Bab 22: Pertemuan Singkat

2007 Words
Percakapan mereka di ruangan itu berujung pada ketegangan. Anastasia tidak ingin sang duke menemaninya. Sementara sang duke tidak bisa membiarkan Anastasia berkeliaran seorang diri. Lama mereka berdebat hingga pada akhirnya sang duke yang mengalah. Tidak ingin membuang waktu untuk hal yang tidak berguna karena sudah satu jam lalu mereka sampai di penginapan dan selama itu mereka mendebatkan hal yang sama. "Petang hari nanti kau harus sudah selesai dengan urusanmu." Apakah itu berarti sang duke mengizinkannya untuk pergi seorang diri? Namun, bagi Anastasia yang sudah berpisah lama dengan keluarganya, waktu pagi hingga petang hari sangat singkat. Dia sudah jauh-jauh datang setelah berupaya keluar dari Morning Glory. Bertemu sebentar saja tidak sebanding dengan apa yang diusahakannya. "Aku membutuhkan waktu lebih." Sang duke tampak tidak setuju, akan tetapi jika dia mendebat permintaan kedua itu, waktu mereka akan lebih banyak terbuang untuk sesuatu yang sia-sia. Anastasia terlalu keras kepala sebagai seorang pembunuh. Tidak tau bahwa dirinya sedang dalam posisi yang tidak seharusnya menuntut banyak permintaan. "Kita akan bertemu lagi di penginapan ini nanti malam." Bangkit menjauhi kursinya, lalu menghampiri Anastasia yang berdiri di dekat pintu. Raut wajahnya berubah serius dan seolah mengintimidasi. "Aku tidak akan berbelas kasihan lagi jika kau mencoba untuk melarikan diri." Anastasia menelan ketakutannya. Sementara tangannya menarik pedang dari sarung, lalu menunjukkannya pada sang duke. "Aku akan pastikan untuk mengembalikannya sebelum aku melarikan diri." Ucapnya sungguh-sungguh. Sang duke mengeraskan gerahamnya dan memalingkan tatapan. Meloloskan mangsanya pergi untuk kali ini. Sedangkan Anastasia yang sudah diberi celah tidak membuang kesempatan dan langsung berlalu pergi sembari menyarungkan pedangnya kembali. "Anastasia," sang duke menolehkan kepala ke belakang, ke arah Anastasia yang sudah menarik gagang pintu. Mereka saling bertatapan dalam rasa yang tidak bisa dideskripsikan bagaimana. "Kau harus berhati-hati." Anastasia bergumam sebagai jawaban dan tanpa mau membuang waktu lagi dia keluar dari kamar meninggalkan sang duke. Dia memakai tudung kepalanya kembali dan menuruni tangga satu persatu. Selama langkah yang akan membawanya pulang ke rumah, dia sedikit takut akan kegagalannya. Dia takut ketahuan oleh para prajurit dan terlebih dari itu dia belum siap untuk mati. Di balik jubah berwarna coklat gelap itu tangannya yang gemetar saling menggenggam erat. Padahal dia seorang diri setiap kali melakukan pelarian. Dia seharusnya baik-baik saja seperti yang sudah-sudah dan sanggup menghadapi apa pun. Namun, kenapa kali ini berbeda? Kenapa dia ingin sekali mendapatkan perlindungan? Sejak kapan sebenarnya dia bergantung pada sang duke? Anastasia tidak membiarkan ketakutan larut dalam pikiran yang hanya akan membuat dirinya mundur. Dia menyingkirkan semua itu dan fokus kepada tujuan untuk apa dia datang ke distrik Syringa. Tangan yang saling menggenggam dialihkan pada gagang pedang. Menjadikannya sebagai sumber kekuatan yang mana sewaktu-waktu dapat dipakai jika musuh menghadang. Rupanya dari jauh sang duke memperhatikan punggung itu. Dia tentu tidak bodoh membiarkan Anastasia pergi sendirian. Apalagi dia sudah sangat penasaran akan diberikan pada siapa bunga teluki itu sampai-sampai Anastasia tidak ingin diikuti. Selain itu dia ingin melihat rupa pria yang sanggup membuat Anastasia mengorbankan nyawa. Dia terus mengikuti hingga mereka sampai di rumah yang memang sudah pernah disinggahinya beberapa waktu lalu bersama Flint. Tempat tinggal Anastasia yang mana kosong tanpa penghuni. Mungkin kini tidak lagi kosong karena pasti pujaan hati Anastasia sedang menunggu di dalam sana. Sayang sekali apa yang dilihatnya jelas berbeda. Anastasia tidak menuju rumah kosong itu dan sebaliknya menuju rumah yang ada di samping rumah kosong tersebut. Dahinya mengerut dalam dan yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah apakah Anastasia pindah rumah? Atau mungkinkah dia salah informasi dan lagi.. Ada dua orang anak kecil keluar dari dalam rumah yang Anastasia tuju. Dia langsung bergegas menghampiri rumah itu setelah Anastasia masuk. Dari balik jendela dia mengintip bagaimana mereka saling mengungkapkan kerinduan dengan sebuah pelukan. Siapa mereka? Bukankah Anastasia hidup seorang diri? Atau dia benar-benar salah informasi selama ini? "Kau siapa?" Sang duke menoleh ke asal suara dan dia melihat seorang wanita paruh baya sedang kebingungan melihatnya. Dia memperbaiki letak tudungnya tanpa alasan dan langsung saja menyelinap pergi. Mungkin untuk sementara waktu dia akan membiarkan Anastasia. Wanita paruh baya yang mana adalah Liana hanya memandang heran. Dia tidak berniat untuk bertanya lebih jauh dan lebih memilih masuk ke dalam rumah. Melihat keadaan Hana dan Hani adalah hal yang paling penting baginya saat ini karena kedua anaknya itu ditinggal berdua saja tanpa ada yang mengawasi. Dia harus memastikan keadaan anak-anaknya sebelum mencari pekerjaan tambahan. Baru saja memasuki rumah, Liana sudah dibuat tercengang oleh kehadiran anak sulungnya. Dia langsung menghamburkan diri dan memeluk Alicia. Air mata haru langsung membasahi pipi mereka. Dia tidak menyangka jika apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Dia hampir putus asa mengetahui anaknya entah berada di mana dan semua itu terbayarkan dengan kehadiran Alicia di depan mata. Hana dan Hani memeluk kaki Alicia sambil merungut sedih. "Eli, kemana saja kau selama ini?" Ujar mereka serempak. Pelukan ibu dan anak itu harus lepas oleh pertanyaan Hana dan Hani. Alicia menurunkan tubuhnya agar tatapannya bisa sejajar saat berbicara. Dia mengusap pipi adik-adiknya dengan tangan kanan dan tangan kirinya secara bersamaan. "Aku mencari pangeran tampan di luar sana untuk dibawa ke rumah nanti. Petualanganku cukup panjang untuk mencarinya karena kerajaannya sangat jauh." Hana dan Hani teringat akan dongeng terakhir yang Alicia ceritakan. Katanya ada sebuah kerajaan yang jauh dari distrik Syringa. Di sana ada pria yang terkenal akan ketampanannya dan juga kepemimpinannya. Mereka sangat menyukai cerita itu dan berharap bisa bertemu dengan pangeran tersebut. "Apa kau sudah menemukan pangeran tampan itu, Eli?" Ujar mereka serempak kembali. Alicia dan Liana tersenyum geli memandangi betapa penasarannya Hana dan Hani saat ini. Tentu saja ocehan itu adalah siasat Alicia agar kedua adiknya tidak mengkhawatirkan keadaannya dan ternyata umpannya berhasil. Sepasang anak kembar itu tampak hanyut dengan dongeng tersebut. Alicia menggelengkan kepala diikuti oleh gumaman yang menyatakan 'Tidak'. "Aku belum menemukannya," memandangi raut wajah adiknya yang berubah sedih. "Tapi aku akan segera bertemu dengannya dan membawanya ke rumah kita." "Benarkah? Kalau begitu kami akan sangat sibuk sebentar lagi." Ucap mereka riang, lalu berlari ke kamar. Dimulai dari kamar, mereka berniat untuk membersihkan rumah. Bersiap-siap menanti pangeran tampan yang sebenarnya tidak tau kapan akan datang. Kini tinggal Alicia dan Liana saja di sana. Suasana berubah serius ketika Liana mengunci pintu rumah dan menutup gorden. Tidak membiarkan siapa pun tau pembicaraan mereka. Setelah itu dia menghampiri Alicia yang duduk di kursi tamu. Dia pun ikut duduk di samping Alicia dengan poisi yang berhadap-hadapan. "Katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi, Alicia?" "Aku tidak tau. Setelah aku pulang dari istana Primrose dan baru akan melewati gerbang distrik Syringa, prajurit yang berjaga menangkapku dengan alasan kalau aku membunuh putri Haura." Menatap Liana dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak melakukannya, bu. Kau harus percaya padaku." Liana memeluk Alicia yang matanya sudah berkaca-kaca itu karena dia sangat tau bagaimana anaknya. Tidak mungkin Alicia melakukan hal yang sangat berdosa seperti menghilangkan nyawa seseorang. Dibandingkan itu semua dia lebih mengkhawatirkan kehidupan anaknya yang mana tidak diketahuinya selama tinggal jauh darinya. Liana membuat jarak di antara mereka dan dia tidak mau berlama-lama menyimpan rasa kekhawatirannya. "Sekarang katakan padaku di mana kau selama ini tinggal? Dan.. apakah kau makan dengan cukup baik di luar sana?" Kehidupan Alicia selama di distrik Edelweiss sungguh sangat baik. Dia mendapatkan pelayanan terbaik sebagai istri seorang duke. Makanan yang selalu disediakan oleh koki handal Morning Glory, tempat tinggal yang begitu mewah dengan penjagaan di mana-mana, tidak perlu merisaukan masalah keuangan, pakaian yang dirancang secara khusus oleh tangan hebat Pirsa, pelajaran yang berkualitas dari Gilda meski sering mendapatkan hukuman atas kelalaiannya sendiri. Namun, semua itu dia dapatkan dari seorang duke yang berpotensi sebagai musuhnya. Bagaimana dia harus mengatakannya pada ibunya? Alicia turun dari duduknya dan bersimpuh di hadapan ibunya. "Maafkan aku, bu." "A-ada apa ini, Eli?" Kebingungan sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Baru kali ini Alicia bersimpuh di hadapannya dan apa yang terjadi pasti merupakan sesuatu yang sangat besar. Apa yang terjadi selama Alicia jauh sebenarnya sampai harus meminta maaf seperti itu padanya? Kesalahan apa yang anaknya itu perbuat? "Aku.. sudah menikah." Alicia menundukkan kepalanya di lutut ibunya. Dia sangat takut kalau keputusannya itu membuat ibunya bersedih hati. Menikah? Apa yang didengar Liana adalah berita bagus. Anaknya sudah menikah. Tetapi dia sungguh terkejut kenapa Alicia memutusakan untuk menikah secara tiba-tiba? Apalagi dalam keadaan yang genting seperti saat sekarang. Di samping itu dengan siapa Alicia menikah? Dia tidak pernah melihat anaknya dekat dengan pria lain karena selama ini Alicia sibuk membantunya mencari nafkah. Liana mengangkat kepala Alicia dan yang dilihatnya air mata sudah mengalir di sana. Dia menghapus air mata itu dan menopang dagu Alicia dengan kedua tangan. "Siapa pria yang kau nikahi? Kenapa kau tidak membawanya kemari? Aku sangat ingin bertemu dengannya." "Bu, maafkan aku. Aku menikahi seorang duke. Pernikahan kami hanya sebatas kerja sama saja untuk mengusut kematian putri Haura. Dia bersedia membantuku agar nama baikku kembali." Alicia tentu tau apa yang diucapkannya sekarang namun dia harus siap menghadapi konsekuensinya. Liana tercengang tidak percaya. Bagaimana bisa anaknya menikah dengan seorang duke? Apa Alicia tidak tau kalau sekarang yang harus dihindari adalah orang yang memihak pada kerajaan? "Kau percaya begitu saja padanya? Tidakkah kau berpikir bahwa penguasa seperti mereka bisa saja membalikkan keadaan?" Memang Alicia pernah terpikirkan akan hal itu. Dia takut jika nanti sang duke mengkhianati perjanjian kerja sama mereka namun jika dipikirkan lagi, setelah mereka menikah sang duke tidak pernah lagi mengacungkan pedang padanya. Sebaliknya dia diperlakukan terhormat layaknya orang berstatus. Padahal dulunya dia hanya dikenal sebagai seorang gelandangan. Terlebih dari itu.. "Dia membutuhkan aku untuk mengungkap kematian putri Haura. Jadi dia tidak akan mengkhianatiku sampai semuanya terungkap." Ucapnya yang dibaluti keraguan tadinya, semakin yakin setelah menimbang-nimbang kembali waktu yang dihabiskannya di Morning Glory bersama sang duke. Pria itu tampak serius dengan kerja sama yang mereka buat. Liana tidak bisa membantah lagi karena satu-satunya tempat teraman saat ini mungkin adalah di sisi sang duke tersebut. Seperti yang dia ketahui sejak kabar mengenai Alicia berembus, distrik Syringa tidak pernah tenang. Ada saja berita tidak berdasar mengenai Alicia yang mana hanya bisa dia dengar saja tanpa memiliki kekuasaan untuk membantah. Selama ini Alicia tidak pernah terlihat bersama mereka karena lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja dan jika libur pun Alicia jarang keluar rumah. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengawasi Hana dan Hani di rumah atau jika ada waktu dipakai untuk beristirahat. Hanya sesekali saja keluar seperti pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Dia dan kedua anak kembarnya aman saja dari isu pembunuhan yang dilontarkan pada Alicia karena bantuan Caroline yang menyatakan kalau mereka adalah keluarganya. Mengganti identitas Alicia menjadi Caroline dan Caroline menjadi Alicia. Hingga saat prajurit kerajaan memeriksa mereka, tidak timbul kecurigaan sama sekali. "Pulanglah jika kau tidak sanggup lagi, Eli. Kita akan menghadapinya bersama-sama." Ucapnya diakhiri dengan sebuah senyuman tulus seorang ibu yang bersedia menampung anaknya kapan pun. Alicia tampak tersentuh dengan sikap ibunya yang tidak menyalahkannya atas keadaan buruk yang sedang mereka alami. "Terima kasih, bu." Menunduk di pangkuan ibunya dan menangis haru karena ternyata masih ada orang yang mempercayainya. *** Sang duke meneguk rum yang disediakan oleh pelayan Réserve itu. Minuman beralkohol yang didapatkan melalui hasil fermentasi dan distilasi dari molases yaitu air tebu dan nantinya akan dilanjutkan ke proses pematangan di dalam tong yang terbuat dari kayu ek atau kayu jenis lainnya. Rum bukan alkohol yang disukai oleh sang duke sebenarnya namun dia harus menyampingkan ketidaksukaannya untuk sementara waktu. Dia membutuhkan alkohol untuk menemaninya dan di Réserve hanya ada alkohol berjenis rum yang tersedia. Tempat itu sekilas seperti sebuah bar yang minim pencahayaan luar. Dia tau kalau ada banyak transaksi ilegal di dalam restoran yang lebih banyak dikunjungi di distrik Syringa itu. Tidak ada penanganan dari pemimpin distrik itu sendiri. Bukan sesuatu yang patut dipertanyakan lagi karena dia tau duke Charles orang yang seperti apa. Di tempat seperti inikah Anastasia dulunya bekerja? Sungguh sangat bertolak belakang dengan kepribadian wanita itu yang polos dan taunya hanya mencerca saja. Mungkin sedikit banyaknya pengaruh orang-orang di Réserve membuatnya menjadi wanita yang seperti itu. "Apa kau tau artinya bekerja?!" Semua mata mengarah pada pelayan wanita yang kini menekuk lutut di lantai. Berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman pria bertubuh kekar di sana. Mengetahui mereka menjadi pusat perhatian, pria itu melemparkan tatapan tajam pada orang yang memperhatikan. Seolah berniat mengusir seluruh pelanggan yang ada di restoran itu. Kemudian suasana kembali seperti semula seakan tidak terjadi apa-apa. Aktifitas di Réserve kembali berlanjut. Bahkan pemilik restoran sendiri menutup mata atas kejadian itu dan membiarkan pelayannya diperlakukan kurang ajar. Tidak ada yang peduli bagaimana pelayan wanita itu berusaha lepas dan diperlakukan tidak senonoh di depan orang banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD