"Kamu hati hati dirumah ya."ucap mama Lisa sebelum berangkat.
"Iya, ma."
"Kelihatannya ada masalah sama papa kamu? Kenapa?"
"Gak papa, ma. ABG labil membangkang sesekali bukan hal yang remeh."datar papa Lisa yang segera menggandeng istrinya keluar rumah.
"Jangan risaukan aku."
"Kamu dalam pengawasan kami Lisa."
"Ya, aku tahu."
Lisa berjalan gontai memasuki kelasnya. Tidak ada minatan tanpa hadirnya Mona. Ia mendesah lelah membayangkan masa lalunya dipenuhi canda dan tawa bersama kakaknya. Tapi semua menurutnya hanya membuat beban. Dialah beban.
"Bagaimana keadaan kakakmu?"tanya Devrio menyamakan langkahnya menghampiri Lisa.
"Menurutmu?"
"Bolos yuk."ajak Devrio yang hanya membuat Lisa mengangkat sebelah alisnya.
"Gak."
"Kamu itu butuh piknik. Aku selaku pacar yang baik mau ajak kamu jalan jalan."ucap pede Devrio yang membuat Lisa teringat akan ucapan Mona untuk membuka hatinya pada Devrio.
"Sekali."ucap Lisa membuat Devrio melongo tak percaya.
"Serius?"
"Lo nanya, gue berubah fikiran."datar Lisa diangguki antusias Devrio.
"Yuk."
Hari ini Devrio mengajak Lisa ditaman kota. Ia tak pernah melepaskan gandengannya walau sekejab. Ada aliran aneh yang menyelimuti Lisa. Rasa hangat yang tak pernah ia rasakan.
"Mau apa?"tanya Devrio lembut.
"Arum manis."ucap Lisa antusias menyebutkan nama makanan tersebut.
Devrio mengacak rambut Lisa gemas dan menggandengnya ke penjual arum manis. Mereka berdua duduk menikmati semilir angin yang menyejukkan.
"Kamu tau, Lisa?"
"Apa?"
"Ciuman yang aku tunjukkan padamu itu juga first kissku."ucap Devrio menyunggingkan senyumnya hingga membuat Lisa blushing seketika.
"Oh, gue heran. Kenapa lo selalu deketin gue, mana ngarang pacar gue lagi."
"Apa cinta butuh alasan? Kamu bikin aku penasaran dengan apapun yang ada dalam dirimu. Aku semakin terperosok dalam pesonamu. Dan aku menyadari bahwa aku mencintaimu, Lisa aku tahu kamu belum mempunyai rasa cinta padaku. Tapi izinkan aku berusaha menumbuhkan rasa itu."
Lisa bersemu merah. Ada ribuan kupu kupu yang siap meledak dalam dirinya. Bolehkah ia mencintai dan dicintai?
"Apa aku layak untuk rasa itu?"tanya Lisa diangguki Devfio.
"Ya. Jadi apa keputusanmu, Lisa?"
"Aku rasa kau tak perlu bersusah payah membuatku jatuh cinta. Itu tidak perlu. Tidak ada gunanya."ucap Lisa membuat Devrio mengubah wajahnya masam.
"Karena mungkin aku juga mulai jatuh dalam pesonamu."ucap Lisa menatap dalam manik mata Devrio dan diakhiri senyuman.
Rasa senang membludak dalam diri Devrio. Ia memeluk sambil menggumamkan kata terimakasih berkali kali dalam pelukan Lisa. Belum puas ia malah melompat lompat kegirangan layaknya anak kecil mendapatkan coklat gratis.
Lisa pulang diantar Devrio. Layaknya pasangan yang masih anget angetnya. Mereka mengumbar kemesraan yang membuat siapa saja yang melihatnya iri.
"Diantar siapa kamu?"tanya Kakak laki laki Lisa dengan tegas setelah melihat adiknya barusaja pulang.
"Pacar."enteng Lisa.
"Kamu bolos sama dia? Dia yang ajarin kamu bolos?"dingin Gavin sinis.
"Kenapa sih? Urus aja pekerjaan kakak. Ini hidup aku."
"Bener kata papa. Kamu jadi pembangkang, apa karena pengaruh dia?"
"Stop kakak mojokin Devrio seakan dia itu tersangka. Aku berubah itu pikir! Intropeksi. Aku capek."
"Kakak juga capek dan kecewa sama kamu. Apa kamu masih Lisa yang kakak kenal?"sinis Gavin menohok hati.
"IYA! TERUS AJA SALAHIN AKU, MOJOKIN AKU. AKU CAPEK! SEAKAN KALIAN SELALU MANDANG AKU ITU SALAH. "ledak Lisa yang sudah berkaca kaca.
Plaaaak
Satu tamparan kini kembali mendarat dipipi mulus Lisa. Ia hanya diam merasakan panasnya tamparan yang sampai menjalar ke ulu hati. Ia menggeleng tak percaya. Keluarganya sudah berubah. Sangat berubah.
"Tampar lagi kak, TAMPAR!!!"ucap Lisa menunjuk sebelah pipinya.
"Kamu dibaikin ngelunjak, dikasarin gak mempan. Kamu itu maunya apa sih? Malah berani menaikkan suara. Siapa yang ajarin kamu, Lis? Kakak itu sayang sama kamu. Apa kasih sayang kami kurang?"
"Ya. Aku emang egois. Puas?! "
Lisa berlari kekamarnya dan mengambil pisau lipat kesayangannya yang indah dipenuhi ukiran dan mungil mempercantik kalung peraknya.
"Halo, saya terima tawaran anda. Saya butuh pelampiasan hari ini. Kirimkan data diri orang orang yang ingin saya bunuh dan pastikan imbalannya."dingin Lisa pada lawan bicaranya ditelfon.
"Saya akan bayar berapapun, asal kamu membunuh tanpa meninggalkan jejak."
"Percayakan pada kemampuan saya nyonya."
"Baikhlah, senang berbisnis dengan anda."