Penolakan

2272 Words
KARMA ~ Ketika karma mulai bekerja, berdoa saja supaya karma itu tidak menghampirimu. Sebab ia tidak akan datang kepada orang yang salah.~ Part 4. Bertemu Orang Tua Bayu "May, Mayaaa ... " Bayu menarik pundakku cukup keras, membuat peganganku terlepas paksa. Wanita yang bernama Aurelie itu langsung mengambil minuman milik Bayu dan menghabisinya hingga tak bersisa. "Huh...hah, pedes, sejak kapan kamu punya pasangan bar bar gini, Ar?" Aurelie menatap ngeri kepadaku. Tangannya tak berhenti mengipasi mulutnya. Kubalas tatapannya lebih galak lagi, "Apa? Masih kurang pedes?" Tanyaku lantang. "Arkana," panggil wanita itu memelas kepada Bayu. Tiba-tiba aku mual mendengar suara dia, "Bisa nggak, Lo gak manja sama cowok orang?" "Udah, Maya," ucap Bayu cukup keras, seketika hatiku pedih mendengar bentakan Bayu. Aurelia merasa menang, ia tersenyum mengejekku. Tapi hanya sebentar, setelah itu Bayu mengusirnya. "Ah ya, siapa nama kamu tadi?" Pertanyaan Bayu membuat Aurelie kembali cemberut. "Aurelie, Arkana. Kamu masih nggak inget juga," ia memajukan bibirnya merajuk. Tanpa malu dia mengambil minuman milikku yang tinggal batu es mencair. "Pedes, Ar," ucapnya manja. "Awas kamu," ancam Aurelie hanya terlihat gerak bibirnya saja. Ingin sekali kujejalkan sambal cabe tadi ke mulutnya kembali. Beruntung pengunjung kafe ini tidak terlalu ramai, tapi tetap saja menarik perhatian pengunjung lainnya. Cuma mereka tidak peduli, hanya menjadi tontonan gratis saja. 'Bodo amat lah, kalau di awal aku lemah aku yang tertindas. Udah keliatan dari wajahnya yang tak tau malu,' "Ah ya, kamu Aurelie, mending pergi. Aku sama sekali nggak ngerasa pernah pacaran sama kamu. Mungkin cuma kamu aja yang ke GR an waktu itu, dan sampai saat ini aku bahkan lupa gimana kita bisa kenal," Seketika tawaku pecah, wajah Aurelie yang menye-menye berubah seperti kepiting rebus. Mungkin ia malu karena tak dianggap Bayu. "Jahat kamu, Arkana," ucap Aurelie tapi tak juga beranjak dari tempat duduk. "Sorry, bukan jahat. Sepertinya kamu emang nggak penting. Makanya aku nggak inget, jadi mending kamu pergi sekarang sebelum pacar saya semakin ganas ke kamu." Ancam Arkana dengan wajah dibuat seseram mungkin. Aku menyunggingkan senyum kemenangan. Kukira Bayu akan membelanya dan memarahiku. Wanita itu berdiri dan menghentakkan kakinya kesal, "Sombong kamu, Bay," ucapnya kemudian pergi tanpa muka. "Mbak, kalau nggak di aku mantan nggak usah maksa," tiba-tiba ada salah satu pengunjung nyeletuk pada Aurelia. Aurelie menatapnya tajam, tapi melihat pria bertato dan berwajah sangar di samping wanita yang baru saja mengatainya. Aurelie bergidik ngeri, sepertinya ia takut. Pria itu juga balas menatap galak pada Aurelie. Aku sudah tidak mampu menahan tawa lagi. "Makanya jadi cewek gak usah sok kecantikan dan kecentilan," teriakku. Aurelia menatap penuh permusuhan dari jauh. Ia keluar dari kafe padahal belum memesan apa-apa. "Seneng amat, May," ucapan Bayu membuat ketawaku langsung berhenti. Kupasang wajah jutek mengingat tadi Bayu berbicara cukup keras padaku. "Aku mau pulang," ucapku sedikit ketus. "Pulang? Pulang ke rumah kamu apa ke kostan?" tanya Bayu "Ya ke kostan lah, Bayu. Masa ke rumah, emang kamu udah siap bilang sama papa mamaku?" "Kamu kenapa sih jadi jutek?" Bayu mengusap lenganku pelan. "Pikir aja sendiri," jawabku. Kusambar tas laptop yang tergeletak di meja. Berjalan menuju parkiran. Terdengar helaan nafas Bayu. Ia membayar di kasir kemudian berlari kecil menyusulku. Untung saja Bayu memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang rindang. Jadi tidak terlalu panas saat pintu belum dibuka. "Kamu marah sama aku? Kan tadi aku udah marahin dia." Ucap Bayu sambil menyetir mobil. Aku masih menutup rapat-rapat mulutku enggan menjawab. "Aku minta maaf ya kalau udah salah." ucap Bayu karena cukup lama kami terdiam selama perjalanan. "Berarti kamu nggak sadar kalau salah, karena pake kata kalau, maaf kamu nggak tulus," air mata menggenang di pelupuk mata. Ah, kenapa aku jadi baperan gini? Padahal biasanya juga aku cuek. "Iya, Maya. Aku salah, aku minta maaf ya," sepertinya Bayu sedang enggan berdebat lagi. Jadi ia pasrah saja saat aku memarahinya. "Es krim?" "Emang aku anak kecil," aku mencebik mendengar tawaran Bayu. Ia terkekeh pelan, kemudian memarkirkan mobil di sebuah minimarket. "Tunggu di sini sebentar," Tak berapa lama Bayu sudah kembali menenteng belanjaan yang cukup banyak. Ia membuka bungkus eskrim cone dan menyodorkannya padaku. "Ini makan, biar adem," ucapnya. Walaupun masih kesal kuambil es krim tadi dan menikmatinya. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya. "Gini kalo ya hormon ibu hamil." Gumam Bayu. Aku baru tersadar kembali, aku hamil. Kecemasan mulai melanda lagi. Takut. *** Aku mematut diri di depan cermin, melihat perutku yang semakin membuncit. "Nak, kenapa kamu milih jadi anak mama?" Aku mengusap pelan perutku seolah mengajak berbicara pada anak yang ada di dalam perutku. Kugunakan baju yang cukup longgar, ukuran celanaku sudah naik. Aku sudah membeli yang baru lewat toko online. Celana bahan dengan karet di pinggang. Belum terlalu tampak, tapi kalau aku memakai pakaian ketat akan terlihat sedikit buncit. "Sudah siap?" Bayu membuka pintu kamar, ia berjalan menghampiriku. Sudah tiga hari Bayu bolak-balik ke kostanku. Kasihan sebenarnya, tapi aku lebih kasihan lagi. Seandainya Bayu pergi, aku yang paling rugi. "Aku takut," ucapku mengigit bibir pelan. Hari ini Bayu akan mengajakku ke rumahnya bertemu orangtua Bayu. Tentu untuk membicarakan kehamilanku. "Kita hadapi bersama yah," ucapnya mengusap-usap pundakku dari belakang. Aku tahu, Bayu juga pasti takut. Entah apa yang kami terima saat tau anak kebanggaan mereka telah berbuat seperti ini. "Bay," panggilku sambil menatap pantulan dirinya dari cermin. "Kalau Papa Mama kamu marah gimana?" "Sudah pasti marah, tapi harus tetap kita hadapi kan?" "Kalau mereka meminta kita berpisah?" Tanyaku takut, membayangkan harus menjalani kehamilan sendiri rasanya membuatku ingin mengakhiri hidup saja. "Aku tetap tanggung jawab," jawabnya mantap. "Walaupun semua fasilitas kamu dicabut?" Bayu terdiam, "Nggak mungkin mereka setega itu," "Jawab saja Bay, itu kemungkinan terburuk. Yang pasti kalau untuk menggugurkan bayi ini, aku nggak bisa." Bayu memutar tubuhku, sekarang kami saling berhadapan. "Aku sudah janji sama kamu bakal tanggung jawab, apapun yang terjadi. Kamu jangan khawatir," ucapnya seraya menepuk pipiku pelan. "Makasih, Bayu." Kami berpelukan cukup lama saling menguatkan satu sama lain. Entah apa yang akan terjadi kalau Bayu benar-benar menghilang dari hidupku. *** Perjalanan menuju rumah orangtua Bayu memakan waktu 4 jam dari sini. Aku sudah mengurus izin cuti ke fakultas, mereka sempat bertanya kenapa aku harus izin cuti. Terpaksa aku bilang harus merawat nenek yang sedang sakit keras. Terdengar tidak masuk akal, karena seharusnya orangtuaku yang merawatnya bukan aku. Tapi aku tak peduli dengan anggapan mereka. Steffani juga belum aku beri kabar kalau aku cuti satu semester. Setelah orangtua aku dan Bayu merestui pernikahan kami, mungkin aku baru memberitahunya. Aku dan Bayu sepakat tidak membocorkan rahasia kalau kami menikah nanti. Mobil memasuki pelataran rumah yang sangat mewah. Selama menjadi pacar Bayu, orangtua Bayu tidak pernah memandang statusku yang berasal dari kalangan biasa. Aku takut, Tante Melisa akan memandangku hina setelah tau aku hamil. Bayu menarik nafas dalam-dalam. Kurasakan aura ketakutan di wajahnya. Apalagi aku, perasaanku tak karuan. Jantungku berdegup kencang. "Ayo, May," ajak Bayu. Aku mengekor di belakangnya memegang lengan Bayu. "Tunggu, Bay," ucapku menahan Bayu saat akan membuka pintu rumah. "Aku takut," "Tetap harus kita selesaikan sekarang Maya," Bayu memegang telapak tanganku yang berada di lengannya. Ia membuka pintu rumah pelan. Tante Melisa sedang di dapur bersama Bi Ira ART mereka. Bayu mengajakku menyusul mereka ke dapur. "Ma," panggil Bayu, ia mencium pipi kanan dan kiri Tante Melisa. Wanita berparas cantik dan keibuan itu tersenyum melihatku. "Hei, Cantik, apakabar kamu?" Ia memegang bahuku dan menempelkan pipi kanan kirinya bergantian ke pipiku. "Maya baik Tante, Tante apakabar?" Tanyaku balik berusaha menetralkan perasaan yang tak berarah. "Baik, ayo sini duduk dulu," Tante Melisa menarik tubuhku ke meja makan. "Tante baru aja bikin sop buntut kesukaan Bayu, kamu sama Bayu harus makan," "Maya habis makan tadi Tante," Aku menatap Bayu tegang, Bayu tersenyum kaku. Kulihat dia berkali-kali mengusap kepalanya. "Udah, nggak apa-apa. Ga usah takut gemuk. Tante dulu juga kaya kamu waktu masih pacaran sama Om Adrian." Tante Melisa tetap keukeuh menyuruh makan bersamanya. "Bay, jangan bengong aja. Ajak Maya makan, mama udah siapin khusus buat kamu," Tante Maya mengambil mangkok besar dan memindahkan SOP buntut yang berada di atas panci ke dalamnya. Sementara Bi Ira menyiapkan lauk-pauk lainya meletakan di atas meja. "Sebentar, Mama panggil Papa dulu, dia masih di ruang kerjanya," ucap Tante Melisa. Pria berperawakan tinggi dengan wajah yang sangat berwibawa masuk ke ruang makan. Ia duduk di kursi paling ujung menandakan dialah kepala keluarga. Bayu memiliki satu kakak perempuan yang sudah menikah, tapi tinggal di Bali ikut suami yang memiliki resort di sana. "Maya, gimana kuliah kamu?" "Ehm, lancar Om, semester ini saya dan Bayu nggak ada yang remedial," jawabku gugup. "Bagus, kalian harus lulus dengan nilai yang bagus. Masalah pekerjaan nggak usah dipikirin. Perusahaan Om siap menampung, tapi tetap sesuai jenjang karir," ucap Om Ardian. Seandainya ucapan ini diucapkan saat kami sedang baik-baik saja pasti perasaanku senang. "Tugas kalian hanya belajar, jadi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai mengecewakan orangtua." Aku mengangguk pelan menanggapi ucapan Om Ardian. Ucapan Om Ardian membuat selera makanku semakin hilang. Sesekali Bayu melirik ke arahku tegang. Lututku sudah tidak sanggup lagi menopang tubuh. "Ayo dimakan, nanti keburu dingin," Tante Melisa menyendokan nasi untuk Om Ardian, baru setelahnya kami bergantian. Kumasukan sesuap nasi ke dalam mulut. Tiba-tiba saja rasa mual melanda. Susah payah kutahan tetap tak bisa. "Kamu kenapa Maya? sakit?" tanya Tante Melisa khawatir. Ia menatap Bayu dan Aku bergantian. Begitu juga Om Adrian. "Kayaknya asam lambungku naik, Tan" ucapku memberi alasan. "Permisi Tante, Maya ke toilet. Maaf Maya merusak suasana makan Om dan Tante," aku beranjak menuju toilet yang berada di bawah tangga. "Nak, Mama mohon saat ini aja bantu Mama yah, supaya Kakek Nenek kamu mau menerima kamu," ucapku sambil mengelus-elus perutku di kamar mandi. Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi ingin menghindari makan bersama mereka. Begitu aku membuka pintu kamar mandi. Bayu sudah berada di depan pintu. Wajahnya terlihat tegang. "Kamu lama banget di kamar mandi, May? Sampe makannys sudah selesai, aku khawatir," Bayu mengusap pundakku pelan. Kutatap mata itu dalam, "Bay, aku takut," ucapku pelan. Bayu menggenggam tanganku mengajak ke ruang keluarga. Di sana sudah lengkap orangtua Bayu. "Sudah ke dokter, Maya? asam lambung itu gak boleh disepelein, loh." Tante Maya berujar khawatir. "Kamu lanjut dulu makan sana ditemani Bayu," lanjut Tante Melisa. Bayu menurut tidak jadi mengajakku duduk bersama. "Kamu makan dulu, yah," perintah Bayu. Ia duduk di sampingku dan sabar menungguku hingga selesai makan. Anehnya makanan itu terasa begitu lezat sampai aku menambah seporsi sop buntut lagi. Padahal barusan makanan ini sama sekali tidak tertelan. 'Sepertinya anak ini ingin berdekatan dengan ayahnya saja,' Selesai makan Bayu kembali mengajakku ke ruang keluarga. Om Adrian dan Tante Melisa sedang menonton tayangan televisi kabel. "Mah, Pah, Bayu mau ngomong," ucap Bayu serius. "Mau ngomong apa sih Bay? serius banget, jangan bilang kamu minta dinikahin sama Maya," Tante Melisa terkekeh menggoda Bayu. "Mama ini, ada-ada aja, mana mungkin mereka mau minta kawin sekarang," Om Adrian tertawa menanggapi guyonan Tante Melisa. Tapi tidak denganku dan Bayu, wajah kami masih serius sampai tertawa mereka selesai. Bayu menarik nafas pelan, ia menundukan kepalanya, "Mama benar, boleh Bayu menikah dengan Maya saat ini?" Aku menggigit bibir pelan, jantungku berlomba-lomba seperti ingin keluar. Om Adrian dan Tante Melisa saling bertatapan. "Becanda kamu, nih May, begini nih Bayu kalau becanda, emang kamu mau nikah muda sama Bayu?" Tante Melisa masih menganggap permintaan Bayu hanya guyonan. Aku mengaitkan kedua tanganku, "Bay," panggilku pelan. Tidak mungkin kami mengurungkan niat kami untuk tidak berbicara pada mereka. Belum lagi harus berbicara dengan orangtuaku. "Bayu serius, Mah, Pah," Raut wajah mereka seketika berubah tegang. Aku semakin ciut melihatnya. Kutundukan kepalaku dalam-dalam tak berani menatap mereka. Rasanya tak sanggup membayangkan kemarahan dan kekecewaan mereka. Ingin menghilang saja dari sini. "Alasannya?" tanya Om Adrian serius. "Kuliah kalian tinggal satu semester lagi, nggak bisa kalian sabar menunggu?" "Bukan itu, Pah," ucap Bayu pelan. Tiba-tiba Bayu turun berlutut mendekap lutut Om Adrian, sontak akupun ikut berlutut di bawah. "Maafin Bayu, Pah. Maya hamil, Bayu harus tanggung jawab," Airmata Bayu langsung luruh, belum pernah aku melihat Bayu seperti ini. Sebuah pukulan mendarat di bahu Bayu, "ku rang ajar kamu, Bayu. Bikin malu keluarga," Tante Melisa memukuli bahu Bayu terus menerus. Wajah Om Adrian berubah semakin keruh. Air mataku juga tak bisa kubendung. Mereka sangat kecewa. Tante Melisa menatapku penuh kecewa. "Saya tau anak saya yang memaksa kamu, tapi seharusnya kamu menolak. Saya kira kamu berbeda dari teman Bayu lainnya. Ternyata sama saja," "Kamu mau karena merasa Bayu akan mewarisi semua kekayaan Hartawan kan?" Aku menggelengkan kepala, sakit sekali dituduh seperti itu. "Engga Tante, maaf," aku menangis sesegukan. Ucapan Tante Melisa sama saja sebuah penghinaan, tapi aku tidak bisa mengelak percuma. Orang lain pasti berpikiran sama, mengingat status kami yang cukup jauh. "Bayu yang maksa, Mah, jangan salahin Maya," Bayu akhirnya bersuara lagi. "Diam kamu Bayu, Mama kecewa sama kalian. Kamu, Maya, dimana harga dirimu sebagai wanita? Hah? Sengaja kamu jebak anak saya kan, padahal tanpa kamu jebakpun kami tidak pernah memandang kamu sebelah mata," Tante Melisa semakin marah karena Bayu membelaku. "Enggak, Tante, maaf," aku berusaha meraih tangan Tante Melisa tapi ditepis kasar olehnya. "Mah, Maya hamil anak Bayu. Bayu yang salah, Maya ngga begitu, Mah" Bayu beralih memeluk kaki Tante Melisa. Om Adrian hanya diam. Tapi kulihat gurat kekecewaan jelas kentara di wajahnya. "Pah," Bayu memelas pada sang ayah. Tapi Om Adrian diam tak bergeming, ia meninggalkan kami bertiga. Kulihat Om Adrian menghapus sudut matanya dengan tangan saat membalikan badan. "Lahirkan anak itu, tapi setelah itu kalian bercerai. Mama nggak sudi punya menantu yang ingin harta saja," Aku menatap nanar wajah Tante Melisa. Betapa tega dia menuduhku seperti itu. Sakit sekali rasanya, hatiku seperti diiris silet yang tajam. "Mah, jangan gitu, Bayu nggak mau anak Bayu nggak punya ayah," "Kamu tetap bertanggung jawab, tapi tidak dengan menjadi suaminya selamanya." Tante Melisa yang ramah berubah menjadi dingin dan menyeramkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD