Makan malam

1026 Words
Aku sangat besyukur ketika Raquel mengalihkan pembicaraan. Sehingga aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang bisa saja menjebakku. Alhasil disini lah saat ini aku dan keluarga Raquel berada. Duduk manis dengan pemandangan makanan yang tersaji di atas meja. Aku duduk sendiri sementara Raquel duduk bersama istrinya. Sesekali mataku melirik kearahnya , perlakuan spesial dari Aisyah membuat ku iri padanya. Mulai dari perempuan itu yang mengambil nasi untuk Raquel, sampai ia menyuapi pria itu. Apakah Raquel selalu begitu? Entah lah aku juga baru pertama kali melihatnya manja pada Aisyah. Sepertinya aku sudah salah memutuskan untuk menerima undangan keluarga ini. Jika saja harus melihat kemesraan yang terjadi antara Raquel dan Aisyah. Aku mulai menyantap makanan yang ada di hadapanku. Tidak ada yang mulai pembicaraan, yang terdengar adalah suara dentingan sendok dan piring. Sedari tadi perutku memang sangat lapar. Menuntut untuk segera mengisinya. Tapi tiba-tiba saja aku sudah tidak nafsu makan bahkan untuk menyuapinya ke mulut sudah malas rasanya. Apakah efek kecemburuan ku pada pasutri yang tengah menikmati makanannya? " Bagaimana kabar kakakmu Lexa?" tanya Ramose membuat hatiku berhenti bertanya-tanya. " Kak Al baik. Mungkin bulan depan ia akan pulang ke Indonesia." jawabku. " Benarkah? Berarti kepulangan Al akan sama dengan kepulangan Arga. " celutuk Aisyah membuatku menoleh kearahnya. " Arga?" tanyaku mengulang nama yang disebutkan Aisyah. Wanita itu mengangguk. " Iya Arga. Arga itu adikku, teman dekat Al yang kemarin aku ceritakan. " Seketika otakku teringat dengan cerita Aisyah yang menyebutkan bahwa kak Al sering bermain kerumah untuk menemui adiknya. Berarti Arga merupakan teman dekatnya kak Al. Aku harus menelfon kakak untuk bertanya mengenai keluarga Aisyah. " Arga sedang kuliah di Turki bukan?" tanya Mama Raquel pada Aisyah. " Iya Ma. Akhir tahun Arga akan wisuda S2. Bulan depan katanya sudah mulai menyusun skripsi jadi mau menyusun dirumah saja." " Bagaimana dengan Al, Lexa?" tanya Raquel membuat semua mata menjadi fokus kearahku. Aku memggeleng pelan. " Aku tidak mengetahui bagaimana kuliah kakak di Inggris." jawabku seadanya. Karena aku sangat jarang menghubungi pria itu. Mama dan papa lah yang sering menghubungi kak Al. " Kau tidak pernah bertanya padanya?" tanya Ramos. " Bukan tidak mau, hanya saja aku dan kakak memang jarang komunikasi. " jawabku. "Anak perempuan dan anak laki-laki tidak pernah sedekat itu Pa. Contohnya saja Arga dan aku. Aku tidak pernah akur ketika pemuda itu berada dirumah." Tambah Aisyah. " Sepertinya persaudaraan antara anak lebih mengasikkan." celutuk Mamanya Raquel. " Mama mau nambah anak?" tanya Raquel secara blak-blakan berhasil mendapat cubitan ringan dari Aisyah. Aku hanya menampilkan wajah bodoh saat ini. Ternyata Raquel putra satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga Trinchera. Pantas saja Mama dan papa Raquel menuntut sepasang suami istri itu untuk punya anak. " Aku sudah tau Raquel. Kalau kau punya adik, siapa yang akan merawatnya" celoteh wanita paruh baya itu diiringi tawa oleh Suaminya. " Aku dan Ai akan merawatnya bersama." ujar Raquel. " Kalian kan bisa membuatnya sendiri. Kenapa harus memakai jalur Mama?" Aku melihat dari kejauhan bagaimana ekspresi wajah Aisyah saat ini. Senyumnya yang lebar tergantikan menjadi muka cemberut. Pertanyaan Mama Raquel tidak terjawab, sehingga obrolan hangat yang terjadi di meja ini lenyap seketika. ______ " Terimakasih kau sudah mengantar ku." ucapku saat turun dari mobil milik Raquel. " Welcome sayang. Yaudah aku pulang dulu" pamit Raquel dari dalam mobil. " Kau tidak ingin mampir kerumah terlebih dahulu?" tawarku padanya. Pria itu menggeleng. " Tidak usah. Aku harus mengerjakan beberapa dokumen malam ini. Cukup titip kan saja salam ku pada Mama dan Papa mertua." gombal Raquel. Aku tersenyum manis kepadanya. " Baiklah akan kusampaikan." Raquel terkekeh pelan kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan ku yang sedang berdiri diluar. Tanganku membuka pagar lalu masuk ke dalamnya. Malam ini sedikit cerah disinari cahaya rembulan dan beberapa bintang yang menghiasi langit. Andai saja udara malam tidak berpengaruh pada tubuh, mungkin aku lebih menikmati nya diluar rumah. Setelah puas memandangi langit, aku mulai membuka pintu rumah yang kebetulan sedang tidak terkunci. Aku berjalan dengan langkah santai, saat tiba di ruang tengah, terlihat Mama dan Papa yang sedang menonton televisi. Aku berniat untuk berjalan mengendap lalu menengejutkan mereka, tapi sayangnya Mama dan Papa sudah menyadari keberadaan ku. Dengan kesal, aku meloncat kesofa kemudian melemparkan heels kesembarang arah. " Huahh aku lelah." ucapku sambil menguap. " Bagaimana makan malamnya?" tanya Mama penasaran. " Biasa saja" jawabku sekenanya. " Maksud Mama , gimana keluarga nya Raquel? Apalagi kan kau baru pertama bertemu dengan mereka." " ck.. Ya begitulah. Mereka baik dan tadi kami cerita-cerita tentang kakak." " Kak Al?" tanya Papa ikut nimbrung dalam pembicaraan. Aku mengangguk. " Iya. Siapa lagi." " Terus-terus" celutuk mama semakin penasaran. " Kak Al katanya temen baik kak Arga. Mama tau kak Arga?" tanyaku. " Tau. Dia teman terbaik kak Al. Bagaimana kabarnya?" " Kata Aisyah , Kak Arga akan segera wisuda. Bulan depan akan pulang ke Indonesia, sama seperti kak Al." Jelasku. " Mungkin mereka berdua sudah janjian" tebak Papa. Aku setuju dengan Papa. Sudah pasti kak Al dan kak Arga janjian untuk pulang ke Indonesia. Lagi pula mereka teman dekat dan Kak Al bukan lah tipe pria yang suka wacana. Apapun rencana nya akan selalu berjalan. Membicarakan kak Al, aku teringat dengan rasa penasaran ku tentang keluarga Aisyah. Dengan cepat, aku berdiri untuk menuju kamarku. " Mau kemana?" tanya Mama saat aku melangkah. " Mau kekamar istirahat." bohongku. Kemudian mulai berjalan menaiki undukan tangga. Aku sedikit berlari, takut jika kakak sudah tidur dan tidak mengangkat telfonku. Setiba dikamar, aku menghempaskan badan diatas kasur. Lalu mendial nomor kakak. Beberapa panggilan dari ku tidak membuatnya mengangkat telfon. Tanpa putus asa, aku tetap menelfonnya. Sampai terdengar suara berat dari seberang telfon. “Halo” " Kak Al." “Ada apa? Tumben kau menelfonku. Pasti ada sesuatukan?” Aku mendecak malas pada Alexo. " ck... jangan soudzon sama adik sendiri." “ Padahal aku berbicara sesuai fakta. Kau menelfonku jika ada hal yang kau inginkan dariku.” " Kak aku serius. Aku minta waktu sebentar." “cepatlah Lexa. Aku mengantuk.” “ Kak.. tolong hilangkan kebiasaan kakak yang selalu tidur sore hari. Asal tau saja itu tidak baik bagi kesehatan.” “Ck.. cepatlah apa yang ingin kau bicarakan, jika untuk mengomeliku, maka aku akan mematikan telfon ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD