Sagar mengerjap. "Eh, ya. Tapi Narakanya mana?" Noah tersenyum. "Raka sudah kembali ke Jepang, dia nggak bisa lama-lama tinggal di sini." "Kenapa?" Sagar teringat dengan kata-kata misteriusnya Naraka saat mereka hendak balapan. "Banyak kerjaan yang harus diselesain. Dia nyuruh saya buat ngejelasin maksudnya. Tapi sebelum itu film mana yang kamu pilih, Snow White atau Little Mermaid." Sagar menghela napas. "Tapi sebelumnya aku ingin tau, kenapa kamu dan Naraka menyuruhku untuk memilih." Noah menarik napas panjang dan menyandarkan bahunya ke punggung kursi. "Karena itu berhubungan dengan hidupmu." Sagar mengerutkan keningnya tidak mengerti, Noah terkekeh. "Naraka terlihat aneh karena dia berbeda dari kebanyakan orang. Nggak ada orang yang bisa ngerti dia, makanya sekalinya dia bicara malah bikin semua orang bingung. Tapi siapa pun akan terkejut ketika mendengar kata-katanya. "Mungkin nggak akan heran jika Naraka bisa membaca pikiran setiap orang—karena saya juga bisa melakukannya (membaca pikiran). Tapi Raka punya kelebihan lain lagi. Dia ... bisa mengetahui masa depan setiap orang. Sebab itulah Naraka terlihat aneh. Dan sepertinya dia melihat masa depanmu." "Apa?" Respon Sagar benar-benar menyebalkan sesungguhnya. Namun siapa pun yang mendengar perkataan Noah pasti heran. Di dunia ini ada yang bisa membaca pikiran dan mengetahui masa depan setiap orang? Sungguh hebat atau sungguh aneh?! Sagar tidak tahu. Di depannya Noah tertawa pelan, menatap Sagat seolah dia tahu jalan pikiran Sagar. "Terserah kamu ingin menganggapnya apa, tapi kami memang seperti itu. Saya bahkan tahu kalau kamu baru saja bertemu dengan ayah kandung kamu, benar, kan?" Mata Sagar terbelalak, tidak ada siapa pun yang tahu kalau dia baru saja bertemu dengan Om Vano, tetapi Noah bisa menebaknya. "Wahh, jadi benar." Noah mengedikan bahunya. "Jadi, mana yang kamu pilih?" Noah menaikan sebelah alisnya. "Little Mermaid?" tanyanya dengan nada terkejut. Sagar tidak lagi terkejut saat Noah menebak pikirannya, namun yang membuatnya heran adalah kenapa Noah terkejut sekali saat dia memilih Little Mermaid. "Kenapa Little Mermaid?" Cowok itu gelagapan. "Oh itu, kurasa Little Mermaid lebih bagus. Dia hidup di air, kan?" Noah semakin menunjukan wajah heran. "Memangnya kenapa?" Noah menghela napas panjang, kedua matanya menatap Sagar dengan serius. "Kamu memutuskan untuk memilih jalan hidup seperti Little Mermaid. Apa kamu tahu kalau kisah asli Little Mermaid sedikit nggak menyenangkan? Dia menolong sang pangeran, jatuh hati, namun nggak bisa bersama karena mereka dari alam yang berbeda. Kemudian Little Mermaid mendatangi penyihir laut—atau sebagainya—dan menukarkan lidahnya dengan sebuah kaki, namun setiap kali dia berjalan maka dia seperti berjalan di atas pisau. Dia akan sembuh jika Little Mermaid berhasil menikah dengan pangeran. Tapi sayangnya Little Mermaid gagal, karena pangeran jatuh cinta pada wanita lain dan pada akhirnya dia menghilang menjadi buih." Sagar hanya bisa diam, dahulu ibunya sering membacakan dongeng sebelum tidur. Banyak cerita yang didengarnya namun ini pertama kalinya dia tidak suka mendengar sebuah dongeng. "Apa ... hidupku juga akan seperti itu?" Dan Noah hanya tersenyum kecil sebagai balasannya. "Saya nggak tahu, Raka nggak memberitahu saya secara jelas, tapi Raka bilang pada saya bahwa akan ada temanmu yang berkhianat." Sagar mengerutkan keningnya, berkhianat? "Siapa?" Noah kembali tidak menjawabnya membuat Sagar semakin frustrasi. Apakah dia akan menghilang setelah gagal merubah Rhea? Apa penyakitnya tidak akan sembuh? Lalu siapa temannya yang akan berhianat? Cowok itu menghela napas panjang, dia mencoba untuk menahan emosinya dengan tersenyum menatap Noah. "Jadi seperti itu kan?" Dia sedikit puas, setidaknya sekarang dia tahu bagaimana dia harus menjalani hidupnya. "Dari awal aku sudah tau kalau hidupku nggak akan terlalu menyenangkan. Tapi terima kasih atas infonya. Aku jadi tau bagaimana aku harus hidup sekarang." Noah menganggukan kepalanya. Sagar menatapnya ragu. "Dan boleh aku bertanya satu hal lagi?" Noah menaikan sebelah alisnya. "Naraka pernah mengatakan sesuatu padaku, tapi aku nggak tau artinya apa." Noah mengerutkan keningnya, menatap Sagar lama. "Ohh itu. Harap dimaklum, Raka memang suka main teka-teki, beruntung saya juga bisa bahasa Rusia." Sagar melongo, bahasa Rusia? Naraka? Noah tertawa. "Jangan heran lagi, Naraka menguasai banyak bahasa asing, dan waktu dia bicara dalam bahasa Rusia." "Artinya?" "Tetaplah pada tujuanmu. Nggak peduli jika kamu akan mati, tetaplah di jalan itu. Karena hanya itulah satu-satunya cara yang bisa membuatmu bahagia sekaligus menyakitimu. Benar-benar berkaitan dengan cerita yang kamu pilih, kan?" Dan Sagar tidak bisa menjawabnya. Karena pada kenyataannya hidupnya memang seperti itu. "Lalu, apa yang akan terjadi jika aku memilih Snow White?" Noah menatap Sagar serius. *** Malam itu setelah sekian lama Sagar kembali pulang ke rumahnya. Saat dia masuk, suasana sepi langsung menyambutnya. Terasa dingin dan mencengkam, Sagar tidak menyukainya. Namun dia tetap masuk juga, sambil mengingat-ngingat kapan terakhir dia pulang ke rumah ibunya? 6 bulan lebih sepertinya. Semenjak ibunya meninggal 11 tahun yang lalu, Sagar tidak lagi menempati rumah ini dan hanya menginap beberap kali dalam setahun bersama keluarga angkatnya. Namun 6 bulan terakhir ini Sagar memisahkan diri dengan tinggal di rumah susun. Sendirian. Kamarnya masih sama, tidak ada yang berubah. Dalam hati cowok itu tersenyum, sepertinya pengurus rumah ini tidak merubah sedikit pun interiornya. Dia berjalan mendekat ke arah jendela, melihat kamar di seberang rumahnya yang lampunya masih padam—dalam artian pemilik kamar itu belum tidur. "RHEA!" Sagar berbalik, kembali melihat kamar itu, seorang wanita tampak sedang berdebat dengan Rhea. "Mama pikir dengan menjauhkanku akan membuatku berubah?" Rhea balas bertanya. "Mulai sekarang aku bakalan ngelakuin apa yang kumau. Nggak peduli jika Mama melarang, aku bakalan tetap ngelakuinnya." "Jangan melawan Mama, Rhea!" "Aku udah nyoba buat nggak ngelawan, buat nggak bikin Mama marah tapi kenapa Mama malah tetep nyalahin aku juga? Bukan aku penyebabnya tapi kenapa Mama malah nyalahin aku terus, ngejauhin aku dari segalanya." Wanita itu menatap Rhea tajam. "Turuti perintah Mama, jangan pernah melawan, belajar yang bener dan satu hal lagi. Jangan coba-coba buat main piano lagi!" Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Rhea yang terjatuh ke ranjang. Sagar masih berdiri di sana, menatap Rhea dengan rasa bersalah. Apakah Tante Sasa sudah mendengar kalau Rhea akan ikut berpartisipasi dalam acara festival itu? Sebagai pemain piano? Sagar hanya ingin hidup Rhea bahagia seperti dulu, bukan nakal tidak jelas seperti sekarang. Sagar hanya tidak suka hidup Rhea terkekang hanya karena kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya sampai-sampai melarang segala yang disukai Rhea. Sebab itulah mengapa Sagar sengaja mendaftarkan Rhea agar cewek itu punya cukup kekuatan untuk melawan. Namun rupanya, jalan yang dipilihnya salah. Dia hanya menyakiti Rhea. Sagar mengambil hapenya dan menghubungi seseorang sambil melihat Rhea yang berusaha menyeka air matanya sampai kemudian menjawab teleponnya. "Halo," sapanya dengan suara sedikit serak. Sagar tersenyum kecil. "Halo, Sayang! Kok, suaranya kedengeran aneh?" Sagar pura-pura bertanya. Rhea langsung berdehem, sebisa mungkin menormalkan nada suaranya. "Jangan panggil gue 'sayang'!" Sagar melihat raut wajah Rhea yang tidak sesedih tadi, dan entah mengapa Sagar merasa senang. "Kenapa? Kamu, kan, emang pacar aku. Nggak papa dong kalau aku manggil kamu 'sayang'. Sayangku Rhea, kamu lagi apa? Kangen banget sama kamu. Nggak ketemu kamu sehari itu bagai nggak ketemu seribu tahun." Rhea mendesis. "Lebaynya mulai kumat, deh." Meski mengomel namun tak ayal membuat cewek itu tersenyum tidak jelas. "Aku nggak lebay, aku serius. Aku kangen banget sama kamu sampai rasanya aku pengen mati aja. Atau aku pergi aja ke rumah kamu?" "Ngapain juga datang ke rumah, yang ada lo bakalan diusir. Tadi ... kenapa lo nggak masuk sekolah?" "Nggak papa diusir juga asal udah liat kamu. Eh ciee, kangen nih ya." Sagar melihat cewek itu sedang tersenyum tidak jelas. "Eh, gue kangen? Dunia udah kiamat kali." Sagar hanya terkekeh. "Jujur juga nggak papa, aku malah seneng." Di seberang sana Rhea mencibir. "Rhea!" panggil Sagar. "Maaf, aku mau minta maaf buat semua kesalahan yang udah aku lakuin ke kamu. Aku udah maksa kamu buat jadi pacar aku, aku maksa kamu buat berubah padahal kamu nggak ingin, maafin aku juga yang udah daftarin kamu gitu aja. Harusnya aku minta ijin dari kamu dulu." "Baru nyadar sekarang?" sinisnya. Meski Rhea tidak akan melihatnya Sagar mengangguk. "Aku bener-bener ngerasa bersalah sama kamu. Kalau aku nggak maksa kamu mungkin sekarang kamu nggak akan kesusahan, nggak perlu belajar buat perbaiki nilai." Dan nggak perlu dimarahi sama Mama kamu sampai kamu nangis, lanjutnya dalam hati. "Sagar ..." "Mungkin udah terlambat, tapi boleh aku minta satu hal padamu? Bisakah kamu nerima aku. Dalam hidup kamu. Sebagai temen, sahabat, pacar. Nggak papa kamu marah-marah sama aku, nggak papa kamu ejek aku asalkan kamu nerima aku. Dan aku juga nggak melarang kamu buat suka sama aku. Kalau kamu mulai menyukaiku, sukai aja aku bakalan seneng. Kalau lamu lagi sedih, pikirin aku aja atau telepon aku. Aku bakal selalu nerima kamu." "Gar, lo belum minum obat ya? Kok, ngomongnya aneh banget." Sagar tersenyum. "Obat aku udah habis, belum sempat beli ke apotek. Dan aku serius. Mulai sekarang kamu harus mulai menerima kalau aku adalah pacar kamu. Telepon aku kalau kamu lagi sedih atau kesepian, aku bakalan ada di sana buat kamu." "Ishh, ngegombalnya nggak mempan. Udah, gue tutup teleponnya. Mau tidur." "Yaudah kalau gitu, selamat tidur, Rhea Sayang." "SINTING!" balas Rhea kesal. Sagar terkekeh, dilihatnya Rhea yang menari tidak jelas di kamarnya sampai kemudian lampu dimatikan. Sagar memejamkan matanya, dadanya terasa sakit dan sesak, sekali lagi dia memandang kamar Rhea yang gelap. "Pikirin aku waktu kamu lagi sedih, nggak papa aku ngerasa sakit juga asalkan kamu nggak sedih lagi." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD