Konser Yang Gagal

1193 Words
”Aku mau buang air kecil,“ kataku ketus setelah kami hanya diam satu sama selain selama dalam perjalanan. ”Okay.” Arsen pun segera membelokkan mobil ke arah pom bensin, dan berhenti di dekat toilet. Aku pun segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam toilet. Untung saja tidak ada antrian di toilet, sehingga aku tida perlu berlama-lama menahan sesak. Setelah selesai buang air kecil, aku menatap mobil Arsan dan jalanan luas di depanku secara bergantian. Aku kepikiran untuk kabur dari Arsen. Tapi, siapa yang akan membawaku ke Bandung? TIN! Klakson mobil Arsen berbunyi nyaring, membuatku nyaris lompat karena kaget. Lantas, aku segera masuk ke dalam mobil Arsen. ”Kamu ngapain lama-lama berdiri di sana, Ay? Mau mencoba untuk kabur ya?” Aku tidak menjawab. ”Hati-hati loh, Ay. Di sini rawan penculikan. Apalagi kamu masih muda begini. Atau, kamu mau digoda dengan para supir truck ya.” ”Is, diem.” Aku cemberut dan merosot di kursi. *** Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, jauh, dan sangat melelahkan. Akhirnya, kami tiba juga di festival music Bandung. Arsen memarkirkan mobilnya di pelataran. Sedangkan aku, buru-buru keluar dari mobil dan tidak sabaran masuk ke dalam event tersebut. Tapi, sesampainya di sana, aku justru mendengar kericuhan yang terjadi di depan pintu masuk. Orang-orang begitu ramai memenuhi depan pintu masuk sampai desak-desakan. Dan beberapa rombongan di belakangku mendorong tubuhku yang kecil ini sehingga aku semakin lama semakin melangkah maju dan terjebak di antara kerumunan lainnya. Karena tubuhku paling kecil dan pendek, aku sulit menyelamatkan diri sendiri dari amukan masa. Sampai suatu ketika, aku ditarik oleh Arsen dan dibawa keluar dari kerumunan. ”Kamu ngapain, sih? Kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang bertanya apa yang telah terjadi,” ucap Arsen dengn cepat. Meninggalkan aku seorang diri di pinggir lapangan seperti seorang anak yang sedang menunggu Ayahnya. Tak lama kemudian, Arsen kembali lagi ke hadapanku. ”Gimana?” Tanyaku penasaran. ”Event-nya dibatalkan.” ”Apa?” Aku kaget. ”Pihak penyelenggara menipu sponsor. Para artis yang harusnya manggung juga sudah cancel. Dan uang tiket akan segera di refund dalam minggu ini,” ujar Arsen yang membuatku mendengus kecewa. ”Kita udah jauh-jauh datang dari Jakarta loh, dan mereka seenak udelnya aja batalin acara ini? udah gila ya, mereka!” ”Sudahlah, Ay. Lebih baik kita jalan-jalan keliling Bandung saja.” ”Dengan kamu? Ogah! Mending aku pulang aja.“ Aku kembali masuk ke dalam mobil dengan peraaan tak karuan dan kacau-balau. Nonton konser adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu, tapi justru hal itu menjadi kacau. Selama di perjalanan balik dari event, aku hanya duduk dan cemberut. Sampai-sampai aku nggak sadar kalau perutku sudah keroncongan. ”Apa kita mau makan dulu?” Tawar Arsen, karena aku yakin kalau dia bisa mendengar suara perutku. ”Terserah,” jawabku acuh tak acuh. *** Arsen memarkirkan mobilnya di lahan parkir di salah satu restaurant fast food, yakni MCD. ”Kenapa harus berhenti?” Komentarku saat Arsen hendak membuka seatbelt-nya. ”Bukankah kamu bilang ingin makan?” Arsen terlihat bengong. ”Iya, tapi memangnya aku ada niat untuk makan di sini? Lama tahu, buang-buang waktu. Aku mau buru-buru pulang.” Arsen menghela napas dengan sabar. “Jadi, kamu maunya gimana, Ay?” ”Drive thru kan, bisa.” ”Yasudah kalau begitu, kita drive thru saja, Ay.” Arsen kembali menyalakan mobilnya dan berjalan pela mengikuti antrian drive thru. ”Selamat siang, ada yang bisa kamu bantu dengan pesanannya, Ka?” Suara di intercom muncul, saat kami sudah mendapat giliran untuk memesan. Aku langsung bersuara kencang. “Aku pesen paket Panas 2, Mba!” ”Baik, ada lagi, Ka?” Kini giliran Arsen yang bersuara. “Mba, saya request minuman yang bisa bikin perempuan di sebelah saya jadi senyum, dong.” Aku menatap Arsen jijik. Idih, apa maksudnya ngomong begitu? ”Baik, Ka.” ”Dan, pesen makanan yang bikin mood perempuan bisa lebih baik lagi ya,” kata Arsen lagi. ”Baik, Ka. Ada lagi tambahannya?” “Satu french fries ukuran large saja,” kata Arsen lagi. ”Baik, Ka. Ditunggu pesanannya ya, Ka.” ”Terima kasih, Mba.” Arsen menjalankan mobilnya Kembali. Dan berhenti di tempat pembayaran, lantas ia mengeluarkan dompet untuk membayar pesanan kami. Setelah menunggu beberapa menit saja, makanan pesanan kami pun juga sudah selesai. Mobil Arsen melesat meninggalkan drive thru. ”Kita berhenti di mana untuk makan, Ay?” Tanya Arsen. “Atau, kita mampir di pom bensin saja, dan makan di mobil?” Tanya Arsen lagi. ”Lanjut jalan aja dan jangan berhenti-berhenti lagi. Aku makan di mobil saja. Karena kalau berhenti dulu bakal buang-buang waktku banget. Aku pengin cepat-cepat pulang, dan males berlama-lama dengan kamu,” akuku jujur. Arsen menyeringai hambar, padahal tidak ada yang lucu. “Yasudah, kalau begitu.” Arsen pun menuruti keinginanku. Toh, dia juga nggak pesan makanan. Jadi, dia nggak akan keberatan untuk disuruh nyetir dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. “Ingat ya, Sen….” Aku meneguk segelas air terlebih dulu. “Meskipun Papa dan Mama sangat-sangat menyukai kamu dan memuja-muja kamu bak dewa. Tapi, jangan pernah berharap kalau aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kedua orangtuaku. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan mau menikah dengan kamu.” Aku kembali bicara di sela-sela makanku. “Pelan-pelan, makannya, Ay.” Tegur Arsen yang keluar dari topik pembicaraan. “Kamu harus dengerin hal ini baik-baik, aku ingatkan sekali lagi sama kamu, untuk pergi jauh-jauh dari kehidupanku. Dan aku ingin kita batalkan saja perjodohan kita. Kalau tidak—“ suaraku tercekat di tenggorokan saat menelan makanan terakhir. “Kalau tidak, apa, Ayla?” Tanya Arsen penasaran sambil menatapku lekat-lekat. “Kalau tidak ….” Aku mengambil pemasok oksigen yang banyak. “Aku tidak akan segan-segan menyakiti kamu dan menghancurkan segala harapan keluarga kamu.” Mendengar ancaman jahatku, Arsen hanya menghela napas gusar. ”Wow, menarik. Jadi kamu ngncem saya?” ”Iya, aku ngancem kamu. Dan aku nggak main-main dengan ancaman aku.” ”Baik, kita lihat saja nanti.” Arsen hanya tersenyum penuh arti. Membuatku semakin dongkol saja. *** “Ay, bangun, Ay ….” Aku merasakan goncangan di bahuku, yang membuat kelopak mataku akhirnya terbuka. Samar-samar aku lihat Arsen ada di sebelahku. ”Ngapain kamu di sini?” Refleks aku langsung kaget dan hendak berdiri sampai kepalaku terjedut dengan langit-langit mobil. “Aw.” ”Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Arsem sok khawatir. ”Menurutmu gimana? Sakit tahu!” Aku mengusap kepalaku kesal. ”Habisnya, kamu kurang hati-hati, sih. Kamu ketiduran selama di perjalanan tadi. Dan sekarang, kita sudah sampai di rumah kamu.” Aku mengerjapkan mata sambil menatap ke arah sekitar. “Oh.” Aku hanya ber-oh singkat. Dan tanpa sepatah kata lagi, aku buru-buru keluar dari mobil Arsen. ”Oh iya, Ay. Papa kamu berpesan, kalau mulai besok, saya juga akan mengantar dan menjemput kamu kuliah.” Aku berhenti di depan pintu mobilnya. “Untuk apa? Nggak perlu, lah.” ”Toh, mobil kamu sudah dijual, kan? Memangnya, kamu mau kuliah bareng siapa lagi?” Arsen tersenyum menyebalkan. Dia berhasil bikin emosiku memuncak sampai ke ubuh-ubun. Lantas mobil Arsen pun melesat meninggalkan rumahku begitu saja. “Arrgghh, dasar Bangkot!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD