Bab 5 Pertanyaan Menjebak

1185 Words
“Kamu belum tidur Kak?” Mendengar suara mamanya, Shafia mematikan panggilannya dengan Radhi sepihak. “Mama ganggu kamu yah?” Shafia menggeleng pelan membenarkan duduknya. “Enggak kok ma, ada apa ma?” “Enggak papa mama cuma rindu sama anak mama, sekarang mama merasa kamu menghindari mama, mama ada salah apa sama, Kakak?” Hati Shafia mencelos mendengarnya. “Enggak kok ma, mama nggak salah apa-apa sama aku, aku cuma lagi sibuk aja, kerjaan numpuk terus makanya nggak sempat terima panggilan mama, mau nelpon lagi takut ganggu soalnya aku bisanya pegang ponsel cuma malam hari.” “Maafin aku ma,” ujar Shafia dalam hatinya. “Tapi mama sering mergoki kedua adik mu sedang telponan sama kamu tapi kalau mama yang hubungi kamu kok yah rasanya sesusah itu? Mama jadi mikir apa mama pernah buat hati kamu tersinggung, kalau semisal mama ada salah mama minta maaf yah.” Shafia tersedak ludahnya sendiri, lalu menunduk dalam. “Maafin Yaya yah, Ma,” cicit Shafia menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. “Mama mau peluk kakak.” Tangis Shafia pecah, tanpa menunggu lama Shafia berhamburan ke dalam pelukan mamanya. “kamu nggak salah apa-apa sama mama, kalaupun ada, mama selalu maafin anak mama.” “Aku jahat banget yah, Ma?” Bening menggeleng pelan, mencoba memahami kondisi putrinya. “Kamu nggak jahat sayang, udah yah anggap aja mama tidak pernah bertanya apapun sama kamu, mama cuma minta sama kamu untuk tetap hubungi mama sesibuk apapun kamu, mama khawatir sama kamu, tapi mama udah nggak bisa ikut campur banyak karena kamu sudah dwasa, mama sama papa sudah sepakat untuk membebaskan apapun pilihan kamu tapi kamu tetap berkewajiban menghubungi mama, bisa kan sayang?” Shafia mengangguk pelan dalam dekapan mamanya, bahkan kini tangis perempuan berusia 27 tahun itu makin kencang. “Kamu nangis kaya anak kecil tahu nggak? Lihat nih lengan baju mama sampai rembes gini.” “Itu nggak sengaja mah,” tukas Shafia mencoba tersenyum yang menular pada mamanya. “Sayang, kamu udah punya pacar yah? kenalin lah sama papa sama mama, jangan sembunyi-sembunyi kaya anak SMP mama sama papah berhak tahu kamu berhubungan dengan siapa.” Seketika Shafia cegukan mendegar pertanyaan tersebut, meski begitu ia menggeleng pelan. “Enggak pacar juga ma, dekat sih iya tapi yah udah dekat gitu aja.” “Yah sudah kalau gitu, pokoknya kalau udah jelas kamu wajib bawa dia ke rumah.” Shafia kembali bungkam. Apa yang harus ia katakan pada papa dan mamanya mengenai pacarnya yang ternyata suami orang? “Lain kali yah ma, tapi yang pasti aku bakalan cerita kalau semuanya udah jelas.” “Yah sudah kalau gitu kamu istirahat, ini sudah malam dan bilang sama pacar kamu itu, mama tunggu dia untuk datang secara jantan ke sini, enak aja anak gadis mama dipacarin diam-diam, ditelponin malam-malam tapi enggak berani datang ke rumah.” Shafia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya mama.” “Yah sudah kalau gitu lanjut telponannya, mama mau istirahat selamat malam, Sayang.” “Iya, Ma, selamat malam.” Shafia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya hingga tanpa sadar matanya terpejam. *** “kamu yakin nggak mau mama atau papa temani ke kuburan bunda kamu?” ulang Bening entah untuk keberapa kalinya menawarkan diri untuk menemani sang anak mengunjungi kuburan ibu kandungnya. Yah, mama Bening bukanlah ibu kandung Shafia, bundanya adalah istri kedua papanya yang sebelumnya sudah dipacari papanya sebelum menikahi mama Bening, perpisahan tidak terelakkan ketika mama Bening harus kehilangan anak pertamanya. Setelahnya dirinya hadir ke dunia ini bertepatan dengan bundanya pergi lebih dulu meninggalkan dirinya dan papa, hingga beberapa tahun kemudian mamanya menerima papa setelah perjuangan panjang yang dilakukan papanya. Mirisnya ia benar-benar mewarisi karakter bundanya, tak hanya wajah, tapi nasib sebagai orang ketiga, dan sejujrunya ia malu pada mamanya, ia sempat mikir apakah mamanya tidak marah padanya yang mewarisi wajah bundanya, perempuan yang sempat merebut papanya. “Iya ma, nggak papa aku sendiri aja, setelah ngantar Nadia ke rumah sakit aku langsung ke kuburan bunda, kalau sempat mampir ke kuburannya kak Ifa.” Kalau ada yang tidak tahu siapa itu Ifa, dia adalah anak kandung mamanya dan papanya. “Yah sudah kalau gitu, mama titip uang untuk penjaga makam yang biasa bersihin kuburan kakak sama bunda kamu.” Shafia menggeleng cepat. “Pakai uang aku aja ma, mumpung aku ziarah,” tolak Shafia menolak uang dari mamanya. “Kalau gitu aku pergi sekarang yah kasihan si Nadia udah nunggu di luar.” “Yah sudah kalau gitu hati-hati jangan kesorean pulangnya.” “Iya mamaku cantiknya yang enggak hilang-hilang.” Setelah mengecup pipi mamanya, Shafia berjalan ke luar rumah dan benar saja adiknya sudah duduk nyaman di dalam mobil sembari membaca buku. *** Shafia mengenakan selendang dan kaca mata hitam yang sudah Shafia siapkan sebelumnya. Senyum Shafia tertuju pada mang Ujang yang sedang merapikan beberapa makam lainnya sebelum akhirnya meneruskan langkahnya menuju kuburan bundanya. “Assalamualaikum Bun, maaf aku jarang banget ngunjungi bunda tapi aku selalu mendoakan bunda.” Shafia kehilangan kata-katanya, bibirnya terus bergetar namun tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. “Bun, apapun kejadiannya di masa dulu Yaya mau berterima kasih karena bunda masih mempertahankan Yaya. Yaya sadar sebagai anak tidak pantas marah pada masa lalu bunda.” Shafia menarik napas dalam sebelum mengeluarkan kembali dari mulut. “Entah bunda bisa melihat Yaya dari sana atau tidak, tapi yang pasti Yaya berdoa semoga tidak menjadi bunda dalam porsi berbeda, Yaya tahu rasanya menjadi anak yang ayahnya lebih mencintai perempuan lain.” Shafia tak mampu menahan emosinya dengan menangis di hadapan kuburan sang bunda, bahkan orang yang berlalu pun enggan menyapanya. “Yaya enggak malu mengakui bunda, tapi Yaya berharap karma buruk tidak menghampiri Yaya, maaf kalau Yaya sempat marah dengan bunda yang egois, tapi bagaimanapun bunda adalah orang tua kandung Yaya.” Setelah mengeluarkan uneg-unegnya, Shafia memilih berpamintan pada bundanya, dan langkahnya kini tertuju pada undakan berukuran mini, berisikan kakaknya. Shafia menyentuh kuburan yang sama bersihnya dengan kuburan bundanya, bukti keikhlasan mamanya, tidak membeda-bedakan anaknya dan bundanya. “Kak Ifa, aku datang, maaf yah kak aku jarang mengunjungi kakak.” Shafia terdiam sejenak, pikirannya kosong memandangi nama yang sangat cantik, namun tidak pernah ia lihat bagaimana rupa kakaknya. “Yaya jadi penasaran seandainya kaka hidup, kakak bakalan secantik apa, melihat bagaimana luar biasanya rupa Nadia, kakak pasti lebih cantik.” Ia selalu bertanya pada papanya dulu seperti apa rupanya kakaknya yang telah tiada, mana foto kakaknya. Dan semua itu hanya dibalas dengan raut sedih karena papanya pun tidak tahu wajah asli kakanya, karena sat itu hanya berupa bayi kecil yang berusia 7 bulan dan mirisnya ternyata itu semua ulah bundanya. Shafia benar-benar kecewa pada bundanya, hanya saja ia tak ingin berlama-lama dengan kekecewaannya. Papa dan mamanya saja bisa ikhlas lalu kenapa dirinya marah? “Seandainya kakak hidup mungkin aku tidak akan sebingung ini, aku bakalan punya teman diskusi.” Shafia tidak melanjutkan bicaranya hanya menatap pilu kuburan itu. Tak terasa hari semakin larut, Shafia beranjak dari kuburan kakaknya setelah menceritakan kisah pertemuannya dengan Radhi, hal yang hanya bisa ia Sharing pada kuburan kakaknya, satu-satunya keluarga yang tidak akan men-judge dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD