Mencoba Melabuhkan Hati

1055 Words
Tidak ada hal yang istimewa dalam hidupku di usia 30-an. Mungkin kak Citra benar, aku harus segera mencari pasangan. Minimal gebetan lah. Tapi masalahnya, aku sering ilfiel pada sebagian kaum wanita yang kadang nyeleneh. Selama tiga tahun, semenjak aku menjabat sebagai CEO utama menggantikan papa, ruang lingkup kehidupanku hanya sebatas kantor dan rumah di Bandung. Aku hanya bertemu beberapa wanita yang sama setiap hari, yaitu Claudia, sekretarisku dan Dewita salah satu barista cafe dekat kantor. Ya, hanya mereka yang memang tidak pernah membuatku merasa ilfiel. Mungkin Dewita bisa dijadikan list utama, kalau Claudia ampun deh! Rasanya sulit berpasangan dengan perempuan yang kerjaannya hanya bucin atas rayuan pria-pria modus di luar sana. "Aku ikut ke kantor dong, Dam. Belakangan ini mas Reza sibuk bolak-balik Jogja-Solo. Kakak kesepian, kayak jomblo!" Aku yang sedang mengunyah roti di mulutku tetap stay cool dan tidak terprovokasi dengan ucapan kakakku. "See? Kayaknya kita nasibnya sama, malahan mending aku loh. Punya pasangan tapi selalu ditinggal gak enak, kan?" "Beda tahu, Dam. Ini kan statusnya Kakak baru sebulan jadi istri orang, ya pasti hawanya mau nempel terus di ranjang. Kamu makanya nikah gih biar tahu rasanya mepet-mepet suami tuh kayak gimana." Sepagi ini sudah meracuni otak warasku. Aku mempercepat kunyahanku dan meneguk susû putih dengan segera. Daripada lama-lama di rumah dan mendengarkan kealayan pengantin baru, mendingan langsung cus kantor aja deh. Seperti biasa, jalanan pada jam segini tidak terlalu ramai. Aku suka dengan udara Bandung yang lumayan sejuk daripada Jogja. Mungkin nongkrong cantik di cafe depan kantor boleh juga, sambil ngecengin Dewita yang biasanya sudah berangkat. "Morning, Ta. Kayaknya kamu kepagian berangkatnya, mana Arshil?" tanyaku pada rekan karibnya yang kebetulan juga mengenalku. Cafe ini memang menjadi tempat nongkrong ternyaman sebelum kantor ramai ataupun setelah pulang kerja. Aku sering sekali ke sini untuk melepaskan penat dan sekalian menemani Dewita yang kadang lembur. "Bang Arshil mungkin masuk shif siang sih. Aku yang pertama datang karena memang minta tambahan jam kerja. Mas, masih ada sedikit lantai yang harus aku pel, gak apa-apa nunggu sebentar?" ujarnya sambil mengangkat kain pel dan ember. Sebagai pria yang sedang mencoba PDKT, aku turun dari kursi dan langsung mengambil alih kain pelnya. Tapi Dewita sepertinya tak enak hati karena penampilanku yang sudah rapi begini. "Beneran gak apa-apa, Ta. Aku juga gak ngapa-ngapain. Tuh lihat, kantor masih sepi. Palingan lima belas menit lagi baru pada nongol," bujukku. Tanganku mulai mengangkat pegangan kain pel dan menggosokkannya ke lantai yang ditunjuk Dewita, sedangkan dirinya sibuk menurunkan kursi-kursi juga mengelap kaca pintu masuk. Dewita memang tak secantik Claudia, tapi bagiku cantik bukan segalanya. Kecantikan bisa luntur saat usia tua dan menurutku si Dewita ada manis-manisnya gitu. Enak juga buat dipandang. Karena kecerobohanku, aku malah hampir terpeleset dan menjatuhkan ember. Alhasil, kemejaku agak sedikit basah. Tuh kan? Malu-maluin banget, cuma ngepel saja gak bisa, gimana jadi calon suami buat Dewita? "Udah dibilangin, biar aku aja Mas. Kan gini jadinya," rajuknya sambil mengusap kemejaku dengan tisu. Gerakan tangannya yang menyapu bagian dadaku agak membuatku terbawa suasana. Kuamati wajah manisnya dengan seksama, kulit kuning langsatnya dan bibirnya yang lumayan tebal. Dewita benar-benar manis. "Mas Adam, kok ngelamun? Gak ke kantor? Tuh, kayaknya mbak Clau udah berangkat deh," tunjuknya ke arah jalanan. Dari sini aku bisa melihat Claudia sedang mengendarai motor Scoopy kesayangannya yang dinamai Kookie, penuh dengan stiker-stiker warna-warni dan tulisan-tulisan Korea. Akhirnya aku memilih keluar dari cafe untuk menuju ruanganku. Tapi melihat kemejaku yang agak basah begini, rasanya ketampananku agak berkurang 5% deh. "Loh Pak, habis hujan-hujanan atau gimana? Kok basah gitu? Perasaan tadi aman-aman aja deh di jalan. Padahal saya bawa motor, Bapak bawa mobil. Apakah ini karma karena Bapak sering ngatain saya playgirl kelas teri?" ocehnya tanpa henti. Belum juga masuk ke ruang kerjaku, rentetan dari sekretaris cerewetku langsung memusingkan kepalaku. Claudia memang lancar jaya saat mencemooh seseorang, beruntung aku sudah sangat terbiasa dengan cibirannya. "Enak aja, gini-gini saya selalu rutin sholat lima waktu ya meskipun kadang gak hafal do'a qunut. Gak baik tahu Clau, nyumpahin orang," ujarku memperingatinya. Setelah masuk, aku melepaskan kemejaku dan memilih mengkeringkannya di sofa. Otomatis aku bertelanjang d**a. Kuperhatikan cafe tempat Dewita bekerja mulai ramai. Kebanyakan pelangganya adalah anak-anak kuliah ITB melihat dari jas almamater mereka. Mataku terpusat pada Dewita yang tentu saja tak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dari lantai 8. Aku melamun berkepanjangan sampai tak sadar kalau Claudia mengetuk pintu dan akhirnya menerobos masuk. Ekspresinya agak kaget saat melihatku bertelanjang d**a, sampai akhirnya dia bersikap seperti biasa lagi. Pasti Claudia membatin tentang perut kotak-kotakku yang sering membuat barisan betina berteriak. "Ini saya membelikan kemeja untuk bapak, kebetulan tadi abang kurirnya cuma bawa dua saja." Aku refleks mundur saat Claudia memasangkan kemeja warna biru muda yang ia beli dari aplikasi Sorabell. Tentu saja aku menjaga jarak karena aku masih bertelanjang d**a. Tapi Claudia tetap maju dan mencondongkan diri sampai pada akhirnya kami pun saling tindih-tindihan di atas sofa. "K-kenapa kamu terus-terusan maju sih?" tanyaku terbata-bata. Bersamaan dengan itu, kak Citra masuk dan langsung bertepuk tangan melihat adiknya ditindih oleh perempuan yang merupakan sekretarisku sendiri. Claudia langsung bangkit dan malu-malu kucing. Ya ampun, bisa panjang urusannya nanti. "Kenapa gak ketuk pintu dulu sih, Kak?" protesku sambil memakai kemeja pemberian Claudia. Wanita itu sudah pergi dan kembali ke meja kerjanya. Aku langsung tahu kalau setelah ini akan ada canggung di antara kita. "Upss sorry! Aku gak bermaksud ganggu kamu yang hampir saja enak-enak sama dia. Jadi ini alasannya kamu nolak semua daftar pilihan mama dan memilih rekan kerja kamu sendiri. Boleh juga dia, cantik dan seksi lagi. Persis seperti tipe idel kamu, Dam!" Aku menepuk jidat sambil menelpon OB untuk membuatkan kopi untuk kami. "Bukan begitu, Kak. Claudia tuh tadi gak sengaja nubruk aku. Gak seperti yang Kak Citra pikirin pokoknya," "Oh, jadi namanya Claudia, bagus juga. Dia umurnya berapa? Kelihatan muda banget," kepala kak Citra terus mendongak ke arah luar, karena dari dalam aku bisa melihat keaadan luar tapi dari luar belum tentu bisa melihat keadaan di dalam. "Dua puluh lima tahun, Kak. Apalagi yang mau ditanyai? Orang mana? Punya pacar gak? Hubungan kita apa?" jelasku memberikan gambaran untuk kakakku. Hari ini kayaknya sial banget deh. Udah gak bisa tampak keren di depan gebetan, tadi diseruduk sama si playgirl, sekarang dituduh berpacaran sama kakak sendiri. Aku harus segera mendekati Dewita sebelum kak Citra benar-benar mencari tahu tentang sosok Claudia. Jangan sampai ada perjodohan ataupun kencan dadakan. No! Jangan sampai pokoknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD