Terlalu Biasa Bersama

1116 Words
Akhirnya Claudia memberikan aku waktu untuk sendiri di apartemennya. Ia lebih dulu berangkat dan meninggalkanku, paham kalau aku memang butuh ruang privasi untuk leluasa melakukan apa pun yang ingin aku lakukan setelah bangun, apalagi bangun setelah mabuk semalam. Ah, gara-gara ditolak cewek langsung hangover! Dasar payah kamu, Dam! Gini aja tumbang, makanya cewek-cewek pada ragu deketan sama kamu. Aku segera membasuh muka dan menyadarkan diri secepatnya. Pandanganku mengedar ke seluruh ruangan yang sangat rapi, bahkan lebih rapi dari kamarku sendiri. Tak menyangka, ternyata Claudia punya bakat bersih-bersih juga. Tujuanku saat ini adalah pulang dan ganti baju, dan menuju kantor tentunya. Ada banyak ribuan pertanyaan di kepalaku, tentang bagaimana aku bisa berakhir di apartemen Claudia, sekretaris pribadiku. Semoga dia gak ember ke mana-mana atas peristiwa memalukan ini. *** Tuk, tuk, tuk, tuk. (Suara detik jarum jam) Kali ini aku menunggu Claudia ke ruanganku, rasanya malu sekali mengingat tentang kejadian tadi pagi. Mana pernah aku menduga akan terbangun di ranjang Claudia, bahkan membayangkan tidur dengannya saja tak pernah terlintas di hidupku, eh ternyata malah kejadian. Ceklek, pintu ruanganku terbuka dan nampak Claudia yang tersenyum lebar. Belum pernah kulihat ia tersenyum sumringah, apa Claudia tengah meledekku sekarang? Ia mendekatiku dan menyerahkan dokumen yang harus aku pelajari untuk rapat nanti. "Silakan dibaca dulu berkasnya, Pak Adam. Ini tadi laporan dari cabang kita yang akan dirapatkan nanti siang," tuturnya jelas. Aku melirik berkas itu dan refleks menarik tangannya. "please, aku butuh penjelasan sekarang, Claudia. Lupakan soal pekerjaan dan katakan padaku, apa yang terjadi semalam?" Dia menatapku, seolah ragu untuk menjawabnya. Sekali lagi kutekankan bahwa aku sangat butuh penjelasan darinya. Claudia melepaskan genggamanku, aku tahu meskipun kita cukup dekat tapi ia memang tipe perempuan yang jarang bisa disentuh. Lebih tepatnya menghindari kontak fisik. Kalau ada orang yang menilainya perempuan yang murahan, kalian salah. Pakaiannya memang nyentrik, tapi tidak dengan rasa malunya. Ia masih punya harga diri. Claudia tak pernah mau tidur dengan pria manapun, ah! Memang sih semalam aku tidur seranjang dengannya, tapi itu beda konteks ya! "Sebenarnya yang seharusnya bertanya seperti itu saya sih, Pak. Kenapa Bapak malah memanggil saya semalam, menelpon dan mengucapkan nama seorang perempuan. Saya kenal sih orangnya, Bapak mabuk gara-gara dia kan?" tebaknya. "Maksudmu, dia siapa?" tanyaku bimbang. "Dewita, barista dekat kantor. Padahal Bapak ini gak bisa minum, sok-sokan pakai mabuk segala. Segitu galaunya ya sampai-sampai mabuk dan ngelantur. Atau beban hidup Bapak berat karena jomblo? Atau jangan-jangan Bapak habis ditolak sama Dewita makanya sampai mabuk? Hmm, pegawai bar di sana menjelaskan semuanya dan akhirnya saya terpaksa ke sana, tak ada pilihan lain selain membawa Bapak ke apartemen saya karena saya gak berani bawa pulang Bapak apalagi membawa ke hotel." Ah, penjelasan yang masuk akal juga. Aku malu sendiri karena Claudia mengetahui permasalahan pribadiku. Duh, kenapa malah menyusahkan orang lain sih, Dam? "Maaf sudah merepotkanmu, mungkin aku memang payah soal minum." "Itu tahu, jangan diulangi lagi, Pak. Nyusahin soalnya. Ini, jangan lupa di ACC berkasnya," tegas Claudia mengingatkan ulang. "Kamu mau bonus berapa, Clau?" "Hah?" kejutnya. Aku meringis lebar dan membuka dompet segera, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. "Ini, terserah kamu mau beli apa saja untuk makan siang. Kita makan siang di ruanganku, yang enak-enak ya?" Wajahnya berseri. Aku tahu Claudia bukan perempuan matre, ia memang suka makan siang denganku karena bisa leluasa dan tak perlu jaga sikap. Mungkin karena kedekatan kita, banyak gosip yang tidak-tidak menyebar ke setiap sudut perusahaan. Aku juga tahu banyak sekali yang naksir Claudia. Banyak pria yang rela meninggalkan pacar-pacar mereka demi bisa mendekati sekretarisku, tapi sayangnya Claudia tak mau terikat dengan pria yang masih rekan kerja. Merepotkan katanya. Apakah aku termasuk? "Ini bukan sogokan karena sudah membantu Pak Adam semalam kan?" tanyanya heran. "Termasuk itu juga, Claudia. Bukan maksud saya membayar kebaikanmu dengan uang, hanya saja saya suka makan siang denganmu karena kalau makanan saya nanti gak habis kan kamu yang biasanya menghabiskan," jawabku beralasan. Perempuan itu berlalu dan keluar dari ruanganku. Kulihat tubuhnya dari belakang yang memang membuat siapa saja langsung mengincarnya. Indah dan seksi. Ayolah, Dam! Jaga pandanganmu! *** Usai rapat aku bisa bernapas lega. Akhirnya bisa selonjoran di sofa, kupijat bahu dan kakiku. Enak kali ya kalau punya istri, ada yang mijitin dan buatin kopi. Halu aja dulu. "Capek ya, Pak? Ini makan siangnya, maaf telat. Tadi kebetulan antri panjang banget." Aku agak kaget dengan kedatangannya. Kebetulan aku memang sedang membuka kemejaku dan hanya mengenakan kaos tanpa lengan, apalagi tadi ruangan rapat sepertinya AC-nya rusak, nanti biar kutelepon cleaning servicenya. "Tumben kamu gak beli macaroon. Biasanya kamu selalu pesan itu, cuacanya lumayan panas." Aku sedikit tahu makanan kesukaan Claudia, seperti macaroon dan kopi jelly dari Mcd juga minuman Starbucks. "Bosan, Pak. Mood saya lagi bagus, makanya beli nasi dan ayam goreng, sama sambal pete dan rendang." Perempuan itu sudah membuka kotak makan siang, aneh saja sih. Padahal dia ini modis, kenapa suka banget dengan sambal pete, bukannya baunya tajam banget ya? "Ada kabar apa, Clau? Tumben moodmu bagus?" Claudia langsung memasang muka cemberut. Ia tetap menyuapi mulutnya sendiri dengan rendang, sekretarisku memang tak pernah malu saat makan denganku. Biasanya para betina selalu jaga image dan berusaha anggun saat makan, tapi Claudia tidak. Apa karena kita terlalu sering makan siang bersama? "Pertama, karena saya sebentar lagi akan pulang kampung, Pak. Pak Adam lupa ya kalau sepupu saya bakalan nikah awal tahun? Dan yang kedua, saya bakalan dapat bonus akhir tahun. Pak Adam gak lupa kan soal itu?" Aku mengunyah makananku, berusaha mengingat kepadatan akhir tahun sekretarisku sendiri. Ia memang sudah meminta izin beberapa minggu yang lalu. "Ingat, oke saya gak akan lupa. Terus kapan kamu nyusul sepupumu merried, Clau?" Byur! Aku agak terkejut karena tiba-tiba saja Claudia menyemprotkan minuman yang barusan ditelannya persis di mukaku. Hmm, siang-siang begini mau potong gaji berapa, Clau? Seketika Claudia langsung menyambar tisu dan membersihkan wajahku dengan terburu-buru. "Clau, kamu bersihin mukaku atau berusaha membuat ketampananku luntur sih?" "Maaf, iya deh ini udah pelan-pelan, Pak. Ya habisnya tadi Bapak nanyanya aneh sih. Pak Adam kan tahu kalau saya saat ini jomblo," rajuknya. Kita berjarak dekat sekali. Aku bisa melihat wajah Claudia 15 cm dari wajahku. Hidung kami sama-sama mancung, tapi menang aku banyak sih. Soal warna kulit, kami sama-sama berkulit putih. Tapi aku kalah jauh dengannya. Tanpa sadar, aku malah menilai wajahnya dengan teliti. "Pak?" panggilnya. Aku tergugah dari lamunanku. "Ah iya, Clau. Kenapa?" "Gak apa-apa sih, cuma rada gimana gitu dari tadi Pak Adam ngelihatin saya dari jidat sampai dagu. Ada yang aneh sama muka saya? Warna Lipstik saya terlalu mencolok? Atau saya punya jerawat yang suka semena-mena mampir di pipi mulus saya?" cemasnya. Aku terkekeh melihat kepanikannya dan berkata, "Enggak ada yang aneh di wajah kamu, Clau. Warna lipstik kamu standar kok, Saya cuma mau bilang kalau sebenarnya kamu itu cantik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD