Chapter 14

1901 Words
Satu jam kemudian Andrew keluar dari ruangan Aaron bersama sekretarisnya yang menyusul untuk rapat. Andrew membenarkan kembali jasnya dan menjabat tangan Aaron sebagai tanda dimulainya kerjasama perusahaan mereka. "Semoga kerjasama perusahaan kita ini akan menembus pasar-pasar Asia lainnya,” ujar Andrew berbasa-basi dengan senyuman kecil yang menampakkan lesung pipinya. Sedangkan Aaron tak membalas apapun. Ia hanya menjabat tangan Andrew dengan datar kemudian melepaskannya. Andrew berjalan bersama sekretarisnya, namun baru beberapa langkah mereka langsung berhenti karena Andrew berhenti. Di depan mereka, ada Siena yang sedang berdiri dengan wajah setengah frustrasi sambil menenteng sepatu hak tingginya. Andrew menaikkan sebelah alisnya dan berjalan cepat mendekati Siena. "Siena, kau kenapa?" tanya Andrew dengan nada lembut seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Siena, namun Siena menepisnya. "Aku tidak apa-apa,” balas Siena dengan nada senormal mungkin. Siena melangkah melewati bahu Andrew untuk menghampiri Aaron, tapi Andrew menahan tangannya hingga mereka berdiri bersebelahan. Meski Siena menarik tangannya tapi Andrew tak kalah keras menahannya. Dari sisi lain, Aaron menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri Siena disentuh pria lain. Pria yang sialannya adalah mantan kekasih Siena, yang bahkan ketampanannya saja sama sepertinya. Kedua tangan Aaron mengepal dengan erat, sampai uratnya tertarik, giginya bergemeletuk dengan rahang mengeras. Kepalanya serasa ingin meledak, melihat wanita yang sangat ia inginkan disentuh orang lain. Sekuat tenaga Aaron menahan emosinya, hanya matanya yang berkilat murka. Saat itu Siena juga meluruskan tatapannya hingga mereka saling bertatapan. "Maaf, kita tidak ada urusan Andrew.” Siena menarik kasar tangannya tapi Andrew lagi-lagi menahannya. "Lepaskan.” Suara rendah itu penuh ancaman dan berdesis penuh bahaya, disamping Siena. Andrew melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Siena karena Aaron menarik tubuh Siena ke balik tubuhnya. Gadis itu melirik Andrew dari bahu Aaron. "Maafkan saya. Saya hanya ingin tahu, apakah Siena bekerja disini?" tanya Andrew yang berusaha memecahkan ketegangan diantara mereka. Andrew jelas melihat kemarahan di kepalan tangan Aaron, meski wajahnya datar tapi bahasa tubuhnya berkata lain. Aaron hanya menatap Andrew dengan dingin. "Itu bukan urusanmu,” jawabnya tak kalah dingin seperti wajahnya. Andrew mengangguk mengerti, dia membungkuk pada Aaron dengan sopan, namun Aaron bergeming. Kemudian melirik Siena dengan penuh kerinduan, sambil melemparkan senyuman tampannya. Kemudian Andrew berbalik menyusuri koridor menuju lift, bersama sekretarisnya yang masih menunggu di depan lift. Setelah Andrew masuk lift, diam-diam Siena berjalan hendak meninggalkan Aaron. Melihat wajah Aaron yang murka membuat Siena sedikit ngeri. Ia tak tahu apa yang akan Aaron lakukan padanya, mengingat pria itu sangat mengerikan. "Selangkah kau pergi dari sini, besok kau akan mendengar kabar kematian Julie,” Aaron mendesis dalam tanpa menoleh. Siena berjengit ke belakang dan tubuhnya menegang, ia langsung menghentikan langkahnya saat suara berat dan sangat dingin itu menyapa indera pendengarannya. Ia yakin Aaron sedang mengancamnya. Sambil menahan kegugupan yang melingkupinya, Siena berbalik dan memberanikan diri menatap Aaron. Siena menghela napasnya berat, mencoba mendekati Aaron tapi Aaron menarik tangannya dan masuk ked ruangannya. Kemudian Aaron mengunci pintunya. Siena berdiri di depan pintu, sedangkan Aaron menghampiri mejanya. Mengambil rokoknya dan menyalakannya, lalu menghisapnya kuat-kuat. Ia bahkan tak mempedulikan keadaan ruangannya yang ber-AC. Mata hijaunya mengintai tubuh Siena dengan berbahaya. Asap rokok mengepul dan menghilang di udara. Siena menahan napasnya, ia mencoba memberanikan diri balas menatap Aaron dan tak goyah. Aaron akan merasa menang jika dirinya ketakutan dan tunduk. Siena pun teringat niatnya datang ke kantor Aaron. "Apa kau yang membuatku dan Julie dipecat?" tanya Siena sambil menatap Aaron. Aaron menghisap rokoknya kuat-kuat dan menghembuskannya, kemudian menumbukkan ujung rokoknya di asbak hingga padam. "Kalau aku, memangnya kenapa?" balas Aaron seraya memasukan kedua tangannya ke saku celana. Siena mengepalkan kedua tangannya marah, dengan mudahnya Aaron membuat hidup orang lain jungkir balik. "Kenapa kau melakukannya?" Siena berbisik. "Kenapa? Kau masih bertanya kenapa?" Aaron berdecih kasar. Aaron berjalan menghampiri Siena yang masih berdiri di depan pintu. Siena mundur hingga punggung sempitnya berbenturan dengan pintu, sedangkan Aaron semakin menghimpit tubuhnya. Siena memejamkan matanya. "Kau melibatkan Julie,” gumam Siena lagi. Aaron memiringkan kepalanya, menatap wajah Siena yang berpaling. Tubuh besarnya memerangkap tubuh mungil Siena, sedangkan kedua tangannya terulur untuk menyentuh rahang Siena. Membalikkan wajah Siena agar bertatapan dengannya. Siena menatap Aaron dengan mata menajam dan marah. Meski awalnya ia merasa ketakutan karena Andrew memeluknya, tapi Siena malah balik marah saat dengan mudahnya Aaron membuat Julie berhenti kerja. "Dengar Siena, aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa kau bayangkan.” Aaron mendesis dalam. "Benar-benar b******n,” Siena balik mendesis. "Jika kau berniat membuatku dipecat dan kembali ke London, kenapa harus melibatkan Julie? Lakukan sesukamu asal jangan libatkan orang-orang terdekatku.” Tatapan Siena semakin menajam. Ia menghela napas berat. "Lakukan seperti biasa, saat kau menggodaku agar aku kembali ke London. Lakukan Aaron, asal jangan sakiti siapapun.” Aaron mencengkeram pinggul Siena dan mencengkeramnya dengan erat, membuat gadis itu meringis. Bersama tubuh besar Aaron yang menghimpitnya. Aaron merunduk kemudian membungkam bibirnya hingga diam. Siena menahan d**a Aaron dan memberontak, melepaskan bibir pria itu dari bibirnya. Namun Aaron menciumnya semakin dalam dan melumatnya dengan kasar. Suara kecipak diantara bibir mereka terdengar jelas, membuat Siena sesak napas. "Dengar Siena. Jangan karena kau wanita simpananku, kau dengan bebasnya berpelukan dengan pria lain.” Aaron melepaskan ciumannya dan menepis rahang Siena yang ia cengkeram. Pria itu berjalan meninggalkan Siena yang masih bersandar di pintu dan hampir merosot. Dadanya naik turun, dengan napas menderu dan wajah yang memerah. Aaron mengambil sebuah berkas diatas meja, kemudian melemparkannya pada Siena. Membuat Siena semakin menggeram marah karena diperlakukan kasar. "Berhenti menganggapku pelacurmu, Sialan. Aku akan benar-benar kembali pada Andrew jika kau––" "Apa?!" Siena terkejut saat Aaron berlari dan menerjang tubuhnya. Kedua tangan Aaron mencengkeram pinggulnya dan wajahnya mengeras, dengan mata hijaunya yang melotot tajam. "Katakan sekali lagi, apa kau mau meninggalkanku?" Aaron mendesis membuat Siena kembali bungkam. Aaron kembali gelap mata dan menggeram dalam, ia mencengkeram pinggang Siena serta memeluknya erat. Tangannya berusaha melepaskan pakaian Siena, namun gadis itu memberontak. Dengan ketakutan Siena mengerat tangan Aaron, yang sedang merobek dress bagian depannya. Dress-nya robek di bagian depan, hingga menampakkan d**a Siena yang dibalut bra hitam. Siena terus memberontak, dan wajahnya memerah menahan tangisan. "Lepaskan!" Siena berteriak tapi Aaron semakin gelap mata. Pria itu menundukkan kepalanya dengan tangan yang semakin mencengkeram tubuh Siena. Aaron menciumi d**a Siena, belahan payudaranya dan menggigitnya hingga merah. "Lepaskan! Hiks.” Siena melepaskan tangannya dan melemaskan tubuhnya. Kakinya terasa ingin copot, melihat bagaimana Aaron memperlakukannya seperti w************n. Air mata mengalir di pipinya, dan isakan keluar dari bibir merahnya. Mendengar isakan Siena, Aaron melepaskan bibirnya dari p******a Siena yang masih dibalut bra. Kedua tangan Aaron melemah dan perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap bagaimana Siena menangis dan wajahnya nampak ketakutan. "Baby.” Aaron berbisik. Tangannya terulur mengusap pipi Siena yang berurai air mata. Aaron menjauhkan dirinya dari Siena dan menatap Siena yang menangis sambil menutupi wajahnya. Rambutnya berantakan dan dress bagian dadanya robek, dengan belahan d**a Siena yang memerah karena ia gigit. "Siena.” Aaron meraih tangan Siena namun dengan kasar gadis itu menepisnya. Siena menatap Aaron dengan tajam dan wajah memerah. Keadaannya sangat berantakan, bahkan wajahnya nampak menyedihkan. Siena sakit hati, melihat Aaron yang semakin kasar dan memperlakukannya bagai p*****r. Meski ia tidur dengan Aaron, tapi Siena tak pernah dekat dengan pria mana pun. "Aku tidak akan minta maaf, karena itu pantas kau terima,” ujar Aaron dengan suara rendah. Wajahnya kembali dingin dan menatap Siena dengan tajam. Mendengar perkataan Aaron yang begitu kejam, Siena mendongakkan wajahnya dan balas menatapnya dengan marah. "Lakukan apapun yang kau mau, Aaron. Aku sudah tidak peduli. Aku sudah menyerah, aku menyerah Aaron!" Siena berteriak sambil memeluk tubuhnya sendiri, untuk menutupi dadanya yang terbuka. "Aku sudah lelah.” "Jadi kau akan meninggalkanku? Setelah kau menggugurkan kandunganmu, sekarang kau juga akan meninggalkan aku? Begitu, Siena?!" Aaron balas berteriak. Sambil menaikkan dagunya, Siena balas menatap. "Ya! Aku akan kembali pada Andrew dan meninggalkanmu. Apa kau puas?" Plak!! Wajah Siena terlempar ke samping, mata bulatnya semakin membulat tak percaya. Ada sedikit darah di sudut bibirnya. Dengan perasaan hancur, Siena mengerjapkan matanya. Aaron kembali kasar padanya, bahkan memukulnya dengan tega. Aaron mencengkeram rahang Siena. "Dengar Siena, aku tidak akan pernah melepaskanmu dan membuatmu direbut pria lain. Aku akan membunuh mereka, menghancurkan mereka dan juga keluargamu! Dengar itu.” "Berhenti mengancamku!" Siena berteriak dan menepis tangan Aaron. Dengan kasar Siena mengusap wajahnya yang kembali berurai air mata. Tatapannya menajam pada Aaron. "Kau pikir kau siapa? Setelah menghancurkanku kau merayuku, kemudian kau menyakitiku lagi, kau kembali lagi merayuku. Aku masih memiliki perasaan Aaron. Aku ini perempuan! Aku bukan wanita jalang.” Siena berteriak melemparkan tas selempangnya, memukuli tubuh Aaron yang hanya diam berdiri. "Aku bukan pelacurmu Aaron,” Siena hampir saja menjatuhkan dirinya, namun ia bersandar kembali di pintu. Dengan bahu gemetar dan pakaian berantakan serta robek. Melihat Siena yang menyedihkan ada sedikit perasaan menggelayut di hati Aaron. Ia merasa sudah kelewat kasar pada Siena. Tak seharusnya perempuan seperti Siena ia kasari, justru akan membuat gadis itu semakin berusaha lepas darinya. "Kau tahu? Saat kau menyentuhku, aku masih perawan. Saat aku tahu ada nyawa lain di perutku, saat itu aku berusaha menjaganya, tapi melihatmu menikmati permainanmu dan menikmati pernikahanmu dengan Kiara, membuatku stress. Aku mengandung sendirian, tanpa ada yang tahu. Tanpa sepengetahuanku, aku keguguran. Aku keguguran seorang diri, Aaron. Tanpa suami, tanpa ada yang tahu. Apa kau masih menganggapku p*****r murahan? Yang pantas kau sakiti sampai hancur lebur? Berkeping-keping? Sekalian saja kau bunuh aku!" Siena masih menangis sambil menundukkan kepalanya. Air mata sudah berurai di mata indahnya yang berubah sayu. "Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" "Kau pikir aku bisa mengatakan padamu di depan istrimu bahwa aku mengandung anakmu?" Siena mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Aaron. "Aku sudah lelah dengan semua ini. Terus bersembunyi di belakang Kiara, bahkan kau tak pernah menganggapku. Aku menyerah Aaron. Aku menyerah,” Emosi Aaron yang sudah mereda tiba-tiba kembali menyerbu dan menyelimuti dirinya mendengar kata-kata Siena. Itulah ketakutan terbesar Aaron, bahwa Siena akan menyerah dengan hubungan mereka. Dan meninggalkannya untuk pria lain. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan pria mana pun, Siena.” Aaron meraih tangan Siena dan menariknya. Membawa tubuh Siena mendekat, dengan kasar Aaron melemparkan tubuh mungil Siena ke sofa hingga kepalanya membentur sandaran sofa. "Akh! Aaron hentikan.” Siena berteriak dan kali ini ketakutan. Aaron kembali gelap mata, kedua tangannya mengepal. Ia mendekati Siena dan menindih tubuh Siena di sofa. Siena memberontak. Sekuat tenaga dengan ketakutan. "Katakan sekali lagi kau akan meninggalkan aku,” desis Aaron. "Lepaskan b******k!" Siena memberontak. Dengan kasar Aaron melepaskan dasinya, menahan kedua tangan Siena diatas kepala dan mengikat dengan dasinya. Siena semakin memberontak dengan wajah setengah kosong dan ketakutan. Ia terus memohon sedangkan Aaron masih kalap dengan emosinya. Tubuh gagah Aaron menindih Siena, tangan besarnya semakin merobek dress Siena, hingga robek sampai bawah. Ia menarik bra Siena hingga lepas, dan menampakkan d**a telanjang gadis itu. Dengan panik Siena menggelengkan kepalanya. Namun Aaron seakan tuli, menundukkan wajahnya dan memperlakukan d**a Siena dengan kasar hingga memerah, membuat Siena menjerit kesakitan. "Aaron sakit! Aaakkhh! b******k! Aku akan meninggalkanmu!” Aaron semakin gelap mata, ia meraih rambut panjang Siena, menjambaknya dan membenturkannya di lengan sofa. Membuat Siena merasa pusing dan hampir pingsan. Seakan teriakan Siena hanya suara lebah, Aaron terus melancarkan aksinya, dengan emosi yang menyelimuti dirinya. Dengan kasar Aaron kembali menyakiti Siena. Memperlakukannya dengan kasar. Hatinya bahkan tubuhnya sudah hancur berkeping-keping, tak ada lagi yang tersisa. Malam dimana Aaron menjebaknya, menidurinya kemudian meninggalkannya, dia sudah kehilangan segalanya. Kemudian Aaron kembali melakukannya, dengan kasar dan paksaan. Air mata terus meleleh dari matanya, hati dan tubuhnya sudah terkoyak berantakan. (^¤^)(^¤^)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD