Sudah seminggu Beca tinggal di mansion Allegra, sedangkan pria itu menyibukkan diri di kantor.
"Alle, weekend kita adakan pesta ya? Pesta kolam renang. Cuacanya sedikit panas. Kau undang teman temanmu. Dan aku undang temanku. Ya..."manja Beca pada Allegra saat makan malam.
"Hmm. Ide yang bagus. Aku juga butuh refreshing. "Ucap Allegra melirik Lisa yang tengah berada diruang tengah, bermain PS bersama Romeo.
"Hua.... aku menang... aku menang..."ucap Lisa jejogetan mengejek Romeo yang kalah. Lisa tersenyum sangat lebar menampilkan gigi gingsulnya. Sedangkan Romeo sudah memasang muka masam.
Allegra melihat Lisa yang bertingkah kekanak kanakan membuatnya tersenyum.
"Sekarang, sesuai perjanjian. Ajak aku keluar mansion. Ayo..."tarik Lisa pada lengan kekar Romeo.
"Iya iya bawel."
Lisa dan Romeo berjalan mendekati meja makan. Nampak Romeo yang menarik nafas dalam dalam.
"Tuan, nona Lisa ingin keluar malam ini. Apa anda izinkan?"
"Tidak."datar Allegra yang langsung membuat senyum Lisa pudar.
"It's okay."
"Sudahlah Alle, biarkan mereka keluar sebentar. Aku ingin berduaan denganmu. "Manja Beca.
"Hmm, baiklah asalkan. Jangan terlalu malam."desah berat Allegra melihat muka lesu Lisa.
"Terimakasih Alle."senyum tulus nan begitu indah terukir diwajah Lisa seakan ikut menular.
"Hmm."
"Romeo. Aku ingin membawa mobil mama. Kau bawa mobil lain, tunggu aku 5 menit."
"Memangnya kita mau kemana nona?"tanya Romeo bingung ketika sudah menjauh dari ruang makan.
"Balapan."bisik Lisa membuat mata Romeo melebar seketika.
"Siap nona."semangat membara Romeo yang membuat Lisa tersenyum puas.
Lisa dan Romeo sudah berada digarasi. Kini Lisa sudah memakai levis hitam, kaos hitam, jaket hitam, hingga high heels hitam.
"Aku cek kendaraan dulu. Kau cek situasi."
"Siap nona."
Lima menit sudah cukup untuk Lisa memeriksa mesin dan situasi yang cukup aman di mansion. Lisa membawa skyline warna putih tulang yang sudah di modif sticker. Disana sudah dilengkapi nitros dan beberapa alat canggih dilengkapi senjata rudal, sensor ledak, dan mekanisme lainnya.
Lisa dan Romeo datang ke arena sirkuit. Semua penonton sudah riuh memadati arena sirkuit. Ratu jalanan mereka sudah tiba setelah sekian lama vacum.
Kalung Lisa memancarkan kilaunya ketika diperlihatkan. Dengan simbol ukiran yang menyimpan mata pisau yang sangat tajam layaknya katana.
"Siapa lawanku nanti?"
"Ada 3 lawan anda. Mereka ingin melihat kemampuan anda."
"Wow, ini akan jadi malam yang menyenangkan."
"Nona, kita harus pulang tepat waktu. Atau kita akan kena kemarahan tuan Alle."
"Bilang saja mampir ke toko atau isi bensin atau bannya bocor."enteng Lisa yang sudah memasangkan sabuk pengaman.
"Tiga.... Dua.... satu...."
Riuh penonton bersahutan dengan geraman mobil balap. Lisa dengan percaya diri membawa Skyline. Padahal, lawannya membawa Lykan dan Lamborgini.
Putaran berlangsung 3×. Dan saat ini telfon Romeo berdering. Ia dengan cemas menatap layar handphone sesekali melihat berapa putaran Lisa.
"Nona! Tuan Alle sudah menelfon...."teriak Romeo saat Lisa sudah mendekati garis. Tinggal menunggu satu putaran, maka selesai.
Mobilnya dan mobil Lykan berjarak sangat dekat. Hampir 5 centi. Namun saat Romeo berkata dengan raut cemasnya, ia mengegas kencang mobilnya tanpa rem dan melepaskan nitros.
Mobil Lisa melesat kencang tanpa bisa disusul. Semua orang berteriak heboh memanggil namanya. Over. Ratu jalanan atau Hitler.
"Ya tuan. Kami sedang diperjalan pulang saat ini."ucap Romeo disebelah Lisa di dalam mobil.
"Nona. Tuan nampak marah, sebaiknya kita segera pulang."
"Hmm. Baiklah, tapi aku akan mengambil bayaranku sebentar."ucap Lisa memakai masker kesayanganya dan keluar dari mobil.
"Demon, mana uangku?"datar Lisa pada pria berbadan besar.
"Permainanmu sangat bagus Ovy, keahlianmu tak diragukan lagi. Sayang, kenapa kau harus vacum?"
"Berisik! Cepat berikan. Kau punya alkohol dan soda?"
"Ini bayaranmu. Dan aku punya semuanya. Memang kenapa?"
"Oplos ke kaleng soda. Aku akan bawa 2. Jangan lupa martini."
"Lhoh, sejak kapan anda suka alkohol oplos? Bukannya sedikit berbahaya?"
"Aku mau mencoba. Supaya orang mengira aku meminum soda bukannya alkohol."enteng Lisa diangguki lawan bicaranya.
"Nona, kedua lawan anda ingin berkenalan dengan anda."
"Kenalan? Gila?! Otakmu longgar?!"bentak Lisa membuat lawan bicaranya berjenggit kaget. Lisa melihat pria yang keluar mobil Lykan tersebut adalah Angelo. Belum sempat terkejut, keluarlah Daniel di mobil Lamborgini. Wah, gila gila saja!
Lisa kembali memasuki mobil sambil meminum sekaleng soda. Ia menatap Romeo dan mengisyaratkan untuk menjalankan mobilnya.
"Ini hutangmu padamu. Dan selebihnya aku titip uangku padamu."
"Kalau tuan Alle marah?"
"Ya sudah."ucap Lisa menangkat kedua pundaknya tidak mau tahu. Sungguh kejam.
Lisa dengan santainya memasuki mansion sambil meminum kaleng kedua. Allegra nampak duduk di sofa ruang tamu menghadap pintu. Rahangnya mengeras melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam.
"Sudah bersenang senangnya?"
"Sudah bersenang senangnya?"tanya balik Lisa sambil memasang muka mengejek.
"Lisa..."geram Allegra.
"Sttt, jangan berisik malam malam. Nanti dikira rumah tangga tidak harmonis."ucap Lisa menaik turunkan alisnya menggoda. Sedangkan Romeo tengah panas dingin panik. Lain dengan Allegra yang menyerngitkan keningnya bingung.
"Lisa, kau tak apa?"
"Menurutmu? Hahahaha... baik. Cukup baik. Tidurlah Alle, Jalangmu pasti akan mencarimu kalau kau tak bersamanya. Besok akan ada pesta kolam renang kan?"ucap Lisa dengan tawa yang indah namun syarat akan ejekan.
"Apa kau tadi minum alkohol nona?"tanya selidik Romeo membuat Allegra membulatkan matanya.
Prang
"Bodoh! Aku hanya minum cola dan kau sebut itu alkohol? Tolol!"ucap Lisa acuh mendekati kamar utama. Sedangkan Allegra sudah terkejut melihat Lisa memukul kaleng di dahi Romeo hingga berdarah.
"Lisa! Kau memukul Romeo hingga berdarah?!"
"Aku tahu. Dia berdarah kan? Lalu kau ingin aku melihatnya? Kau ingin aku histeris? Hah? Jawab saja. Aku tahu."
"Lisa, bukan begitu-"
"Hmm. Whatever."acuh Lisa menggosok gosokkan telinganya.