Sejauh apapun cinta pergi, ia pasti tahu kemana tempat pulang. "Rita sudah siap?" Kak Mai muncul dari pintu kamarku, kemudian berjalan mendekat. "Insya Allah kak," jawabku. Sebisa mungkin aku tampilkan senyum untuk menutupi rasa gerogiku. Kak Mai mengelus lengan atasku, mencoba memberi kekuatan dari sentuhannya. Ia tersenyum kemudian meraih kursi yang berada di meja rias. "Kamu tenang saja Rita, insya Allah semuanya berjalan lancar," ucapnya sambil menggenggam tanganku yang terasa dingin. Kak Mai tidak berkomentar tentang dinginnya tanganku ini. Mungkin ia dapat memahami apa yang terjadi padaku. "Nikmati saja masa-masa ini, karena hanya terjadi sekali seumur hidup." Aku mengangguk, sungguh beruntung aku bertemu dengan Rivan dan juga keluarganya yang sangat baik kepadaku. "Saya

