Panji masih terdiam sejak tadi, emosinya masih meledak-ledak. Dia bahkan mengabaikan Hara yang masih menangis segukan di ceruk lehernya dan jelas masih duduk di pangkuan Panji. Panji tidak menyangka rasa percaya Hara padanya setipis itu. Bahkan Hara melihat dengan jelas dirinya menolak Alina secara mentah-mentak namun Hara masih saja berfikir-fikir yang tidak-tidak padanya. Panji kecewa tentu saja, bahkan ada satu dalam dirinya ingin meledak namun Panji sedari tadi berusaha menekan emosinya. Dia tidak ingin menyakiti Hara. Panji tidak ingin membuat gadis yang kini memeluknya terluka. “Maafin, aku. Aku benar-benar minta maaf, Panji,” ucap Hara dengan suara serak. Panji bisa merasakan bajunya basah karena air mata Hara namun Panji masih belum bisa menguasai dirinya. Emosi masih

