"Gila!" Komentar itu keluar begitu saja dari mulut Gea ketika dia sedang menyelesaikan pekerjaan Nata yang tertunda. Dikarenakan pria itu yang masih berada di Sumatra, jadilah Gea yang mengambil alih sementara tugas Nata sampai pria itu kembali. Pikirnya menjadi seorang Direktur Utama semudah kelihatannya. Hanya duduk, tanda tangan dan pergi sana sini untuk menghadiri meeting. Namun s**l. Ekspetasi yang ada di dalam kepala Gea rupanya tak seindah realita. Dia seperti merasa tertipu selama ini karena menganggap pekerjaan Nata terlalu mudah. Ingin sekali Gea membenturkan kepalanya ke tembok yang mendadak diserang migren hebat. Tiap barisan kata yang tersusun apik yang dikemas dalam bentuk berkas, tak ubahnya seperti rentetan rumus kimia yang membuat Gea seketika mengalami hipertensi

