BAB 1

1105 Words
Ceci Pov Aku mulai mengemas semua barang-barangku. Pakaian, sepatu, buku-bukuku, beberapa bingkai foto dan album kenangan sekolah. Aku tersenyum menatap bingkai foto yang baru saja kumasukkan ke dalam koper unguku, foto keluargaku. Mereka pasti akan kaget melihatku yang pulang mendadak setelah bertahun-tahun menemani Eyang Clara di Belanda. Eyang membolehkanku kembali ke rumah orang tuaku selepas lulus kuliah. Rasanya berat untuk meninggalkan Eyang yang sudah renta dan sendirian. Kakek meninggal dua tahun yang lalu. Tapi, aku juga merindukan orangtua dan saudaraku. "Eyang, pokoknya Ceci gak mau sampai ada pelayan yang lapor kalau eyang sakit. Eyang harus banyak makan, rajin minum obat, tidak boleh sedih. Oke?" Ujarku sambil duduk di lantai dengan kepala bersandar pada paha eyang yang sedang duduk di sofa. Suara kekehan pelan eyang dengan tangannya yang mengelus kepalaku, "Tentu saja, Nak. Justru seharusnya eyang yang mengomelimu." Ujarnya. Aku meringis saat eyang menjewer telingaku. "Hati-hati di perjalanan. Kalau sudah sampai hubungi Eyang. Jangan bandel lagi! Rajin-rajin hubungi eyang! Jangan bikin susah orang tuamu!" "Iyaaa, Eyangku sayang. Ya sudah, Ceci berangkat dulu." Aku beranjak berdiri dan memakai ranselku, "-yakin eyang gak mau ikut antar Ceci ke bandara?" Tanyaku. Eyang menggeleng dengan pelan sembari tersenyum lembut. "Tidak usah. Eyang takut bakal cegah kamu pulang." Aku menyalimi tangannya yang keriput dan memeluknya. "Makasih sudah merawat Ceci selama lima belas tahun ini, Eyang. Ceci sayang banget sama Eyang." Aku menangis, meninggalkan eyang sendiri, sangat berat bagiku. Meninggalkan orang yang merawatku sejak umur lima tahun. Aku pamit sekali lagi sebelum aku masuk ke dalam mobil. Aku tersenyum senang, sekian lama, aku akan kembali bertemu dengan orangtuaku dan saudara-saudaraku. *** "Thank you, Sir." Ujarku setelah membayar ongkos taksi. Aku mendekati pagar. Mengintip dari cela-cela papan kayu. Kurasa pagar diganti setelah kepergianku. Pagarnya semakin tinggi saja. Aku memencet tombol bel berulang-ulang. Tapi tidak ada yang menyahut. Kemana para satpam? Huh. "Excuse, me?" Aku menoleh ke belakang. Dua orang laki-laki yang berumur 14 tahun, mungkin, berdiri dibelakangku dengan seragam sekolahnya. "Ya?" "Mau mencari siapa, Tante?" Ujar salah satunya yang membuat mataku melotot. Tante? Apa aku setua itu? Umur 20 tahun belum di kategorikan tante-tante 'kan? Yang satunya tertawa mendengar kembarannya memanggilku dengan sebutan 'Tante'. Wajah mereka bak pinang di belah dua. Aku berkacak dengan sorot tajam, "Heh, Adik Kecil! Saya masih muda. Panggil dengan sebutan 'Kakak'!" Perintahku. Mereka melipat kedua tangannya seperti orang dewasa. Sial, mereka anak siapa sih? Gayanya, Ya Allah. Aku jamin orangtuanya pasti seperti mereka. Slengean. "Enak saja, panggil kami Adik Kecil!" "Huh... mau apa ke rumah kami? Mau maling ya? Dasar, cantik-cantik jadi maling!" Aku mengernyit, rumah mereka? "Kalian Kelvin dan Kellan?" Tanyaku ragu. Ya, siapa tahu mereka adik kembarku. "Iya. Jangan-jangan mau culik kami, ya? Wah... jangan macam-macam, ya. Kami bisa pencak silat, nih!" Ujar salah satunya. Mereka berdua langsung mengambil posisi dan gaya layaknya di sinetron-sinetron sebelum memulai perkelahian. Aku terkekeh dan menjitak kepala mereka, "Siapa juga yang mau culik kalian. Ini Kakak. Ayo bantu bawain barang-barang kakak!" Titahku pada kedua pengawalku itu. Pintu pagar terbuka, seorang satpam keluar selepasnya.  "Maaf, Non. Gak dengar tadi ada bel." Ujar Pak Amo. "Gak apa-apa, Pak." Rupanya Pak Amo masih mengingat wajahku. Pak Amo sudah lama menjadi satpam disini. Pak Amo dan istrinya yang kebetulan juga bekerja di sini, tinggal di paviliun yang khusus untuk para pekerja. Pak Amo melihara Ayam Kate. Aku masih ingat jelas wajah lesunya Pak Amo saat aku suka mencabuti bulu ayam-ayam kate milik Pak Amo. Abis bulunya lucu, sih. "Eittt... serius ini Kak Ceci?" Ujar si kembar saat aku akan masuk kerumah. "Iya, Adikku sayang." Mereka tersenyum jahil sambil mengangkat kardus-kardusku. "Kami akan bawakan barang-barang kakak kedalam. Tapi, kakak kasih kami masing-masing 20 dolar." Gila! Mata duitan! "Apa?! Enak saja!" "Ya sudah, kakak bawa saja sendiri barang-barangnya." Kata mereka berbarengan sambil menuruni kardus di gendongannya. Duh... ya kali aku bawa kadusnya! "Ya ya ya. Nanti kakak kasih." Ya sudahlah ya, gak apa-apa. Mereka bersorak, lalu mendorong pintu kayu besar. "ASSALAMMUALAIKUM, BUNDA. PANGERAN-PANGERAN SUDAH PULANG!" Teriak adikku. Aku memasukki rumah yang sudah lama kutinggalkan. "Kak, barangnya mau taruh di kamar kakak'kan?" "Iya." "Kakak? Emangnya Kak Clara sudah pulang? Tumben." Ujar suara lembut dari lantai atas. Aku berbalik menatap ke lantai atas. Bunda menghentikan langkahnya sejenak saat menuruni anak tangga. Bunda terpaku melihatku. Meski jarak kami jauh, aku masih dapat melihat mata bunda kini berkaca-kaca. Tangan bunda terlihat bergetar pula. Tentu saja, bunda pasti sangat merindukanku, sama halnya denganku. Perlahan… bunda turun dari tangga dengan langkah pelan. Aku tersenyum bahagia melihat bunda. Aku pun berjalan mendekati bunda. Kini, kami berdiri berhadapan. Bunda meraih tanganku dengan pelan. Kedua tangannya masih bergetar pun dengan bibir bunda yang bergetar. Melihat bunda yang seperti ini hatiku tiba-tiba saja semakin sedih. Aku mengerti, selama lima belas tahun kami tidak pernah berjumpa. Bunda dan ayah tidak pernah berkunjung ke Belanda, sebaliknya denganku. Kami hanya berkomunikasi via telpon, hanya via suara saja. Kami tidak pernah melakukan panggilan video. Mungkin bunda terkejut dengan perubahan wajahku. Tapi, aku tidak menyangka bunda akan seterkejut ini. Bunda menatapku seolah bunda tidak pernah menyangka bisa menatapku lagi. Bunda membelai helai demi helai rambut pirangku dengan air mata yang sudah meluruh. “Wulan…” Lirih bunda dengan bergetar. Aku mengernyit bingung. Siapa Wulan? Bunda masih menatap dan mengusap tiap inci wajahku. Aku meraih tangan bunda. “Bunda, ini Ceci.” Kataku. Bunda menatapku lama. Hitungan detik kemudian, bunda mengeluarkan ekspresi terkejutnya, tangan bunda membekap mulutnya. Bunda mundur selangkah. “Bun…” Panggilku heran melihat reaksi bunda. Kenapa bunda justru malah terkejut begitu mendengar nama anaknya sendiri? Bunda mengusap air matanya dan langsung memelukku erat. Bunda terisak kuat. “Hikss… hikss…” Aku masih kebingungan, jujur. Bunda mengusap punggungku dengan pelan, “bunda gak apa-apa, sayang. Bunda hanya senang karena kamu sudah disini. Gak apa-apa… kamu sudah disini.” Hmmm… ini bunda kenapa, ya. Bunda merenggangkan pelukannya. “Kamu kok gak bilang mau pulang, sayang?” Aku tersenyum. “Kejutan!!” Kataku semangat. “Bunda sangat terkejut! Tahu kamu! Kamu pergi ke kamar kamu, ya. Mandi dan istirahat dulu. Nanti bunda bangunkan kalau ayah dan Clara pulang.” Aku mengangguk dan menuruti perkataan bunda. Aku menatap seantero kamarku. Banyak sekali perubahannya. Terutama kini hanya satu kasur saja di kamar ini karena dulu aku dan Clara tidur sekamar. Sekarang, Clara sudah pindah ke kamar sebelah. Aku menatap langit-langit kamar yang dilapisi kertas dinding dengan corak bintang-bintang. Badanku rasanya pegal sekali. Aku menatap kasurku dan langsung menghempaskan tubuhku di atasnya. Akibat kelelahan, aku langsung tertidur dengan lelap. *** Aku mengerang saat bunda memanggil namaku, diiringi dengan usapan di rambutku. “Ayo bangun sayang. Makan dulu. Nanti lanjut lagi tidurnya.” Kata Bunda. Aku mengangguk. “Duluan aja, Bun. Ceci solat dulu.” Bunda mengangguk dan meninggalkanku. Seusai solat, aku mengganti bajuku dengan baju tidur terusan berwarna putih. Rambutku kubiarkan tergerai karena masih lembab. Aku menuruni anak tangga dan memasuki ruang makan. Dentingan piring dan sendok terdengar dari sana. Keluargaku itu juga terdengar tengah berbincang-bincang. Aku tersenyum ceria saat ayah dan Clara menatapku dengan pandangan yang aneh. Mereka seolah menatapku seperti tengah melihat hantu. Owhh… apa karena aku memakai baju tidur ini? =====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD