"ROMEO CEPAT!"bentak Lisa membuat Romeo menyiapkan borgolnya. Ia sudah memborgol kedua tangannya dan membekap mata Lisa.
"Gudang. Bawa aku kegudang."panik Lisa dengan suara seraknya.
"Tapi nona-"
"Sekarang."ucap Lisa sudah memberat serak.
Romeo sudah menggendong Lisa di menuju gudang. Mereka akan begadang malam ini. Lisa sudah didudukkan dikursi. Tubuhnya bahkan dirantai dan kakinya ikut diborgol.
"Aku akan menghabisimu Allegra! Aku akan membunuhmu."serak berat Lisa membuat Romeo merinding.
"Nona, anda Monalisa. Bukan Ovy, nona..."
"Diam kau! Aku sudah lama menantikan. Tapi Lisa terus saja menghentikanku hingga dia pingsan. Dasar wanita bodoh!"
"Nona, nona aku juga merindukanmu."ucap Romeo yang sudah duduk di hadapan Lisa. Dalam kegelapan, ia harus selalu terjaga. Jangan sampai Lisa terlepas.
"Kau baru menyadarinya Romeo? Kau memang tolol. Seperti pria itu. Lisa sungguh bodoh karena telah mencintainya. Bodoh! Benar benar bodoh!"serak Lisa begitu dalam layaknya pengisi suara di film horror.
"Nona Ovy, biarkan nona Lisa yang mengambil alih. Bagaimana kalau rencana kita yang sudah disusun jadi berantakan. Kumohon."
"Diam! Sttt... dia sedang tertidur. Jangan ganggu dia. Tanganku sangat gatal tidak memainkan pisau kesayanganku."
"Jangan nona. Semua orang tengah tidur. Jangan buat mereka terbangun, apa anda tidak kasihan?"
"AKU MEMBELA LISA! AKU AKAN MEMBUNUH WANITA JALANG ITU! ROMEOO.... LEPASKAN....."ucap Lisa sudah memberontak dan tangannya bahkan sudah berdarah karena terus memberontak mengecap borgol.
"Nona.... tenanglah nona... nona Ovy jaga nada bicara anda."
"Aku akan membunuhnya! Ia akan mati."seringai Lisa.
"Nona. Nona Lisa mencintainya, biarkan ia mencintainya. Anda juga butuh cinta. "
"TIDAK AKAN! ia sudah menyakiti Lisa kau dengar?! Aku tak akan membiarkannya. Aku mencium harum darah Romeo. Biarkan aku membunuhnya. Dan semua akan selesai. Seakan aroma darah ini mengobarkan semangat."
"Nona, ini darah anda. Saya mulai takut anda kehilangan banyak darah. Jangan lakukan nona."
"Diam diam diam!!!"
"NONA LISA."bentak Romeo yang mau tidak mau harus menyuntikkan injeksi supaya Lisa tenang dan kembali pada Lisa semula.
Lisa pingsan dan membuat Romeo mendesah lega. Ia berjaga sambil melihat situasi. Nampak semua tengah tertidur pulas. Ia juga pergi melihat kamar atas dan melihat Romeo yang tertidur satu selimut dengan jalang yang ia bawa.
Romeo melihat jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia membopong tubuh Lisa ke kamar utama dan membersihkan darah dan juga luka yang membekas.
"Akh..."ringis Lisa terbangun dari tidurnya karena perih alkohol yang mengenai pergelangan tangannya.
"Nona, maafkan saya."sesal Romeo.
"Terimakasih Romeo. Injeksimu lebih berpengaruh."
"Tapi penggunaannya tidak boleh berlebihan nona. Pasti badan nona sakit semua. Melihat pergelangan tangan anda yang berdarah dan memar dipergelangan kaki anda."
"Tidak masalah. Rasanya tidak sesakit melihat orang yang kau suka bermesraan dengan wanita lain."
"Nona sudah pagi, apa anda tidak sarapan. Kalau anda ingin dibawa ke kamar biar saya yang bawa."
"Belikan aku sweater ini dengan segera."tunjuk Lisa pada toko online yang menunjukkan sweater yang sangat besar.
"Aku tidak ingin lenganku terlihat. "Sambungnya.
"Baiklah nona. Anda bisa memakai jubah saya. Cukup panjang. Saya akan ambilkan."
Lisa sudah keluar dari kamarnya dengan badan yang remuk. Ia menemukan memar kebiruan di hampir setiap badannya akibat brutalnya melawan rantai.
"Nona Lisa sakit?"tanya salah satu pelayan hingga membuat Allegra dan Beca mengarahkan pandangannya.
Sedari kemarin, Allegra hanya tidur seperti biasa tanpa melakukan hubungan dan Beca selalu mendengus kesal.
Lisa melihat pakaiannya dipakai Beca membuatnya tersenyum. Setidaknya bukan kurang bahan maupun warna merah.
"Tidak. Menu kali ini apa bi?"
"Ikan salmon nona."
"Maaf, nona tidak boleh makan ikan minggu ini sebelum luka anda mengering. Atau resiko obatnya yang membuat alergi."bisik Romeo saat Lisa sudah bergabung dimeja makan.
"Hmm, baiklah. Bawakan aku sayuran."desah lelah Lisa membuat Allegra menyerngit tak suka.
"Kau pelayan, tapi mengapa kau ikut bergabung disini?"tanya Beca sinis.
"Oh, maaf. Saya permisi."datar Lisa namun sopan.
"Mau kemana kau?"geram Allegra melihat Lisa pergi.
"Maaf tuan atas kelancangan saya, saya permisi. Romeo bawakan makananku kekamar saja."
"Baik nona."
"Kenapa kau tak bekerja?"tanya Beca lagi membuat Lisa memutar bola matanya lelah mencoba sabar.
"Nona Lisa sedang sakit."jawab Romeo membuat Allegra menaikkan sebelah alisnya.
Lisa sudah berbaring ditempat tidurnya. Ia membuka jubahnya dan menekuk lengan bajunya menampilkan bekas luka. Nafasnya kembali memburu melihat lengannya yang masih tersisa darah yang mengalir.
"ROMEO......"teriak Lisa membuat Romeo dan Allegra panik dan menghampirinya.
"Ya. Nona."
"Bagaimana kau mengobatinya bodoh?! Kenapa masih ada darah yang mengalir?!"umpat Lisa sambil memejamkan matanya tanpa tahu Allegra tengah membolakan matanya melihat luka Lisa.
"Maaf nona. Tapi lukanya memang terbuka lebar. Anda harus bersabar. Jangan dilihat nona. Apa sakit?"
"Ya."gumam kecil Lisa yang masih memejamkan matanya.
"Saya akan kembali membersihkan lukanya dan kembali mengolesi obatnya."
"Tidak usah. Biar aku saja yang melakukannya."dingin Allegra membuat mata Lisa terbuka.
"Biar saya ambilkan obatnya sebentar."ucap Romeo yang sudah beranjak pergi meninggalkan keheningan.
"Emm-"
"Bagaimana ini bisa terjadi, Lisa?! KATAKAN!"sentak Allegra membuat Lisa terkejut. Ia menatap netra pria dihadapannya dan menatap tak percaya.