Sementara itu, di balik pagar tembok tinggi yang memisahkan kedua bangunan besar itu, Sadewa Arka Dirgantara memarkirkan SUV hitamnya dengan presisi yang nyaris sempurna—sejajar dengan garis ubin garasi tanpa meleset satu sentimeter pun. Kedisplinan yang ia pelajari selama sepuluh tahun di Belanda sudah mendarah daging, membentuk setiap gerak-geriknya menjadi efisien dan terukur.
Dewa melangkah keluar, menutup pintu mobil dengan dentuman suara yang berdebam halus. Ia menatap fasad rumah dua lantai di hadapannya. Rumah ini adalah peninggalan neneknya, sang rahim dari ibundanya yang berdarah Jawa murni.
Di rumah yang sunyi ini, Dewa memilih untuk mengasingkan diri. Baginya, hiruk-pikuk dunia korporat dan kilatan lampu blitz di acara teknologi Eropa hanyalah kebisingan yang melelahkan. Ia butuh tenang, atau setidaknya, itulah yang ia yakini selama hidup di kota ini. Dan ini sudah kelima harinya.
"Tsk," Dewa mendesis pelan, teringat wajah gadis agresif yang memakinya dengan campuran bahasa yang ajaib. "Surabaya benar-benar tidak berubah. Masih panas dan... berisik."
Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang masih berbau kayu jati dan melati. Dewa menaiki tangga menuju kamar utamanya di lantai dua. Sebagai pria yang terobsesi dengan privasi, hal pertama yang ia lakukan adalah menuju jendela besar yang menghadap ke arah samping, berniat menutup tirai agar sinar matahari sore tidak merusak suhu ruangan yang sudah ia atur.
Namun, tangannya membeku di udara.
Jendela kamar Dewa berada dalam posisi yang sejajar, hampir berhadapan langsung dengan jendela rumah sebelah. Dan di sana, tanpa penghalang tirai sedikit pun, ia melihat pemandangan yang sama sekali tidak ada dalam jadwal kegiatannya hari ini.
Gadis "pentol" itu ada di sana.
Dewa tertegun, tubuhnya mematung seperti patung marmer. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan leluasa saat gadis itu—dengan sisa-sisa amarah yang terlihat dari gerak tubuhnya—menyentak kaos putihnya ke atas kepala. Dalam hitungan detik, kaos ternoda itu tanggal, menyisakan tanktop croptop yang membungkus tubuhnya dengan pas.
Mata cokelat bening Dewa yang biasanya sedingin es, mendadak kehilangan fokusnya. Ia melihat perut rata yang bergerak naik-turun seiring helaan napas kesal gadis itu. Ia melihat lekuk pinggang yang ramping dan kulit yang tampak sehalus porselen di bawah cahaya lampu kamar.
Glek.
Dewa menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering, seolah seluruh pasokan air di tubuhnya menguap seketika. Ada sensasi aneh yang menggelitik di balik dadanya—sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar rasa terkejut.
Gadis kecil yang dulu menangis minta digendong itu... sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dengan daya pikat yang berbahaya.
Namun, sedetik kemudian, Dewa segera menguasai dirinya. Ekspresi kaku dan tak tersentuh itu kembali terpasang sempurna di wajahnya. Ia menarik napas panjang, menekan gejolak aneh dalam dirinya kembali ke dasar hatinya yang paling dalam.
"Tetap saja, dia tidak punya sopan santun," gumam Dewa dengan suara rendah dan dingin, meski matanya masih enggan berpaling selama beberapa detik tambahan.
Ia memperhatikan bagaimana gadis itu duduk di depan laptop, mulai mengetik dengan penuh tenaga seolah sedang memukuli musuh. Dewa menyipitkan mata, melihat lembaran uang seratus ribu yang ia berikan tadi diletakkan dengan kasar di atas meja.
"Jadi itu Lintang? Si gadis cengeng yang sekarang sudah menjadi dewasa?" Dewa menarik sudut bibirnya tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.
Dengan gerakan lambat namun pasti, ia menarik tirai kamarnya hingga tertutup rapat, memutus pandangan provokatif tersebut. Dewa berbalik, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas. Suasana kamar kembali gelap dan tenang, namun entah kenapa, bayangan perut rata dan wajah galak Lintang seolah sudah terpatri di balik kelopak matanya.
"Selamat datang kembali di rumah, Sadewa," bisiknya pada kegelapan. "Sepertinya, tenang adalah satu-satunya hal yang tidak akan kamu dapatkan di sini."
---
Lintang masih tidak sadar bahwa di balik jendela yang tertutup rapat di seberang sana, ada sepasang mata yang baru saja kehilangan ketenangannya. Ia justru sibuk mengikat rambutnya asal-asalan menjadi cepol tinggi, menampilkan leher jenjangnya yang berkeringat.
Jari-jarinya menari liar di atas keyboard. Ia sedang menulis adegan di mana tokoh antagonisnya—yang secara fisik ia gambarkan persis seperti "Mas Bule" Yang ia temui tadi.
"Eh sebentar, kok bisa pas sih?" Lintang meringis. Membaca kembali visual yang ia jabarkan dari setiap kata hingga menjadi kalimat.
"Iya ih, kok ngene?" Lintang menggeleng. "Nggak lah. Orang visual kek gini kan biasa dimana-mana juga ada."
Lintang kembali melanjutkannya, dimana Mas Bule terpeleset kulit pisang di depan umum. Lintang tersenyum puas, merasa dendamnya terbalaskan lewat kata-kata. Ya... Jika dia tak bisa melampiaskan secara nyata. Disini dia bisa melakukannya sesuka hati.
"Rasakan itu, Mas Kaku. Di dunia nyata kamu boleh menang, tapi di duniaku, kamu cuma butiran debu!" serunya pada layar laptop.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar yang beruntun membuyarkan konsentrasinya.
"Mbak! Mbak Lintang! Dicari Ibun di bawah!" Suara cempreng Linggar terdengar dari balik pintu, dibarengi dengan gedoran tangan mungilnya.
Lintang mendesah berat, matanya terpejam sejenak meratapi nasib draf novelnya yang baru saja menyentuh bagian paling seru.
Dengan gerakan malas yang kentara, Lintang menyambar daster batik selutut bermotif bunga matahari yang tergantung di balik pintu. Tanpa repot-repot melepas tanktop croptop-nya atau mencari kaos yang lebih pantas, ia menyarungkan daster itu begitu saja. Toh, cuma di rumah sendiri, pikirnya. Setelah merasa penampilannya sudah masuk kategori "aman" untuk konsumsi keluarga, ia memutar kunci.
"Apa sih, Linggar? Mbak lagi kerja ini," protes Lintang sambil mencubit gemas pipi adiknya yang bulat hingga si kecil itu meringis.
"Disuluh Ibun, Mbak..." dengus Linggar, wajahnya merengut karena merasa diabaikan terlalu lama di depan pintu.
Lintang hanya bisa menghela napas, mengikuti langkah pendek adiknya menuruni tangga menuju lantai satu. Di dapur, aroma gurih sudah mulai memenuhi ruangan. Kalinda, yang sudah mengganti pakaiannya namun tetap terlihat rapi, sedang sibuk mengupas pisang raja yang matang sempurna.
"Ibun..." panggil Lintang, sembari berjalan semakin mendekat.
"Eh, Mbak. Maaf ya, Ibun ganggu ndak?" tanya Kalinda tanpa menoleh, tangannya cekatan membelah pisang.
"Nggak apa-apa, Bun. Ada apa?"
"Tolong beliin Ibun tepung ya, Mbak? Tepung terigu sama tepung beras sekalian. Ibun mau buat pisang goreng sama roti," ujar Kalinda sembari menunjuk wadah tepung yang sudah kosong melompong.
Lintang mendekat, tangannya refleks mencomot satu tempe mendoan hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan. "Emang ada acara, Bun? Kok heboh bikin suguhan?" tanya Lintang dengan mulut penuh mendoan.
"Ndak ada acara besar. Cuma nanti katanya Ayah, ada teman Ayah yang mau main ke rumah. Jadi Ibun buat suguhan dulu biar pantes."
Lintang mengangguk-angguk paham, meski hatinya sedikit dongkol karena harus keluar lagi di saat kepalanya sedang penuh dengan plot. Ia mengambil uang yang disodorkan ibunya, lalu melangkah menuju pintu depan tanpa mengganti daster atau menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
"Loh, Mbak! Vespanya nggak dibawa? Itu kuncinya di atas meja!" teriak Kalinda saat melihat putrinya melenggang keluar pagar.
"Jalan aja, Bun! Males keluarin motor!" sahut Lintang dari kejauhan tanpa menoleh.
Kalinda yang berdiri di ambang pintu hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri sulungnya itu. "Aneh kamu, Mbak! Di mana-mana orang males itu pilih naik motor, kamu kok malah jalan panas-panas begini!"
Lintang hanya melambaikan tangan sebagai jawaban. Sebenarnya, alasan ia berjalan kaki sederhana: ia butuh udara segar untuk mendinginkan kepalanya yang masih panas gara-gara insiden pentol tadi. Namun, Lintang tidak tahu bahwa jalan kaki di siang bolong dengan daster bunga matahari akan membawanya kembali ke arah takdir yang ingin ia hindari.