Allegra dengan sadis menghempaskan tubuh Lisa ke ranjang membuat Lisa menahan rasa takut. Ia takut Allegra akan menodainya. Mata elang Allegra seakan ingin mengerkamnya.
"KAU TAK MENGERTI ATAU SOK BODOH LISA?! AKU INGIN MEMBUATMU SADAR KALAU KAU JUGA MENCINTAIKU. SETIKDAKNYA KAU CEMBURU, AKU HANYA INGIN KAU CEMBURU. NAMUN APA?!"
"Alle aku-"
"KAU MILIKKU LISA. AKU AKAN MEMILIKIMU."
"Ja-jangan lakukan itu Alle. Aku mohon Alle."getar Lisa namun disenyumi sinis Allegra.
Allegra sudah merangkak diranjang dan membuat Lisa mundur teratur. Tangan kekar Allegra menarik kaki jenjang Lisa hingga membuatnya kembali tertidur. Ia menindih tubuh Lisa dan menyeringai.
"Aku mohon jangan lakukan ini."ucap Lisa yang sudah menitikkan air matanya.
"Kenapa? Kau tak ingin aku menyentuhmu? Kau hanya ingin Romeo yang menjamahmu? Aku selalu menganggapmu sebagai wanita. Namun sikapmu tadi membuatku tak memberi pilihan lain. Kau bersikap seperti jalang. Maka aku akan memperlakukanmu sama."
"Jangan Alle. Jangan Alle. Jangaaaan...."teriak Lisa saat bra miliknya dilepas secara paksa.
Tangannya berontak dan kakinya menendang. Dengan sigap Allegra menjepit kaki Lisa dan mencengkeram kedua tangannya keatas kepala Lisa.
"Alle..."isak Lisa ketika wajah Allegra kian mendekat dan langsung menyambar bibirnya. Lidah Allegra sudah memberontak dan menerobos masuk kemulut Lisa dan mengapsen setiap deret giginya dan bermain main dengan lidahnya.
"Engh..."leguh Lisa membuat Allegra tersenyum kemenangan.
"Ternyata benar kata Beca, kamu itu munafik. Desahan kamu indah Lisa. Panggil namaku."
"Brengsek!"
Amarah Allegra membludak dan mengendus leher Lisa dan menciptakan bekas kepemilikan disana. Ia menjilat tatto ditulang selangka dan membuat Lisa menahan mulutnya agar tidak mendesah.
"MENDESAHLAH LISA, SEBUT NAMAKU."
"Aku mohon jangan lakukan ini. Jangan sampai aku benar benar membencimu Alle."
"Kau berani membenciku?"ucap sinis Allegra membuatnya menyusuri tubuh Lisa. Ia bermain dengan dua gunung indah milik Lisa dan menciptakan banyak bekas kissmark. Ia mulai berani membuka hotpans Lisa dan menyisakan celana dalam Lisa.
"ALLE! HENTIKAN."
"DIAM JALANG!"ucap Allegra lebih meninggi membuat Lisa pasrah karena tenaganya habis. Tangan Allegra sudah menggerayang kemana mana diikuti desahan Lisa.
Kreeek...
Allegra terdiam dan membukatkan matanya sadar. Sedangkan Lisa tengah menjerit kesakitan.
"Lisa, kau masih virgin?"
"Aku menjaganya untuk suamiku kelak. Sekarang apa yang akan aku berikan padanya."datar Lisa dengan matanya yang tajam.
"Lisa, kita tidak bisa berhenti."cicit Allegra.
"LAKUKAN SAJA BODOH! TUNGGU APA LAGI. YANG SUDAH TERJADI, MAU DIAPAKAN?! kau menganggapku jalang bukan? Perlakukan saja seperti jalang."
Dengan terpaksa, Allegra menenggelamkan miliknya lebih dalam dan mulai memompanya secara teratur. Wajahnya selalu memangdang Lisa yang menahan kesakitan.
"Kau milikku Lisa. Aku akan memberikan sesuatu milikku untukmu. Hanya untukmu."gumam Allegra.
Keduanya sudah mencapai klimaks. Hingga Lisa mencapai orgasmenya. Namun, Saat Allegra sudah dipuncaknya. Lisa menghentikannya.
"Jangan masukkan benihmu dirahimku."perintah dingin Lisa.
Allegra sama sekali tak menghiraukan ucapan Lisa dan menyemburkan benihnya dalam rahim Lisa. Lisa merasakan geleyar aneh memasuki tubuhnya. Kuduanya ambruk dan Lisa yang nampak tertidur kelelahan.
"Aku sungguh minta maaf sayang, aku berjanji setelah ini aku akan berubah. Aku akan menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu. Aku sungguh menyesal selalu membuatmu menangis. Aku akan berusaha membuatmu bahagia bersamaku."ucap Allegra memcium kening Lisa dengan lembut dan ikut tenggelam dalam mimpi.
Malam harinya, Lisa terbangun dan langsung melirik kearah sampingnya menatap Allegra dengan tatapan tajam. Tatapan Over. Kedepannya ia akan jadi Ovy, Lisa sudah tidak tahan dengan sikap Allegra. Ia menangis dalam alam bawah sadarnya. Lalu Ovy datang membantunya. Ovy sudah ia anggap sebagai kakaknya, pelindungnya dan bagian hidupnya.
Lisa berjalan kekamar mandi meski area kewanitaannya perih. Namun Lisa hanya merepalkan tangannya kuat dan berusaha berjalan normal. Karena mulai hari ini Ovy yang akan mengendalikan tubuhnya.
Lisa sudah keluar dengan mengenakan pakaian hitamnya dan mencepol rambutnya. Sekarang style Lisa dan Ovy berbeda. Kedepannya ia akan selalu menguncir rambutnya. Oke, Lisa sudah tidak tahan lagi. Ia akan menyusun rencana untuk memindahkan semua senjata dan mobil sport ke mansionnya dan mengirim semua senjata ke Rusia. Dan dia akan mengawasi keluargannya disana.
Lisa keluar kamar mandi dengan wajah fresh. Tanpa ada senyuman dan menyisakan tatapan dingin dan mata elang.
Allegra yang sudah terbangun langsung mencari keberadaan Lisa. Ia segera mandi dan pergi keluar kamarnya. Ia juga sempat melihat seprai yang menyisakan bercak darah. Melihatnya saja membuat hati Allegra sedih juga senang. Allegra adalah orang pertama dan mungkin akan menjadikan yang terakhir.
"Tuan Alle mencari apa?"tanya salah satu pelayan.
"Lisa kemana? Aku sudah memperingatkan jangan membuka pintunya."
"Maaf tuan, tapi memang saya masih memegang kuncinya. Dan sekarang nona Lisa tengah diruang olahraga."ucap takut pelayan tersebut.
Dengan bingung Allegra menghampiri Lisa. Bagaimana pintunya bisa terbuka? Disana Lisa nampak berhadapan dengan Romeo dengan tatapan membunuh.
"Nona-"
"Lakukan saja. Jaga dirimu, atau aku akan membinasakanmu. "
"Nona, jangan seperti ini. Kembalilah."
"TIDAK! AKU TERLANJUR DATANG. DAN AKU AKAN MELINDUNGI LISA."teriak serak dalam Lisa membuat Allegra dan Romeo berjenggit kaget.
"Nona O-"
"LISA!"
Bugh bugh bugh
Pukulan bertubi tubi harus dirasakan Romeo. Terkadang ia bisa menangkis dan terkadang ia tersungkur. Allegra yang melihat Lisa begitu brutalnya menghajar Romeo tanpa ampun.
Merasakan ada yang ikut melihatnya, Lisa segera menelisik dan melihat Allegra berdiri menatapnya dalam.
Lisa menyerigai dan membantu Romeo berdiri. Sedangkan Romeo yang sudah hampir hilang kesadaran.
"Oh, ayoalah Rom. Kenapa kau begitu lemah. "Panggil Lisa dengan suara serak dalamnya yang khas. Hanya Ovy yang memanggil Romeo dengan nama tersebut.
"Lisa, kau sudah ada disini? Sudah sarapan?"lembut Allegra menghampiri Lisa.
"Anda bicara dengan saya tuan?"ucap Lisa sangat serak.
"Apa kemarin kau minum atau makan yang membuatmu serak seperti ini?"
"Kenapa? Memang suaraku seperti ini. Saya permisi."
Namun Allegra segera menahan tangannya dengan menahan emosi. Mengapa Lisa selalu menggunakan bahasa formalnya? Ia akan bicara biasa kalau sedang marah padanya. Arrrgghh... kenapa perjalanan cintanya begitu rumit?