Chapter 6: The Trial

3373 Words
Aeghar's POV Tubuhku diguncang oleh seseorang, tidak terlalu tapi cukup membuatku membuka mata. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba menjernihkan padanganku dan melihat sosok Clarisse duduk tepat disampingku sambil tersenyum manis. Sayangnya, melihatnya sepagi ini dengan senyuman tanpa rasa sakit itu, membuat emosiku melonjak naik, darahku mendidih, membayangkan bagaimana gadis yang tampak cantik seperti Clarisse menyiksa Jade dengan sangat parah? Tapi ia bahkan tak merasa iba atau merasa bersalah. Apakah hatinya terbuat dari batu? "Sayang, hari ini kau harus menghadiri pengadilan, membuat semua orang tau bahwa kau sudah kembali, dan membuat gadis itu menyesal seumur hidupnya karena telah menyakitimu," katanya berusaha dengan suara yang lembut, tapi di telingaku malah terdengar seperti kicauan yang buruk. "Keluar dari ruanganku!" hardikku padanya. Dia terkejut, dan menatapku tak percaya. "Ada apa denganmu? kenapa kau marah?" Tanyanya kebingungan. Sungguh aku ingin, bukan, aku dan Ghost ingin merobek tubuhnya menjadi berkeping. "Keluar!!" "Tidak! Sebelum kau menjawabku." "Keluar atau kurobek tubuhmu!" Aku menggunakan Alpha tone padanya, jika dia tidak menurut berarti dia melawanku. "Baiklah!" Clarisse menghentakkan kakinya sembari berjalan keluar. Aku merasa lega, setidaknya aku telah menunda kematiannya sehari saja. Jika ia bertahan sedetik lebih lama, bisa kupastikan kepalanya akan berada di gerbang Kingdom. Setelah aku bersiap, aku segera pergi ke ruang dewan. Beberapa tetua kingdom dan para dewan telah duduk di meja kayu berbentuk oval, aku juga melihat Samuel serta Clarisse di sini. Aku tau mereka berdua yang mencoba mengurus urusan kingdom selama aku koma, karena aku sendiri belum memiliki Beta. "Alpha." Mereka berdiri untuk memberikan hormatnya dan menyambut kembalinya aku ke dunia nyata. Terlihat jelas diwajah mereka, ketidak percayaan karena aku berhasil bangun. Aku mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk duduk kembali. Lalu aku berjalan ke ujung meja dimana tempatku seharusnya. Setelah duduk, aku menatap semua orang satu persatu, melihat betapa mereka memiliki sesuatu yang ingin mereka sampaikan. "Terimakasih telah menjaga Kingdom selama aku sedang sekarat." ucapku dingin. Aku tidak lupa, bahwa mereka semua membiarkan Jade disiksa begitu saja oleh Clarisse. "Alpha, semua ini karena Clarisse, dia telah mengurus Kingdom dengan baik, dia adalah calon Luna yang sangat ideal." Ujar salah seorang dewan, rambutnya agak memutih dan kutahu dia berasal dari Packku. Namanya, Francis? entahlah semacam itu. Aku memahat wajahnya di hatiku, akan kuingat dia sebagai oposisiku. Tanpa sadar, ia telah mengancam kedudukan Lunaku yang sejati. "Aku akan memberi penghargaan untuknya nanti, seperti yang kalian tahu, aku belum memiliki seorang Beta sebagai Beta King, siapa yang akan kalian ajukan namanya untukku?" Aku mencoba mengulur waktu lebih lama lagi untuk membuat kejutan. "Ehm." Seseorang berdeham, aku menoleh kesamping kiri, seorang tua dengan rambut hampir memutih semuanya, ia seorang tetua, namanya Gerald. "Jika di izinkan, saya ingin mengajukan Abraham dari Lightshade Pack sebagai Beta, ia sangat mirip dengan Ben, kemampuannya tidak diragukan lagi" Aku mengangguk, awalnya aku memang ingin mengangkat Abraham. Dia kuat, dan sangat cerdas. Kemampuan militer dan medisnya bahkan kuakui melebihi Ben. Dia satu-satunya kandidat terkuat untuk saat ini. Selain itu, dia bisa menjadi pendukung yang kuat untuk Jade nantinya. "Apakah ada lagi?" Tanyaku. "Park Hae Min, juga tidak kalah jika di bandingkan dengan Abraham, Dia memiliki kemampuan strategi yang cukup Akurat." kata seorang dewan berkulit kuning dan bermata sipit. "Aku tidak bisa memutuskan sendiri karena akan menjadi sangat subjektif, jadi kalian lakukan voting saja siapa yang akan menjadi Beta kingku, kalian bisa mulai sekarang!" perintahku. Sementara mereka mempersiapkan voting, aku hanya memperhatikan mereka dan sesekali memperhatikan Clarisse. Gadis itu, raut wajahnya tampak bahagia. Ah, tentu saja, ia sudah mendapat dukungan untuk menjadi seorang Luna Queen, dalam benaknya pasti harapannya sudah sangat tinggi. Tapi, itu hanya akan jadi harapannya saja. "Alpha, kami sudah melakukan voting." Ujar salah satu Dewan, yang tampaknya seumuran denganku. Kufikir dia dari Snowmoon Pack, salah satu Pack terkuat setelah Goldennight Pack. "Jadi siapa?" "Berdasarkan hasil voting, mereka memperoleh suara yang seimbang, keputusan terakhir ada di tangan Anda." Jawabnya dengan tegas, aku menyukai dewan ini, aku mencoba mengingat siapa namanya. Tapi belum kutemukan. "Baiklah, Aku memilih Abraham untuk menjadi Beta King. Sampaikan keputusanku pada Alpha Liam, dan pemberitahuan untuk Pack yang lain." Perintahku lagi, mereka mengangguk memgerti. "Dan..." Aku menarik perhatian semua orang. Aku melihat ketegangan diwajah semua orang saat ini. Seolah mereka sedang menunggu hukuman dariku. Sesaat kemudian pintu ruang dewan terbuka. Semua orang menoleh kearah pintu dengan penasaran. Dua penjaga dan seorang gadis masuk kedalam ruang dewan. Alisku terangkat saat aku melihat tangan gadis itu di rantai. Aku sangat tidak menyukainya, begitupula dengan Ghost. "Alpha, kami membawa tahanan sesuai dengan perintah." katanya, aku semakin heran karena aku tidak pernah memerintahkan mereka untuk merantai Jade. Aku menoleh kearah Clarisse, ada senyuman diwajahnya, aku tahu ini adalah ulahnya. Aku lekas berdiri lalu berjalan mendekati ketiga orang itu. Semua orang tampak heran, untuk apa aku repot-repot mendekati tahanan mereka. Aku meraih tangannya, lalu meminta kunci pada penjaga itu. "Berikan kuncinya padaku." Aku mengulurkan tangan pada penjaga itu. "Alpha, ada baiknya untuk tidak melepaskan tahanan itu, dia sangat berbahaya." Aku mendengar seorang bicara dibalik punggungku. "Apa yang kau lalukan Aeg? Dia akan mencelakaimu." Suara Clarisse benar-benar menyakitkan ditelingaku. "Berikan kunci Sialan itu padaku!!!" Geramku dengan menggunakan Alpha Tone-ku. Penjaga itu gemetar ketakutan ia kemudian memberikan aku sebuah kunci. "Kau akan menyesalinya jika melakukan ini." Bisik Jade padaku. Aku menarik tangannya, kemudian aku melihat tangannya membekas rantai perak di pergelangannya. Hatiku tergores dan kesakitan melihatnya. Saat aku membuka rantai itu, memang terasa panas ditanganku. Tapi aku terus membukanya, sembari menatap mata hijau Jade yang sangat teduh. "Jangan macam-macam, atau kau tidak akan pernah bertemu dengan kakakmu." bisikku tepat ditelinganya. "Liam??" "Besok, dia dan pasukannya akan kemari, jika kau ingin kakakmu tetap hidup sampai bertemu denganmu, diam saja." Meski aku harus mengancamnya, aku tidak menyesal karena hanya ini satu-satunya cara agar dia menurut. "Kau memang brengsek." bisiknya dengan ketus, aku ingin tertawa saat ini juga, tapi aku harus tetap menjaga imageku sebagai Alpha yang kuat dan tak memiliki emosi. Aku meraih tangannya, lalu berbalik dan aku hampir saja mengumpat keras saat melihat semua orang siaga kecuali dewan yang berasal dari Snowmoon Pack, ia tetap tenang duduk ditempatnya. Kurasa Jade mendapatkan dukungan meski hanya seorang. "Ada apa dengan kalian?!" hardikku. "Alpha, gadis itu mencoba membunuh anda sekali." Ungkap salah satu dewan, dan aku tak butuh informasinya, karena lebih dari siapapun aku tahu jika Jade membenciku hingga sampai ke tulangnya. "Apa dia terlihat mampu membunuhku saat ini?" Tanyaku sarkastik. "Aku bisa." bisik Jade, sungguh gadia ini penuh dengan kejutan. Semua orang saling memandang. "Duduklah dengan tenang karena aku memiliki pengumuman penting." ujarku sembari berjalan menggandeng Jade, melewati setiap manusia yang terheran. Tapi siapa yang peduli? Aku sempat melihat kearah Clarisse, gadis itu tampak marah, pasti ia sangat ingin mengeluarkan cakarnya saat ini, sayangnya ia tak bisa berbuat apa2 selama aku bisa berdiri tegap. Aku duduk di kursiku, lalu menarik Jade untuk duduk dipangkuanku. Semua orang melebarkan tatapannya, tak percaya dengan mata mereka sendiri. Begitu juga dengan Jade, ia menatapku dengan tajam, hendak berdiri tapi aku mengingatkannya tentang Liam, dan dia menurut. Ah, seandainya dia benar-benar menjadi gadis penurut seperti, hidup kami tidak akan pernah susah. Aku menenggelamkan kepalaku pada ceruk leher Jade, harumnya seperti vanilla dan bunga mawar, aku menciuminya dengan sedikit menjilatnya. Meski sangat pelan, aku mendengar Jade menahan desahannya. Aku tersenyum dalam hatiku. "Apa kalian lupa, bahwa dia adalah Mateku?" Tanyaku yang tidak beranjak dari leher Jade. Tiba-tiba hening, aku pun mengangkat kepalaku. ada beberapa yang menundukkan kepalanya karena menyesal, ada juga yang berdecak karena kesal terlah terlibat dengan Clarisse. "Tapi dia membunuh anda, Alpha." Jawab Francis, ia mencari pembelaan, untuk dirinya dan Clarisse. "Kau fikir dia bisa membunuhku?!"Tanyaku sarkastik, "Dasar Bodoh!!" Hardikku padanya, aku tak peduli apa dia lebih tua dariku, tapi akulah Alphanya. "Kau fikir siapa kalian? Menyiksa calon Luna kalian seolah dia adalah kriminal, HAH?!!" Mereka terdiam gemetar ketakutan di tempat duduk mereka. "Dia memang seorang kriminal, Alpha." Clarisse menyela diantara keheningan ruanh dewan, suaranya lantang penuh amarah, "Dan aku menutut dia untuk dihukum dengan berat." lanjutnya. "Dengarkan aku." Semua orang memberikan perhatiannya padaku, menunggu apa yang akan aku katakan, "Mulai hari ini dan seterusnya, kalian akan menghormati Jade Rosslyn Alexander sebagai Luna Queen di Bloodmoon Kingdom sebagaimana kalian menghormatiku, kalian akan mematuhi setiap ucapannya, dia adalah refleksi keberadaanku, apa yang di ucapkan olehnya adalah perintah dariku, bisa dipahami?" Kugunakan Alpha Tone-ku agar mereka tak bisa membantahku sedikitpun.Awalnya mereka terdiam, tak bicara sepatah katapun. "Bisa dipahami??!" "Baik Alpha!" Seru mereka. "Ohya, Aku juga memiliki pengumuman, Mulai detik ini, Clarisse akan ditugaskan patroli di perbatasan daerah Netral setiap malam sampai ia menyesali perbuatannya, dan Francis, silahkan membantu membersihkan setiap senjata yang ada digudang senjata sampai bulan purnama ketiga setelah bulan ini." "Apa?!" pekik Clarisse sembari berdiri. "Atau kau mau kuusir dari sini?" Ancamku, Clarisse tak percaya dengan ucapanku. Tapi aku benar-benar tidak peduli saat ini. Di dalam otakku hanya bagaimana caranya agar Jade bisa benar-benar menjadi gadis penurutku. Clarisse memandangku dengan tatapan penuh permohonan, tapi aku tidak peduli. Aku merengkuh pinggang Jade lebih erat, menikmati setiap aromanya yang menguar dengan kuat. "Pengadilan dibubarkan." kataku dan satu persatu dewan meninggalkan ruangan. Aku melihat Samuel mendekatiku. Ia berdiri menatapku, lalu melihat pada Jade. Entah kenapa, aku melihat sesuatu yang berbeda dari mata Samuel untuk Jade. "Aku benar-benar tidak percaya semua omong kosong ini." ujarnya. "Aku tidak membunuhnya, Sam." "Terserah padamu!" "Kembalilah ke pack, jadilah penggantiku dengan baik sampai anakku lahir." kataku lagi. "As You Wish, Your Highness!" ujarnya Sarkas, lalu pergi begitu saja. Sahabatku itu kecewa, tapi tidak akan lama. Sementara itu, setelah semua orang pergi Jade melompat dari pangkuanku. Ia kemudian menatapku dengan tajam. "Setelah koma selama empat tahun ini otakmu benar-benar kacau, apa kau lupa bahwa aku pernah menolakmu? Kau bisa menjadikan wanita strawberry itu sebagai Luna mu, dan membunuhku!" Aku tidak lupa bahwa dia menolakku. Tapi, bukankah masih ada kesempatan untukku. Aku juga berpikir ikatan mate kami pun tidak terputus. "Aku lelah, aku tidak ingin berdebat saat ini." balasku malas. "Apa kau sangat tergila-gila padaku, sampai kau tidak mau melepaskanku?" tanyanya lagi. "Haha." Aku tertawa mendengarnya, dia benar-benar menghiburku. "Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri" balasku. "Kau pasti ingin membalas dendam kan? Kau ingin membuatku mati perlahan, kau ingin menyiksaku?!" Dia meracau lagi, dan kepalaku mulai pusing mendengarnya. "Pergilah, pergilah ke kamarku!" "Untuk apa aku pergi kekamarmu?!" Aku berdiri dihadapannya, dia terlihat sangat kecil didepanku dengan tingginya yang tak melebihi dadaku. Wajah cantiknya bahkan harus mendongak untuk menatapku. "Sialan Jade! Demi Dewi Bulan, aku telah mengumumkan bahwa kau adalah Lunaku, sebagai pasangan aku tidak mau terpisah ruangan denganmu." Racauku dengan cepat, aku menghela nafas lalu mencengkram kedua lengannya. "Dengar, jika kau benar-benar ingin bertemu kakakmu, maka menurutlah, pergi dan tinggal di ruanganku sekarang!" "Kau b*****h sialan!" umpatnya, ia kemudian berbalik lalu pergi meninggalkanku di ruang dewan sendirian. "Kau membuatnya menjauh dari kita." Ghost ikut nimbrung dan membuat kepalaku semakin sakit. "Hanya ini satu-satunya cara, aku harus membuatnya benar-benar patuh, atau kau akan kehilangan matemu" "Kau sangat licik, jika dia tau rencanamu dia akan semakin membencimu!" "Kau salah, dia akan mencintaiku!!" "Terserah padamu" ••••• Jade’s Pov Ruangan ini sangat besar, dengan ranjang ukuran king size di tengahnya dengan jendela besar disampingnya. Lalu beberapa perkakas, yang di d******i oleh warna hitam dan emas, elegan, tapi sederhana. Berbeda dengan saat Ayahku menjadi Alpha King, dimana dekorasinya didominasi warna biru dan putih, yang akan menenangkan siapapun yang memasukinya. Tapi disini, aku merasa berbeda, perasaan yang sangat asing. Apalagi dengan aroma Aeghar yang memenuhi ruangan ini. Membuat Nymeria memberontak menginginkan matenya. "Diamlah, Nymeria!" "Kau benar-benar gila, ini hanya akan menyiksa kita, aku tau kau juga menyukai Alpha kita itu, dia sangat lezat." "Memang." balasku sembari membayangkan Aeghar yang terlihat sangat dewasa dan tampan. Wajahnya begitu sempurna, tubuhnya memiliki otot yang kuat dan dia memiliki aroma yang sangat nikmat sekali. "Tapi Nym, aku sudah merejectnya, mengapa ikatanku dengannya masih kuat? "Entah, mungkin karena dia sangat lezat?" Nymeria sangat tidak membantu sama sekali. Tapi memang benar, meski empat tahun berlalu dan tubuhnya tidak segagah dahulu, pria itu masih sangat tampan dan menggairahkan. Apa yang aku fikirkan! Aku menggelengkan kepalaku, mengingatkan diriku kembali, bahwa dia adalah pembunuh ayah. Saat aku repot mengingatkan diriku, aku melihat kilauan sesuatu dari atas ranjang. Penasaran aku pun mendekatinya, aku tak percaya bahwa itu ada di ranjang Aeghar. Seketika aku meraih moonspear, dan mendapati sebuah note kecil di ranjang. "Hadiah kecil untuk calon Luna, dari A." bacaku perlahan, ada yang aneh, jantungku berdebar-debar dan tanpa sadar aku tersenyum. Aku memeluk Moonspear dengan erat, aku merindukannya. "Ehm." Suara berdeham itu mengejutkanku dan hampir saja aku menjatuhkan Moonspears, aku berbalik dan melihat Aeghar sedang bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat di dadanya. "Sepertinya kau sangat bahagia sekali." "Tentu saja! Ini satu-satunya peninggalan ayahku" Jawabku dengan cepat. "Ohh, terimakasih kembali, Princess." Ucapnya dengan senyum yang merekah di bibirnya. Ia kemudian berjalan mendekat kearahku, semakin ia dekat, semakin kuat aromanya dan Nymeria mengerang penuh hasrat di dalam diriku. Tapi aku tidak akan kalah, aku tetap pada pendirianku. "Benda ini membuatku hampir mati." bisik Aeghar saat ia tepat dihadapanku dan tangannya menyentuh moonspearku. Segera aku menarik moonspear dan menyembunyikannya dibalik punggungku. Aeghar menatapku dengan geli, ia hampir tertawa lalu kemudian malah berdeham dan memasang wajah sok kerennya itu. "Aku tidak akan merebutnya, kau bisa menyimpan tombak itu, kau bebas menggunakannya, bahkan jika kau mau membunuhku, lagi." katanya panjang lebar, hingga aku melongo dibuatnya. Aku heran, apakah dia sama sekali tidak takut apabila aku akan benar-benar membunuhnya kali ini? Kenapa dia sangat santai sekali? "Jade..." Panggil Aeghar dengan suara yang serak. Sepertinya ia di kuasai oleh hewolf nya. Aku melihat manik matanya sangat gelap bagaikan malam yang kelam. Aku mundur selangkah, untuk memberikan jarak padanya. "Jangan Mendekat!" Kataku padanya. Namun, tiba-tiba dia ambruk dengan kepalanya di pundakku. Tubuhnya sangat berat dan karena aku tak bisa menahannya kami ambruk di ranjangnya. Dia berada di atasku, menindih tubuhku yang kecil ini. "Hei, Bangunlah! Jangan mengambil kesempatan!!!" Aku mengguncang tubuhnya, tapi tak ada reaksi. Apa dia pingsan? Bagaimana bisa? Perlahan aku mendorong tubuhnya kesamping. Aku semakin panik karena Aeghar sama sekali tak bereaksi. Buru-buru aku segera keluar kamarnya, untunglah ada seorang pelayan yang lewat. "Tunggu." Aku menahannya, ia agak terkejut melihatku keluar dari kamar Aeghar. "Tolong panggilkan dokter, Alpha Aeghar tidak sadarkan diri." pelayan itu masih belum memproses perintahku. "Segera!!!" Aku membentaknya, ia akhirnya mengangguk dan bergegas pergi. Aku kembali ke dalam ruangan, lalu membetulkan letak tubuh Aeghar, dan berdiri disampingnya. Ini kesempatan fikirku, aku bisa membunuhnya saat ini juga. Aku bisa membalaskan dendamku padanya. Aku menggenggam moonspear dengan erat, menimang apa yang aku lakukan. Jika aku menusuknya kembali di tempat aku pernah menusuknya dia pasti akan langsung mati. "Kau sudah gila? Jika kau membunuhnya kau akan mati." Nymeria protes. Aku memutus mindlink dengan Nymeria. Bagaimana pun juga, Dia akan berusaha melindungi Matenya dariku. Aku mengangkat Moonspear bersiap menusuknya dengan tombakku. Sampai aku merasakan sesuatu yang kuat mendorongku hingga aku tersungkur disisi ranjang. "Gadis bodoh! Kau tidak tahu terimakasih ya?" Aku mengenali suaranya, dia Samuel. "Bukan urusanmu!" "Jika bukan karena Aeghar, aku sudah-" Ucapan Samuel terpotong karena datangnya dokter dan seorang perawat yang membawa perkakas medis. "Apa yang terjadi?" Tanya dokter itu saat melihat keadaan Aeghar, aku bangkit dan berdiri di sisi tubuh Aeghar. Aku merasakan Samuel menatapku tajam. "Ahh, aku tidak tahu tapi dia tiba-tiba pingsan" Jawabku seadanya. Dokter itu mengangguk, ia mulai memeriksa Aeghar, lalu membuka pakaian atas Aeghar, memperlihatkan bagaiamana tubuh itu terlihat terjaga meski sudah 4 tahun tak beraktifitas. Aku melihat sebuah luka yang membekas didadanya. Itu pasti luka dari moonspearku. Sebagaimana luka cakar hewolf miliknya membekas di pundakku. "Aku tidak mengerti kenapa obatku tidak bekerja dengan baik." kata dokter itu. "Kudengar di sekolah medis, darah mate sejati akan membantu penyembuhan?" Suara Samuel terasa menyakitkan di telingaku. Kenapa dia membawa-bawa darah mate? Seolah-olah dia akan menggunakanku, tunggu! Apakah dia serius? "Ya, secara supernatural itu memang bisa dilakukan." Jawab dokter itu. "Kurasa gadis ini bisa membantu." Samuel menarik tanganku hingga aku mendekat padanya dan menjatuhkan moonspearku. "Dia mate dari Alpha Aeghar, jadi kalian bisa menggunakan darahnya untuk membantu penyembuhan Alpha." Lanjut Samuel menerangkan posisiku pada dokter dan perawat yang tampak terkejut. "Oh Sialan, aku tidak mau!" Ujarku terang-terangan. Slaass Gerakannya sangat cepat, aku merasakan perih di tanganku. Dan kulihat tanganku tergores cukup dalam dibagian pergelangan dengan darah yang mengalir dengan derasnya. "Kau!!" "Cepat gunakan darahnya" "Tapi.." "Apa maksudmu tapi?" Samuel entah kenapa aku merasakan kemarahan di dalam dirinya. Ia mencengkram lenganku dengan kuat. "Hanya mate sejati, apa kau yakin bahwa gadis ini adalah Mate Alpha Aeghar." Perawat itu mencoba menjelaskan atas nama dokternya. "Kita lihat saja, jika bukan maka aku akan langsung membuat gadis ini menyesal seumur hidup." mata biru Samuel menatapku dengan tajam. "Baiklah, Alpha Aeghar hanya perlu meminumnya." jelas dokter itu. Samuel menarik tanganku, mengarahkannya pada mulut Aeghar yang sedikit di buka oleh sang dokter. Aku melihat darahku yang mulai menetes demi setetes ke mulut Aeghar. "Cukup." Ujar dokter itu. Sedangkan aku merasa lemas sekali, sepertinya seluruh darahku terkuras. "Kapan re-" lagi-lagi ucapan Samuel terpotong karena Mata Aeghar mulai terbuka. Pria itu terbatuk-batuk. "Kau sadar!" Samuel girang melihat Aeghar membuka matanya. "Sial, apa ini rasanya seperti-" Aeghar berusaha bangkit dan mengusap bibirnya. Keningnya berkerut dalam saat melihat darahku di jarinya. "Ini darah jade?" Aeghar menoleh padaku, menatap lenganku yang di cengkram oleh temannya itu, lalu menatap Samuel dengan penuh amarah. Sesaat kemudian ia bangkit dari ranjangnya. Ia menendang Samuel tepat di bagian dadanya hingga tubuh Samuel limbung ke belakang. Aeghar beranjak dari kasurnya, ia berjalan kearah Samuel, lalu meraih kerah baju Samuel dan meninju wajah Samuel berkali-kali. Sedangkan tubuhku semakin lemas, aku mencoba berjalan kearah mereka untuk menghentikan kegaduhan yang mereka timbulkan. Namun, saat aku mendekat dan meraih lengan Aeghar untuk menghentikannya, ia menghentakkan tangannya dengan kuat hingga aku limbung ke belakang, dan terjatuh hingga kesadaranku pun hilang. Aku kembali tenggelam pada kegelapan. •••••• Aeghar’s Pov Disini aku berada, duduk di samping tubuh Jade yang tak sadarkan diri. Mataku terus terpaku pada pergelangan tangannya yang di balut oleh perban putih. Aku menghela nafas panjang, aku berhutang nyawa pada gadis ini. Jari-jari Jade bergerak-gerak, aku memajukan tubuhku meraih tangannya dan menggenggamnya. Hatiku membuncah saat memegang tangannya, terasa seperti ada sengatan-sengatan kecil yang mengalir melewati jariku hingga ke seluruh tubuh. "Kau sudah sadar." Ucapku. Tiba-tiba ia menarik tangannya dengan kasar, lalu membalikkan badannya memunggungiku. "Dia membencimu, bodoh!" Ghost membuat kepalaku semakin pusing. Tanpa perlu di beritahu siapapun aku tahu jika dia membenciku. "Istirahatlah, besok malam Liam akan datang." kataku untuk menghiburnya, aku tulus melakukannya. Serius. Aku beranjak pergi keluar, membiarkannya dengan kebencian dihatinya dan amarahnya. Tetap berada di sampingnya tidak akan membantu apapun. Aku terus berjalan meski keadaan tubuhku masih lemah. Aku pergi ke tempat latihan, melihat para pasukan berlatih. Mereka cukup tangguh, lalu aku pergi ke tempat pertama aku melihat Jade dulu. Jika di fikirkan lagi, itu sangat konyol sekali. Aku bertemu Mate ku di saat usianya masih 10 tahun.Saat itu dia ketakutan melihatku. Aku tersenyum kecil membayangkan saat-saat itu. "Alpha." Seseorang menyapaku, aku menarik bibirku agad tak tersenyum lalu menoleh. Aku mengenali pria ini, dia adalah seorang Dewan, perwakilan dari Snowmoon Pack, cukup muda untuk menjadi seorang dewan. "Oh, Kau..." "Anda bisa memanggil saya Lucas, Ayah saya Giordan Galahan" Aku mencoba mengingat nama itu, ahhh. Dia seorang Dewan pada masa Alpha Edward. Giordan tewas saat p*********n pemberontak malam itu. "Aku turut berduka untuk Tuan Galahan." "Oh terimakasih, Alpha." Jawabnya singkat, "Alpha, kenapa anda berada disini? Saya dengar anda masih belum benar-benar pulih" "Aku sedang ingin melihat latihan para Enforce saja." aku kemudian melihat Lucas dari ujung kepala hingga kaki "Aku melihatmu di ruang dewan, sepertinya kau tidak mendukung dewan yang lain" Aku melihat Lucas tersenyum, entah apa makna senyumannya itu. "Aku disini untuk Jade." jawabnya, seolah Jade sangat dekat dengannya. "Tapi kau tidak melakukan apapun untuk mencegahnya dari siksaan itu." Lucas tertunduk mendengar pernyataanku. Memang menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Jika ia disini untuk melindungi Jade, maka Jade tidak akan mengalami penyiksaan seperti itu. "Aku tidak bisa berbuat apapun, suaraku di dewan terlalu kecil, aku tidak memiliki dukungan." "Kau memiliki dukunganku." Balasku dengan mantap, aku menepuk pundak Lucas, lalu berjalan melewatinya. Semakin banyak yang melindungi gadis itu, mungkin akan semakin baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD