6

1258 Words
"Tangan" pintaku ke Pak Adam, Pak Adam menjulurkan tangannya dan langsung aku kecup kilat, ya Allah nyium tangan suami aja gemetaran sampai kaya gini. Aku yang aslian canggung, langsung buru-buru keluar dari mobil, makin lama makin panas suasananya, situasi kaya gitu gak baik buat kesehatan jantung dan pernafasan, sangking buru-burunya aku sampai gak sengaja malah nabrak orang. Brukkkk. "Maaf, maaf saya tidak sengaja" ucapku sambil memunguti buku-buku orang yang aku tabrak barusan. "Kakak gak papa, Nawa sendiri gak papa kan? Maaf Kakak juga salah jalan gak liat-liat" "Astagfirullah" ucapku kaget begitu sadar siapa yang aku tabrak barusan, kenapa harus dia? Dari sekian banyak orang yang bisa aku tabrak kenapa harus dia? "Kenapa, ada yang sakit?" tanyanya lagi dengan raut wajah mulai khawatir. "Nawa gak papa, sekali lagi maaf ya Kak" gak mau berlama-lama aku mengembalikan buku yang udah selesai aku pungut dan langsung narik diri berjalan menjauh, "Nawa, jangan terus ngehindarin Kakak kaya gini, kalaupun iya, kasih tahu Kakak apa alasan Nawa ngehindarin Kakak selama satu semester terakhir?" aku menghela nafas dalam melihat lelaki yang sudah berdiri tepat dihadapanku lagi. "Kak Ardit mau Nawa ngejelasin apa lagi? Disaat Kak Ardit milih ngebatalin pertunangan kita dulu, apa Kak Ardit masih berhak nanyak alasan Nawa apa?" Arditya Rifqi Hamizan adalah lelaki pertama yang mengenalkan apa itu cinta dan rasa sakit dalam waktu yang bersamaan, Kakak kelasku yang dengan berani datang mengkhitbah setahun yang lalu dan membatalkannya karena mempunyai rasa juga terhadap perempuan lain. "Kakak tidak membatalkannya Nawa tapi Kakak minta Nawa menunggu" "Nunggu? Nunggu hati Kakak beneran terpaut dengan perempuan lain itu? Nawa bukan mainan Kakak yang akan selalu stay disaat Kakak bilang untuk menunggu, Nawa tidak akan bersikap bodoh dengan terus mengharapkan lelaki yang sama sekali tidak pernah menghargai kehadiran Nawa, disaat Kakak milih perempuan lain, itu artinya Kakak juga udah milih melepaskan Nawa" sebisa mungkin ku tahan isak tangisku, aku gak mau laki-laki yang ada dihadapan aku sekarang melihat kembali betapa rapuhnya aku setelah ditinggalkan dulu. "Nawa, waktu itu Kakak cuma butuh waktu untuk benar-benar ngeyakinin hati Kakak menikahi Nawa" "Kalau Kakak gak yakin kenapa dengan beraninya Kakak datang kerumah untuk mengkhitbah Nawa waktu itu? Seharusnya Kakak pikirin dulu semua sebelum datang ke rumah Nawa, Kakak gak cuma nyakitin Nawa waktu itu tapi Bunda dan Mas Ali juga, apa Kakak pikir Nawa mau keluarga Nawa Kakak gituin?" aku mulai menundukkan pandanganku karena sadar beberapa orang mulai memperhatikan aku dan Kak Ardit sekarang, sebenarnya banyak dari mahasiswa/i kampus yang udah tahu masalah aku dan Kak Ardit batal nikah jadi ngeliat aku sama Kak Ardit ngomong kaya gini udah pasti narik perhatian seisi koridor kampus. "Maafin Kakak Wa, kasih Kakak kesempatan untuk memperbaiki semuanya" "Maaf Kak tapi Nawa gak bisa" aku menunduk dan berjalan meninggalkan Kak Ardit yang masih terpaku ditempat, Ya Allah kenapa Kak Ardit harus balik muncul dihadapanku? Disaat aku sudah memilih membuka hati untuk lelaki lain? Suamiku sendiri. "Wa, Nawa kamu kenapa ngelamun terus dari tadi?" tegur Icha dan Uty yang sekarang sudah duduk manis disampingku. "Aku gak papa, cuma pusing sedikit" jawabku tidak berbohong, aku memang pusing, pusing mikirin kejadian tadi. "Wa, aku dengar dari anak-anak katanya tadi kamu ketemu Kak Ardit? Kok bisa?" tanya Icha to the point, ni anak kalau kabar kaya gini memang cepet banget. "Iya gak sengaja, udah gak usah dibahas, kalian tahukan aku gak mau ngebahas Kak Ardit lagi" walaupun mereka tahu hubungan aku sama Kak Ardit tapi mereka selalu ngerti untuk gak terus ngebahas Kak Ardit kalau memang aku gak mau. Sebenarnya aku juga sedikit ngerasa bersalah karena belum bisa cerita ke mereka berdua masalah pernikahan aku, maafin ya tapi insyaallah bakalan aku ceritain kalau memang aku udah siap dan waktunya udah tepat. "Yaudah mending kita ke kelas, bentar lagi kelasnya Mas Ali mulai, aku gak mau diomelin" aku narik lengan kedua sahabatku masuk ke kalas, makin lama di kantin nanti pertanyaan mereka malah makin gak jelas. Dikelas, aku ngambil posisi paling pojok belakang, aku yang lagi pusing kaya gini beneran gak bisa kalau harus duduk didepan, yang ada Mas Ali bakalan nanyak-nanyak sampai dirumah, gak lama kita duduk Mas Ali juga masuk. Kelas Mas Ali berjalan kaya biasa, aku juga langsung pamitan ke Icha sama Uty mau langsung pulang, "Dek, Mas tungu diruangan ya." tegur Mas Ali yang aku angguki. "Beneran mau pulang sekarang Wa? Kirain kita mau ngajak kamu jalan dulu, dari pada murung terus" ucap Uty yang aku balas dengan senyuman. "Maaf ya Ty, Cha, aku mau langsung pulang aja, insyaallah lain kali deh ya, kalian berdua hati-hati dijalan pas pulang" tolakku. "Yaudah gak papa, kamu juga hati-hati" balas Icha yang aku angguki, melihat Uty sama Icha yang udah jalan keparkiran, aku juga beralih jalan masuk ke ruangan Mas Ali dan disana udah ada Pak Adam. "Dek, kamu kenapa duduk dibelakang tadi? Kamu juga pucet gitu? Kamu sakit?" Mas Ali mendekat dan ngecek kening aku, melihat raut khawatir Mas Ali, aku beralih menggenggam tangan Mas Ali dan aku turunkan pelan. "Nawa gak papa Mas, cuma pusing sedikit, maaf tadi Nawa duduk dibelakang ya" "Kita ke dokter?" bukan Mas Ali tapi kali ini Pak Adam. "Gak papa Pak, saya cuma pusing sedikit, kita pulang sekarang aja" ajakku ke Mas Ali dan Pak Adam juga, setelah mereka berdua setuju, kita bertiga melangkah melewati koridor kampus beriringan, sekilas banyak mata yang merhatiin kita bertiga kaya gini jujur aja malah ngebuat aku risih. "Mas, Mas sama Pak Adam duluan aja, Nawa nyusul dibelakang" ucapku yang dihadiahi tatapan penuh tanya mereka berdua. "Kenapa Dek?" "Nawa risih diliatin terus sama orang-orang Mas, kalau Nawa jalan sama Mas mah udah biasa tapi kalau ada Pak Adam aneh rasanya, tar banyak mahasiswi ngamuk" "Memangnya kalian gak mau publikasi hubungan kalian di kampus?" Ya Allah Mas Ali, harus banget di perjelas kaya gitu? Gak sekalian bikin pengumuman aja Mas? "Mas, ini biar Nawa bicarain sama Pak Adam dulu gak papa ya?" jawabku melirik Pak Adam sekilas. "Yasudah tidak papa, saya tungu di mobil" setelah Mas Ali sama Pak Adam jalan duluan, aku melangkah mengikuti mereka dari belakang sampai sebuah tangan narik hujung tas yang aku tengteng sekarang. "Astagfirullah" ucapku kaget, aku berbalik dan lagi-lagi, kenapa Kak Ardit harus terus nemuin aku? "Nawa, Kakak mau bicara, Nawa punya waktu?" tanya Kak Ardit yang membuat aku harus berkali-kali nahan rasa sesak yang semakin menjadi. "Enggak Kak, permisi" tidak menghiraukan Kak Ardit, aku mempercepat langkahku jalan menuju parkiran. "Kakak akan selalu nunggu Nawa" ucap Kak Ardit yang masih bisa aku dengar sebelum aku berlalu dan masuk ke mobil. . . . "Assalamualaikum" ucapku begitu masuk ke rumah dan disusul oleh Mas Ali sama Pak Adam. "Wa'alaikum salam, udah pada pulang, shalat dulu, Bunda udah nyiapin makan siangnya" aku mencium tangan Bunda dan berlalu naik ke atas masuk ke kamar, sekilas Mas Ali udah natap aku penuh tanya tapi gak aku gubris, gak sekarang. Gak lama aku beberes, Pak Adam juga masuk, aku yang hampir membuka hijabku langsung memakainya lagi, ya aku belum pernah membuka hijabku di depan Pak Adam. Aku menatap Pak Adam sekilas dan Pak Adam membalasnya, mau bilang ketuk pintu kalau masuk aku gak berani jadinya ya cuma nunduk, diam dan berlalu masuk ke kamar mandi ngambil wudhu. "Kita berjama'ah" ucap Pak Adam yang sudah siap dengan sarung dan baju kokonya, aku juga mengganti hijabku dengan mukena dan berdiri tepat dibelakang Pak Adam, menjadi makmumnya. Selesai shalat, Pak Adam berbalik dan menatapku sekilas, "tidak ingin nyalim Nawa?" aku mendekat dan meraih tangan Pak Adam untuk ku kecup sekilas, "Maaf kalau pertanyaan saya menyakiti hati Nawa tapi boleh saya tahu laki-laki yang tadi pagi Nawa tabrak itu siapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD