Bab 33: Menemukan Jejak

2001 Words
Detak jam dinding terdengar riuh menjadi pewarna suasana yang hening kala itu. Dalam satu meja yang sama mereka duduk saling berhadapan. Seorang diri Liana menghadapi dua orang pria yang besar kekuatan dan juga kekuasaannya. Berusaha tidak gentar akan semua itu. "Apa yang ingin kau ketahui dari anakku?" Tadinya sang duke datang untuk menanyakan sesuatu yang klise. Bagaimana kehidupan yang dijalani Anastasia sehari-hari di distrik Syringa. Mulai dari tempat pekerjaan hingga keseharian di dalam rumah bersama keluarga. Dia ingin mengetahui semua itu tanpa terkecuali. Tetapi rencana berubah haluan ketika dia mengendus aroma kecurigaan. "Aku ingin mengetahui apa yang kau sembunyikan dari Alicia." Bukan hanya Liana saja yang terkejut karena pertanyaan yang mengarah pada pengkhianatan juga membuat Flint sama terkejutnya. Seperti yang dia tau bahwa di depan mereka sekarang ada orangtua dari istri sang duke itu sendiri. Harusnya datang dengan penghormatan, bukan membuat tuduhan. Sayangnya niat untuk mencegah harus ditolak karena Flint lebih mempercayai kalau sang duke bukanlah orang yang ceroboh dalam kasus serius seperti saat sekarang. "Apa kau sedang menuduhku sebagai seorang pengkhianat?" Siapa yang tidak marah jika tiba-tiba dituduh tanpa bukti seperti itu? Apalagi Liana bukan seorang pengkhianat. Dia adalah ibu dari Alicia yang mana tidak mungkin mengkhianati putrinya sendiri. "Alicia bekerja sebagai seorang pelayan di Réserve. Dia pernah terlibat kasus pencurian dan hidup sebatang kara." Liana membuka mata lebar-lebar. Apa sebenarnya yang dikatakan oleh sang duke? Alicia tidak hidup sebatang kara karena masih ada mereka yang menemani. Terlebih dari itu sejak kapan Alicia terlibat kasus pencurian? Semua yang dikatakan sang duke tidak benar adanya. Mereka tidak pernah terlibat dalam persoalan buruk seperti pencurian atau lainnya. Hanya kali ini saja ketika Alicia dituduh secara serta-merta sebagai seorang pembunuh. "Itu informasi yang kami dapatkan sebelum Alicia datang menemuimu. Tidak sembarang orang bisa mengganti informasi yang sudah tercatat di sebuah distrik." "Lalu kau mengira aku yang mengganti informasi itu?" Sang duke memundurkan punggungnya hingga mencapai sandaran kursi. "Tidak kalau kau tidak menyembunyikan sesuatu." Liana terjebak oleh permainan kata-kata sang duke. Tuduhan hanya sebuah pemicu untuk menggali informasi lebih dalam. Sebenarnya sang duke sendiri hanya memiliki kecurigaan sedikit saja karena Liana yang meyakini Alicia sebagai seorang pembunuh namun tentu saja kecurigaan itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menggali informasi. Liana masih larut dalam pikirannya sendiri. Kini dia tengah memikirkan satu-satunya orang yang pas mendeskripsikan perkataan sang duke tadi. Orang itu adalah Caroline yang menurut cerita Alicia tinggal seorang diri di sebelah rumah mereka. Tetapi tidak masuk akal baginya karena Caroline sangat baik pada mereka selama ini. Sang duke memperhatikan bagaimana perubahan raut muka itu. Sepertinya memang benar ada sesuatu yang tidak diketahui Alicia. Setelah umpannya berhasil ditangkap, kini saatnya dia untuk membujuk agar apa yang disembunyikan bisa dikatakan padanya. "Kau bisa memberitahukan padaku apa itu tanpa perlu merasa khawatir." Liana menatap lurus ke arah sang duke. Bagaimana dia bisa mempercayai sang duke ketika posisi mereka bukan untuk saling mempercayai? Bisa saja nanti mereka ditusuk dari belakang. Musuh tetaplah musuh yang harus diwaspadai setiap waktu. "Perlu kau ketahui kalau pernikahan dilakukan atas dasar kerja sama untuk mengungkap kasus kematian putri Haura yang akan membawa nama baik putrimu pula. Kita akan menjadi musuh ketika Alicia benar-benar melakukan tuduhan itu, tapi tidak untuk sekarang karena belum cukup bukti mengarah pada Alicia. Lebih baik jika kerja sama dijalani sebaik mungkin agar kasus itu tidak meleset pada orang yang mungkin saja tidak bersalah." Ucap sang duke memahami kegelisahan yang Liana rasakan saat ini. Seketika dinding pertahanan yang sudah dirancang begitu kukuh tiba-tiba goyah. Sang duke adalah orang yang menyembunyikan Alicia dan juga orang yang menawarkan kerja sama untuk mencari akar permasalahan. Memang dia tidak bisa mengambil pilihan lain saat ini. "Bisakah aku mempercayaimu? Alicia bukan seorang pembunuh dan aku harap akan ada bukti kuat untuk itu." Sang duke menganggukkan kepala. "Selama Alicia tidak bersalah, aku akan melindunginya dengan cara apa pun." Liana bisa bernapas lega akan hal itu. Pada akhirnya dia memutuskan untuk memberitahukan apa saja yang terjadi setelah Alicia ditangkap. Tidak banyak informasi yang bisa dia berikan karena memang dia hanya menangisi nasib anaknya saja. Setidaknya sekarang dia bisa melakukan sesuatu untuk Alicia. *** Bersama nampan itu Nollie berjalan di lorong bagian belakang gedung Morning Glory. Dia berusaha tidak mengundang kecurigaan ketika terus melangkahkan kaki ke arah kamar sang duke. Tanpa bisa diprediksi ternyata ada Gilda yang datang dari arah tujuannya. Lantas dia dengan spontan membalikkan badan. Ingin melangkah, tetapi dia harus berhenti ketika suara Gilda memanggil namanya. "Apa yang kau kerjakan di sini?" Tanya Gilda begitu heran mendapati seorang pelayan membawa sebuah nampan. "N-nyonya Anastasia meminta saya untuk membawakan makanan." "Makanan untuk nyonya Anastasia? Bukankah kita baru saja selesai makan siang?" Alasan apa yang harus Nollie katakan agar dia terbebas dari kecurigaan Gilda? Dia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Bisa-bisa pekerjaan yang sifatnya rahasia akan terbongkar. Jika begitu habis sudah kepercayaan yang diberikan padanya. "Bukan untuk nyonya Anastasia, tapi untuk duke Lucherne." Ucapnya berusaha menyembunyikan kegugupan. "Duke Lucherne?" Memang tadi Gilda tidak melihat ada sang duke di ruang makan. Dia juga tidak melihat sang duke setelah terakhir bertemu. Apa mungkin sedang melakukan pekerjaan di tempat lain? Bisa saja dia menambah jam pelajaran, tetapi sepertinya sudah terlambat untuk itu. Dia baru tau kalau sang duke tidak berada di Morning Glory. Nollie yang terlalu lama menunggu akhirnya membuka suara. "Nyonya Gilda?" Panggilan itu membuat mereka saling menatap. "Saya harus mengantarkan makanan ini sebelum dingin." "Ah, baiklah." Bergeser ke kanan memberikan jalan untuk Nollie. Sambil berjalan Nollie mengembuskan napas yang sedikit tertahan itu pelan-pelan. Untung saja dia masih bisa memikirkan alasan yang tepat. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada nasibnya. Apalagi jika ketahuan oleh sang duke. Kini dia tiba di depan pintu putih dengan ukiran klasik berwarna emas. Dia mengetuknya sampai suara yang mempersilahkannya untuk masuk terdengar. Dengan sikap waswas tanpa ingin menimbulkan kecurigaan, dia memasuki kamar tersebut. Setelah itu pintu dikunci tidak membiarkan orang lain untuk masuk. Di dalam kamar Anastasia telah menunggunya di area duduk. Dia menghampiri dan duduk pula di sana setelah meletakkan nampan. Kemudian mangkuk-mangkuk yang tertutup itu dibuka semua. Dia mengeluarkan pena bulu, kertas, tinta, dan perlengkapan lainnya yang mana memenuhi mangkuk tersebut. Dibuat muat agar tidak menimbulkan kecurigaan dengan memilih mangkuk yang pas sebagai wadahnya. Anastasia tersenyum puas melihat semua persiapan. Ternyata ide yang mereka sepakati berjalan lancar. Semua perlengkapan menulis tidak mungkin muat di dalam saku pakaian pelayan yang Nollie pakai. Nollie langsung bersiap-siap untuk menulis. Tidak menunggu aba-aba terlebih dahulu karena tidak sabar menuliskan isi hati Anastasia terhadap sang duke. Sungguh kisah cinta yang beredar telah membuatnya begitu mendambakan untuk mendengar kisahnya. Anastasia memegang tangan yang ingin menggoreskan tinta. "Nollie," tau kalau orang yang dihentikan akhirnya menurut, baru dia kembali bersuara dengan menatap sungguh-sungguh ke arah mata itu. "Sebelumnya aku ingin mengatakan padamu kepada siapa surat yang akan kau tulis diberikan." Tangannya dijauhkan kemudian. "Aku akan memberikannya pada ibuku di distrik Syringa." "Distrik Syringa?" Sepengetahuannya Anastasia hidup di distrik Statice, kerajaan Viscaria. "Bisakah kau berjanji untuk tidak takut kepadaku?" Apalagi yang dibicarakan oleh Anastasia? Takut? Dia lebih menghormati orang yang menjadi pendamping pemimpin distrik Edelweiss. "Saya berjanji." Anastasia mengembuskan napasnya perlahan. Biar bagaimanapun memberitahukan identitas aslinya adalah sesuatu yang harus diperlukan kehati-hatian dan mempekerjakan Nollie sudah dipikirkannya matang-matang. Bahkan dia juga memperhatikan bagaimana keseharian Nollie sebelum waktu pertemuan tiba. "Aku adalah Alicia. Tahanan yang dicari oleh kerajaan Orchid." Nollie yang tadinya tenang seketika menjadi tegang. Dia menelan ludahnya kasar tanpa berkedip. Nama itu adalah nama seorang pembunuh yang sedang dicari-cari. Kini bukan hanya mendengar namanya saja karena orang yang menyandang predikat itu ada di depan mata. Tepat di hadapannya dan berinteraksi dengannya. *** "Bisakah kau memberikan makanan ini untuk anakku?" Sang duke melirik rantang yang disodorkan. Tidak masalah baginya memberikan makanan itu untuk Anastasia. Namun, bagaimana dia akan membawanya dalam keadaan berkuda? Bisa-bisa semua makanan tidak lagi rapi tersusun di dalam sana. "Baiklah." Mengambil alih rantang tersebut. Sang duke tidak mungkin bisa menolak, bukan? Kasih sayang di antara ibu dan anak itu tidak mungkin terkendala hanya karena masalah kecil. Dia memberikan rantang pada Flint setelahnya. Kemudian mereka pergi meninggalkan rumah itu. Mereka tidak langsung kembali karena sang duke memiliki rencana lain. Mungkin mereka akan pulang terlambat dari yang seharusnya. Sang duke berharap jika kepergiaannya ke distrik Syringa tidak bocor sama sekali. Dengan penyamaran itu mereka mengendap-endap, meningkatkan kewaspadaan, begitu teliti untuk bisa menyusup masuk ke kediaman duke Charles. Prajurit yang harus mereka lewati terpaksa dilumpuhkan sementara waktu. Diam-diam membuat mereka yang lumpuh seperti sedang tertidur. Flint yang sudah menemani perjalanan sang duke begitu lama jadi mampu menyusul gerakan yang cepat itu. Dia bisa melihat kalau sang duke begitu rapi meruntuhkan lawan. Tidak meninggalkan jejak atau suara lebih. Hanya ada teriakan kecil dan suara keretek. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka bisa sampai di gedung penyimpanan dokumen. Tempat itu kurang lebih sama seperti yang ada di Morning Glory. Sang duke begitu saksama mencari sampai tidak menghiraukan apakah Flint masih berada di belakangnya atau tidak. Untung saja sang duke mendapatkan informasi lebih dari Liana, jadi dia bisa mencari keberadaan dokumen yang dicari tanpa perlu mengacak semua dokumen yang ada di sana. Tidak membutuhkan waktu lama untuk dia bisa mengambil dua dokumen yang tersusun rapi dengan dokumen lainnya. Kedua dokumen itu dibandingkan isinya. Jika benar asumsinya kalau data Anastasia sengaja diganti, sudah bisa didapatkan ke mana arah jejak yang harus ditelusuri. Hasil yang didapat adalah asumsinya 100% benar. Wanita yang bernama Caroline kemungkinan besar ada kaitannya dengan kematian putri Haura. Di dalam data Caroline terdapat nama Liana sebagai ibu serta Hana dan Hani sebagai adik. Liana sendiri sudah mengonfirmasi identitas Anastasia. Bersih akan kata kriminalitas. Lebih anehnya lagi tidak ada kata Réserve. Berbeda dari apa yang Liana katakan yang mana Caroline adalah salah satu pelayan di sana. Ditambah seharusnya data tidak bisa langsung diperbarui ketika penduduk menginginkannya. Caroline belum lama meninggalkan distrik, sedangkan data itu masih merupakan data lama. Seperti semuanya sudah direncanakan. Hari itu kadar kepercayaannya pada Anastasia bertambah. Sang duke semakin ragu kalau pembunuh putri Haura adalah Anastasia. Meskipun belum sepenuhnya percaya karena bisa saja kenyataan yang lain tiba-tiba muncul di tengah pencarian atau di akhir pencarian. Dalam menyelesaikan kasus dia tidak boleh mempercayai siapa pun. Dia hanya harus mempercayai diri sendiri dengan mencari tau kebenaran. Ada banyak musuh yang menggunakan topeng agar bisa mengelabuinya. Pastinya mereka adalah orang yang tidak ingin jika kasus kematian putri Haura terungkap. "Kita akan kembali, Flint." *** Nollie bangkit dari tempat duduknya masih tidak melepaskan tatapan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Perlahan dia membawa kakinya melangkah mundur satu persatu. Dia harus terus menggeser langkah yang sulit untuk digerakkan. "Nollie," bangkit pula untuk kemudian datang menghampiri namun dihindari. "Kau harus mendengarkan penjelasanku." Dia mengejar Nollie yang sudah mencapai pintu. Berusaha mencegah, dia menggapai tangan itu. Sangat dingin, gemetar, dan penuh keringat. Melihat ketakutan yang besar itu membuat Anastasia mundur. "Maafkan aku." Ucapnya dipenuhi perasaan bersalah. Dia tidak lagi mengejar dan membiarkan Nollie pergi. Anastasia kembali menduduki kursi yang ditempatinya tadi. Semua perlengkapan menulis datang dengan kata sia-sia. Nollie sangat takut padanya dan tidak tau setelah ini ada kejadian apa lagi yang menanti. Pastinya dia berharap jika Nollie tidak membeberkan identitas aslinya. Dia meremas rambutnya sangat frustasi. Apa dia sudah salah mengambil keputusan besar itu? Seharusnya dia mengatakan pada Myla lebih dulu karena dibandingkan Nollie, mereka sudah lebih dulu mengenal. Menurutnya Myla akan lebih mengerti dan mungkin saja bisa memberi saran di situasi seperti sekarang. Menyampingkan itu semua, dia menyimpan perlengkapan menulis yang ditinggalkan. Menyembunyikannya ke dalam lemari pakaian yang mana letaknya paling ujung dan tidak terjamah oleh pandangan mata. Dia merasa tempat itu paling aman karena sang duke biasanya hanya akan mengambil pakaian tanpa berlama-lama untuk menutup lemari pakaian kembali. Terlebih dari itu ada di mana sang duke? Bahkan saat makan siang tadi dia tidak melihatnya, begitupula dengan Flint. Apa mereka melakukan tugas di luar Morning Glory? Setelah semua urusannya di lemari itu selesai, dia yang berjongkok langsung bangkit. Dia berjalan maju sebelum memundurkan langkah. Tadi ketika melewati cermin tidak sengaja dia melihat bagian lehernya. Ada beberapa jejak berwarna merah gelap. Dia menyentuhkan jemarinya di sana mengusap jejak seperti sebuah luka itu. Tidak sakit namun tampilannya begitu menyakitkan. Dia ingat saat di ruang kerja tadi bagian lehernya seperti terkena cubitan namun hanya sebentar saja rasa sakitnya berlangsung. Tidak tau jika hal itu menciptakan jejak yang terlihat jelas. Membuatnya kesulitan untuk menutupi bagian itu. Setelah itu dia menghampiri ranjang. Mengambil bantal dan juga selimut, lalu meletakkannya di atas sofa. Pokoknya dia tidak boleh lengah selama berada dalam satu ruangan yang sama dengan sang duke.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD