Lelaki Menyebalkan Berbulu Gorilla

1077 Words
Adalah hal yang paling menyebalkan lagi dalam hidup, selain menyadari kalau umurmu sudah dua puluh lima tahun hari ini, tapi hidupmu jadi lebih sengsara. Pertama, sebagai seorang Mahasiswi abadi, aku nyaris di drop out dari kampus, kalau tidak menyelesaikan skripsiku tepat waktu. Kedua, aku memiliki keluarga kolot yang mungkin bisa saja mendapatkam rekor muri sebagai ajang pencarian jodoh terbaik. Maksudku, dari Buyut-buyut-buyutku, mereka semua menikah karena perjodohan. Itu artinya, nasibku sebentar lagi bakalan sama. Yah, meskipun aku sering mendengar Mama dan Papa menyindir-nyindir kalau aku akan dinikahkan dengan lelaki pilihan mereka saat usiaku dua puluh lima tahun. C’mon, ini sudah zaman modern, dan aku akan menentang perjodohan itu dan menjadikan hal itu sebagai kamus paling anti di dalam hidupku. “Today marks 25 years of your life and what has a been a truly magnificent quarter of a century! Happy birthday, Ayla.” Aku menyingkap gorden, dan mengizinkan bias cahaya mengintip dari jendela kamarku. Lubang hidungku membesar saat menghirup pemasok oksigen agar aku bisa tetap kuat menjalani hidup. Tapi, tatapanku terpaku pada sebuah mobil rubicon berwarna putih terparkir di pelataran rumah. Sudah pasti mobil itu bukan milik Papa, karena Papa nggak mungkin kejatuhan uang sepuluh koper untuk beli mobil semahal itu. Ponselku berdering, aku kembali menuju kasur dan menerima panggilan telepon dari Ando. ”Happy Birthday, sayang!” Seru Ando di seberang sana. Aku menjatuhkan tubuh di kasur. “Telat,” ucapku sambil cemberut. “Harusnya kamu ngucapin tepat pukul nol-nol. Kenapa baru ngucapinnya sekarang?” ”I’m sorry Babe, kamu kan, tahu kalau pacar kamu ini bakal calon-calon band terkenal. Aku sudah mulai rutin manggung off air, jadi jadwalku sekarang padat sekali.” ”Hm, yaudah! Tapi, kamu harus kasih aku hadiah istimewa di hari ulang tahunku ini, yah!” ”Kalau itu, kamu nggak perlu khawatir.” Tiba-tiba, terdengar suara bell rumah yang begitu nyaring. Aku berusaha mengabaikan panggilan alam tersebut karena berpikir kalau Mbo Min akan membukakan pintu rumahnya. Tapi, setelah beberapa menit, bell rumah bunyi lagi. ”Aduh, siapa sih ganggu banget!” Aku menggerutu sambil lompat dari tempat tidur. “Babe,” kataku lagi di telepon. “Udah dulu ya, nanti aku hubungi lagi, bye!” Dan sambungan pun terputus. Dengan langkah gontai, aku langsung keluar dari kamar. ”Mbo Minn ….” Aku berteriak memanggil asisten rumah tangga di rumahku. “Mbo Min ….” Biasanya, Mbo Min langsung nyahut kalau dipanggil. Tumben sekali dia. Tidak hanya Mbo Min yang hilang, tapi Mama dan Papa juga tidak kelihatan batang hidungnya. Langkahku tehenti di dapur saat melihat secarik kertas ada di meja makan. Aku mengernyit sambil membaca kertas tersebut. [Mama, Papa dan Mbok Min lagi belanja ke pasar. Kalau ada tamu, kamu suruh masuk aja yaaa] Begitu kira-kira isi pesan yang ada di kertas tersebut. Padahal, Papa atau Mama bisa saja menghubungiku atau mengirim pesan. Tapi, mereka malah menggunakan metode lama Aku meremukkan kertas tersebut dan melemparnya ke dalam tempat sampah. Kemudian meneguk segelas s**u yang telah tersedia di meja makan hingga habis. TING TONG Bell rumahku kembali berbunyi. Dan hal itu mampu membuatku dongkol. Karena mood-ku menjadi kacau setiap kali ada yang mengusik ketika aku baru bangun tidur. “Iya, sabar!!!” Aku berteriak sambil berjalan menuju pintu depan rumah. Pintu kubuka, lelaki asing telah berdiri di depan pintu rumahku sambil mengulas senyuman tipis. Aku memperhatikan lelaki tersebut dari atas kepala hingga ujung kaki. Tinggi lelaki itu kira-kira 180cm, badannya kekar dan tegap. Warna kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, bola matanya hitam namun tajam. Aku meneguk ludah ngeri, wow bulu tangannya agak lebat. Mirip gorilla. Laki-laki itu memakai kaus polo putih berkerah dan celana denim. Serta ada kacamata Oakley yang disematkan di antara kerah kausnya tersebut. Otakku langsung merespon dengan cepat. Mungkin pemilik mobil rubicon tersebut milik laki-laki ini. “Maaf, mau cari siapa?” Tangan kiriku bersandar di kusen pintu, sedangkan tangan sebelahnya lagi berkacak pinggang. Lelaki di depanku hanya diam membeku sambil balik memperhatikan penampilanku. Aku memakai piyama berwarna hitam putih persis seperti papan catur dan rambutku kusut masai seperti singa. “Hallow!!!” aku mengibaskan tangan di depan matanya. “Ada yang bisa dibantu? Anda mau cari siapa? Atau, Anda ini temannya Mas Eza, ya? Kalau mau cari Mas Eza sih, jangan di sini. Tapi, di rumah barunya. Karena sekarang Mas Eza tinggal bareng istri dan anaknya di rumah baru.” Aku menebak, mungkin saja dia memang temannya Mas Eza. Karena kalau diperhatikan dengan teliti, wajah tamu yang tidak diundang ini hampir seumuran dengan Mas Eza, Abang kandungku. Lagi-lagi hening yang aku dapatkan. Aku nyaris berpikir, kalau laki-laki di hadapanku ini punya kendala dengan pendengaran. “Yaelah! Nih orang budeg atau apa, sih? Kalau mau cari Maz Eza dia lagi nggak ada. Jadi lain kali aja ya datangnya, bye!” Aku nyaris menutup pintu dengan cara dibanting, tetapi lelaki iti langsung menahan pintuku dengan tangannya yang super kuat. Oke lebay, tapi dia memiliki bisep yang menandakan kalau dia memang hobby gym. Jadi, itu yang membuat tangannya kuat. Maybe. “Tunggu sebentar.“ Tangannya masih berada di daun pintu rumahku. “Saya bukan ingin mencari Mas Eza, seperti yang kamu bilang barusan. Kedatangan saya ke mari ingin bertemu dengan Om Tio." “Oh ... jadi Mas ini temannya Papa? Bilang dong, dari tadi. Jangan ngang-ngong, ngang-ngong mulu. Dari tadi saya tanyain, tapi Mas diem-diem aja! Ganteng-ganteng kok, bloon sih, Mas. Hehehe.” Aku berujar sarkastis dibalik nada bercanda. Jujur, laki-laki di hadapanku ini memang cakep. Tapi, Sorry ya, Mas. Kamu bukan tipe saya. Karena tipe saya itu seperti Ando, anak band yang keren dan kece. “Tapi—“ aku melanjuti kalimatku. “Kalau dilihat dari penampilannya sih, Mas lebih mirip sebagai temannya Mas Eza. Kalau Papa mah, ketuaan.” Laki-laki itu hanya menaikan kedua alisnya tampak bingung. “Jadi, kamu anaknya Om Tio?” Ragu-ragu aku mengangguk. “Yap.” “Kamu Ayla. Benarkan?” Aku kembali mengangguk dengan dahi berkerut. “I-ya.” Segaris senyuman manis tercetak di bibirnya lagi. Dia pun segera mengulurkan tangan. “Perkenalkan, nama saya Arsen.” ​Aku memutar bola mata, berusaha untuk mencerna perkenalan mendadak ini. Mengapa lelaki ini bisa tahu namaku? Padahal, aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Apa jangan-jangan … ”Mas dukun ya?” Lelaki itu mengangkat kedua alisnya lagi. “Ha?” ”Mas, sorry, gerak-geril Mas bener-bener mencurigalan. Mas bisa datang lagi nanti kalau Papa sudah pulang!” Aku bicara dengan nada terburu-buru sebelum menutup pintu. BEDEBAM!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD