24

1088 Words

"Mulut memang berkata, namun mata? Di sana terdapat fakta." "Rey, kamu nggak pulang? Aku capek," ucap Nesya. Rey mengangguk, ia bangkit dari sofa dan menarik Nesya ke dalam pelukannya, sebelum ia pulang. Rey merasakan ada yang aneh, rasanya Nesya berbeda.  Ia mengenali pelukan ini, berbeda dengan pelukan yang biasa di lakukannya pada Nesya. Pelukan ini, Rey pernah merasakannya. "Rey, kapan mau pulang?" celetuk Nesya menyadarkan Rey. Lelaki itu melepaskan pelukannya, ia mengangguk dan tersenyum samar. Kemudian, ia pergi. Nesya menutup dan mengunci pintu apartemennya, ia berjalan ke dalam kamarnya. Ia merogoh sesuatu di dalam tas kecilnya, mengambil kotak kecil berisikan peralatan mata. Dengan cepat, Nesya melepaskan kontak lens berwarna coklat yang melekat di kedua bola matanya. Ia t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD