Pagi di Bayung Batis membawa keheningan yang tak biasa. Setelah malam itu, Arsa terbangun dengan pikiran penuh tanya. Ia sudah beberapa kali mengecek foto di kameranya, memastikan bahwa yang ia lihat bukan halusinasi. Laksmi, gadis yang ditemuinya di pematang, ternyata bukan hanya seorang penari legong terakhir, tetapi juga penyimpan banyak rahasia yang masih terbungkus rapat.
Setelah pertemuan malam itu, Laksmi tidak berbicara lebih banyak. Ia hanya meminta Arsa untuk tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang ia lihat. Tapi entah kenapa, ada rasa terhubung yang tak bisa dijelaskan antara mereka. Arsa merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar cerita tentang upacara Ngaben yang ia tuju. Laksmi, dalam diamnya, menyimpan beban berat yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup berani untuk mendengar.
Arsa berjalan menyusuri jalan desa, melihat penduduk yang sibuk dengan rutinitas pagi mereka. Seorang ibu sedang membersihkan jalan dengan sapu lidi, sementara anak-anak berlari mengejar ayam. Tapi matanya masih tertuju pada rumah kayu tempat Laksmi tinggal. Ia tahu, di dalam rumah itu, ada sesuatu yang belum selesai—sesuatu yang ingin ia gali lebih dalam.
---
Siang itu, setelah makan siang bersama Bu Nyoman, Arsa mendatangi Laksmi di Bale Daja. Ia tahu, hari itu adalah hari yang penting—hari ketika Arsa akhirnya harus bertanya lebih jauh.
“Laksmi,” panggil Arsa saat ia tiba di depan rumah. Laksmi tampak sedang mempersiapkan bunga-bunga untuk persembahan di altar. Ada aura kesedihan yang begitu jelas di wajahnya.
Laksmi menoleh. “Ada apa, Arsa?”
“Aku ingin tahu lebih banyak tentang ibumu. Tentang apa yang terjadi setelah ia meninggal. Kenapa semua orang merasa ada yang salah?”
Laksmi terdiam sejenak, tangannya berhenti merangkai bunga. “Ibuku adalah penjaga pura dan penari legong. Dia tidak hanya menari untuk hiburan. Ia adalah bagian dari adat ini. Tapi… kematiannya terlalu cepat, terlalu aneh. Sejak itu, semua mulai berubah. Desa ini, tanah ini, bahkan diriku… aku merasa seolah-olah dipanggil untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi aku tidak tahu apa itu.”
Arsa mendekat, mencoba lebih lembut. “Apa maksudmu dipanggil?”
Laksmi menatap tanah, seolah mencari kata-kata yang tepat. “Seperti ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada roh yang belum pergi. Dan aku rasa aku adalah orang yang harus mengurusnya.”
Tiba-tiba, suara angin berdesir. Laksmi menoleh, lalu melangkah menuju halaman belakang rumah. Arsa mengikuti dengan langkah hati-hati.
“Di sini,” kata Laksmi sambil menunjuk sebuah batu besar di tengah halaman. Batu itu tampak biasa saja, tetapi bagi Laksmi, itu adalah simbol yang sangat kuat. “Ibuku dulu selalu bilang, batu ini adalah tempat terakhir dia berdoa. Di sinilah dia menemukan kedamaian sebelum meninggalkan dunia ini. Tapi entah kenapa, sejak kepergiannya, batu ini seperti menjadi tempat yang membawa energi aneh.”
Arsa mendekat dan meraba batu itu. Ada getaran aneh yang terasa pada telapak tangannya, seperti ada kekuatan yang mengalir dari dalamnya.
“Apa yang terjadi dengan batu ini?” tanya Arsa.
Laksmi menunduk. “Aku tidak tahu pasti. Tapi beberapa malam terakhir, aku merasakan sesuatu yang lebih kuat. Seperti ada arwah yang datang… menuntut jawaban.”
---
Malam itu, setelah seharian penuh dengan pembicaraan yang berat, Arsa kembali ke rumah Bu Nyoman. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus dihantui oleh kata-kata Laksmi dan getaran yang ia rasakan dari batu itu. Ada sesuatu yang tak beres di desa ini—sesuatu yang lebih besar dari sekadar budaya dan tradisi yang telah lama dijaga. Ada rahasia yang terkubur di tanah ini, dan Laksmi adalah kuncinya.
Keesokan harinya, Arsa memutuskan untuk kembali ke pura. Ia ingin menemukan lebih banyak petunjuk tentang apa yang terjadi dengan Laksmi dan ibunya. Namun saat ia tiba, pintu pura terbuka lebar, dan di dalamnya, ada sesuatu yang tak biasa.
Di altar utama pura, terdapat sebuah gambar besar—gambar Laksmi, tetapi dengan wajah yang lebih tua, mengenakan pakaian adat Bali yang sangat tua. Di samping gambar itu, ada tulisan dalam aksara Bali yang tak bisa Arsa baca.
Laksmi datang dari belakangnya. “Aku ingin menunjukkanmu ini,” katanya pelan.
Arsa menoleh. “Apa ini, Laksmi?”
“Itu gambar ibuku. Dia adalah penjaga garis keturunan ini. Dan ini adalah garis yang harus aku lanjutkan. Aku… aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi sekarang adalah bagian dari takdir yang sudah ditulis. Dan aku harus menghadapinya.”