"Lisa....."panggil menggema membuat Lisa terbangun seketika dari tidurnya.
Ia segera berlari dan menghampiri daun pintu. Ia melihat gadis yang wajahnya sama persis dengannya.
"Monaaaa...."peluk Lisa pada kakaknya dengan erat dan menahan haru.
"Aku kangen...."
"Aku juga. Kamu kenapa gak ajak aku? Kamu mau jauhin aku? Aku bandel ya?"
"Enggak. Lain kali aku ajak kamu. Pokoknya gak ada yang misahin kita."kekeuh Mona membuat Lisa senang dan menatap kedua orang tua yang ada dibelakang kakaknya dengan remeh.
"Cukup Mona. Kamu udah sembuh kan?"
Mona mengangguk dengan wajah yang pucat dan tubuh yang sedikit kurus. Lisa sedih menatap kakaknya seperti itu.
"Lis, biarkan Mona istirahat dulu ya, kamu gak kumpulan sama temen temen kamu? Sekalian bawain oleh oleh buat anak bengkel."ucap mama Lisa yang menggiring kakaknya ke kamar.
"Iya ma. Lisa paham."datar Lisa pada kedua orang tuanya.
"Jangan kemalaman ya, Lis. Hati hati."ucap kakak laki laki Lisa yang disahuti deheman saja.
"Mona mau kangen kangenan sama Lisa."kekeuh Mona digelengi Lisa.
"Aku sibuk, Mon. Nanti makan malam aku pulang. Kamu istirahat yang cukup."
Lisa mengendarai motor sportnya menuju bengkel milik teman semasa SMP.
"Woi"sapa Lisa pada anak anak yang berada di bengkel.
"Eh, tumben kesini? Motor lo kenapa?"tanya pria manis berseragam SMA namun sudah lusuh dipenuhi oli.
"Gak, mama gue bawain oleh oleh buat kalian. Sama gue minta ganti stiker."
"Lo mau gimana?"
"Benerin mesinnya sama ganti stikernya putih. Eh,sama temenin gue beli helm fullface dong."
"Siap cantiiiikku... cus. Biar nanti motor lo dibenerin anak anak bengkel."
"Najis lo, Lex."kekeh Lisa menimpuk kepala pria tampan tersebut.
"Aduh neng, abang kesemsem sama senyumnya eneng."
"Untung aja lo temen gue zaman primitif, kalo gak udah gue buang ke rawa rawa."tawa keduanya.
"Napa gak jadian aja sih, berasa panas."celetuk salah satu teman bengkel Alex dan diangguki yang lain.
"Maunya sih gitu, cuma Lisa lesbi. Sayang banget cantik tapi lesbi."gaya sedih Alex.
"Enak aja mulut lo langsung jeplak ya? Gue belum punya wangsit buat pacaran sama lo."
"Kok nyesek ya? "Ledek salah satu montir yang membuat Alex mengerucutkan bibirnya kesal.
Dalam perjalanan, Lisa selalu terkikik melihat ekspresi masam pria dihadapannya. Pria dengan rambut klimis, berhidung mancung, alis tebal dan bola mata kecoklatan.
"Udah dong. Mau sampek kapan lo cemberut terus? "Tanya Lisa di depan toko.
"Sampek lo jadi pacar gue."
"Ish, lo bahas itu lagi. Gue ogah ke bengkel sampai kapanpun."ucap Lisa yang sudah meninggalkan Alex sendirian.
"Eh, enggak kok. Jangan ngambek gitu, lo kalo ngambek nyeremin. Gue canda doang masa lo baper sih? Maaf ya?"ucap Alex tersenyum pada Lisa.
"Yaudah gue maafin. Yuk, bantuin gue milih helmnya."tukas Lisa dan Alex yang menggenggam jemarinya.
Devrio yang kebetulan bersama kedua temannya dan seorang gadis juga berada didalam toko tersebut. Nampak Devrio melihat Lisa besama seseorang pria berjalan serasi.
Devrio menggeram menahan emosi. Ia melihat Lisa yang sesekali tersenyum dan tertawa bersama pria tersebut.
"Lisa"sapa Devrio melangkah cepat menghampiri Lisa.
Lisa dan Alex sama sama memutar tubuhnya dan kerumunan Devrio sama sama mengejar pria tersebut.
"Apa?"tanya Lisa jengah.
"Kamu ngapain disini? Kalo keluar itu lain kali sama aku aja. Dia siapa?"tanya Devrio bertubi tubi hingga membuat semua menyerngitkan keningnya.
"Dia sohib gue lah. Ngapain harus ngomong dulu ke elo? Lo sapa gue?"
"Aku pacar kamu. Kamu gak liat aku cemburu?!"
Alex berjenggit kaget dan langsung menatap wajah cantik Lisa. Semua juga membolakan matanya. Lain dengan Lisa yang melihat seorang gadis yang nampak membuatnya kesal. Kenapa ia kesal?
"Gue kan gak nerima lo jadi pacar gue. Halu ya lo?" Ucap Lisa dengan menggeleng tak percaya.
"Gue gak nerima penolakan. Sekarang kamu pulang sama aku."
"Ech, tolol! Gue mau beli helm sama dia. Motor gue juga ada di dia. Nah lo ngapain?!"kesal Lisa.
"Aku temenin beli helm. Nanti biar temen aku yang antar motor kamu pulang."
"Ogah ribet. "
Belum memutar tubuhnya, tangan Lisa sudah dicekal oleh Devrio. Wajahnya nampak kesal. Namun pergerakan terhenti saat Alex mencekal tangan Lisa sebelah kiri.
"Gue kecewa sama lo. Lo udah punya pacar tapi gak cerita ke gue. Lo pulang aja sama dia. Motor lo nanti malem gue antar. Jangan kebanyakan balapan."hati Lisa terasa sakit mendengar penuturan Alex.
"Gue yang kecewa sama lo, lo lebih percaya omongan orang lain dibanding gue." Ucap Lisa menghempaskan lengannya pada Alex.
Devrio tersenyum kemenangan kearah Alex dan melambaikan tangannya kearah teman temannya yang melongo.
"Dasar pelakor."gumam gadis menggeleng tak percaya. Sedangkan Alex sudah menjambak rambutnya frustasi.
"Lain kali kalo keluar bilang sama aku biar aku yang anter."
"Lo kira gue mau pulang sama lo? Najis. Lagian ya, lo berangkat sama cewek. Terus lo tinggalin. Gue yang merasa cewek, ogahlah." Ucap Lisa yang sudah naik di taksi yang kebetulan melintas.
Devrio tersenyum kearah Lisa. Rasa bahagia yang ingin membludak rasanya. Ia kembali dengan wajah datarnya mengingat pria yang dekat dengan Lisa. Ia iri karena pria itu bisa dekat dan selalu membuat Lisa tersenyum dan tertawa. Sedangkan dia?
Kamu cemburu?
Pesan Devrio pada Lisa.
Eh, lo dapet no. Gue dari sapa? Dih pede banget.
Demi kamu akan aku lakukan. Biar kamu gak salah paham, itu tadi adik aku sayang