"Lyn!"
Evelyn terjingkat kaget ketika tiba-tiba saja Rayyan membuka pintu kamar. Dengan cepat ia mematikan ponsel dan meletakkannya di samping bantal.
"Ma-Mas. Kukira kamu sudah berangkat," ucapnya sedikit terbata.
"Kamu nggak apa-apa 'kan kalau kutinggal? Aku akan segera kembali setelah semua pekerjaannya selesai," ucap Rayyan lembut.
"Bukankah aku memang sering kamu tinggal, Mas?" tanya Evelyn, yang sesungguhnya itu adalah curahan hatinya.
"Gimana kalau kamu ikut ke kantor aja, Lyn," tawar Rayyan padanya.
"Nggak apa-apa, berangkat aja. Nggak usah cemaskan aku."
"Ayolah, Sayang? Aku cuma sebentar, kok. Setelah selesai, kita nonton atau shopping, gimana?" rayu Rayyan lagi.
Evelyn diam dan berpikir sejenak. Sebenarnya dia sedang malas sekali untuk bepergian, apalagi dia sedang memikirkan banyak hal terutama tentang janin yang dikandungnya. Namun, berdiam diri di rumah membuatnya malah semakin jenuh, siapa tahu dengan sedikit berjalan-jalan akan memperbaiki mood-nya.
"Ya udah, deh. Aku ganti baju dulu." Akhirnya, dia pun menerima ajakan Rayyan.
Evelyn bergegas menuju kamarnya, berganti pakaian yang sedikit longgar dan memoles sedikit make-upnya agar terlihat lebih segar.
Rayyan begitu terpana melihat betapa cantik istrinya, meski tak memakai pakaian seksi seperti kebanyakan wanita di luar sana, menurutnya tak ada yang bisa menandingi aura kecantikan Evelyn.
--
Rayyan dengan cepat menyelesaikan pekerjaaannya, tak ingin jika sang istri harus menunggu terlalu lama nantinya. Sesuai janjinya, setelah pekerjaannya selesai, dia mengajak Evelyn pergi ke pusat perbelanjaan. Sebenarnya Evelyn sendiri tak berminat membeli sesuatu, toh semuanya sudah dia miliki di rumah.
"Mau Shopping dulu?" tanya Rayyan.
Evelyn menggeleng. "Nggak usah, deh. Aku lagi nggak pengen belanja, Mas."
"Terus kamu maunya apa? Kalau makan siang gimana?" Rayyan melihat arlojinya. "Masih terlalu pagi juga untuk makan siang," gumamnya.
"Jalan-jalan aja, yuk ... cuci mata," sahut Evelyn cepat.
"As your wish, Honey."
Evelyn ingin mengenang masa-masa di mana dia hanya bisa berjalan-jalan mengelilingi Mall ketika hidupnya susah, dengan itu saja sudah menghiburnya kala itu. Melihat aneka baju, tas dan sepatu yang selalu jadi impiannya terpajang cantik tanpa bisa disentuh, atau hanya menghabiskan waktu di samping restoran cepat saji demi merasakan aroma wanginya makanan yang tak pernah bisa dia nikmati.
Kehidupan masa lalu Evelyn terlalu suram, sampai rasanya dia takut jika harus kembali pada masa itu. Masa di mana ia selalu diselimuti rasa gelisah, menunggu giliran untuk dijual pada seorang mucikari. Bahkan dia merasa terus terselimuti ketakutan walau dalam mimpi sekalipun.
Semua saudarinya sudah berkecimpung dalam lingkaran setan itu, mengikuti langkah ibunya. Hanya Evelyn sendiri yang selamat, dan semua itu berkat Rayyan. Tidak bisa dia bayangkan jika Rayyan sampai tahu kebenarannya, bisa saja dia akan langsung diceraikan dan kembali hidup susah seperti dulu. Membayangkannya saja sudah membuat dia bergidik ngeri.
Meskipun Andre selalu bilang akan bertanggung jawabjika suatu saat nanti Rayyan membuangnya, tapi itu semua belum tentu benar, Evelyn masih ragu akan hal itu.
Saat mereka berjalan bersama, Evelyn tenggelam dalam pikirannya, berusaha menikmati kebersamaan ini meskipun ada beban berat yang terus menghantuinya. Dia tahu, keputusan yang diambilnya tak mungkin dibatalkan, tapi perasaan bersalah yang tak tertahankan terus menggigit hatinya. Setiap senyuman Rayyan, setiap tatapan penuh cinta darinya, hanya membuat Evelyn merasa semakin terjebak dalam kesalahan yang ia ciptakan sendiri.
"Lyn, kamu kelihatan murung," ucap Rayyan lembut, menghentikan langkah mereka dan menatap Evelyn dengan penuh perhatian. "Ada yang kamu pikirkan?"
Evelyn tersentak, berusaha menutupi kegelisahannya dengan senyum tipis. "Aku ... cuma sedikit lelah, mungkin butuh istirahat sebentar."
"Kalau begitu, kita cari tempat duduk, ya," balas Rayyan, menggenggam tangannya erat.
"Kita ke sana aja," ajak Rayyan seraya menarik tangan Evelyn.
Sebuah restoran sederhana menjadi tempat singgah pilihan Rayyan untuk mengisi perut yang mulai lapar, melepas sedikit penat sebelum nanti kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi Mall sesuai permintaan Evelyn.
"Lyn, kamu tahu, aku selalu ingin jadi suami yang terbaik untukmu. Apa pun yang terjadi, aku ingin kamu tahu kalau aku di sini untukmu," ujar Rayyan pelan, tapi serius.
Evelyn hanya bisa menundukkan wajah, tak berani menatap mata Rayyan yang penuh ketulusan. Ia tahu, pria di hadapannya itu adalah sosok yang tulus mencintainya. Pria yang telah memberinya hidup baru, sementara dirinya malah menjatuhkan diri dalam lingkaran dosa. Evelyn hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
"Evelyn ... apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Rayyan tiba-tiba.
Evelyn terhenyak, dadanya terasa sesak mendengar pertanyaan itu. Tatapan Rayyan seakan mampu menembus seluruh rahasianya.
Di tengah keheningan yang menekan, Evelyn mengambil napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya. "Mas, aku hanya ... aku ...."
"Masih mau jalan-jalan?" sambung Rayyan cepat.
"Nggak, aku hanya lelah," jawab Evelyn dengan mengembuskan napas panjang.
"Setelah makan siang, bagaimana kalau kita nonton? Aku lihat ada film terbaru tayang, siapa tahu seru."
“Iya.”
"Ya udah, makan saja dulu ... lapar."
Untuk sesaat Evelyn lupa dengan masalah yang sedang membelitnya. Bisa menghabiskan waktu bersama dengan suami memang selalu menjadi kegiatan favoritnya, tapi tentu saja tidak seperti dulu saat semua cinta dan perhatiannya hanya tertuju pada Rayyan.
Semuanya bermula saat dia mulai terhisap dalam lautan kesenangan liar. Mungkin benar kata orang, jika ibunya saja seorang p*****r, tidak menutup kemungkinan anak-anaknya memiliki tabiat yang sama—pikirnya.
Rayyan memang bisa memberikan seluruh cinta dan limpahan materi untuknya, tetapi Andre bisa memenuhi nafsu terpendamnya yang terkubur dalam-dalam. Rayyan yang tak pernah bisa memberikan kepuasan di atas ranjang. Bahkan tak pernah bisa lebih dari hitungan menit. Apa yang Evelyn rasakan? Tidak puas, iya tentu saja.
Bila boleh jujur, selama pernikahan mereka, Evelyn tidak pernah merasakan kepuasan pada suaminya. Bisa dibilang, itu alasan kuatnya sampai terjerumus kala itu. Evelyn tahu betul bahwa dirinya kotor, tapi dia pikir, apa salahnya mencari kebahagiaan demi dirinya yang sudah merasakan pahitnya hidup susah?
"Aku ke toilet sebentar ya, Lyn," pamit Rayyan.
"Oke, biar aku yang beli popcorn."
"Iya, Sayang."
Evelyn mengantre untuk membeli makanan kecil sebagai teman nonton nanti. Siang itu cukup ramai yang datang, tapi kebanyakannya sepasang muda-mudi yang menghabiskan waktu bersama.
Saat sedang mengantre, seseorang datang menghampirinya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Sayang."
Evelyn terkesiap, dia membalik tubuh, tak menyangka bisa bertemu dengannya saat ini. "Ka—kamu!" pekiknya.
"Meski kamu pakai baju seperti itu, tapi tetap saja cantik, Sayang," pujinya.
Evelyn mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi, mencari sosok Rayyan yang belum juga kembali. Dadanya berdebar kencang, ia takut jika tiba-tiba saja Rayyan datang dan memergoki jika dirinya sedang bersama dengan pria lain.
"Kenapa bingung? Mana Rayyan?" tanya Andre dengan senyum lebar di bibirnya.
"Bukan urusan kamu!" jawab Evelyn dingin.
"Wah ... ketus amat, sedih deh dengarnya. Aku beruntung sekali hari ini, bisa bertemu bidadari secantik kamu, Say— ."
"Stop it!" sentak Evelyn.
"Hei, jangan terlalu dingin padaku."
"Kamu sengaja ngikutin kami ya, Ndre?” tanya Evelyn seraya mengacungkan ujung jarinya. "Kenapa kamu senekat itu?"
Andre menggeleng pelan. "Hei, kamu tahu aku nggak sesenggang itu, Lyn."
"Lalu, kenapa kamu ada di sini?!" tanya Evelyn lagi.
"Aku nggak sengaja lihat kalian, jadi kuputuskan untuk melihat kecantikanmu dari dekat. Nggak boleh?" kekeh Andre.
"Astaga, cepat pergi! Jangan sampai Rayyan tahu kalau kamu ada di sini!" usir Evelyn mendorong tubuh Andre dengan cepat.
"Oke ... oke, love you," bisiknya.
"Cepat!"
"Balas dulu ... love you."
Evelyn semakin panik saat melihat Rayyan sedang berjalan menuju ke arahnya. "Love you too, cepat pergi!"
Andre pun kemudian pergi penuh dengan senyum kemenangan, meninggalkan Evelyn yang rasanya berdebar tak karuan karena takut jika Rayyan melihatnya tadi.
“Kenapa, Lyn?” tanya Rayyan yang tiba-tiba saja muncul. “Kamu nyari siapa?”
Evelyn merasa lega karena Rayyan tiba di waktu yang tepat, dia benar-benar takut tadi. “Tadi sepertinya aku melihat teman lama, Mas. Tapi sepertinya aku hanya salah lihat,” dustanya.
"Oh, ya sudah ayo masuk, pintu teaternya sudah dibuka," ajak Rayyan merangkul pundak istrinya.
"I-iya."
Evelyn segera menggandeng Rayyan pergi, menjauh dari tatapan seseorang yang masih saja mengawasi mereka dari kejauhan secara diam-diam.
"Kamu cantik, Lyn," gumam Andre dari kejauhan.