Kini aku sedang menunggu kereta api bawah tanah yang akan menghantarkanku pulang. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam kurang, aku harus menunggu Kak Thomas untuk pulang terlebih dahulu dan Kak Thomas baru saja pulang jam segini di karenakan ada rapat di kantor.
Aku memasuki kereta yang telah datang, kereta terlihat lumayan sepi. Kukeluarkan ponselku, misscall dari Bunda memenuhi notif.
For Bunda: Ini lagi di kereta, Bun. Balasku singkat saat pesan dari bunda masuk, menanyai pukul berapa aku pulang.
Kupasang headset di kedua telinga, mengingat rumahku dengan kantor sangatlah jauh. Butuh setengah jam untuk sampai. Karena bosan aku memutar lagu favoritku belakangan ini sambil bersenandung kecil mengikuti suara sang penyanyi.
Like a small boat, on the ocean
Sending big waves into motion
Like how a singld wrrd
Can make a heart open
I might only have one match
But i can make an explosion
And all those things i didn't say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them louf onight
Can you hear my voice this time?
This is my fight song.
***
Aku tiba di rumah pukul 12 malam. Saat aku masuk, ruang tamu yang biasanya gelap kalau sudah jam tidur, kini masih menyala dengan suara riuh tv. Aku berjalan ke ruang tv, asap rokok yang selalu kubenci terhirup olehku.
Ayah duduk di sofa tunggal menonton berita yang memberitahu sedang maraknya penculikan kalau sudah tengah malam di kota ini.
"Assalammualaikum." Ujarku sambil menyalimi tangan ayah yang menatapku datar.
"Wallaikumsalam."
"Kok belum tidur, Yah?" Tanyaku sambil menghempaskan tubuhku di sofa. Hari yang melelahkan. Mungkin setelah ini aku akan mandi dan makan.
"Gimana bisa tidur kalau Putri Tengil ayah gak pulang-pulang." Ujar ayah. Aku langsung terduduk, menatap ayah yang kini mematikan batang rokoknya.
"Ayah nunggu Ceci?" Tanyaku tak percaya.
"Iya. Sebelas batang rokok habis sama ayah karena nunggu kamu." Ujar ayah duduk di sampingku.
"Dari pukul berapa ayah nunggu Ceci?"
"Sembilan, mungkin?" Jawab ayah sambil berpikir.
"Ceci kira ayah sudah gak sayang lagi sama Ceci." Sahutku polos.
Ayah mengerutkan dahinya. "Emangnya apa yang bikin kamu berpikir gitu?"
"Habisnya ayah jahat. Masa Anak sendiri di suruh jadi OG. Seharusnya kan aku bisa kerja di kantor ayah, seperti Clara." Aku melipat kedua tanganku di depan d**a. Memasang wajah merengutku, seperti waktu kecil dulu, kalau lagi merajuk.
"Mana ada orang tua gak sayang sama anaknya. Ayah tuh sayang pakai banget sama kamu. Sama Clara juga, sama si kembar juga. Apalagi sama bundamu, hehe."
"Ayah mah genit mulu sama Bunda." Aku terkekeh mengingat dari dulu ayah selalu manja-manja sama Bunda.
"Loh? Seharusnya kamu itu bahagia, Orangtua kamu masih saling mencintai. Toh wajarkan ayah genit ke Bunda. Daripada ke wanita lain-" ujar ayah, "-Laki-laki itu, bakalan luluh sama wanita yang ia cintai. Buktinya ayah, kamu tahu ‘kan bagaimana sifat ayah? Beda antara di rumah sama di kantor. Kamu tahu sendirilah."
Aku terkekeh, emang sih, kata bunda dulu, ayah kalau di kantor, sangat mengerikan. Tatapannya setajam silet. Berasa seperti mau di makan singa. Tapi pas dirumah, berubah 180 derajat. Love is weird.
"Ya sudah, kamu mandi sana! Bau masam! Setelah itu makan, kamu belum makan ‘kan? Tadi ayah masak nasi goreng sama telur dadar. Soalnya, lauk saat makan malam tadi, pada ludes semua gara-gara si kembar. Gak apa-apa kan cuma makan gitu aja?" Ujar ayah sambil membantuku berdiri.
"Gak apa-apa kok, Yah. Makasih ya, Yah."
"Sama-sama."
Aku turun ke bawah setelah berbenah diri. Menuju meja makan, ayah duduk di kursinya yang biasa. Dua piring nasi goreng sudah tertata manis di atas meja makan. Aku mengernyit saat ayah mulai melahap nasi goreng miliknya, "Ayah makan lagi? Emang gak kenyang saat makan malam tadi?" Tanyaku sambil menyuap nasi gorengku.
"Ayah belum makan malam tadi, nunggu kamu pulang aja. Kasihan kamu nanti makan sendiri, pikir ayah. Ayah gak tega. Makanya makannya sekarang saja, bareng kamu."
Masya Allah, pesen satu suami kayak ayah, dong.
"Duh, Yah. Hampir terbang Ceci." Candaku.
Ayah membalas dengan tersenyum, "Habiskan makanannya, kalau belum kenyang nanti ayah masakin lagi."
Tuh kan...
Ternyata ayah gak jahat hmm..
Ayah baik.
"Gak lah, Yah. Ini saja sudah kebanyakan, deh." Ujarku.
Ayah mengangguk. Sambil menghabiskan makanan kami, kami mengobrol tentang hariku pertama masuk kerja. Ayah sempat geleng-geleng saat aku bilang kalau aku lempar secangkir kopi ke kepala seorang wanita.
"Terus pas di kantor, Yah. Semua orang disana kaget melihatku. Bahkan Om Randy sampai pingsan. Aneh banget, Yah."
"Randy pingsan?" Aku mengangguk. Tapi ayah hanya diam sambil menatapku.
Setelah selesai, kami mencuci bekas makanan kami. Lalu, kembali ke kamar masing-masing setelah ayah mengecup keningku dan mengatakan 'Selamat Malam'.
Aku menarik selimutku. Kata-kata ayah terngiang kembali di otakku.
Laki-laki itu akan luluh dengan wanita yang ia cintai.
Kak Thomas luluh dengan permintaan kekasihnya itu. Nada suaranya juga kelewatan lembut saat berbicara dengan kekasihnya. Apa benar ya? Kak benar-benar cinta sama wanita itu?
Ughh... love is weird.
=====