Kiss

765 Words
"Kalian gak mungkin ninggalin aku kan?!"getar Lisa menatap kedua orangtuanya mengemasi barang. "Kamu jangan bersikap egois Lisa. Kakak kamu itu berjuang mati matian. Kamu harusnya nyemangati dia, jangan menambah kesakitannya."elus lembut Athala pada anaknya. "Aku mau ikut, ma..."ucap Lisa tak tahan lagi menahan tangisannya sedangkan mamanya sudah tak kuat lagi menahan tangis. Ia juga bisa apa? "Lisa. Dengarkan papa, papa akan sesekali jengukin kamu. Kamu tangguh kan? Papa percaya sama kamu. Hati hati ya." "Aku gak bisa dipisahin sama Mona ma... aku gak bisa... aku gak sanggup... izinin aku ikut..."raung pilu Lisa pada orang tuanya. "Maaf, ini yang terbaik." "Okey, I fine. Dengan syarat Mona harus benar benar sembuh. Kalian gausah pulang juga gak apa. Fokus aja ke Mona. Aku memang egois ya kan? Gausah mikirin aku." Ucap Lisa datar setelah menghapus kasar airmatanya. "Lisa, kita gak maksud-" "Cukup. Aku capek."ucap Lisa meninggalkan rumahnya menuju club yang selalu ia datangi. "Nona?"sapa bingung Nico. "Gue booking manajer room. Jangan ada yang ganggu." "Kenapa anda harus meminta izin? Anda sendiri yang punya club."kekeh Nico diabaikan Lisa. "Gue capek." Keesokan harinya Lisa pulang kerumah dengan bau alkohol. Beruntung rumahnya sudah sepi. Ia menatap nanar sekelilingnya. Sudut ini dulu dipenuhi tawa yang menggema. Namun sekarang? Suram. Lisa berangkat kesekolah dengan malas. Belum mencapai pintu kelas sudah terdengar pemberitahuan lewat speaker. SMA rivalnya kembali menyerang. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Lisa menyerigai penuh kemenangan. Kemungkinan provokator itu yang menjadi pimpinan tawuran. Disamping itu, Devrio dan teman temannya sudah bersiap untuk melawan. Ia memimpin pasukannya di depan gerbang sekolah. Sedangkan Lisa nampak berjalan santai sambil mengunyah permen karet. "Hoi!"tepuk Lisa dibahu Devrio. Satu sentakan membuat Devrio membulatkan matanya. Semua teman temannya bahkan sama terkejutnya. Hanya dia gadis yang berdiri menantang. "Lo ngapain disini? Disini bahaya. Buruan sembunyi."panik Devrio mengusir Lisa. "Sebenernya mereka itu punya masalah apa sih?" "Kalo lo kesini cuma buat nanya itu, gue jawab tapi lo harus pergi. Mereka punya dendam sama anak anak basket putra. Mereka gak terima salah satu anggota kita ngejek mereka." "Oh, kalo gitu gue juga ikut. Gue juga punya dendam kesumat."ucap Lisa yang sudah menyingsingkan lengannya membuat yang lain melotot seketika. "Woi gila ya lo! Gue bilang buruan sembunyi. Mereka itu brutal."ucap Devrio kesal. "Lagian kalo lo ikut, bisa nyusahin tau gak? Ogah gue harus nolongin elo."ucap salah satu anggota Devrio. "Gue gak minta dilindungi dodol!"umpat Lisa tak terima diremehkan. "Serah lo deh."frustasi Devrio. Teriakan menggema beriringan derap kaki bersamaan. Lisa memakai topi, masker dan jaketnya. Waktu seakan berhenti saat Devrio sudah berhadapan pria tampan berbadan tegap dan kulit yang coklat manis. Lisa hanya bisa meringis melihat alat alat yang dibawa lawannya. Ada gear sepeda, gesper, tongkat baseball, balok kayu. Sedangkan Lisa yang hanya bermodal bola basket. "Dev, anggota lo nambah? "Tanya ketua kelompok menyepelekan Lisa. "Bacot!"kesal Lisa tak tertahankan. Lisa dengan keras melemparkan bola kewajah rivalnya tersebut dengan ganas. Semua anggota lawannya merasa tak terima semakin berkobar emosi. "Bangsat lo!"bangkit ketua SMA Regal dan berlari menuju Lisa. Dengan cekatan ia menangkis pukulan lawannya. Semua mata menyaksikan pertarungan hebat keduanya. Devrio yang melihat hal tersebut dengan keringat dingin. "Ah, s**t. Gue bunuh lo!"umpat Lisa saat topinya diraih lawannya. Semua terkejut melihat rambut terjuntai dengan indah. Lisa melepaskan maskernya dan menggertak marah. Ia menyerang bertubi tubi tanpa henti walaupun lawannya sudah terkapar. "Gue masih punya otak karena gak habisi nyawa lo. Sekali ada darah yang keluar dari Mona. Gue bikin lo semua sekarat!"dingin Lisa berjalan meninggalkan area tawuran. "Lisa!"panggil Devrio dari belakang. "Apa?!"sentak Lisa. "Ada yang lecet gak lo?"lembut Devrio menyamakan langkah kakinya. "Menurut lo? Peduli setan."acuh Lisa. Sedangkan Devrio menelisik dari atas kebawah penampilan Lisa. Ia mencekal lengan Lisa dan menggelandangnya ke UKS. Umpat Lisa meledak ledak tak dihiraukannya. Ia sempat melihat sudut bibir Lisa yang berdarah akibat tonjokan. "Eh mau apa lo? Sana tawuran sana. Ngapain sih, iiihh.... Dev! Lo budek apa congekan sih. Dev! " "Diem! Tadi ada polisi dateng jadi pada kabur semua. Emang dengan lo ikut tawuran, lo dapet apa? Lo pengen jadi jagoan? Jangan belagu deh. " Lisa sudah menghempaskan lengannya kasar dan menatap nyalang pria berbadan tegap itu. "Kalo lo tau gue sakit, jangan malah bawel. Ikhlas gak sih lo? Kalo gak ikhlas yaudah biar gue urus aja. Toh hidup gue, suka suka gue dong." "Gue itu khawatir tau gak?! Ada orang yang peduli sama lo itu harusnya terima kasih." "Gue gak minta! Lo peduli apa prihatin?! Udah lo pergi aja dari hidup gue. Anggap kita gak pernah kenal. Gue muak." Devrio menyentak tubuh mungil Lisa dan dengan secepat kilat mencium bibir Lisa. Mata Lisa membulat sempurna merasakan kenyal dibibirnya. Ada desiran aneh dan debaran jantungnya bertalu. Plaaaaak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD