Joa merasa malu dengan kondisinya. Pakaiannya terbuka, memamerkan kulit mulusnya yang tak pernah terekspos sedikit pun.
Selama ini Joa, kuat menahan diri. Sengaja dia mengenakan pakaian tertutup. Risih dengan tatapan mendamba para kaum Adam tatkala ia menampilkan kulit mulusnya yang memang indah.
Joa begitu tidak percaya diri dengan tubuhnya yang menurutnya sangat mungil jika dibandingkan ukuran kaum hawa di sekelilingnya.
Meski begitu, beberapa bagian memadat dengan sempurna, di d**a, b****g serta kakinya yang jenjang.
Kulit Joa tidak putih seperti wanita Eropa pada umumnya. Joa memiliki kulit coklat keemasan yang eksotik, sehingga dia kerap menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya. Rambutnya yang hitam panjang tak luput dari pandangan.
Tak jarang Joa, menyembunyikan hitam mayang rambutnya dengan topi yang sering ia gunakan bahkan saat bekerja.
Pengalaman bersama Markus adalah hal yang pertama kali terjadi dalam 24 tahun kehidupannya yang datar serta monoton. Sensasi ini tidak bisa Joa lupakan begitu saja.
Haruskah ia menyerahkan hidupnya, seperti yang telah ia lakukan sebelumnya? Uang tiga ratus juta adalah mahar untuk kebebasannya. Haruskah Joa menyerah seperti yang diperintahkan lelaki itu sebelumnya.
Joa tak punya pilihan selain menerima takdir. Setidaknya dia tidak harus berakhir dengan pria tua jelek yang mungkin saja membuatnya lebih menderita.
Keesokan hari, Joa berhias diri menyambut pagi yang indah. Dia bangun sebelum matahari muncul dari ufuk timur, memancarkan kehangatan yang Bumi butuhkan.
Joa menyiapkan air mandinya sendiri, meski beberapa pelayan berniat membantunya.
Perubahan sikapnya yang mendadak, menimbulkan tanya di benak para pelayan. “Nona?”
“Panggil aku, Joa,” kata Joa ceria.
“Baik, Nona. Maksud saya Joa.” Pelayan itu menjawab, takut.
Joa membersihkan tubuhnya di bawah pancuran air yang deras mengalir. Menyejukkan tubuh serta hatinya yang gersang. Sambil bersenandung, dia membersihkan rambut.
Suara pancuran menyamarkan suara pintu kamar yang terbanting kuat. Derap langkah kaki seseorang terdengar. Joa mematikan keran air, mengambil jubah mandi.
Dengan cepat, dia menutupi tubuh telanjangnya. Tetesan air membasahi lantai di sekitarnya, dia berdiri mematung saat melihat seorang wanita berpakaian minim berdiri dengan tatapan tajam menusuk.
“Siapa kau?” Sambil melipat kedua tangannya dengan sikap angkuh dia mendekat, memastikan kalau Joa bukanlah siapa-siapa.
Joa terdiam, sedikit lambat merespon karena dia sama sekali tidak mengenal perempuan berambut pirang dengan tubuh bak gitar Spanyol. Keseluruhan dari penampilan wanita itu sempurna.
Bibir merah merona, rambut pirang ikal sebahu, dengan langkah anggun dia menghampiri Joa. Dari raut wajahnya yang mengeras, Joa tahu wanita itu tidak menyukai kehadirannya.
“Apa kau bisu, hah?” Wanita itu memagut dagu Joa lalu membuangnya dengan ekspresi jijik.
“Kau sendiri siapa? Tanpa permisi main masuk ke kamarku,” balas Joa, sengit. Dia tidak suka tatapan perempuan dan sikapnya yang angkuh.
Wanita itu tertawa sinis, terlihat malas menanggapi pertanyaan Joa.
“Gadis kecil, kurasa kau harus segera keluar dari sini. Aku aku akan menendangmu!”
“Maksudmu?”
“Kau bahkan tidak mengenal siapa aku? Apa Markus tidak mengatakannya padamu, hah?”
“Nona, Nona Stevie adalah kekasih tuan Markus.”
Tatapan Stevie menajam, membuat pelayan itu gemetar ketakutan, “Maksudnya, Nona Stevie adalah tunangan Tuan Markus.”
“Tunangan?”
Stevie mengangguk, malas. Sambil melipat tangan di da-da, dia menantang Joa. “Kau, wanita simpanan Markus. Menjijikkan. Aku tak mengira, wanita sampah sepertimu yang disimpannya di rumah ini.”
“Jaga kata-katamu!” Joa memperingatkan.
Bukan Stevie namanya jika dia gentar menghadapi para wanita simpanan kekasihnya.
Dia tidak keberatan dengan hobi Markus yang gemar bergonta-ganti wanita. Selama lelaki itu memberikan apa yang dia butuhkan, Stevie rela membiarkan Markus menyimpan beberapa wanita.
Terkadang Markus membawa pulang wanita ke kediamannya, sehari, dua hari, paling lama seminggu. Kemudian berganti dengan wanita lainnya. Stevie tidak keberatan karena para wanita itu takkan pernah bisa menggantikan posisinya.
Begitu pula dengan gadis kecil ini. Paling lama seminggu, maka dia akan lenyap selamanya. Bukankah itu yang selalu terjadi.
Stevie gemar mempermainkan para wanita simpanan kekasihnya. Memperbudaknya layaknya mereka peliharaan yang tidak berguna. Markus tidak pernah keberatan dengan sikapnya terhadap para wanita simpanannya. Begitu pula apa yang akan ia lakukan terhadap Joa.
Seakan mendapat mainan baru, Stevie tersenyum lebar.
“Pakai bajumu, kemudian ikuti aku.” Stevie berbalik arah, meninggalkan Joa di kamarnya.
Tapi bukan Joa namanya jika ia tidak memberontak.
Alih-alih, memakai bajunya, Joa malah kembali ke kamar mandi, melanjutkan kegiatan mandinya. Setelah hampir seminggu ia tak menyentuh air, inilah momen kebebasan baginya.
***
Setengah jam Stevie menunggu di ruangan besar, menunggu Joa yang tak kunjung menghampirinya.
“Kemana dia?” Emosinya menggebu-gebu, karena baru pertama kalinya dia dipermainkan oleh seorang wanita simpanan Markus.
“Non Joa mandi, Nona,” sahut pelayan ketakutan.
Emosi Stevie tidak baik. Sejak dulu dia selalu mencari masalah dengan orang lain. Merasa dirinya paling cantik dan disayangi Markus, membuatnya bertindak semena-mena dengan pada pelayan, pegawai, bahkan para wanita simpanan yang dibawa Markus ke kediaman mereka.
Tidak ada seorang pun di kediaman ini yang berani mengusik dirinya. Apalagi menantangnya seperti yang Joa lakukan saat ini.
“Berani sekali dia melawanku,” celetuk Stevie, geram melihat keberanian Joa.
Tidak ada satupun yang berani melawan Stevie, dialah satu-satunya kesayangan Markus dan selamanya akan seperti itu.
Suara tapak kaki terdengar, Joa menaruh sikat rambutnya. Menatap wanita yang berdiri tepat di hadapan cermin, memantulkan ekspresi marah perempuan itu.
“Ada apa?”
“Apa kau bermaksud menantangku? Kau bahkan tidak tahu siapa diriku?”
“Apa itu ada urusannya denganku?” balas Joa, sama sekali tak gentar menghadapinya.
Stevie menyipitkan mata, mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Sorot matanya tajam, menusuk Joa yang tampak tak tergoyahkan sedikit pun. Wanita simpanan baru ini jelas berbeda dari yang lain—bukan tipe yang akan tunduk begitu saja pada ancaman atau hinaan.
“Kau benar-benar tidak tahu tempatmu, Joa,” desis Stevie, suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Wanita sepertimu tidak lebih dari mainan yang mudah dibuang. Markus hanya akan bosan, dan saat itu terjadi, aku akan memastikan kau pergi dari sini dengan cara yang paling hina.”
Joa tidak bergeming. Dia mengangkat dagunya, menyilangkan tangan di depan d**a. “Bosan? Mungkin. Tapi untuk saat ini, aku di sini, dan kau tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Kau takut aku akan merebut posisimu, ya?”
Stevie melangkah maju, jaraknya kini hanya beberapa inci dari Joa. Aura kemarahan dan d******i memenuhi ruangan.
“Aku tidak takut pada siapa pun, apalagi kau. Kalau kau pikir bisa bertahan di sini, kau salah besar. Aku akan menunjukkan bahwa kau hanyalah serpihan kecil di bawah sepatuku.”
Joa malah tersenyum, senyuman tipis yang penuh ejekan. “Kalau begitu buktikan saja. Tapi jangan lupa, Markus tidak akan suka jika kau membuat masalah. Bukankah kau ingin tetap menjadi yang terfavorit? Berhati-hatilah, karena aku juga bisa bermain lebih licik daripada yang kau bayangkan.”
Kalimat itu membuat Stevie semakin tersulut. Dia mengangkat tangannya, nyaris melayangkan tamparan, tapi Joa dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Pegangan Joa kuat, tidak sesuai dengan penampilannya yang anggun.
“Jangan pernah menyentuhku,” ujar Joa tajam, matanya bersinar dengan keberanian yang dingin. “Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan.”
Stevie menarik tangannya, tampak sedikit terkejut tapi berusaha menutupi kegugupannya. Dia melangkah mundur, menatap Joa dengan pandangan penuh kebencian.
“Kau akan menyesal,” ancam Stevie sebelum berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah keras. Namun, di balik punggungnya, Joa tetap berdiri tegak, matanya tak lepas dari bayangan Stevie yang menjauh.
Joa tahu, ini baru permulaan. Tapi dia siap menghadapi apa pun yang akan Stevie lakukan. Dia tidak akan tunduk. Tidak kali ini dan tidak di lain waktu.
***