Vanilla Pramudya Astari

1411 Words
Hari ini rasanya waktu berjalan lama sekali. Duduk selama dua jam menunggu telepon dari pihak perusahaan yang dilamarnya. Kedua tangan itu saling menggenggam erat untuk menetralkan kegugupannya. Beruntung sofa miliknya terbilang cukup nyaman sehingga sesekali ia menyandarkan tubuh dengan nyaman. Seorang perempuan tengah duduk dengan gelisah menanti sebuah kepastian dari tempat ia melamar pekerjaan. Sudah satu bulan sejak dinyatakan lulus dalam sidang akhir, perempuan yang biasa dipanggil Vanilla itu belum juga mendapatkan pekerjaan. Apa yang dialami oleh Vanilla adalah hal yang wajar di dunia kerja. Namun, yang membuatnya tidak tenang karena teman-teman dekatnya sudah memiliki pekerjaan, bahkan sebelum dinyatakan lulus. Hari ini rasanya waktu berjalan lama sekali. Ia sudah duduk selama dua jam menunggu telepon dari pihak perusahaan yang dilamarnya. Kedua tangan itu saling menggenggam erat untuk menetralkan kegugupannya. Beruntung sofa miliknya terbilang cukup nyaman sehingga sesekali ia menyandarkan tubuh dengan nyaman. Vanilla adalah seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya berhasil menyekolahkan anak pertamanya itu sampai jenjang sarjana. Belum lagi, gelar cumlaude yang Vanilla dapatkan, tentu membuat ayah dan bundanya tidak menyesal sama sekali telah mengeluarkan banyak biaya. Menunggu kepastian membuat Vanilla mengantuk. Matanya hampir terpejam kalau saja suara dering telepon tidak menginterupsinya. “Halo?” jawab Vanilla tanpa melihat nama si penelepon. “Mbak.” Panggilan itu sontak membuatnya langsung mengecek nama kontak yang menelepon. Vanilla mengembuskan napas pelan. “Bunda? Ada apa?” “Tidak ada apa-apa. Gimana? Sudah ada kabar dari perusahaan?” “Belum, Bunda. Ini Vanilla lagi nungguin,” jelas Vanilla sambil memainkan ujung kaos yang dipakainya. “Oh, Bunda ganggu, ya? Ya sudah, nanti telepon bunda kalau sudah ada kabar dari perusahaan.” “Iya, Bunda.” “Bye, Sayang.” Setelahnya, bunda langsung menutup panggilan itu dan Vanilla kembali menunggu. Pikirannya kembali melayang di beberapa tahun terakhir masa kuliahnya. Ia tidak menyangka akan lulus secepat ini padahal dulu di semester awal Vanilla tidak pernah berhenti mengeluh setiap hari. Namun, ada satu hal yang membuatnya mengubah pola pikir dan tidak lagi mengeluh. Waktu itu ada seorang anak kecil yang jualan coklat di kampusnya. Entah dari mana asal anaknya hingga anak kecil itu bisa masuk ke lingkungan kampus. Wajahnya terlihat lelah dengan barang jualan yang masih banyak. Beberapa yang melihat anak itu tidak dihiraukan. Vanilla yang saat itu sedang berjalan dengan teman-temannya tidak sengaja menangkap raut putus asa dari anak itu. Sejenak ia meminta teman-temannya untuk mengumpulkan sisa uang jajan mereka. Tadinya mereka bingung dengan kelakuan Vanilla, tetapi ketika melihat arah pandangnya, mereka pun setuju. Dengan wajah tersenyum sedikit dipaksakan, Vanilla menghampiri anak itu. Kalau saja ia tidak ingat tempat, air mata yang dari tadi menumpuk pasti sudah terjatuh. Kira-kira usia anak itu sekitar tujuh sampai delapan tahun. Umur di mana anak normal lainnya akan memulai masa sekolahnya di tingkat SD. “Adik, jualan apa?” tanya Vanilla ramah. Terlihat jelas bahwa ada setitik binar di matanya. Melihat itu, Vanilla tidak lagi bisa menahan air matanya. Ia tidak pernah bisa melihat orang tua atau anak kecil susah payah berjualan. “Jual coklat, Kak. Kakak mau?” Suaranya terdengar lembut di telinga Vanilla. Vanilla mengusap kasar pipinya, kemudian mengangguk. “Tentu!” ucapnya riang. “Mau beli berapa, Kak?” “Harganya berapa?” “Satu ini lima ribuan, Kak,” jelasnya sambil mengangkat satu bungkus coklat yang berisi beberapa bentuk huruf. “Kamu masih ada berapa?” tanya teman Vanilla yang juga ikut mengerubungi anak itu. “Masih ada lima belas bungkus.” Nadanya berubah lesu, membuat teman-teman di sekelilingnya saling menatap. “Kakak mau beli semua boleh?” tanya Vanilla sambil menatap lembut anak itu. Dengan semangat, bocah laki-laki itu mengangguk. “Boleh, Kak, boleh!” Vanilla terkekeh, begitu pula dengan teman-temannya. “Terima kasih banyak, Kak! Semoga kakak-kakak semua sehat selalu!” ucapnya tulus. Vanilla lagi-lagi tidak bisa menahan rasa harunya. Ia membuka lebar lengannya dan menarik bocah itu masuk ke dalam pelukannya dan bergumam, “Kamu sehat terus ya, biar jadi orang sukses.” Pelukan itu kemudian mengundang teman-teman yang lain untuk ikut berpelukan. Thank God. – S B T – Lima menit yang lalu, Vanilla mendapatkan telepon yang ditunggu-tunggu. Kini Vanilla hanya tinggal melewati satu tahap lagi, yaitu wawancara langsung dengan CEO Obsidian Corp. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Berbagai pikiran negatif menghantui kepalanya. “Astaga!” Vanilla menyentuh dadanya dan merasakan degup jantung yang masih berdebar. “Jantungku.” Sungguh ini adalah salah satu momen yang tidak terlupakan. Besok adalah hari penentuan Vanilla, apakah ia akan menjadi seorang karyawan atau pengangguran. Ia harus menyiapkan semuanya mulai dari sekarang. Vanilla melangkah ke kamar, kemudian kembali lagi ke ruang tengah. Dua sampai tiga kali Vanilla melakukan hal yang sama. Namun, tiba-tiba ia berdiri dari sofa dan menuju lemari baju untuk menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan besok. Saat sedang menyiapkan pakaian, bel apartemennya berbunyi. Vanilla membukakan pintu dan Tara, sahabat yang juga tinggal di unit atas, langsung masuk tanpa mengucapkan permisi. “Tara kebiasaan kalau bertamu nggak pernah bilang permisi,” keluhnya. Perempuan berkulit sawo matang itu meletakkan beberapa kantung belanjaan ke meja pantry dan menatanya ke dalam kulkas. “Aku lagi baik, nih, baru aja belanja bulanan,” ucapnya sambil merapikan beberapa space yang kurang tertata. “Ya sudah, beresin dulu aja. Aku mau ke kamar.” Selepas mengatakan itu, Vanilla kembali ke kamar dan kembali memilih pakaian untuk besok. Ada dua pasang atasan yang membuatnya bimbang. Atasan putih dengan model berkerah v atau atasan putih model kerah biasa dengan pita hitam sebagai hiasan. “Kamu lagi ngapain?” Tara masuk ke kamar dan langsung merebahkan diri ke kasur. Ia melihat betapa berantakannya lemari Vanilla itu. “Bantu pilihin baju, dong, Tar. Aku besok mau interview,” ucap Vanilla sambil masih menimbang-nimbang. “Kamu mau pake atasan putih bawahan hitam?” Vanilla mengangguk. “Iya.” “Van, I tell you something.” Tara menatap sahabatnya itu dengan serius. “Apa?” “You’re so yesterday tahu nggak,” ucapnya sambil melakukan peregangan. Vanilla mengernyit. “Maksudnya?” “Interview itu sudah nggak perlu baju hitam putih kayak gitu. Udah nggak zaman,” ucap Tara mengalihkan pandangan menatap langit-langit. “Terus aku pakai baju apa?” Keluhan ringan Vanilla membuat Tara berdecak pelan. “Kamu memang nggak tahu fashion, Van.” Ledekan itu tidak serta merta membuat Vanilla marah karena memang itulah kenyataannya. Vanilla buruk dalam hal berpakaian. Bahkan, saat pertama kali Vanilla masuk kuliah ia hanya mengenakan kemeja putih dengan celana panjang hitam. Old fashion sekali. “Sini aku pilihin.” Tara bangkit dari posisinya dan mencari kemeja atau blouse yang akan digunakan Vanilla esok. Tara menarik satu atasan berwarna hijau lumut, kemudian ia mencocokkan dengan tubuh Vanilla. “Pakai ini besok.” “Yakin? Ini mencolok banget, Tar.” Tara kembali berdecak. “Kesan itu penting, Van. Lagian ini juga sopan kok. Ntar bawahannya rok hitam di atas lutut.” Vanilla kembali menimbang pilihan Tara. “Emang cocok?” “Cocok, Vanilla. Berhenti untuk insecure gitu, deh. Postur tubuhmu sudah bagus,” terang Tara mencoba membangkitkan kepercayaan diri Vanilla yang minus itu. Akhirnya Vanilla pasrah dengan pilihan Tara. Semoga besok ia tidak menjadi pusat perhatian orang-orang. “Iya, deh.” “Nah, gitu dong!” – S B T – Tadinya Vanilla tidak ingin sarapan, tapi berhubung wawancara dilaksanakan beberapa jam lagi, mau tidak mau ia harus sarapan. Akan sangat memalukan kalau nanti ia jatuh pingsan. Vanilla mulai memotong beberapa sayuran dan menyiapkan bahan-bahan lain. Ia hanya akan memasak omelet dengan sosis panggang. Vanilla tidak pernah bisa makan dengan suara hening. Oleh karenanya, ia selalu menonton youtube untuk menemaninya makan. Mukbang seafood adalah salah satu konten yang sering Vanilla lihat saat sedang makan. Dengan itu, selera makannya langsung meningkat. Jarum jam sudah menujukkan pukul delapan. Masih ada sekitar satu setengah jam baginya bersiap. Setelah selesai makan, Vanilla langsung membawa piring dan alat masak yang digunakan tadi ke tempat cucian. Tangannya dengan cekatan membersihkan sisa-sisa bahan yang masih menempel. Iringan lagu 92914 membuat seisi ruangan menjadi teduh. Looking at this tide Found you on the right side All of a sudden There were you Vanilla memakai blouse pilihan Tara semalam. Tara memang yang terbaik. Vanilla berkaca dengan anggun. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang baik untuknya. Terima kasih untuk Tara yang telah membantunya kembali percaya diri. “Not bad,” gumamnya dengan tersenyum. Vanilla sedikit memberi sentuhan make up pada wajahnya agar tidak terlihat pucat. Ia juga membentuk rambutnya menjadi sedikit bergelombang, kemudian menyatukannya menjadi bentuk ponytail.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD