Pagi itu Evelyn terlihat sibuk mengemas barang-barang yang diperlukan suaminya. Meski jarang ditunjukkan, Evelyn sangat pandai bermain peran. Bagi Rayyan, kepergiannya akan memberikan kerinduan pada sang istri. Tapi bagi Evelyn sendiri, keberangkatan Rayyan ke luar kota selalu memberikan kebebasan yang begitu ia rindukan. Di hadapan suaminya, Evelyn tetap berusaha tampil sempurna.
"Nanti mau aku bawain oleh-oleh apa?" tanya Rayyan, mencoba membuat suasana ringan. Meski ia harus meninggalkan Evelyn beberapa hari, Rayyan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya.
"Kamu pulang dengan selamat saja sudah cukup untukku, Sayang," jawab Evelyn lembut.
Rayyan menatap istrinya dengan penuh rasa cinta. "Kamu memang jodoh terbaik yang Tuhan berikan untukku," bisiknya.
Evelyn pun kemudian tersenyum tipis. "Alah gombal kamu, Mas."
"Enggak apa-apa kalau sama istri sendiri, halal," balas Rayyan seraya menggenggam tangan Evelyn.
Evelyn mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk dengan barang bawaan Rayyan. "Udah ah, ayo cepat siap-siap... aku nggak mau ya kalau Mami nanti marah dan mikir kalau aku yang nahan kamu," ujarnya sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.
Rayyan terkekeh. "Iya, ini aku pakai baju dulu," katanya sebelum menuju kamar untuk menyelesaikan persiapan terakhirnya.
Rayyan beranjak, meninggalkan Evelyn yang kini berdiri di depan pintu, menatap punggung suaminya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Ada sedikit rasa bersalah yang muncul dalam hatinya. Akan tetapi sekelibat wajah Andre tiba-tiba saja melintas. Sosok pria yang telah menjadi candu dalam hidupnya, segera menghapus perasaan itu. Ketika Rayyan akhirnya keluar dengan koper di tangan, Evelyn kembali berusaha menunjukkan senyum hangat.
Kini, Rayyan telah siap untuk pergi menjemput oma dan juga maminya. Sedangkan Evelyn, sudah tidak sabar karena ingin segera bebas dari belenggu yang mengikatnya walau hanya sesaat.
Evelyn mengantar suaminya hingga ke teras, membantunya memasukkan barang-barang pribadi yang sudah dia siapkan untuk suaminya selama bermalam di luar kota.
"Sudah semua, yakin udah nggak ada yang ketinggalan?" tanya Evelyn.
"Yang ketinggalan masih ada di sini," jawab Rayyan seraya mencium mesra kening Evelyn.
"Isssh, udah ah. Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai," ujar Evelyn.
Rayyan mengangguk. "Iya, jalan dulu, ya. Kamu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung kabari ya, Lyn," katanya sambil memandang istrinya dengan tatapan hangat. Tangannya ia letakkan di atas perut Evelyn.
"Bi Ijah, saya jalan dulu. Titip istri saya, ya."
Bi Ijah, pembantu keluarga mereka, hanya mengangguk pelan, menyembunyikan kegetiran dalam hatinya. Dia tak berani menjanjikan apa-apa, karena mungkin tidak lama kemudian Andre akan kembali datang untuk menyambangi majikannya. Meski ia tahu betapa sayangnya Rayyan pada Evelyn, rahasia kelam Evelyn tetap tak bisa diungkapkan. Sesaat setelah mobil yang dikemudikan Rayyan menghilang di ujung jalan, ketenangan rumah yang tadi terlihat pun seketika lenyap.
Tepat seperti apa yang Bi Ijah pikirkan, hanya selang beberapa menit setelah kepergian Rayyan, seseorang yang memang sudah ditunggu oleh Evelyn datang dengan senyuman licik di wajahnya. Ia menghampiri dan langsung memeluk Evelyn dengan begitu mesra dan tanpa tahu malu.
"Dia sudah pergi?" bisik Andre dengan mesra di telinga Evelyn. Sementara kedua matanya tampak menyapu seluruh tubuh Evelyn yang pagi itu masih mengenakan pakaian tipis.
Evelyn lantas mengangguk dan tersenyum kecil ke arahnya, memberikan isyarat agar pria itu masuk ke dalam.
"Bi, ngapain masih di situ?!" sentak Andre pada Bi Ijah yang menyaksikan pemandangan haram itu dengan ekspresi wajah ketakutan.
"Sa-saya permisi, Tuan, Nyonya." Bi Ijah pun berpamitan dan lantas meninggalkan mereka dengan hati yang berat.
Evelyn menggandeng tangan Andre dan segera masuk ke dalam rumah. Belum lama kamar yang baru saja ditinggalkan Rayyan kosong, Evelyn sudah membawa pria lain ke dalam sana untuk kembali memadu kasih.
"Sudah siap, Sayang? Hari ini aku tidak akan membiarkanmu istirahat," bisiknya Andre.
Evelyn merinding geli, setiap sentuhan pria itu bagai candu untuknya. "I am yours, Baby...."
Dengan cepat, Andre mengambil bibir mungil Evelyn, dia bahkan tidak memberikan Evelyn waktu untuk bernapas. Pagi itu, dua insan yang tengah dimabuk kepayang saling menyalurkan keinginan mereka satu sama lain tanpa peduli pada hati yang mereka lukai.
Di dalam rumah megah yang penuh keheningan, Evelyn dan pria itu semakin larut dalam godaan yang tak terbendung. Di luar kamar, Bi Ijah mencoba menyibukkan dirinya dengan pekerjaan rumah agar tak lagi mendengar bisikan, tawa, atau suara yang mengusik hatinya.
Bi Ijah terus merapikan peralatan dapur, berharap waktu berjalan lebih cepat, berharap tuan rumahnya segera kembali. Hanya rasa kasihan yang terlintas setiap kali ia memikirkan Rayyan, majikan yang selalu memperlakukannya dengan baik dan menghargainya layaknya keluarga sendiri. Dalam hati, Bi Ijah berdoa agar Rayyan bisa mengetahui kenyataan yang tersembunyi ini dan terbebas dari kebohongan yang dilakukan istrinya.
Saat mereka berdua baru saja selesai memadu kasih, tanpa diduga suara mobil terdengar mendekati rumah. Evelyn yang sedang bersama Andre terkejut. Panik langsung melanda, wajahnya memucat, dan ia dengan cepat menyuruh Andre untuk segera bersembunyi.
"Astaga, siapa yang datang? Bukankah tadi dia bilang akan pergi dua hari?!" gumam Evelyn panik, menatap ke arah jendela dengan gelisah.
Saat Evelyn dalam kepanikan, Andre justru tersenyum, seolah situasi mendebarkan ini hanya permainan baginya. "Tenang saja, Lyn. Mungkin hanya Bi Ijah atau kurir barang yang datang. Nggak usah terlalu cemas."
Namun, suara ketukan di pintu membuat Evelyn semakin cemas. "Evelyn, kamu di dalam?" terdengar suara Rayyan dari balik pintu. Seketika itu juga Evelyn merasa darahnya mendadak membeku.
“Rayyan, dia pulang lebih cepat!” gumamnya, mencoba menenangkan diri. Ia pun buru-buru melirik ke arah Andre dan mengisyaratkan agar dia segera sembunyi di bawah ranjang.
“Cepat, sembunyi! Aku akan buat alasan supaya dia nggak curiga,” bisik Evelyn tegas.
Andre memutar matanya, jelas merasa kesal namun tetap mengikuti perintah Evelyn. Dengan susah payah, ia menyelinap masuk ke dalam kolong ranjang tak cukup sempit tersebut. Sedang Evelyn segera membenarkan pakaian dan menata dirinya agar terlihat tenang.
"Ah!" Evelyn mendengus kesal saat baju sang pria masih berada di atas ranjang. Dengan cepat, ia pun melemparkan baju itu ke kolong hingga mengenai wajah sang pria.
Evelyn mengambil napas dalam-dalam, menyiapkan senyum terbaiknya, lalu membuka pintu. "Sayang, kenapa kamu pulang lebih cepat?" tanyanya, berusaha terdengar santai.
Rayyan mengerutkan dahi. "Ponselku ketinggalan, Lyn. Makanya aku langsung pulang untuk ambil. Nggak mungkin aku akan pergi jauh tanpa bisa menghubungimu. Iya 'kan?"
Sekali lagi Rayyan mencoba menajamkan pandangan matanya. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu terlihat agak pucat."
Evelyn tertawa kecil, menggoyangkan tangannya seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. "Ah, nggak kok, Sayang. Aku cuma sedikit kaget, nggak menyangka kamu akan pulang secepat ini."
Rayyan memeluk Evelyn, mencium puncak kepalanya dengan penuh sayang. "Maaf kalau aku membuatmu cemas."
Rayyan melepaskan pelukannya dan melangkah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas nakas. Evelyn mengikuti dari belakang, matanya sesekali melirik cemas ke arah kolong ranjang, memastikan pria yang tersembunyi di sana tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Setelah menemukan ponselnya di atas nakas, Rayyan berbalik, tersenyum pada istrinya. "Tuh 'kan, bener ketinggalan."
"Sudah, nggak ada lagi yang tertinggal, Mas?" tanya Evelyn, memastikan.
"Iya, sudah semua, Lyn," jawab Rayyan. Rayyan kembali mendekat, menggenggam tangan Evelyn sejenak. "Jaga diri baik-baik, ya."
Evelyn hanya tersenyum kecil, melambai ketika Rayyan keluar kamar menuju pintu depan. Sekarang Evelyn bisa bernapas lega, karena lelakinya masih tersembunyi tanpa harus diketahui.