"Shit." Zeus mengumpat karena dia sudah berlama-lama menunggu Cia tetapi gadis itu sudah membuatnya naik darah. Sudah sekitar satu jam lamanya dia menunggu tetapi batang hidung gadis itu belum terlihat. Zeus pun mempunyai rencana yang bagus, dia segera bergegas menuju ke arah parkiran. Dia akan menyusul gadis yang menyusahkan hidupnya itu.
Rumah Cia
Cia sedang menikmati makanannya di meja makan hingga seseorang datang membuat gadis itu menoleh dan mendapati sang kakak yang baru turun dari tempat persinggahannya. "Bang Re, makan yuk sama Cia." Cia menyapa kakak satu-satunya itu yang dia miliki saat ini.
Reon, pemuda dengan sifat dingin dan ketusnya. Mahasiswa semester 3 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Pemuda tampan yang memiliki sejuta perasaan sakit tetapi tertutupi dengan wajahnya yang sedingin es. Reon berjalan ke arah kulkas mengambil minuman kemudian dia berjalan menuju ke arah ruang tamu tanpa berniat membalas perkataan Cia.
"Huft." Cia menghela napas lesu. Dulu, Reon tidak bersikap seperti ini. Dulu, Reon sangat menyayangi dirinya, bahkan pemuda itu tidak pernah membiarkan Cia bersedih. Namun, ketika semuanya telah berubah, kasih sayang yang dulu ia dapatkan kini juga berubah dan perlahan menghilang.
"Non, yang sabar. Den Reon lambat laun pasti bisa kembali seperti dulu yang sangat sayang sama Non Cia." Bibi Sri mencoba menyemangati gadis itu. Wanita paruh baya itu sudah tahu bagaimana menderitanya Cia. Hidup dengan keluarga ini sejak kedua remaja ini masih sangat kecil membuat Bi Sri mengetahui bagaimana sifat keduanya. Bi Sri tahu jika Reon sangat menyayangi adiknya, akan tetapi keadaan dan egolah yang menutup perasaan kasih sayang itu. Dan Bi Sri menyayangkan hal ini. Semoga kedepannya pemuda ini bisa berubah kembali seperti dulu.
"Iya, Bi," jawab Cia setengah tersenyum.
Sampai kapan aku harus bersabar? Bahkan itu sama sekali bukan kesalahanku. Kehangatan yang dulu ku dapatkan tiba-tiba hilang karena kejadian itu. Setitik air mata muncul di kelopak mata Cia, dia buru-buru menghapusnya. Dia takut jika Bi Sri mengetahui dia sedang menangis.
Ting nong
Suara bel pintu menghentikan kegiatan gadis itu. "Biar Cia saja, Bi yang buka. Bibi lanjut bersih-bersih saja," kata Cia kepada Bibi Sri. Ya, wanita paruh baya itu sepertinya sedang kerepotan mencuci beberapa piring, untuk itu Cia menawarkan diri untuk membukakan pintu.
"Baik, Non." Gadis itu berjalan menuju ke arah pintu, sekilas dia melihat Reon yang sibuk dengan ponselnya. Sang kakak selalu saja terlihat cuek dan Cia memaklumi itu.
Ceklek
"Elo?" Cia terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak pernah ia pikirkan.
"Hai," sapa Zeus. Ya, orang itu adalah Zeus. Tanpa diundang, tiba-tiba saja dia datang ke rumah Cia, bahkan gadis itu cukup terkejut dengan kedatangannya, ditambah lagi dari siapa dia mengetahui rumah Cia?
"Lo ngapain di rumah gue?" sarkas Cia. Gadis itu sepertinya belum melupakan kejadian kemarin meskipun pemuda yang berada di depannya sudah meminta maaf.
"Lo nggak sopan banget. Seharusnya tamu itu dipersilahkan masuk dulu baru setelah itu tuan rumah boleh tanya apa maksud kedatangan si tamu. Lo pernah diajarin sama orang tua lo bagaimana bersikap kepada tamu, kan?" kata Zeus yang seketika membuat Cia tersenyum kecut. Orang tua? Bahkan saat ini Cia merindukan kedua orang itu yang dia tahu sudah tenang di dalam dekapan Tuhan.
"Yaelah malah melamun. Gue diajak masuk gitu," celetuk Zeus membuyarkan pikiran Cia.
Masuk? What? Di dalam ada bang Re. Bisa mampus gue, batin gadis itu yang nampak gelisah.
"Enggak. Kasih tahu di sini aja mau lo apaan datang ke rumah gue?" cegah gadis itu agar Zeus tidak bertemu kakaknya. Bisa ribet jika Reon bertemu Zeus. Hubungan dia dan sang kakak tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Ck, ribet banget. Ya udah gue jelasin. Lo masih ingat, kan kalau lo itu masih ada bimbingan belajar fisika sama gue. Terus tadi pagi gue sudah bilang ke lo buat ke perpustakaan, tapi kenapa lo malah kabur? Dasar cewek memang ribet. Karena lo kabur, jadi gue ke rumah lo."
"Oh."
"Anjir, oh doang? Lo niat belajar nggak?" tanya Zeus dengan suara yang agak meninggi.
"Mau, tapi –“
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Reon muncul dari belakang Cia dan gadis itu pun cukup terkejut mendapati tubuh sang kakak. Seketika nyalinya menjadi ciut.
"Bang Re" lirih Cia.
"Selamat sore, Bang," sapa Zeus. "Saya Zeus temannya Cia. Dia ada bimbingan belajar fisika dan niatnya sekarang saya mau belajar sama dia di rumahnya. Kalau boleh, saya ijin untuk belajar sama dia di sini, Bang." Zeus mencoba menjelaskan perihal kedatangannya. Gadis itu sepertinya santai sekali meminta izin kepada Reon. Tipe pemuda yang mampu menguasai keadaan apa pun.
"Oh. Ya sudah masuk," balas Reon dengan dinginnya.
Zeus segera masuk diikuti oleh Cia. Reon segera pergi dari ruang tamu dan segera menuju ke dalam kamar mnya.
"Itu tadi Abang lo?" tanya Zeus mencoba menggali informasi.
"Bukan. Dia pacar gue," jawab Cia asal.
"Lo? Punya pacar? Hahaha gak mungkin," timpal Zeus yang tentu saja tidak percaya dengan bualan gadis itu.
Cia mendengkus kesal. "Ck. Iya dia abang gue. Kenapa? Ganteng? Iyalah dia lebih gans dari pada lo," ejeknya.
"Wkwkw tukang bohong malah bohong. Ok lupain muka gue yang ganteng ini, buruan lo ambil buku fisika lo," perintah Zeus.
Cia segera menuju ke dalam kamarnya dan secepat kilat dia sudah kembali ke ruang tamu dan Zeus sedikit terkesiap. "Cepat banget lo baliknya. Wkwkw pasti lo lari ya?"
"Udah deh buruan belajarnya. Biar lo copet pergi dari sini," kata Cia tanpa rasa bersalah dengan kata lain dia sedang mengusir Zeus.
"Anjir lo ngusir gue? Gak sopan banget lo."
"Biarin, wleee." Cia menjulur kan lidahnya. Mereka pun belajar bersama.
Satu jam kemudian ...
"Jadi lo sudah paham, kan hukum pascal itu apa?" tanya Zeus.
"Sudah," jawab Cia mantap.
"Kalau gitu coba jelasin apa itu hukum pascal?" tantang Zeus.
"Hukum Pascal menyatakan bahwa, jika tekanan eksternal diberikan pada sistem tertutup, tekanan pada setiap titik pada fluida tersebut akan meningkat sebanding dengan tekanan eksternal yang diberikan," jelas Cia.
"Bagus. Coba sebutkan penerapan hukum pascal di kehidupan sehari-hari," perintah Zeus.
"Contoh ya? Hehehe gue gak tahu," ungkap Cia dengan cengirannya. Zeus memaklumi. "Ck, ok gue jelasin."
"Contohnya itu di pengungkit hidrolik. Pada pengungkit hidrolik, sedikit gaya masuk yang diberikan digunakan untuk menghasilkan gaya keluar yang lebih besar dengan cara membuat luasan piston bagian luar lebih besar daripada luasan piston bagian dalam. Dengan cara ini, keuntungan mekanis yang didapatkan akan berlipat ganda tergantung rasio perbedaan luasan piston. Ngerti?" tanya Zeus.
"Gue masih gak ngerti sih tapi entar gue pelajarin lagi contohnya hehe," jawab Cia.
"Hmmm ok. Awas aja kalau besok-besok gue tanya lo gak bisa jawab," ancam pemuda itu lagi.
"Ish apaan sih, pakai ancam-ancam segala," balas Cia.
"Yaudah ini sudah jam 5, gue harus pulang," kata Zeus sambil memasukkan buku-bukunya.
"Hmmm bagus deh," balas Cia tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gadis itu pun juga ikut membereskan buku-bukunya.
"Abang lo mana? Gue mau pamitan," ucap Zeus sambil berdiri.
"Eh. Enggak usah, Ze. Palingan Bang Reon ada di kamarnya."
"Oh, ya sudah gue balik. Jangan lupa pelajarin tadi apa yang gue jelasin ke lo." Ingatkan Zeus.
"Iya iya." Dan akhirnya Zues segera pergi dari rumah Cia. Cia pun segera kembali masuk ke dalam rumah dan kembali membawa buku-bukunya ke dalam kamarnya.
"Eh, Non itu tadi siapa? Pacar Non Cia ya?" goda Bi Sri.
"Ish Bibi apaan sih. Tadi itu teman Cia namanya Zeus," jelas Cia.
"Bibi dulu juga gitu sama suami bibi, Non. Kita awal nya teman terus jadi teman hidup deh," goda Bibi lagi yang membuat muka Cia seketika memerah.
"Ihhh Bibi sudah deh jangan godain Cia terus. Pokoknya dia itu teman Cia titik," kata gadis itu sambul segera berlalu menuju kamarnya. Dan tawa Bi Sri pun pecah. Wanita itu berdoa agar Cia selalu bahagia.