He Is FBI?

822 Words
"Nona, Alexander Devrio Regantara adalah salah satu anggota FBI. " Mata Lisa membola diacara perkumpulan. Ia menggebrakkan mejanya penuh amarah. Belum usai ia dengan masalahnya, datang lagi perkara lain. "Gak. Lo pasti salah." "Saya sudah pastikan nona. Jangan sampai rencana kita rusak karena ia kekasih anda. Kami meminta kebijaksanaan anda disini." "Aku akan bekerja dengan penuh tanggung jawab. Aku juga tak ingin anggotaku dalam bahaya. Kalau sudah tahu targetnya. Maka kita harus segera beraksi." "Tapi dia-" "Dia musuh kita. Dan aku harus menyingkirkan dengan segera. Menang atau kalah. Kita lancarkan besok." Kini hari yang ditunggu telah tiba. Semalaman Lisa tak pernah tertidur. Fikirannya berkelebatan kemana mana, terlebih kebenaran bahwa kekasihnya adalah musuhnya. Otomatis ia harus menyingkirkannya demi hidup banyak orang yang ia lindungi. "Lisa..."sapa Devrio dengan riang seperti biasa. "Hai. Mau kemana?" "Apanya?" "Aku mau ke rooftop hari ini. Aku sedang banyak fikiran. Aku ingin menenangkan fikiran di sana." "Aku temani." "Dev, seberapa besar cintamu padaku?" "Sebesar apapun yang ada didunia ini. Bahkan aku rela berkorban nyawa demimu."ucap Devrio ketika sampai ke rooftop. "Really?" "Yah. Kenapa? Kau masih meragukanku?" "Nothing. Kau rela mengorbankan nyawamu demi diriku. Jadi selamat tinggal Devrio. Cinta pertamaku, maaf aku melakukan ini padamu. Aku akan pergi dari sini, selamanya..." Begitu tembakan diletuskan dengan peredamnya. Timah panas mengenai tepat jantung Devrio. Pria itu terkejut merasakan dadanya yang begitu sakit. Matanya memburam menatap kekasihnya yang sudah berlutut lesu dihadapannya sambil menangis. "Kenapa?" "Karena kau FBI. Dan aku incaranmu, Dev. Kita tak akan bersatu. Aku minta maaf. Selamat tinggal Devrio... maaf." Devrio menutup matanya bersamaan langkah kaki Lisa yang mulai menjauh. Ia keluar area sekolah dan menatap gedung kokoh tersebut sebelum pergi. "Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal masalalu... selamat tinggal dunia lama, selamat tinggal Monalisa..." "Nona, apa keputusan anda pergi ke Paris sudah anda fikirkan matang matang?"tanya Romeo menemani Lisa dalam pesawat. "Ya, aku ingin memperdalam ilmuku. Dunia mafia, dan semua yang pernah papaku lakukan disini. Membuat klan terbesar diseluruh Perancis. Selamat datang Lisa, selamat datang Ovy... selamat datang Paris, selamat datang di dunia Mafia." "Nona, bukannya saya ikut campur. Tapi bagaimana dengan Devrio. Bukannya anda mencintainya?" "Itu keputusan yang harus diambil, itu resikonya. Aku seorang mafia, pembunuh bayaran. Dan aku seorang psikopat. Aku diharuskan tak punya hati. Tak seharusnya aku jatuh cinta. Mencintai Devrio adalah kesalahan." "Baiklah nona. Saya sangat terpukau dengan kepribadian anda. " "Yap. Langkahku akan berat nanti. Aku harap orang yang aku pertahankan, tidak membuatku kecewa." "Tidak akan nona. Kemanapun anda. Pasti kami akan ada. " "Ini bukan akhir kisahku. Ini awal semuanya. Aku akan bangun semua dari awal, aku akan buktikan. Mantan mafia yang dulu telah lahir kembali. "Seringai Lisa menatap langit. "Ya. Ini awal hidup anda. Akan sulit untuk membangun dari awal." "Menciptakan namamu dimata dunia itu memang berat. Tapi aku suka tantangan, dan aku suka masalah. Aku tak segan segan memulainya dari nol. Fokusku hanya satu tujuan saat ini. Membangun klan Mafia yang tak tertandingi di sini. Aku juga ingin mengambil alih rumah mamaku yang dulu." "Apakah Intel dan FBI itu masih mengancam?" "Selalu, tugasmu adalah memantau pergerakan mereka. Sungguh bodoh aku bisa jatuh cinta. Tak akan kubiarkan kesalahan terulang kembali. Aku tak akan pernah melibatkan hati lagi mulai hari ini." Telfon Lisa berdering menadakan panggilan masuk. Semua orang menatapnya menunggu jawaban. Ia mengangkat jarinya untuk melanjutkan rapat tanpanya. "Hai, bagaimana keadaanmu?"ucap Lisa ramah diseberang telfon. "Kabar baik. Kau pindah kemana Lisa, kau sudah berjanji untuk menemaniku kemoterapi kan? Papa memintaku berobat ke Jerman." "Aku akan datang saat itu. Pasti dan aku janji. Jaga kesehatanmu dan jangan banyak kefikiran karena itu tidak bagus untuk kesehatanmu." "Kau juga. Jaga kesehatanmu dimanapun kau berada Lisa. Aku menyayangimu." "Aku juga. Sampai nanti." Lisa menghela nafasnya kasar. Ini langkah yang harus ia ambil. Jangan sampai langkah besarnya salah ambil. "Aku tak ingin mengekang kalian. Tapi aku sangat menilai kesetiaan. Aku tahu kalian berhianat sekecil apapun, aku tak akan mengampuni kalian dan keluarga kalian. Paham?!"tegas Lisa kembali keruangannya diangguki patub semua orang. "Nona. Apakah saya boleh izin kali ini, putri saya sedang sakit." "Mr. Douglas, silahkan kau pulang. Putrimu saat ini membutuhkanmu. Dan kembalilah segera setelah putrimu sembuh karena aku mengawasimu. Juga bawalah gajimu hari ini."ucap Lisa mengeluarkan dua gepok dollar dihadapan orang orang tanpa pelit. "Terimakasih nona. Ini lebih dari cukup." "Sama sama. Ada lagi?" Semua menggeleng dan menandakan rapat ditutup bersamaan pesawat tiba di Paris. "Pariiiis.... welcome... Ovy. Welcome in Paris."girang Lisa seakan bebas. Semua orang mengawalnya dari belakang dengan ketat. Hari ini hari yang cukup melelahkan. Ia membawa beberapa anak buahnya dan menempatkannya di Paris. Gadis berambut pirang berkacamata hitam itu sekan tenggelam dalam kumpulan pria pria berbadan tegap. "Markas kita ada di bawah galeri Leonardo Da Vinci. Dan aku juga membeli Kasino terbesar disini milik temanku bernama Jack. Kalian bisa menyebar." "Hebat nona. Kami tak pernah memikirkan markas kita nantinya." "Tenang saja. Aku sudah mempersiapkan matang matang jauh hari. Kalian nikmati dulu. Aku juga sudah menemukan mansion mamaku. Jadi, apa kalian siapp!!!!" "Ya. Kami siap."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD