Dua minggu sudah aku menghabiskan liburanku di Jakarta, dan tidak terasa sama sekali. Aku masih ingin bercengkrama dengan Papa, Mama, bermain dengan Azmi atau selalu membuat Afnan menangis. Aku menatap nyalang langit-langit kamar kost. Sejak saat ini hingga empat bulan ke depan aku harus siap berpisah dengan orang-orang yang ku sayangi.
Saat ini aku sudah kembali lagi ke Malang, kota pelajar. Tempat di mana aku menimba ilmu. Aku jadi teringat syair dari Imam Syafi'i seorang ulama besar yang berbunyi Merantaulah, engkau akan menemukan pengganti yang telah engkau tinggalkan, berusahalah, sungguh kenikmatan hidup ada pada kerasnya usaha. Kata-kata itulah yang memotivasiku agar dapat survive di kota orang. Meninggalkan zona nyamanku menuju wilayah baru, suasana baru, pengalaman baru dan berkenalan dengan orang-orang baru.
Aku bangkit, bergegas untuk merapikan kamar kost sebelum besok Dinda datang. Menyapu, mengepel, membersihkan langit-langit kamar dan juga membersihkan ventilasi udara. Buku-buku semester lalu juga aku rapikan. Tidak ku jual ke tukang loak karena belajar di kedokteran harus melewati tahap demi tahap. Sangat menuntut suatu proses yang tidak bisa dilompat-lompati. Semuanya harus urut dan runtut. Misalnya agar dapat mendiagnosa suatu penyakit, seorang dokter harus belajar terlebih dahulu anatomi dan fisiologi suatu organ, kemudian mempelajari patofisiologi, lalu obat-obatan yang terkait, begitupun seterusnya. Jadi buku semester lalu masih sangat berguna.
Buku di kedokteran juga sangat tebal. Hampir sebesar balok tebalnya. Jika ada maling lalu tertangkap dan dipukul kepalanya dengan buku kedokteran, aku jamin maling itu bisa pingsan dua hari dua malam saking tebalnya. Dan yang paling parah lagi menggunakan bahasa Inggris. Bisa kalian bayangkan betapa setresnya aku. Oleh karena itu aku butuh cowok ganteng untuk merefresh otak dan juga mataku. Jangan salahkan aku ya jika aku genit pada Rivan. Hihi.
Aku terduduk di samping kasur karena kelelahan. Aku sampai berkeringat yang membuat bajuku basah. Ternyata tidak mudah juga bila menjadi seorang ibu rumah tangga. Membersihkan rumah, memasak, mencuci dan mengurus anak. Sungguh keterlaluan jika ada suami yang tidak menghargai pekerjaan sang istri.
Omong-omong jika nanti aku menikah, aku ingin menikah dengan laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. I'm not the perfect women in the world. Aku sadar, begitu banyak kekuranganku. Jika ada laki-laki yang menerimaku apa adanya, maka aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuknya.
Aku menggeleng, membuyarkan semua lamunanku tentang pernikahan. Masih lama Rita, lo aja baru semester 2. Sisi diriku yang lain mengingatkan.
"Rita.. Kowe wis dugi?" Aku mendengar suara kamarku di ketuk orang. Dari suaranya sepertinya itu Febria, teman kostanku yang berbeda kamar. (Rita.. Kamu udah datang?)
Aku segera berjalan menuju pintu dan langsung membukanya. "Ada apa Peb?" Tanyaku setelah wajah Pepeb terlihat. Tinggal beberapa bulan disini, aku jadi sedikit tahu bahasa Jawa, tapi hanya sebatas mengerti saja. Kalau berbicaa bahasa Jawa aku tidak bisa.
"Aku mau minta drakor, boleh ngga?" Oh aku kira kenapa. Aku memang sering sekali bertukar drakor dengan Pepeb—sebutan untuk Febria— "sini masuk." Aku membuka pintu kamar sedikit lebar agar memudahkan Pepeb masuk.
"Mau minta yang mana?" Tanyaku sambil mulai menyalakan macbook.
"Apa aja deh yang kamu punya." Pepeb mulai memperhatikan layar. "Aku minta The K2, Healer, Doctors, W: Two Worlds, The Legend of Blue Sea sama Goblin, yak." Aku mengangguk, dan membiarkan Pepeb mulai mengcopy drakor.
"Dinda belum dateng Rit?" Aku menggeleng, "sendirian dong di sini?" Pepeb memperhatikan sekeliling kamarku.
"Iyanih.. Kamu tidur sini aja mau ngga?"
"Boleh emang?" Aku mengangguk. "Yaudah ntar aku tidur sini yak. Nanti kita nonton drakor bareng."
Febria itu anak fakultas kedokteran juga, tapi jurusan kebidanan. Kamarnya berada disebelah kamarku, sehingga kami lumayan dekat. Dia tinggal berdua juga dengan Winda anak farmasi. Kost putri ini di d******i oleh anak kedokteran, meskipun ada beberapa yang dari fakultas lain.
Aku memperhatikan layar laptop Febria, ternyata ia tengah menonton The K2. "Kamu suka Ji Chang Wook ngga Peb?" Tanyaku penasaran.
"Suka aja, dia kan ganteng." Jawabnya. Aku langsung membuka handphone pintarku, dan membuka galeri. Aku penasaran apa pendapatnya nanti.
"Menurut kamu ini Ji Chang Wook bukan?" Aku menghadapkan layar handphoneku tepat dihadapannya. Ia menatap serius layar handphoneku.
"Itu foto Ji Chang Wook, kan?" Tuhkan benar, dia saja sampai tidak menyadari kalau ini Rivan.
Aku menggeleng, "bukan tauk. Dia Rivan anak UB juga."
"Masa sih?" Mata Febria sedikit terbelalak, "jurusan apaan? Aku ngga pernah ngeliat."
"Arsitektur."
"Ih kamu ngga bilang-bilang deh punya kenalan ganteng, dia udah taken?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Takennya sama kamu?"
Aku menggeleng cepat, "enggak!"
"Hm kalo ngga muka kamu merah banget itu. Udah deh ngaku aja."
Masa sih muka ku merah? Maluuuuuu.
"Engga Peb dia itu udah punya pacar di Tangerang, namanya Rumaisha. Waktu aku libur sempet kok ketemu pacarnya." Ceritaku.
"Maksudnya kamu ketemu pacarnya Rivan gitu?" Aku mengangguk.
"Iyak waktu aku main ke sky ring. Aku ketemu dia disitu lagi main sama pacarnya. Eh tiba-tiba pacarnya pulang, ada rapat BEM. Dan dia ninggalin Rivan gitu aja sama aku."
"Masa sih? Nggak mungkin ah dia ninggalin cowoknya sama cewek lain."
"Nah itu juga yang buat aku bingung. Apa ada model cewek kayak dia?"
"Kamu udah pastiin kalo cewek itu emang bener pacarnya Rivan?"
"Belum sih, aku aja nggak sempet nanya sama Rivan siapa sebenarnya cewek itu. Takutnya malah patah hati duluan." Aku terkekeh, begitupun juga dengan Pepeb. "Tapi dari gelagatnya Rivan ke cewek itu beda."
"Bedanya?"
"Ya beda aja. Kalo ke cewek itu Rivan nggak pernah mandang dia dengan tatapan tajam, juga kalau ke dia Rivan lebih lembut sikapnya." Aku mengingat lagi beberapa waktu lalu saat bertemu dengan mereka. Dan kenapa sesak itu datang lagi?
"Yaudah, kalau jodoh mah nggak kemana. Mungkin jodoh kamu lagi dipinjem sama orang lain." Febria terkekeh, kemudian menatap layar laptop kembali.
Febria tengah serius menatap layar laptop, sedangkan aku bingung harus melakukan apa. Akhirnya aku membuka buku yang tadi sempat di bawa oleh Febria. Aku membolak-balik buku tersebut dan sampai pada halaman yang menarik, aku membacanya. Ternyata itu bagian menolong seseorang melahirkan.
"Peb ajarin aku buat nolong orang lahiran dong." Kataku padanya.
"Udah sih kamu jadi Dokter aja, itumah tugas aku. Ntar lapak aku kamu ambil lagi."
"Knowledge."
"Yaudah ntar aku ajarin. Tapi habis nonton ini." Aku mengangguk. Dan membaca kembali halaman demi halaman yang tertera dibuku itu.
****
"Dinda, kamu pulang duluan aja yak, aku mau ketemu orang dulu." Kataku pada Dinda. Saat ini kami tengah berada di koridor fakultas setelah jam terakhir.
"Kamu mau kemana Rit?" Tanyanya penasaran.
"Aku mau ke fakultas teknik, ada yang pingin aku kasih ke seseorang." Jawabku, sambil berlalu pergi meninggalkan Dinda sendiri. Aku tidak mau ia semakin penasaran dan bertanya macam-macam.
Aku memang ingin ke fakultas teknik untuk memberikan kemeja milik Rivan. Kemeja itu tidak sempat ku kembalikan karena aku tidak tahu dimana alamat rumahnya. Semenjak obrolan Rivan dengan Papa waktu itu, Rivan tidak pernah lagi membalas chat dariku.
Setelah sampai, aku bingung harus mencari Rivan kemana. Aku telpon nomornya tidak aktif pantas saja chat ku tidak ia balas. Fakultas teknik ini didominasi oleh laki-laki. Sepanjang memasuki wilayah ini, aku hanya melihat beberapa gelintir wanita yang lewat, kebanyakan laki-laki. Aku berjalan menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku dari tatapan para laki-laki disini. Ish. Kalau tidak karena Rivan, mana mau aku kesini.
"Awww.." Aku memegang hidungku yang terasa sakit setelah menabrak seseorang. Salahku juga sih, jalan menunduk.
"Ngapunten mbak, ngapunten..." Suara laki-laki terdengar. Dia minta maaf kepadaku, padahal kan aku yang salah.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya. Tampangnya lumayan juga. Hidung mancung, bibirnya tebal. Kulitnya tidak seputih kulit Rivan, melainkan lebih ke coklat. Tetapi enak saja dilihatnya.
"Saya yang minta maaf, salah saya karena jalannya menunduk."
"Enggeh Mbak, permisi." Laki-laki itu langsung berjalan menjauhiku. Aku hanya bisa menatapnya dari belakang. Di punggungnya ia membawa sebuah tabung panjang berwarna hitam khas anak arsitek.
Arsitek.
Sama kayak Rivan dong.
"Mas tunggu." Aku setengah berlari ke arahnya. Ia pun langsung berhenti.
"Ada apa?" Tanyanya kebingungan.
"Kenal yang namanya Rivan ngga kelas 2 arsitektur?" Tanyaku balik dengan napas tersengal.
"Rivan..." Ia mencoba mengingat-ingat. "Oalah.. Kenal Mbak, dia satu kelas sama saya."
Aku tersenyum, akhirnya bisa juga bertemu dengan Ji Chang Wook. Syalalala.
"Mari Mbak saya antar, kebetulan saya juga ingin bertemu dengannya." Aku mengangguk, dan berjalan disampingnya.
"Mbak dari jurusan apa?" Tanyanya.
"Saya dari Pendidikan dokter, ehm— maaf jangan panggil Mbak, panggil saja Rita." Kataku. Aku jadi tidak enak hati dipanggil Mbak, karena kita sepertinya seumuran.
"Oh, saya kira dari fakultas teknik juga. Ternyata calon dokter toh. Saya Alby Mbak– maksud saya Rita."
"Nah gitu kan enak, kesannya saya tua banget dipanggil Mbak." Alby terkekeh. Kami berhenti di sekumpulan orang yang tengah duduk melingkar dibawah pohon rindang. Salah satu dari mereka aku mengenalnya dan dialah yang aku cari.
"Van ada yang nyari." Kata Alby pada Rivan. Seketika Rivan menoleh kearah kami berdua.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nada dingin tak bersahabat. Sepertinya aku salah menemuinya disini.
"Gue mau ngasih ini," aku membuka tasku dan mencari kemejanya Rivan yang telah aku cuci dan aku setrika. "Baju lo."
"Oke thanks," ucapnya. Dia langsung kembali bergabung dan terlibat percakapan dengan salah satu orang dilingkaran itu. Mungkin ia sedang mengerjakan tugas kelompok, begitu pikirku.
"Gue pulang ya." Aku pamit, tapi Rivan hanya mengangkat satu tangannya memberi isyarat. Bahkan ia tidak melihatku sama sekali. Sakitnya tuh disini, sambil menunjuk d**a.
"Rita tunggu!" Alby menahanku, "Van lo gimana sih, pacar lo mau ketemu juga malah cuek gitu."
Rivan menoleh pada Alby sebentar, "dia bukan pacar gue."
"Iya By, kita nggak pacaran kok." Aku memaksa untuk tersenyum, padahal ini hati rasanya sakit sekali. Ditolak secara terang-terangan gitu. "Gue pulang ya."
"Kostan lo dimana?" Tanya Alby. Ini orang kepo banget deh.
"Ngga jauh sih dari fakultas kedokteran."
"Gue anter mau?"
"Nggak usah, By. Katanya lo mau ketemu Rivan kan. Gue bisa pulang sendiri kok."
"Dia lagi sibuk, gue tau kalau dia udah ngerjain tugasnya itu lupa sama segalanya. Bahkan sama ceweknya aja ngga inget." Alby terkekeh, ternyata dia masih tidak percaya juga kalau aku bukanlah pacar Rivan.
Alby orangnya asyik juga, nyambung kalau diajak bicara. Berbeda dengan Rivan yang dingin, Alby lebih hangat. Ia bahkan sesekali melempar lelucon pada pembicaraan kami. Tetapi tetap saja aku suka sama yang dingin-dingin gitu, kan jadi pingin dipeluk. Eh.