Bab 7: Penyisiran Distrik Edelweiss

2044 Words
Kilasan matahari menyapa tubuh yang masih bergelung nyaman di dalam selimut. Pagi itu sangat cerah dan menyegarkan untuk berjemur, akan tetapi Anastasia enggan membuka mata. Dia lebih memilih untuk menarik selimut dan menutupi kedua pundaknya yang terbuka tanpa sehelai benang menempeli. Sampai saat mengubah posisi tidurnya, dia meringis kesakitan. Memegangi otot perutnya yang kejang sehingga memaksa matanya untuk membulat sepenuhnya. Dia mengejap-ngejapkan mata sebelum memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Kamar itu kosong, tidak ada penghuni lain selain dirinya. Pandangannya terpaku ke sisi kiri ranjang, tempat di mana sang duke tidur tadi malam. Dia ingat rasa sakit yang dialaminya setelah sang duke membuatnya rileks menghadapi malam yang panjang. Bagaikan seorang anak kecil yang dibuat lengah sebelum dicabut giginya. Dia hampir tidak bisa bernapas setelah sang duke mengambil semua yang ada pada dirinya, bahkan tangisan juga menjadi bagian dari malam pernikahan. Baru sekarang semua kesakitan itu berkurang namun disusul oleh rasa tidak nyaman pada bagian perut bawahnya. Caroline pernah mengatakan kalau malam pernikahan tidak indah seperti bayangan orang-orang. Tidak disangka akan sangat menyakitkan lebih dari kata-kata. Dia bangkit tanpa menyingkirkan tangan dari perut. Nyeri itu sungguh mengusiknya dan semakin terasa lagi jika dia bergerak. Pada akhirnya pinggul yang sudah diangkat dari ranjang tadinya didudukkan kembali perlahan. Selain rasa nyeri dia juga baru menyadari kalau tubuhnya lemas dan pegal di mana-mana. Apa semua wanita akan merasakan hal seperti itu setelah melakukan malam pernikahan? Caroline tidak pernah mengatakan hal itu padanya. "Nyonya sudah bangun?" hening sebentar sebelum suara ketukan terdengar kembali, "Saya Myla, ingin mempersiapkan air hangat untuk Nyonya." Anastasia menarik bagian selimut lainnya untuk menutupi punggungnya yang masih disentuh bebas oleh udara, "Masuklah, Myla." Perlahan pintu terbuka menciptakan celah yang semakin lebar. Dari sana muncul Myla dan dua orang pelayan lainnya di belakang. Pelayan yang mengikuti tersebut langsung beranjak ke kamar mandi, sedangkan Myla tetap berada di dekatnya. "Bagaimana keadaan Nyonya? Apa ada rasa tidak nyaman atau lainnya pagi ini?" Anastasia tidak langsung menjawab karena perhatiannya teralihkan pada apa yang dibawa ke dalam kamarnya. Dia mengamati nampan besi yang Myla bawa. Ada cawan dan handuk kecil juga di sana, "Perut ...," kalimatnya terhenti ketika mencerna kembali situasi. Dia telah melakukan hubungan intim dengan suaminya dan membeberkannya pada orang lain adalah sebuah tindakan tidak bermoral. Di sisi lain Myla menatap tangan yang meremas selimut pada bagian perut itu. Sesuatu yang wajar bagi seorang wanita yang baru saja memasuki malam pernikahan, akan merasa tidak nyaman dan membutuhkan sesuatu yang bisa meredakan rasa sakit segera. Sebenarnya dia diperintahkan oleh sang duke untuk membawa air dingin dan menyiapkan air panas. Dia langsung paham kalau malam pernikahan telah dijalankan. Air dingin digunakan untuk meredakan nyeri di bawah perut dan air panas digunakan untuk mengurangi rasa pegal. "Selain perut apakah ada rasa sakit yang lain, Nyonya?" Anastasia sengaja berhenti agar topik pembicaraan yang memalukan itu tidak lagi dibahas, tetapi Myla telah mendengar apa yang diucapkan. Dia spontan menggeleng-gelengkan kepala agar pembicaraan memalukan itu cepat dihentikan. Dia tidak bisa berlama-lama membiarkan wajahnya bersemu. Di saat yang sama pelayan tadi keluar dari kamar mandi. Semua persiapan telah selesai dan mereka tinggal membantu Anastasia membersihkan diri. Mereka beranjak ke masing-masing sisi untuk membantu Anastasia berdiri. "Tidak!" menghindari tangan yang ingin memegangi, "Aku akan mandi sendiri," ucapnya penuh harap. Pelayan-pelayan itu saling melempar pandangan. Memang tidak ada mandat dari sang duke seperti tadi malam untuk membantu Anastasia membersihkan diri. Tidak ada salahnya jika mereka mendengar keinginan istri sang duke. Myla beranjak ke area duduk dan meletakkan nampan besi di sana, "Nyonya bisa gunakan air dingin ini untuk meredakan perut yang terasa kram," kemudian mengangguk pelan ke arah pelayan sembari mengurai senyuman sebagai tanda untuk mengikuti kemauan Anastasia, "Kalau begitu kami akan kembali lagi nanti membawakan sarapan untuk Nyonya." *** Penyisiran wilayah sedang berlangsung. Para prajurit kerajaan sangat teliti memeriksa setiap sudut Distrik Edelweiss. Satu persatu rumah penduduk juga diperiksa secara menyeluruh. Sang duke tidak dibiarkan ikut dalam pelaksanaan penyisiran, tetapi boleh mengawasi prosesnya. Aturan itu berlaku di seluruh distrik yang ada di Kerajaan Orchid. Selama itu penantian Flint gelisah akan kondisi sang duke. Bukan proses penyisiran wilayah penyebabnya karena pembunuh yang dicari ada di Morning Glory atau terbongkarnya identitas Anastasia karena semuanya sudah disusun secara matang sampai ke dasar sekalipun. Tidak patut baginya meragukan keahlian sang duke dalam menyelesaikan masalah. Seorang pemimpin yang tidak hanya mahir menggunakan pedang, sang duke juga dikenal akan kemampuannya menyelesaikan berbagai masalah dengan sangat baik. Memakmurkan Distrik Edelweiss menggunakan kemampuan yang tidak perlu ditanyakan lagi. Bahkan mendapatkan pujian langsung dari Raja Sargon, pemimpin Kerajaan Orchid. "Tuan," pada akhirnya memutuskan untuk bersuara karena terlalu khawatir dengan kondisi sang duke, "Leher Tuan terluka. Apa saya perlu memanggilkan dokter untuk mengobatinya?" entah dari mana luka itu berasal, tetapi dia enggan menanyakannya. Tidak mungkin ada orang yang bisa melukai sang duke. Apalagi ketika berada di wilayah kekuasaan sendiri. Jadi, penjahat dan sejenisnya bukan sesuatu yang dikhawatirkan. Mungkin luka itu didapatkan dari suatu tempat yang tidak boleh diketahui olehnya karena sang duke tidak mengatakan apa-apa padanya soal itu. Sang duke langsung menyentuhkan tangannya ke belakang leher. Pantas saja dia merasa perih di area itu sejak tadi pagi. Ternyata ada luka yang membuatnya merasakan perih. Dia mengusap-usapkan jemarinya di luka tersebut dan memindai beberapa goresan panjang yang tercipta di sana. Luka itu kemungkinan besar dia dapatkan tadi malam ketika melakukan malam pernikahan. Anastasia benar-benar memegang lehernya erat-erat. Merintih sampai meninggalkan jejak berupa goresan kuku. Perhatian semua orang teralihkan saat seorang prajurit datang terburu-buru ke hadapan sang duke. Justru hal itu menciptakan percikan kemarahan di hati sang duke. Distrik Edelweiss tidak boleh menjadi pusat perhatian sekarang karena ada seseorang yang tidak boleh tersentuh. Akan lebih baik jika wajah Anastasia tidak terlihat dalam waktu dekat ini karena mungkin saja dari para prajurit kerajaan ada yang mengenali. Setidaknya sampai ingatan itu memudar sedikit lagi. Namun, sang duke harus memadamkan kemarahannya saat ini karena prajurit yang datang adalah prajurit yang berjaga di Morning Glory. Melihat cara kedatangannya yang terburu-buru pasti berita penting yang akan didengar. Lebih baik kalau berita itu tidak ada kaitannya dengan pelarian Anastasia. Flint bergegas mengambil tindakan. Dia menarik paksa prajurit itu untuk menghindar dari pusat perhatian, lalu membicarakan berita tersebut secara empat mata dengannya terlebih dahulu agar dia bisa menyaring informasi apa yang akan diberitahukan sebelum sampai ke telinga sang duke. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Flint mengubah ekspresinya saat mendengar apa yang dibisikkan padanya. Tampaknya berita itu bukan hal yang bisa diabaikan. Segera setelah itu dia menghampiri sang duke dan membisikkan hal yang sama seperti yang prajurit tadi katakan padanya. Berita itu memang sangat penting sampai membuat sang duke harus beranjak dari tempatnya detik itu juga. Diikuti Flint dan prajurit tadi, mereka pergi menuju Morning Glory. Tidak ada yang berani menghentikan sang duke, termasuk prajurit yang bernaung di bawah lindungan raja sekalipun. Sesampainya di Morning Glory, sang duke disambut oleh seorang dokter. Para pelayan yang menemani Anastasia diminta untuk keluar dari ruangan. Sementara itu Flint akan berjaga di luar pintu kamar. Setelah tersisa mereka bertiga saja di sana, baru Dokter Norvin berbicara, "Anastasia sedang beristirahat sekarang dan nanti setelah bangun kondisinya akan baik-baik saja," mengamati wajah sang duke yang tampak penasaran dengan apa yang ada di pikirannya saat ini. Dia tahu kalau pasangan di hadapannya baru saja menikah dan malam pernikahan adalah sesuatu yang umum dilakukan dalam pernikahan, "Melakukan hubungan intim akan membakar banyak kalori seperti berolahraga. Detak jantung akan cenderung lebih cepat dari yang seharusnya. Reaksi tubuh saat pertama kali melakukan malam pernikahan pun berbeda-beda. Termasuk Anastasia yang kemungkinan besar suhu tubuhnya tinggi sebelum berendam," dagunya diusap sambil mengamati Anastasia yang masih terbaring di ranjang, "Air hangat memang sangat bagus untuk merilekskan otot-otot tubuh karena menurunkan tekanan darah. Sayangnya ...." "Sayangnya?" tidak sabar mendengar apa yang terjadi pada Anastasia. "Anastasia berendam terlalu lama dan tekanan darahnya saat ini rendah," jemari yang mengusap dagu dijatuhkan ke samping tubuh, "Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia akan kembali stabil setelah beristirahat. Untuk itu nanti ketika bangun aku sarankan agar dia mengonsumsi makanan yang bisa menaikkan tekanan darah. Aku sudah memberitahukannya pada pelayan." "Terima kasih, Dokter Norvin." Sang duke menghampiri tempat di mana Anastasia berbaring. Seharusnya dia tidak perlu sampai datang ke Morning Glory hanya untuk melihat keadaan seorang pembunuh. Hubungan mereka juga seharusnya hanya sebatas menguak kasus kematian Putri Haura saja. Tetapi saat mendengar kabar terjadi sesuatu pada Anastasia, dia ingin sekali datang dan memastikan keadaan wanita itu secara langsung dengan mata kepalanya. Mungkinkah pernikahan yang membuatnya harus merasakan kekhawatiran itu? Atau karena Anastasia telah menempati hatinya? *** Perlahan kelopak matanya terbuka sepenuhnya. Anastasia sudah bangun dari tidur lelapnya. Ingatan terakhir yang muncul di pikirannya adalah dia sedang berendam dan tiba-tiba saja kepalanya pusing. Setelah itu pandangannya menjadi putih dan dia tidak ingat apa-apa lagi. Dia beranjak dari ranjang peristirahatannya. Perutnya tidak merasakan kram lagi, tetapi kini lebih pada kata lapar. Dilihatnya sekeliling namun tidak ada makanan yang tersedia. Padahal dia berharap ada pelayan yang sudah mempersiapkan makanan untuknya. Kakinya diayunkan mendekati pintu dan dia keluar dari kamar. Celingak-celinguk melihat situasi di luar. Sepanjang lorong tidak ada prajurit yang berjaga seperti biasanya. Dia akhirnya bisa berjalan santai tanpa harus diperhatikan oleh prajurit Morning Glory. Lama menyusuri lorong demi lorong, dia masih belum menemukan di mana letak dapur. Dia bukan seorang jenius, bisa menghafal penjelasan Myla yang panjang pada hari itu juga. Terlalu banyak ruangan di Morning Glory dan butuh menghafalnya berulang-ulang agar melekat di kepala. Selain itu dia lupa ke mana arah kembali ke kamar. Untuk bertanya atau meminta pertolongan juga tidak bisa lantaran Morning Glory sangat sepi sore itu. Ke mana perginya semua orang? Dia ingin berteriak agar siapa pun yang bisa mendengar teriakannya langsung datang padanya namun tenggorokannya sangat kering dan jika berteriak hanya akan menyakiti nantinya. Pada akhirnya dia terus berjalan sampai entah di mana posisinya. Di tempat dia berdiri saat ini, bisa terdengar suara gaduh dari arah luar. Dia mencari jalan untuk mencapai sumber suara dan yang ditemukannya adalah semua pelayan serta prajurit tengah berkumpul dalam satu area di halaman. Mereka seperti diperiksa identitasnya oleh prajurit yang seragamnya tampak berbeda dari prajurit yang biasa berjaga di Morning Glory. Hal itu membuatnya teringat akan perkataan sang duke yang mengatakan kalau akan ada penyisiran wilayah. Mungkin itu adalah alasan kenapa prajurit kerajaan memeriksa identitas penghuni Morning Glory. Dia sedikit bingung ketika tidak menemukan sang duke di antara mereka semua. Ke mana perginya sang duke? Tiba-tiba kedua tangannya dikunci di belakang dan mulutnya ditutup rapat. Dia tidak tahu siapa yang bertindak buruk padanya. Hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah mengikuti kemauan orang yang menyeretnya masuk ke sebuah ruangan. Anastasia didorong menjauh dan saat itu juga dia membalikkan badan. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sang duke berada di hadapannya dengan sebilah pedang tertuju ke arahnya. Mereka sudah membuat kesepakatan untuk saling bekerja sama. Apa yang dilihatnya sekarang jelas berbeda dari tujuan dibentuknya kesepakatan. "Aku sudah katakan padamu kalau kau berani kabur, tidak akan ada lain kali untuk nyawamu." Sang duke salah paham kiranya dan menganggap kalau dia akan kabur. Padahal dia hanya tersesat dan tidak tahu jalan untuk kembali, "Kau salah paham. Aku hanya ...." Pedang itu dimasukkan ke sarung pelindung kembali. Sang duke menarik tangan Anastasia untuk berada di dekatnya. Perlahan langkahnya mundur hingga punggung berjarak sejengkal dari pintu. Dia membuka pintu itu sedikit agar bisa mengintip bagaimana situasi di luar. Penyisiran Morning Glory sudah beranjak ke tahap selanjutnya. Ruang perpustakaan yang melindungi keberadaan mereka sekarang juga akan segera diperiksa. Sang duke memberikan alasan kalau Anastasia sakit sehingga prajurit kerajaan tidak akan memeriksa, tetapi keberadaan mereka di luar tempat peristirahatan bertolak belakang dari alasan tersebut. "Aku tidak ada niat untuk kabur. Aku hanya tersesat," ujar Anastasia setengah berbisik. Sang duke menatap wanita yang mendongak dalam pelukannya sebentar sebelum sebuah ide muncul di benaknya. Dia ingat kalau ruang perpustakaan memiliki sebuah ruangan pribadi di dalamnya serupa kamar. Tanpa pikir panjang dia langsung membawa Anastasia masuk ke dalam ruangan tersebut. Pada waktu mereka bisa bersembunyi di dalam ruangan itu, pintu perpustakaan berbunyi. Menandakan bahwa prajurit kerajaan akan memeriksa tempat itu. Sang duke tetap bergelut dengan pikirannya sendiri menyusun bagaimana rencana selanjutnya agar keberadaan mereka tidak diketahui. Anastasia menatap gurat kegelisahan di wajah sang duke, "Aku hanya perlu menjadi Anastasia, bukan?" Gagang ruangan terbuka seiring kegelisahan semakin pudar oleh ucapan tersebut. Sang duke tidak pernah gelisah sebelumnya dengan alasan sepele seperti sekarang. Seharusnya dia tidak berpikir berlebihan dan mempercayakan identitas yang dipilihkannya itu untuk Anastasia. "M-maafkan kami, Duke Lucherne," prajurit yang melihat pasangan yang sedang berpelukan itu langsung melangkah mundur sambil menutup pintu kembali. Pasangan itu tidak peduli dengan prajurit tadi. Mereka masih fokus menatap dan meyakinkan diri kembali kalau mereka bisa menghadapi identitas baru. Tidak boleh ada yang mencurigai Alicia yang berperan sebagai Anastasia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD