Setelah membersihkan dapur, perempuan bersurai hitam kecokelatan itu mengambil kemoceng untuk membersihkan debu di beberapa sudut ruangan. Debu-debu dengan cepat telah menutupi foto-foto miliknya padahal baru seminggu yang lalu ia dibersihkannya. Sepertinya, setelah ini Vanilla harus melakukannya lagi.
Masih ada beberapa waktu untuk menunggu jemputan. Laki-laki itu mengatakan akan tiba lima sampai sepuluh menit lagi. Selagi jarak belum memisahkan, Vanilla ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang kekasih.
Perempuan yang sangat suka mendengarkan lagu ber-genre folk itu sudah mempersiapkan diri dengan matang untuk wawancara hari ini. Membayangkan siapa yang akan mewawancarainya saja sudah membuat perut mulas. Bayangan pria tua bertubuh gempal memenuhi pikirannya. Vanilla bergidik.
Vanilla mengembuskan napas untuk menghalau kegugupannya. Sampai saat ini ia masih belum bisa mengontrol rasa paniknya. Ia membutuhkan sesuatu untuk dipegang, seperti squishy. Perlahan tapi pasti, degupannya kembali normal. Bibirnya tersenyum tipis, meyakinkan diri bahwa ia bisa melewati hari ini dengan baik.
Jarinya mengetuk-ketuk di atas meja. Menunggu sang kekasih yang tak kunjung memberi kabar apakah sudah sampai di lobby atau belum. Ia pun memutuskan untuk menunggunya di hall apartemen yang letaknya berada di lantai satu.
Ponsel Vanilla yang di mode getar menampilkan bahwa ada panggilan masuk dengan nickname Daniel. Buru-buru Vanilla mengangkat telepon itu sambil berjalan.
“Aku sudah di depan.”
“Tunggu.” Hanya itu jawaban Vanilla dan sambungan diputus sepihak olehnya, kemudian ia memasukkan ponsel ke dalam tas.
Vanilla tidak lagi memperhatikan sekitar ketika melihat sebuah mobil yang dikenalnya sudah menunggu di area drop off. Ia membuka pintu bagian depan dan menyapa sang supir yang juga kekasihnya.
“Hai!” sapanya riang.
Laki-laki yang berpakaian casual itu tersenyum tipis melihat kelakukan Vanilla yang kelewat ceria itu.
“Are you ready for the interview, Miss?” tanya laki-laki di sebelah Vanilla sambil menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan lingkungan apartemen.
“El!” seru Vanilla mengerucutkan bibirnya. Daniel selalu menggodanya di saat-saat seperti ini. Menyebalkan.
Pria yang sudah menjadi kekasihnya selama hampir dua tahun itu terkekeh. Ia memukul lengan sang kekasih pelan seakan berkata, “Berhenti bertingkah menyebalkan!”
Daniel mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata, sedangkan Vanilla duduk manis di kursi penumpang sambil memainkan jemarinya dengan gelisah. Membuat Daniel tersenyum tipis.
“Santai, Van,” ucap Daniel disertai kekehan kecil.
Kesal, Vanilla memutar bola matanya. “I wish, El!”
Balasan yang diberikan Vanilla makin membuatnya terkekeh. Daniel tidak lagi menggoda. Ia membiarkan wanitanya menikmati kegugupan seorang diri. Tanpa disadari Vanilla, Daniel beberapa kali memalingkan wajah ke arahnya hanya sekadar mengagumi kecantikannya pagi ini dalam diam. Daniel selalu suka pose di mana Vanilla mengigit bibirnya ketika sedang tidak tenang. Ada sensasi tersendiri baginya yang selama ini tidak disadari Vanilla.
– S B T –
Vanilla sudah mengatakan kepada Daniel untuk menunggunya di kafe terdekat. Ia tidak mau pulang sendiri. Ia mau laki-laki itu mendengarkan seluruh ceritanya nanti. Daniel pun hanya bisa menuruti keinginan sang kekasih dengan sabar.
Langkah kaki Vanilla memasuki gedung Obsidian Corp yang sangat mewah, menurutnya. Sebelum memasuki gedung, ada satpam yang bertugas untuk mengecek barang bawaan serta identitas. Setelah melewati pemeriksaan, di sana Vanilla bisa melihat ada sebuah alat sensor yang akan berbunyi jika ada benda-benda yang dilarang dibawa masuk. Kecanggihan fasilitas ini membuat Vanilla terkagum-kagum dan semakin ingin menjadi bagian dari Obsidian Corp.
Saat memasuki lobby, Vanilla langsung mendatangi meja resepsionis. Sepertinya tidak ada aturan yang mewajibkan pegawai harus memakai seragam karena yang dilihatnya hanyalah kesamaan warna pakaian. Pegawai yang berjaga di resepsionis itu menyalurkan senyum kepada Vanilla.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Vanilla mengangguk samar. “Hari ini saya ada jadwal interview dengan CEO, ruangannya ada di mana, ya?” tanya Vanilla dan membuat pegawai itu mengangguk paham. Vanilla melihat kegesitan yang dilakukan perempuan dengan name tag di kiri atas pakaiannya. Clarissa.
“Silakan ke lantai delapan, ruangan dengan pintu warna hitam metalik. Anda sudah ditunggu oleh Pak Rey.”
Vanilla mengangguk mengerti. “Terima kasih, Clarissa,” ucapnya dengan tersenyum.
Perempuan itu tersenyum senang ketika Vanilla menyebutkan namanya. Menurut psikoKamugi, orang akan suka ketika namanya disebutkan dalam percakapan. Selain itu, akan terdengar lebih sopan daripada memanggilnya dengan “eh” atau “kamu".
Dengan yakin, Vanilla menuju ruangan yang tadi diberi tahu oleh resepsionis itu. Beberapa kali ia berpapasan dengan pegawai Obsidian Corp. Keinginannya menjadi bagian dari mereka semakin besar. Akan ada banyak keuntungan yang akan ia peroleh jika nanti ia berhasil menjadi pegawai tetap di Obsidian Corp ini.
Sesampainya di lantai delapan, Vanilla mulai mencari ruangan berwarna hitam metalik seperti yang disebutkan Clarissa. Hanya ada satu ruangan dengan pintu hitam metalik. Ruangan itu berada di paling sudut dan memiliki ukuran yang paling luas dibanding ruangan lainnya.
Kesan yang pertama kali ditangkap adalah segan dan misterius. Tidak banyak yang diketahui tentang kepribadian berdasarkan warna, tetapi setidaknya itu yang ia tangkap. Vanilla agaknya mengubah pandangannya terhadap perawakan pria yang akan dihadapinya. Bukan lagi sesosok laki-laki bertubuh gempal, melainkan pria bertubuh atletis yang diidam-idamkan para wanita.
Awalnya Vanilla ragu untuk mengetuk pintu. Namun, setelah berulang kali mengatur napas akhirnya ia membulatkan tekad. Vanilla mengetuk pintu dengan mata terpejam dan sedikit meringis. Untung tidak ada orang di sekitar situ, entah seberapa malu kalau mereka melihat wajah bodohnya.
“Permisi.”
“Ya, silakan masuk.” Suara tegas yang masuk ke telinga membuatnya merinding seketika. Ia menekan daun pintu, kemudian memasuki ruangan yang auranya tidak jauh dari yang ia bayangkan. Simpel, elegan, dan misterius.
Sepatu hak tinggi miliknya beradu dengan lantai hingga menimbulkan suara. Beruntung ia tidak menyandung kakinya sendiri. Akan sangat memalukan jika hal itu benar terjadi. Sekilas ia lihat perawakan laki-laki yang sesekali memeriksa berkas, Vanilla akui wajahnya tampan. Pria itu memiliki rahang yang tegas, cocok dengan posisinya sebagai pemimpin.
“Silakan duduk dan perkenalkan diri Anda.”
Vanilla mendudukkan diri dengan tubuh yang ditegakkan. Pria itu diam-diam memiliki tatapan yang berbahaya. Tidak heran kalau akan ada banyak wanita di luar sana yang menggilainya. Ia merasa terintimidasi sekarang.
Vanilla berdeham. Ia memulai perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus diajukan. Ada kalanya ia merasa yakin, tetapi tidak jarang juga ia menelan ludah atas kegugupannya. Sungguh, ia merasa ditertawakan ketika jawabannya tersendat.
Tiga puluh menit yang menegangkan berhasil dilewati Vanilla, tapi ia masih bergeming. Pria yang bernama Greyson Halim Obsidian itu menahannya. Pria itu akan mengatakan langsung hasil dari wawancara itu. Suhu dingin di ruangan ini membuat kegugupannya semakin kentara. Ia menahan mati-matian giginya yang mulai bergemeletuk. Berkali-kali pula ia meremas tangannya yang dingin. Bagaimana bisa pria itu betah di suhu dingin seperti ini?
“Vanilla Pramudya Astari,” ucap Rey sekilas melihat perempuan di depannya.
“Saya, Pak.” Vanilla menjawab dengan mantap. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri sesi terakhir ini. Bulu kuduknya sudah meremang sejak tadi. Apalagi bagian leher karena tidak tertutupi apa pun.
Laki-laki di hadapannya itu melemparkan beberapa pertanyaan terkait jobdesk hingga salary yang akan diterimanya.
“Saya suka cara berpikir kamu,” pujinya. Matanya masih fokus membaca berkas data diri Vanilla. “Saya juga suka cara kamu mempertahankan argumen.”
Vanilla tersenyum, semoga saja ini pertanda baik. Ia berterima kasih dengan nada lirih, tanpa ia tahu seseorang tersenyum samar.
“Kamu menjadi bagian dari Obsidian Corp mulai hari ini.”
Ucapan itu membuatnya terperangah. Kedua matanya membulat lucu, bibirnya tanpa sadar terbuka sedikit. Ingin sekali ia bertanya apakah ini mimpi, tapi ia urungkan mengingat perkataan Tara agar tidak membuat ulah. Semua rasa tegang dan gugup seakan menguap setelah mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh CEO-nya sendiri.
“Terima kasih, Pak! Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
Rey mengangguk ringan. Sekilas ia melihat senyum yang dipancarkan oleh perempuan yang sekarang menjadi bawahannya. Ia merapikan kembali berkas-berkasnya dan mempersilakan Vanilla untuk keluar dari ruangan itu.
“Baik. Saya permisi, Pak.”
Selepas perempuan berkemeja hijau lumut itu keluar, Rey menghela napas. Ada rasa terbesit yang dulu pernah ada ketika melihat senyum Vanilla.
– S B T –
Seorang pria yang sedang duduk di kap mobil parkiran menggelengkan kepala ketika melihat sang kekasih berlari kecil dengan wajah bahagia. Rambut ponytail-nya bergerak ke kanan dan kiri. Tangannya merentang dan langsung masuk ke pelukan kekasihnya. Daniel menepuk-nepuk puncak kepala Vanilla. Pasti ada hal baik yang baru saja didapatkannya.
“Gimana hari ini?” tanyanya. Mereka masih berpelukan, pria itu memegang pinggang Vanilla. Begitu juga Vanilla mengalungkan lengan ke leher sang kekasih. Senyum lebarnya masih terpajang di wajahnya.
Kepala perempuan mengangguk semangat. “Aku lolos, El!” serunya riang.
Matanya ikut membulat. Rasa bahagia sang kekasih otomatis tertular kepadanya. Keduanya saling menatap dan menyalurkan rasa bahagia. “Selamat, Sayang!”
Daniel menarik Vanilla kembali ke dalam pelukannya. “I’m so proud of you!”
Rasa bahagianya tidak terbendung lagi. Satu per satu mimpinya mulai terwujud. Dulu ia pesimis bisa mencapai titik ini, tapi dengan dorongan dan dukungan orang-orang terdekatnya, Vanilla bisa mencapai titik ini. Merayakan keberhasilan dengan orang-orang yang menemaninya berjuang sudah cukup membuat hatinya berbunga. Kini ia tinggal menjalani prosesnya dan kembali menyusun mimpi-mimpi yang lain.