Chapter 3

1448 Words
"Jangan temui aku lagi dan hidup lah bahagia dengan istrimu yang cantik," lanjut Siena. Aaron mendadak bangun dan membalikan posisi tubuhnya, kini Siena berada dibawah kungkungannya. Rahang Aaron mengeras dan menggeram. "Wanita sialan. Kau pikir aku akan melepaskan mu begitu saja. Kau tidak akan pernah lepas dari seorang Ackerley." Aaron menggeram diatas tubuh Siena. Mendengarnya menggeram, Siena memberikan tatapan menantang. Ia ingin membuat Aaron bertekuk lutut padanya dan memohon untuk tidak ia tinggalkan. Siena pun menyeringai kecil dengan wajah menantang nya. Aaron kembali meraup bibirnya dengan lebih ganas. Namun Siena memundurkan kepalanya dan memutus ciumannya yang menggairahkan. "Setelah malam ini, kau mau memberikanku apa lagi?" tanya Siena. Aaron menghela napas kasar kali ini. Tubuhnya sangat panas dan matanya sudah diselimuti oleh gairah. "Apa pun Siena!" Aaron kembali menggeram dan mengangkat tubuhnya dari Siena. Sambil berbaring pasrah melihat Aaron membuka kemeja nya dan celananya dengan tidak sabaran. Siena semakin tersenyum menggodanya. "Aku takut istrimu tahu bahwa suaminya sedang bersama adiknya." Siena menyeringai dan Aaron menggeram. "Shut f*****g your bitchy mouth up, Siena Lovey!" Aaron berteriak sambil membuang celana dalamnya sembarangan. Dengan serampangan dan gairah yang menggebu, Aaron menarik kaki Siena dan menyingkapkan gaun panjangnya, Siena menahan tangannya dan menatapnya dengan tatapan semakin menggoda. "Aku tidak menyangka dibalik sikap polos dan manismu kau ternyata sangat jalang. Saat aku menyentuhmu pertama kali bahkan kau meminta lebih." lanjut Aaron dengan kabut gairah yang semakin memanas. Siena mendengus jijik mendengar ucapannya, apa dia tidak sadar bahwa kelakuannya sangat menjijikan saat melakukan hal itu. Gerutu Siena dalam hati. "Itu Siena yang dulu, sebelum tahu betapa royalnya seorang Aaron Ackerley pada wanita simpanannya ini" Plak! Aaron menampar pinggul Siena yang sekal dan padat. Kemudian ia menyingkapkan kembali gaunnya keatas, tangan besarnya menelusuri pahanya, membuat Siena menggelinjang. (*0*) Siena menggeliatkan tubuhnya dan merasakan tempat disampingnya kosong. Lagi lagi Aaron meninggalkannya tidur sendirian. Gadis itu membuka mata dan mengusapnya pelan. "Dia benar-benar membuatku terlihat seperti wanita simpanannya. Awas saja kalau dia tidak mau menuruti keinginanku. Aku akan menguras kantongnya hari ini, berbelanja dress, tas dan high heels. Aku akan membeli apa pun yang aku inginkan, bahkan berlian seklipun sampai Ackerley bangkrut," gerutu Siena dengan wajah kesal. Siena terus menggerutu seraya bangun. Sambil menyibakkan selimut, Siena turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Beberapa menit Siena selesai mandi, ia memakai kembali pakaiannya semalam. Meraih bra, celana dalam dan gaunnya yang berserakan di lantai. Siena meraih mantel bulunya dan mengenakannya, juga menggerai rambutnya untuk menutupi lehernya. Siena mengambil ponselnya dan mengeceknya, ada satu pesan dari Julie. Juliet: Gadis bodoh kau dimana? Kenapa hari ini kau tidak masuk kantor? "Jam sepuluh?" gumamnya pelan. "Astaga! Aku tidak ke kantor!" Dengan panik Siena meraih tas tangannya diatas nakas dan hendak keluar tapi satu pesan membuatnya kembali berhenti untuk mengeceknya. Juliet: Siena, kau kedatangan Aaron ya? Aku sudah ijin ke bos kalau kau sedang sakit. Tidak apa kalau tidak masuk kantor. "Oh my baby Juliet!! Dia memang mengerti aku segalanya," gumam Siena. Siena sudah menceritakan semuanya tentang hubungannya dan Aaron pada Juliet. Hanya pada Juliet seorang. Karena dia sahabatnya dari sekolah sampai sekarang, karena Siena tahu Juliet bisa menjaga rahasianya. Meski sebagian orang menilainya sebagai gadis baik-baik yang lajang dan tak suka menggoda, tapi Juliet tahu bahwa dia adalah gadis nakal jika bersama Aaron. Siena: Juliet sayang terima kasih. Kau benar-benar sahabat sejati! Kau mau aku bawakan apa? Setelah selesai mengirimkan pesannya, Siena hendak pergi ke kantor Aaron yang terletak di bagian paling atas gedung ini. Siena pun memutuskan untuk mengirimi Aaron pesan singkat sebelum menemuinya. Siena: Apa kau dikantor? Bersama Kiara? Siena menunggu 15 menit yang terbuang sia-sia karena seorang Ackerley sialan. Yang sialannya sangat tampan. "Sepertinya Aaron sibuk. Lebih baik aku pulang saja dan tidur." Saat Siena tiba di depan pintu lift, Aaron membalas pesannya. Aaron: Aku di kantor. Sendirian Saat masuk lift Siena langsung memencet tombol untuk lantai paling atas. Beberapa karyawan yang satu lift denganmya, memandang aneh dan heran. Pasalnya paling atas itu ruangan-ruangan untuk kantor para petinggi hotel seperti Aaron. Siena yang berpakaian berantakan seperti ini menuju lantai perkantoran, ia tidak heran mereka memandangnya aneh. Gadis dengan wajah sayu, pucat, tanpa make up bahkan rambutnya berantakan. Mereka akan menganggapnya gadis aneh, tanpa mereka tahu Siena yang selalu tampil ber make up, tak sempat make up karena bos mereka. Saat tiba di lantai paling atas ia langsung mencari ruangan Aaron, dan bertanya pada sekertaris Aaron. "Maaf saya ingin bertemu dengan Mr. Ackerley," katanya pada wanita itu. Wanita itu memandangnya dari atas sampai bawah. "Maaf nona, apa nona sudah membuat janji dengan Presdir?" tanya sekertaris Aaron pada Siena. Siena menggeleng dan wanita itu berucap lagi. "Nona tidak bisa menemui Presdir bila belum membuat janji." "Telepon saja Mr. Ackerley dan katakan bahwa Siena Lovey ingin bertemu," kata Siena dengan nada sebal. Dengan pasrah wanita itu mengangkat teleponnya dan berbicara dengan Aaron. Setelahnya dia mempersilahkan Siena untuk langsung masuk. Gadis itu masuk dan mendapati Aaron sendirian sedang berkutat dengan dokumen-dokumen diatas mejanya. "Ada apa?" tanya Aaron pada Siena dengan suara rendah tanpa menatapnya sama sekali. "Aku ingin menagih pembayaranku," balasnya. Aaron menghentikan pekerjaanya dan menatap Siena dengan tajam dan wajah dingin. Mata hijaunya berpendar tak suka mendengar ucapan Siena. "Semalam kan kau sudah puas dengan kekasih gelapmu in," lanjut Siena, dan Aaron mengepalkan tangannya dan menggeram pelan. "Ini di kantor dan kau jangan sebut-sebut kata itu disini, Siena Lovey. Kau paham?" Aaron menahan geramnya. "Kenapa?" Siena bertanya dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. "Jangan-jangan kau takut ada karyawanmu yang mendengar kalau bos mereka yang sudah beristri memiliki wanita simpanan untuk memuaskannya. Parahnya itu adik iparnya," lanjut Siena lagi sambil duduk di sofa. Gadis cantik itu menyilangkan kedua kakinya, menatap Aaron dengan geli. "Siena Lovey!" Aaron bangkit dari kursinya dan membentak. "Kau bukan wanita simpanan!" lanjutnya. Siena terkekeh menatap Aaron yany berdiri menjulang dihadapannya. "Lalu aku apa? Aku menjadi wanita yang kau datangi dibelakang istrimu, Aaron," balasnya dengan nada menantang. "Kau milikku bukan wanita simpanan, Siena." Aaron mendesis kembali. "Sama saja." Siena berdecak, dan Aaron pun mengangkat kedua tangannya tanda menyerah mendebat Siena. "Oke, terserah padamu. Sekarang kau mau apa?" tanya Aaron langsung. Sebelum Siena menjawab Aaron menuju kembali ke kursi nya dan menelpon sekertarisnya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk selama Siena di ruangannya. "Aku heran, kemana perginya Siena si gadis yang polos dan manis." Aaron berujar dengan nada menyindir. "Kau merindukan gadis yang polos dan manis yang cengeng saat kau sakiti? atau kau lebih suka gadis yang menggoda?" Siena berdiri dari duduknya dan menghampiri Aaron di kursi nya. Ia membelai d**a bidang Aaron yang kokoh dengan jari-jari lentiknya dan mendudukan diri di meja kerja Aaron. "s**t! Kau menggodaku kembali, Siena," gumam Aaron menahan tangan Siena di dadanya. Gadis itu justru mencondongkan tubuhnya pada Aaron, dan mencium bibirnya pelan untuk kemudian melepaskannya. Aaron menahan kepala Siena agar tidak melepaskan ciuman mereka. Melumat bibir Siena kemudian menggerayangi pinggulnya. Siena melepaskan ciuman mereka. "Aaron!! Kau benar-benar pria gila." Siena mendesis marah dan memukul tangannya. "Oke aku minta maaf. Sekarang sebutkan kau mau apa?" "Aku mau menguras kantongmu." "Tidak masalah, baby. Kau mau apa dariku, nona cantik?" "Aku mau lamborgini," ucap Siena asal. Dia hanya ingin membuat Aaron jera memperlakukannya bagai nona muda simpanan pengusaha. "Tanpa kau minta pun aku sudah membelikannya untukmu. Ini kuncinya." Siena membuka mulutnya lebar dan melotot melihat Aaron memberikannya sebuah kunci mobil dengan logo lamborgini. "Ak-Aku, Aku hanya—" "Mobilnya sudah ada di baseman apartemenmu, sayang." "Aaron!! Aku kan hanya bercanda. Aku tidak mau menerima nya. Aku hanya bekerja dikantor kecil, kalau aku memakai mobil mewah mereka akan benar-benar menganggapku sebagai simpanan pengusaha kaya raya. Mereka akan menawarkanku untuk tidur bersama mereka, dan mereka semua orang Amerika yang tampan Aaron. Kau ingat, mereka tampan dan sangat seksi" "s**t!!" Aaron mengumpat keras sambil membanting kunci mobilnya. "Aku membeli ini untukmu, Siena." "Tapi aku tidak mau menerima nya. Kau jual lagi saja." "Kau ini—" "Kalau tidak mau, kau buang saja. Kau kan banyak uang." Siena buru-buru memotong ucapannya dan berlalu dari hadapan Aaron menuju pintu keluar. Aaron menarik tangannya dan mencium bibir Siena kembali dengan ganas. Gadis itupun memukul d**a Aaron dan meraih pintu. Siena membuka pintu dan pria tampan itu mengekorinya. "Siena ..." Dia memanggil Siena pelan. Siena tidak menggubris, tapi Aaron juga hanya diambang pintu. Keluar dari ruangan Aaron, Siena berpapasan dengan beberapa karyawan yang kebanyakan pria. Ada satu pria yang bersiul padanya dan menatap bokongnya dengan pandangan kurang ajar. Sebelum masuk lift, Siena mendengar Aaron menggeram. "Kalau sekali lagi kau bersiul padanya. Aku akan memecatmu dan membuat keluargamu jatuh miskin," ancam Aaron pada pria tadi. Pria itu harus diberi pelajaran bahwa hati dan tubuh seseorang itu tidak hanya bisa dibeli dengan uang dan otak seseorang juga tidak melulu soal uang. (*0*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD