Raka pov
Sudah 1 bulan ini aku mulai menjalankan perusahaan papa sendiri setelah selama 1 tahun terakhir aku masih diawasi papa.
Papa memilih pensiun dan menyerahkan perusahaan ini untuk aku pimpin.
Hari ini aku ada jadwal meeting dengan mitra bisnisku, sebenarnya bisa saja cukup aspri ku yang pergi karna hanya untuk memandatangi kontrak kerja sama.
Hanya saja aku ingin bertemu dan mengenal langsung siapa-siapa saja yang menjadi rekan bisnisku.
Aku dan asisten ku pergi ke kantor PT. Bangun Nusantara jam 8 pagi. Dan kami langsung disambut hangat oleh sekretaris Pak Brian pemilik perusahaan ini.
"Selamat pagi pak...bapak dari PT. Global Mandiri yang sudah membuat janji dengan bapak Brian?" tanya nya menyambut kami yang masih di meja resepsionis.
"Pagi bu....ya kami dari PT. Global Mandiri perkenalkan saya bapak Toni asisten bapak Raka" sambut Toni asistenku langsung menyalami nya.
"Raline pak... " jawabnya.
"Raline pak... " dia mengulurkan tanganya kearahku.
"Bapak Raka... " kataku menjabat tanganya.
"Mari pak saya antar ke ruang meeting, bapak Brian masih dalam perjalanan" katanya sambil mempersilakan kami mengikuti nya.
'Sekretaris yang sopan' batinku
Kami memasuki lift khusus para petinggi perusahaan. suasana hening tercipta didalam lift, hanya hembusan nafas kami yang terdengar. Hingga denting lift memecah kesunyian diantara kami. Kami pun keluar begitu pintu lift terbuka.
"Silahkan bapak menunggu disini, bapak Brian akan segera tiba" katanya begitu kami memasuki ruang meeting.
"Baik bu... " jawab Toni sambil mendudukan b*****nya ke kursi.
'Kantor yang nyaman' ucapku dalam hati.
Tak lama Raline muncul lagi bersama dengan seorang og yang membawa minuman.
"Maaf pak kalau saya kurang sopan dengan menyuguhkan banyak minuman karna saya tidak tahu bapak mau minum apa... " katanya sambil menyuguhkan kami air mineral, kopi dan teh.
"Tidak apa-apa bu... " jawab Toni sambil mengulum senyum.
Aku sendiri hanya memperhatikan Raline saja. Dia sangat luwes menghadapi kami tidak terlihat canggung atau grogi, kelihatan sekali dia sudah memiliki jam kerja yang tinggi sebagai sekretaris.
Aku masih terus memperhatikan Raline sampai dia keluar dari ruangan meeting sambil berkata
"Silahkan dinikmati pak"
"Ya bu... terimakasih" kata Toni yang aku perhatikan pun terus memperhatikan Raline.
Selang 15 menit orang yang kami tunggu pun datang. Kami pun langsung membahas kerja sama antar perusahaan kami.
Mataku masih curi-curi pandang ke arah Raline sampai kami selesai meeting. Dan kami pun pamit undur diri setelah penandatanganan kontrak kerja sama.
Aku kembali ke kantor dengan pikiran masih tertinggal di kantor Raline bekerja.
Masih terbayang senyum manis nya, sikap cekatannya serta pembawaan dirinya yang elegan.
'masih single kah apa sudah available' ucapku terus menerus dalam hati.
sekretaris yang cantik dan pintar serta berkelas. Raline masih bercokol di benakku sampai aku tidak sadar sekretaris ku masuk dan membuyarkan lamunanku.
"Bapak belum mau pulang?" tanya nya saat masuk ruanganku.
"Kamu kalau masuk ruangan saya harus ketuk pintu dulu" kataku sedikit ketus karna terkejut dia sudah ada dihadapanku. Aku yang duduk di kursi kebesaranku dengan tangan yang memegang daguku dan mata yang tertunduk langsung menengadah melihatnya yang sudah berdiri dihadapanku.
"Maaf pak kalau saya lancang, saya sudah ketuk pintu berkali-kali tapi bapak tidak menjawab sehingga saya berinisiatif untuk masuk, maaf pak " jawabnya terlihat takut.
"Ya sudah kalau kamu mau pulang, pulang saja. Saya juga mau pulang, maaf saya tadi terkejut melihat kamu dihadapan saya" kataku pada perempuan dihadapanku. Dia memang selalu bertanya apa aku sudah mau pulang atau belum untuk memastikan kalau dia sudah tidak dibutuhkan lagi, karna kalau ada meeting mendadak pasti dia juga ikut meeting. Dan sudah pasti lembur.
"Baik pak...kalau begitu saya permisi" katanya sambil undur diri. Aku hanya menganggukkan kepala ku sabagai jawaban.
Sementara aku masih belum ingin beranjak dari sana.
'ada apa dengan ku hari ini' batinku terus terusan bertanya.
Aku banyak melamun dan tidak fokus kerja. Aku menghembuskan nafas kasar sambil mengusap wajahku dengan kesepuluh jariku.
Pikiranku masih terus dipenuhi dengan sosok Raline. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih bersih, rambutnya yang panjang dan ditata rapi, bodynya yang cukup proporsional aku mengira tinggi nya sekitar 165 cm ditambah heels nya sekitar 5 cm. Tidak kurus cukup berisi dengan pinggang yang ramping.
Lagi-lagi aku menghela nafas kasar dan mengusap wajahku dengan telapak tanganku. Kuat sekali pesona mu Raline, sampai aku yang selalu dingin dengan makhluk bernama wanita bisa sampai tidak berhenti memikirkanmu.
Apa dewi cinta sudah menancapkan panah asmara nya dihatiku. atau mungkin Tuhan sudah mempertemukan ku dengan jodohku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
'jodohku' gumamku yang langsung membuatku bangkit dari kursi yang aku duduki seperti tidak percaya dengan yang ada dalam benakku.
Aku menggelengkan kepalaku berulang kali.
'nggak... nggak mungkin terlalu cepat aku menyimpulkan perasaanku' gumamku lagi dan menyadarkanku ke alam nyata dan langsung bersiap pulang.
"Ma...pa...I'm home" panggil ku pada orang dirumah berharap ada jawaban begitu aku sampai rumah.
"Ya kami disini sayang... " sahutan dari mamaku terdengar.
"Sini sayang kita makan sama-sama " lanjut mamaku lagi karna aku masih berdiri didepan pintu ruang makan.
Mamaku masih saja memanggilku dengan sebutan 'sayang' seperti memanggil anak kecil saja padahal aku sudah dewasa.
"Mama kapan berhenti panggil Raka 'sayang' sih ma, Raka bukan anak kecil lagi" ucapku kesal setiap kali mama memanggilku seperti itu.
"Sampai kamu kasih mama cucu, mama akan berhenti panggil kamu 'sayang', cucu mama yang nanti mama panggil 'sayang'" sahut mamaku yang disambut tawa papaku
"Mama itu terus yang dibahas" sungutku makin kesal.
" Ya dong apalagi ya kan pa? " jawab mamaku santai.
"Ayo duduk, makan bareng kita" ucap papa mengakhiri perdebatan aku dan mama.
"Mau mandi dulu pah, gerah banget" jawabku hampir meninggalkan mereka kalo tidak aku dengar omongan mama yang menghentikan pergerakanku.
"Nanti saja mandi nya setelah makan, kamu bisa sekalian berendam.Kamu sudah terlalu lama tidak makan sama mama papa sibuk terus" ucap mama buatku tak berkutik.
"Iya...Papa juga pengen dengar cerita mu yang hari ini bertemu CEO PT. Bangun Nusantara"
"Biasa aja pah, kayak ketemu CEO yang lain lah" kataku sambil menggeser kursi dan mendudukinya.
Aku sudah mulai makan sambil bercerita tentang kegiatan ku hari ini. Sudah tidak mungkin aku tolak.
Selesai makan aku bergegas ke kamar dan langsung mandi. Aku tidak berendam seperti yang mamaku bilang hanya mandi.
Aku turun ke ruang keluarga selesai mandi dan bergabung lagi dengan orang tua ku. Aku tidak terlalu suka suasana sepi, jadi jarang sekali aku berdiam diri didalam kamar.
Aku masih terus bercengkerama sama mama papa ku sampai mamaku ngeluh ngantuk dan minta papa menemaninya tidur.
"Ayo pah tidur mama sudah ngantuk" kata mama sambil memejamkan mata. Mama yang masih memeluk tubuh papa sambil merebahkan kepalanya didada papa.
"Lihat nih Raka mamamu kayak anak kecil aja tidur minta ditemeni" kata papaku yang merangkul bahu mama dan sesekali mengecup mesra kepala mama.
"Ihhh papa ledekin mama" rajuk mamaku sambil memukul ringan d**a papa. Aku langsung tertawa melihat tingkah mereka.
"Udah pah turutin gih, ntar papa gak dikasih kesenangan loh" kataku sambil tertawa.
"hemmmm....anak ma papanya sama aja tukang ledekin mama" mamaku cemberut dengan mata terpejam.
Aku dan papa kompak tertawa.
"Ayo deh kita tidur" ajak papa akhirnya bangkit dari duduknya sambil membantu mama bangkit juga dari sofa tempat kami berkumpul.
"Raka...papa masuk ya. Malam Raka" kata papa masih merangkul mama dalam dekapannya.
"Malam Raka" kata mamaku dalam rangkulan papaku.
"Malam pa.. Malam ma" jawabku masih terus mengawasi mereka yang mulai jalan kearah kamar mereka.
Aku senang sekali masih melihat kemesraan mereka walau orang tua ku tidak muda lagi. Aku pun berharap hal yang sama kelak jika aku memiliki pasangan hidup.
Aku jadi teringat lagi akan sosok Raline, Mungkinkah kita bertemu lagi' ucapku dalam hati.
'Semoga' harapku sambil berlalu dari ruang keluarga menuju kamarku.