“Tante ingin kamu makan dulu biar sedikit, supaya perut Raina nggak sakit dan Tante bisa dengan tenang membuatku pizza dengan topping kesuakaan Raina, bagaimana, setuju nggak?” Tampak Raina berpikir sejenak tetapi hanya untuk mendapatkan pizza pun dia harus makan, gadis kecil itu berpikir bukan dia yang akan membuatnya tetapi memesannya.
Raina pun setuju dengan permintaan Salsa. Lalu wanita cantik itu mengambilkan sedikit nasi dan kuah dari sayur asam itu.
Sedikit enggan untuk membuka mulutnya tetapi karena nasi yang diambilkan oleh Salsa hanya sedikit pasti mampu untuk menghabiskannya.
Raina pun terpaksa menelan makanan itu, tetapi saat mengunyahnya lidahnya mau merasakannya lagi.
Sensasinya sangat berbeda, gadis kecil itu pun mulai melahapnya dan mengambil sendiri kuah sayur asam itu.
“Tante, ini enak sekali, Raina belum pernah makan seperti ini, iya kan Kek?” Pertanyaan Raina membuat Kakek Baskoro tersedak.
“Uhuk ...uhuk... Sulthan yang tadi sibuk makan mengalih perhatian ke Kakek Baskoro dan segera mengambil segelas air putih.
“Kakek nggak apa-apa?” tanya Sulthan khawatir.
“Iya nggak apa-apa,” jawab Kakek pelan.
“Maaf Kakek, Raina nggak bermaksud untuk ...
“Sudah jangan sedih begitu, Kakek nggak apa-apa kok,” ucapnya lembut dan tersenyum.
“Kek, tetapi masakan Tante Salsa enakkan?” Pertanyaan itu kembali di lontarkan oleh gadis kecil itu membuatnya kikuk.
“Iya, masakan Tante Salsa sangat nikmat, Kakek saja nggak tahu sudah berapa kali tambah tadi,” jawabnya malu-malu.
Kakek Baskoro pun tertantang saat melihat Sulthan makan dengan lahap semur jengkol itu, beliau pun mengambil satu dan memakannya.
Belum merasa puas akhirnya beliau tambah lagi dan lagi.
“Sangat berbeda tidak ada baunya sama sekali,” ucapnya dalam hati.
Salsa kamu sudah membuktikan kalau bisa memasak, mulai hari ini kamu bisa turun langsung ke dapur dan mengarahkan kepada mereka untuk bisa belajar.” Ucapan Kakek Baskoro membuat Salsa bahagia, ada senyuman terukir di wajah cantiknya itu.
“Terima kasih, Kek,” sahutnya dengan bahagia.
“Mulai besok kamu yang memasak dan bisakah besok kamu buatkan saya tumis kangkung dan ikan asam manis?” pintanya seketika yang ingin mengujinya kembali.
“Bisa Kek, apa pun yang Kakek mau, Salsa akan buatkan,” jawabnya bersemangat.
“Iya, tolong buatkan saya besok.”
“Sayang, terima kasih ya masakannya enak sekali, buatanmu selalu yang terbaik, aku mau ke mandi dulu, permisi,” ucapnya buru-buru karena sudah tidak tahan, Salsa hanya tersenyum melihat suaminya yang menahan untuk buang air kecil hanya untuk bisa makan sampai habis.
“Oh ya Mbok, sudah pesan makanan untuk nanti malam, soalnya orang tua Delia akan datang,” ucapnya lagi mengingatkan Mbok Minah.
“Astagfirullahaladzim, saya lupa, sebentar Pak saya pesankan,” ucap Mbok Minah. Dia pun segera mengambil ponselnya dan menelepon sebuah restoran mewah dan seperti biasa untuk memesannya.
Namun, restoran itu tidak bisa membuatkannya karena sudah ada janji dengan pelanggan yang lainnya. Mbok Minah mencoba restoran lainnya tetapi lagi-lagi harus menelan pil pahit karena tidak mau menerima pesanan secara mendadak.
“Nggak ada yang mau, Pak, maafkan saya.”
“Tadi lupa untuk langsung memesan, biar saya saja yang masak, Pak kalau begitu,” ucap Mbok Minah yang merasa bersalah.
“Kamu kan tahu mereka itu tidak mau masakan biasa,” jawabnya sedikit kesal.
“Maaf Kek, biar Salsa saja yang masak, lagian kan tidak banyak, cukup untuk dua puluh orang anggap saja seperti itu, daripada pesan di luar.”
“Di sini kan ada banyak orang yang bisa membantu dan kalau hanya untuk keluarga kecil Salsa bisa buat Kek,” jawabnya meyakinkan.
“Baiklah terserah kamu, yang penting saya tidak mau ada masalah nanti malam, biar bagaimanapun pun tamu tetap kita hormati, kamu tahu kan siapa yang akan datang?”
Mereka adalah kedua orang tua Delia dan kami ingin membicarakan masalah pertunangan Delia dan Sulthan yang sempat tertunda,” jelas Kakek Baskoro dengan lantang.
“Salsa tahu itu nggak menjadi masalah buat Salsa.”
“Salsa percaya dengan keputusan Mas Sulthan, dan apa pun keputusannya Salsa tidak akan menolak,” jawabnya dengan penuh keyakinan.
“Wah selain kamu pintar memasak kamu juga sangat percaya diri sekali, apakah kamu tidak takut seandainya jika Sulthan sembuh dan mengingat semuanya kalau Delia memang tunangannya apakah kamu siap meninggalkan Sulthan cucu, saya?”
“Orang tuamu sengaja menikahkan kamu, mungkin dia tahu kau Sulthan adalah cucu pewaris tunggal Pratama group. Dia tahu kalau kehilangan cucu sang pewaris selama enam bulan terakhir ini, iya kan Salsa?” tanyanya mengejek.
Salsa tetap saja terdiam dan hanya menyunggingkan sebuah senyuman, tanpa membalas hinaan demi hinaan tentang dirinya, walaupun sebenarnya dia juga bukan dari keluarga miskin, bahkan di kampusnya keluarga Salsa sangat disegani dan kaya raya tetapi mereka tetap rendah hati dan tidak memamerkan semua kekayaannya.
“Maaf Kakek, tidak ada niatan kami untuk apa yang Kakek tuduhkan kepada kami, Kakek boleh menghina Salsa sesuka hati Kakek, tetapi jangan menghina Bapak Salsa.”
“Beliau sangat tulus dan ikhlas menolong Mas Sulthan saat itu tanpa tahu siapa dia sebenarnya, Bapak tidak pernah memandang bulu untuk menolong orang dan Salsa selalu diajarkan untuk selalu sopan dan menghormati orang yang lebih tua.”
“Maaf Kek, jika sudah selesai kami mau menyiapkan bahan untuk masakan nanti malam,” jelas Salsa dan ingin memutar kursi rodanya.
“Tunggu Tante, Raina boleh bantu Tante kan?”
“Boleh dong kan katanya mau buat pizza kan?”
“Hore ...serius Tante mau buatkan Raina pizza bukan beli kan?”
“Serius dong, ayuk kita ke dapur,” ajak Salsa dengan tersenyum.
Mereka pun mengikuti Salsa ke dapur sedangkan Mimin segera membereskan meja makan dan Kakek Baskoro kembali ke kamar.
Dengan tongkat kayunya pria tua itu melangkah pelan sampai di kamarnya di bawah. Lalu menghampiri lemari dan membukanya.
Terdapat sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu jati dengan sedikit ukiran di atasnya.
“Ada yang menandingi masakan kamu Lasmi, dan hampir sama baik kualitas dan rasanya, dia sangat pandai mengolah makanan, aku tidak menyangka masih ada anak gadis di zaman seperti sekarang bisa memasak, sangat sedikit sekali.”
“Dan kamu tahu cara berpikir anak itu sangat tenang, dia tidak terbawa emosi saat aku berkali-kali menghinanya.”
“Dan satu lagi dia berpendidikan, dan jujur aku sangat menyukai kalau Sulthan memang mempunyai istri seperti dia. Aku tidak akan pusing lagi memikirkan cucu kita itu, dia sudah mendapatkan wanita yang berkualitas, tidak matre, berwawasan luas, pintar masak dan satu lagi kamu cucu kita yang paling kecil anaknya Dirga langsung lengket dengannya, padahal anak itu sangat susah berteman dengan yang baru.”
“Dan sekarang dia bisa membuat anak itu melihatkan senyuman di wajahnya. Aku akan mengujinya lagi sampai di mana dia bertahan dengan semua hinaan yang ada di hadapannya dengan begitu aku tahu kalau Salsa adalah orang yang tepat untuk Sulthan,”
Kakek Baskoro sedang memandangi dan berbisa dengan senjata foto milik istrinya yang sudah berpulang lebih dulu tiga tahun yang lalu. Beliau lalu mencium foto itu dan memeluknya dengan erat.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar dan beliau sudah tahu kalau yang datang adalah Sulthan. Dia pun melangkah masuk dan menghadap kalinya yang sudah beliau tunggu.
“Bagaimana Sulthan, kamu sudah siap dengan rencana kita kan? “tanyanya seketika.
“Baiklah, terserah Kakek saja, Sulthan akan memimpin perusahaan kita kembali tetapi jangan suruh Sulthan untuk menikah dengan Delia,” sahutnya dengan tegas.
“Apa yang kamu katakan nanti malam justru kamu harus menerima Delia menjadi istrimu yang kedua, bukankah itu rencananya supaya kamu tahu siapa dalang yang membuatmu menghilang saat itu?”
“Kakek yakin kalau Delia adalah otak dari dalang semua kejadian itu dan kamu harus mencari bukti kenapa papamu sampai meninggal.”
“Kakek sengaja tidak memperkeruh keadaan karena Kakek tahu pasti hanya orang di dalam keluarga kita, setelah kita tahu siapa saja mereka dan bukti yang kita kumpulan sudah ada, kamu bisa menjebloskan mereka ke dalam penjara,” jelasnya dengan tegas.
“Sulthan tahu , Kek, tetapi bagaimana dengan perasaan Salsa kalau Sulthan menikah lagi, dan itu sangat menyakitkan buat Salsa, Kek?” tanyanya dengan khawatir.