Hurt 1

1616 Words
"Maaf, aku ingin menikah lagi!" ucap Rehan, saat ini kami berada di ruang tamu. Aku dan Rehan sudah menikah delapan tahun. Tapi kami memang belum diberikan kepercayaan. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya dadaku sesak seolah tidak bisa bernapas. "Aku bukannya jahat, tapi aku hanya mau memberikan dua pilihan saja sama kamu. Aku nikah lagi, atau kita cerai!?" Luruh lah air mataku, aku sungguh tidak bisa menahannya lagi. Sudah beberapa bulan ini, sikap Mas Rehan memang berubah. Dia jadi dingin dan acuh, setelah melihat Vira sahabatnya hamil anak pertamanya. Dia mungkin iri pada Vira yang baru menikah tiga bulan. Tapi sudah hamil, berbeda dengan diriku yang sudah delapan tahun tapi masih saja belum bisa memberikan apa-apa padanya. "Aku belum bisa memberikan keputusan, Mas. Boleh kasih aku waktu?" Aku hanya bisa menunduk pilu. Bagaimana pun aku ini seorang perempuan dengan hati yang lemah. Aku tidak punya anak saja, hatiku sudah hancur berkeping-keping, aku juga harus bersabar menerima cibiran dari mertuaku. Dari dua tahun yang lalu, beliau menyuruh Rehan untuk menikah lagi. Tapi Rehan kala itu masih mencintaiku, jadi dia menolak dan masih bisa menenangkan aku. Tapi saat ini aku tahu, Rehan sudah tidak lagi seperti dulu. Di matanya sudah tidak ada lagi cinta. Padahal ketika kita masih sama-sama di SMA. Dialah yang mengejarku, seolah aku adalah Ratu yang selalu ia puja dan manjakan setiap harinya. Dulu, aku tidak pernah berpikir akan mengalami hal yang seperti ini. Dulu, aku merasa sangat yakin Rehan akan mencintaiku apa pun keadaanku. "Ok, aku tunggu paling lambat besok!" Dia beranjak dari sopa menuju keluar. "Mas mau ke mana?" Aku bertanya, dan dia menoleh. "Mau ketemu klien! Ada meeting di luar!" Jawabnya acuh. Aku hanya bisa menghela napas letih. Alasan Mas Rehan ketemu klien ini, bukan hanya sekali dua kali, tapi sering. Dan ujung-ujungnya dia selalu pulang pagi. Tapi kali ini aku mungkin akan mengikutinya. Maaf, semoga saja Mas Rehan tidak marah. Aku hanya ingin tahu apa kegiatan suamiku di luar sana. Sampai di sebuah parkiran. Aku menemukan Mas Rehan memasuki sebuah hotel berbintang lima. Apa mungkin meeting-nya di sini? Ah, aku tidak boleh berburuk sangka dulu. Aku harus melihat dengan kepalaku sendiri. Kalau Mas Rehan memang tidaklah main-main. Dia dulu berjanji padaku untuk selalu setia dan menjagaku dengan hatinya. Dia dulu tidak pernah lupa untuk meletakkan jaket di pahaku, agar ketika naik motor sport- nya, tidak akan ada lelaki yang bisa melihat pahaku. Lalu kalau aku datang bulan, dia selalu membelikan aku jamu sehat datang bulan. Dia bilang, agar aku tidak kesakitan. Karena kalau aku sakit, maka dia pun sakit. Karena aku adalah hatinya, itu kata dia. Kemudian dia juga akan mengusap airmataku kalau aku menangis. Dia bilang, airmataku terlalu berharga. Dia tidak akan pernah membiarkannya jatuh ke tanah. Itu kata dia. Dulu. Ketika kita masih pacaran, waktu kita sama-sama SMA. Aku dan Mas Rehan, menikah setelah keluar SMA. Jadi kita kuliah bersama setelah menikah. Tapi kedua orang tua kami masih membiayaku sampai lulus. Rehan bilang, hubungan halal itu lebih manis. Makanya dia buru-buru nikahin aku pas lulus SMA. Dan dia juga bilang, takut ada yang ngambil aku. Makanya dia buru-buru nikahin aku. Dan pada saat itu aku terbang. Aku sungguh bahagia memiliki seorang kekasih seperti Rehan. Dia begitu memuja dan menyayangiku. Eh, dia masuk ke dalam lift. Aku pun mengikutinya. Hingga ia sampai di depan sebuah kamar nomor 909. Aku melihatnya mengetuk pintu. Aku masih terdiam di tempatku. Kala seorang perempuan dengan memakai baju piyama berwarna pink itu memeluk Mas Rehan dan menciumnya. Iya, di depan mataku Mas Rehan berciuman dengan perempuan lain. DI DEPAN MATAKU! Entah ada setan dari mana yang merasukiku. Aku langsung berlari dan menjambak perempuan itu. Sampai terdengar jeritan darinya. Mas Rehan menarik perempuan itu dan memeluknya hati-hati amat cemas. Sedangkan aku, ia dorong bahkan sampai aku jatuh ke lantai lorong hotel itu. "APA YANG KAMU LAKUKAN!?" Mas Rehan membentakku, dan aku terdiam dengan tubuh gemetar. Aku tidak bisa menangis, dan juga tidak bisa berkata apa pun. Lidahku kelu, dan hatiku sakit bagaikan ditusuk ribuan belati. Ini bentakkan Mas Rehan untuk kali pertamanya, setelah pernikahan kita. Dan rasanya sungguh luar biasa. Aku seperti akan sekarat disaat ini juga. "SIAPA YANG NGIJININ KAMU BUAT NGIKUTIN SAYA?! SIAPA?!" Aku menggeleng. "Aku cuma mau tahu apa yang Mas, lakuin. Apa aku salah Mas?" Suaraku tersendat dalam. Berkali-kali aku mengusap airmataku. "Aku istrimu Mas ...." demi Tuhan ..., ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mas Rehan yang mencintaiku, kini sudah mencintai perempuan lain. Dia telah lupa pada janjinya. Mas Rehan terlihat terdiam beberapa saat, dengan perempuan itu yang masih berada di dekapnya. "Aku sudah bilang sama kamu, aku mau menikah lagi. Karena kamu mandul! Aku tidak salah kan? Aku butuh anak, aku enggak mungkin muda terus. Siapa yang mau ngurusin aku di masa tua nanti?" Iya aku paham, Mas. Aku mengerti. Tapi tolong sedikit saja berikan aku waktu. Biarkan aku menyesuaikan diri terlebih dahulu. Biarkan aku belajar mandiri terlebih dahulu. Biarkan hatiku belajar tanpamu dulu, jangan tiba-tiba seperti ini. "Mas, kita masih muda. Kita masih punya banyak waktu. Kita baru berumur 25 tahun. Kita akan berjuang bersama Mas ...." Dia tertawa hambar. "Berjuang seperti apa Ana? Aku tanya berjuang seperti apa? Perempuan mandul tetaplah mandul. Kamu tidak akan berubah!" Aku terdiam, teganya dia menyakitiku dengan kalimat itu. Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan berani berkata sejahat itu. "Mas ..., kita bisa adopsi anak. Kita bisa program bayi tabung. Masih banyak cara Mas?" Dia menggeleng. "Tidak mau, aku ingin anakku pribadi. Bukan anak orang lain. Dan asal kamu tahu, dia saat ini sedang hamil anakku, Anna!" Tuhan .... Aku seperti tersambar petir. Mas Rehan bahkan sudah berpaling dariku tanpa sepengetahuanku. Mas Rehan bukan hanya tidak mencintaiku, tapi dia juga tidak menghargai aku sebagai manusia. "Maafkan aku Ana. Tapi aku jatuh cinta padanya!" Dia menatap perempuan itu dengan tatapan penuh cinta. Tatapan yang delapan tahun dulu pernah menjadi milikku. Aku meremas kuat dadaku. "Begitu ya Mas?" Ucapku bergetar, aku tidak tahu seperti apa wajahku saat ini. Mungkin sudah jelek, sudah kacau, dan sudah membosankan di mata Mas Rehan. Dia perlahan melepaskan perempuan itu, dan mendekat padaku. "Maafkan aku Ana, kamu pulang saja. Dan rumah itu aku kasih untuk kamu, karena aku tidak lagi bisa memberikan hatiku. Maaf." Itu artinya aku akan semakin tersiksa oleh kenangan itu setiap waktu. Apa dia ingin aku gila? Aku membalas tatapan Rehan dengan genangan air mata. Dia Rehanku yang tampan dan pernah mencintaiku dengan sangat. Dia Rehanku yang pernah memberikanku bunga mawar setiap hari, dan kecupan di pagi hari. Dia Rehan ku .... Air mataku kembali luruh. Sakiiit ... "Mas, aku permisi." Aku memutar diri, aku tidak bisa berkata apa pun. Kedua bibirku seperti kehilangan fungsinya. Lidahku kaku seperti mahluk tak bernyawa. Aku berlari sekuat tenagaku, membentur dinding lorong hotel karena kehilangan keseimbanganku. Berharap rasa sakit itu bisa mengalahkan rasa sakit karena pernikahan yang hancur ini. Berharap rasa sakit itu, bisa membuatku hilang ingatan dan melupakan Rehan. Berharap .... "Bisa jalan dengan hati-hati?" Aku sepertinya menabrak seorang laki-laki ketika ia hendak masuk lift. Aku bahkan tidak peduli, kalau pun ia marah karena kelakuanku. "Maaf," ucapku dengan tetap menunduk dalam, kami sama - sama berada di dalam lift itu selama beberapa saat. Ketika lift terbuka, ada yang menutup mulutku dengan sebuah sapu tangan. Hingga aku perlahan tidak sadarkan diri, aku kehilangan kesadaranku. *** Aku bangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Rasanya tubuhku sakit semua, dan kamar ini asing sekali. Matahari menyoroti kaca jendela yang terhalangi oleh gorden. Perlahan aku turun dan kaget dengan baju yang aku pakai. Ini baju kemeja putih laki-laki. Lalu ke mana bajuku? Aku panik dan mencari bajuku. Dan sialnya aku tidak menemukan di mana bajuku. Aku tidak peduli, aku segera turun dari ranjangku. Kemudian berjalan gontai ke arah pintu. Aku segera keluar dan meninggalkan hotel itu dengan tubuhku yang terasa begitu remuk. *** Sesampainya dirumah, atau lebih tepatnya rumah Rehan. Aku masuk dengan linglung, aku bahkan lupa tidak membawa dompetku di hotel itu. Sehingga taksi pun dibayar oleh Mbak Inah. "Nyonya!" Mbak Inah menyapaku. "Nyonya kenapa?" Dia segera membantuku masuk. Dan aku duduk di sopa, dengan pikiranku yang masih sangat kacau. Mbak Inah masuk ke dalam, lalu beberapa menit kemudian dia membawa segelas teh manis hangat. "Di minum dulu Nyonya!" Aku hanya mengangguk dan menyesap teh hangat itu. Rasanya hambar sekali. Mungkin karena hatiku sedang sakit, sehingga aku tidak bisa menikmati rasa teh manis itu. Masih saja aku tidak bisa melupakan bagaimana kejamnya Rehan padaku, malam itu. Aku memejamkan kedua mataku, dan segera beranjak ke arah kamarku. Meski aku tidak ingat apa yang terjadi padaku malam tadi. Tapi tubuhku, merasakan sesuatu kalau orang yang ada di lift itu telah memperkosaku. Kenapa hidupku sial sekali. Aku benar-benar lelah dan memilih untuk tidur saja. Tiga bulan berlalu, aku dan Rehan sudah bercerai. Dan sekarang aku pindah ke sebuah kontrakan. Tapi aku tidak tahu kenapa aku mulai merasakan tubuhku tidak baik-baik saja. Aku sering mual, dan kepalaku pening sekali. Belum lagi aku merasa lemah dan tidak bisa makan apa pun yang di hidangkan Mbak Inah. Sampai aku pergi ke sebuah klinik yang ada di Kotaku. "Saya sepertinya kena magh Dok," ucapku pada Dokter langgananku. Beliau mengajakku ke dalam. "Mari kita periksa dulu, ya ..." Dan aku pun mengikutinya. Aku berbaring di atas brankar. Dan Dokter itu mulai memeriksa denyut nadiku, lalu memegang perutku dengan sebuah kerutan. "Wah, selamat Mbak!" Aku mengerjap. "Selamat apa Dok?" Dia tersenyum. "Mbak Hamil!" A-apa! Aku mematung! Bagaimana bisa! Mas Rehan sudah tidak pernah tidur denganku selama lima bulan. Bagaimana bisa aku hamil! Tunggu! Apakah karena orang yang tidak dikenal itu? Jadi aku hamil oleh orang itu! Mendadak kepalaku pusing, dan sepertinya aku hampir terjatuh di koridor itu. Kala ada sepasang lengan kokoh yang menahanku. Dia mengangkat tubuhku, lalu berbisik. "Apa kabar Ana?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD