Fene melepas segala kepenatannya saat tiba di hotel Singapura. Fene akan melanjutkan pertemuannya nanti malam, saat jam makan malam.
Fene lebih memilih berjalan sendiri, tanpa ditemani ketiga sahabat prianya.
Rencana malam itu Adrian, Bram dan Kevin akan menemani Fene. Tapi setelah mereka melakukan tanda tangan kontrak, Bram mendapat panggilan agar segera terbang ke Shanghai, sangat terpaksa harus melepaskan Fene melakukan perjalanan sendiri.
Fene di jemput oleh Petter, tanpa sepengetahuan Fene, Petter telah memesankan satu kamar delux untuk Fene beristirahat. Sementara Petter memilih pulang ke apartemen karena ada acara makan siang bersama keluarganya.
Drrrrt...drrrrt...
'Bram' bisik Fene.
"Ya Bram." Jawab Fene ramah.
"Bagaimana perjalanannya Fen.?" Tanya Bram ramah. Rasa ingin taunya, tidak bisa dia sembunyikan.
"Aku baru nyampe, dan sedang istirahat. Gimana kamu.?" Basa basi Fene.
"Baik, kamu berapa hari.?" Lanjut Bram.
"Mungkin lusa aku lanjut ke Hongkong. Ada pertemuan disana." Ungkap Fene.
"Ok sweety. I miss you." Bisik Bram.
"Miss you too Bram. I love you." Fene tersenyum.
"Mmmmmuuuuuaaach.... take care sweety."
Bram sedikit lega, setidaknya Fene bisa menerima telfonnya.
Adrian.....
Adrian mendengar percakapan Bram dan Fene hanya tersenyum.
"Heeeeiii... Lo pikir Fene itu wanita lemah.?" Tawa Adrian.
Bram terdiam. Menatap mata Adrian.
"Bener kata Kevin, lo terlalu bucin." Tawanya.
"Gue kawatir... Bukan bucin." Bram berusaha ngeles kayak bajai glodok, hehehee...
"Gue lebih mengenal Fene, dia wanita yang tidak suka dikejar, atau dicurigai. Dia itu nggak manja. Jika lo terlalu gelisah mencecar setiap pergerakannya, gue yakin 1000% dia akan meninggalkan lo. Trust me." Adrian merangkul bahu Bram.
Bram mengerti sekarang. Gimana Fene. Karena Adrian lebih tau siapa Fene.
"Makanya saat pengalihan dan seluruh aset gue dijual, gue ikutin. Toh gue tau Fene, jika dia di lawan, dia akan lebih sadis dalam bertindak, bukan dengan kata-kata." Senyum Adrian serasa memberi ancaman mematikan di kepala Bram.
"Beneeer tuh Bram. Gue makanya santai ama dia. Fene tuh yah, susah buat di takhlukkan. Lo ajakin nikah ni sekarang, pasti lo dijauhin nya. Gue jamin." Lanjut Kevin.
Bram mengangguk, ntah mengerti atau tidak hanya dia yang tau. Karena Bram type pria posesif dan cemburuan, dan agak sulit mendengar nasehat jika tidak menjalani sendiri.
Mark...
Disela-sela kesibukannya, Mark yang lupa akan putri angkatnya, mencoba mencari informasi keberadaannya.
"Terakhir keberadaan Fene ada di Swiss beberapa bulan mister." Jawab salah satu pengawalnya.
Mark berfikir sejenak, mengingat apa yang dilakukan Fene di Swiss. 'Apa dia menemui Adriana.?' batin Mark.
"Hmmmm... Coba selidiki, apa yang dilakukan putriku di Swiss." Mark memberikan perintah pada pengawalnya.
"Baik mister."
Pengawal Mark segera mencari tau. Mark menutup pintu ruangannya segera menghubungi Adriana.
Adriana mengangkat panggilan Mark.
"Ya."
"Apa Fene menemui mu di Swiss.?" Tanya Mark lembut.
"Tidak, Fene sudah lama tidak menemui ku. Ada apa.?" Tanya Adriana sedikit penasaran.
"Hmmmmm... Beberapa bulan lalu Fene berada di Swiss, dan itu dalam waktu yang lama. Apa yang dia lakukan.?" Tanya Mark makin penasaran.
"Ntahlah Mark, aku rasa dia baik-baik saja, dan tidak mungkin melakukan hal yang tidak baik." Jawab Adriana.
"Baiklah, aku akan menghubungimu jika aku mendapatkan kabar terbaru tentang Fene." Mark menutup telfonnnya. Menarik nafas panjang. Berusaha tenang dan berfikir positif.
Tetapi ternyata ada telinga yang mendengar percakapan Mark barusan.
Edward...
Semenjak kesembuhan Adrian, Edward lebih banyak menghabiskan waktunya mengelilingi Jerman. Dia melakukan perjalanan, dengan Alberth. Sambil memantau pekerjaannya. Dia tidak ingin dipusingkan dengan perkara.
Edward sudah melakukan penggugatan cerai pada Adriana, diurus oleh pengacara kepercayaannya.
Edward tetap pada pendiriannya, untuk berpisah. Karena dia hanya ingin menghabiskan waktu mengajarkan putranya agar bisa menjadi penerus bisnisnya.
"Alberth, apa kabar Fene.?" Edward seketika mengingat putri kekasih Bram.
"Fene telah melakukan perubahan penuh tuan. Dia telah mengambil seluruh aset Garmennya dari Adrian. Menjual aset Adrian dan mengalihkan kepada perencanaan rumah sakit yang akan segera dia kerjakan." Jawab Alberth.
"Apaaaa.?? Rumah sakit.?" Kejut Edward.
"Ya tuan." Alberth hanya fokus menatap lurus kedepan untuk perjalanan mereka hari ini.
"Rumah sakit apa maksudmu.?" Tanya Edward penasaran.
"Nona fene, akan mendirikan rumah sakit tuan. Dia mendapatkan suport dari William Smith ayah Veni kekasih Adrian. Beberapa hari lalu juga, Tuan Adrian, Bram dan Kevin mengalihkan dana mereka ke rekening nona Fene, untuk project mereka tuan." Penjelasan Alberth sangat membuat Edward sedikit kaget.
"Ternyata Adrian benar, Fene bukan wanita lemah." Senyum Edward sambil menepuk pelan bahu Alberth.
Mereka hanya tertawa.
"Kirimkan dana kepada Fene segera, aku akan menanamkan uangku untuk project Fene." Edward memerintahkan Alberth, dan Alberth segera menjalankan perintah Edward.
Saat mereka tiba di hotel Alberth segera menghubungi Fene.
"Nona, siapkan kontrak untuk tuan Edward. Dia akan mengirimkan dananya padamu." Suara Alberth mengejutkan Fene yang sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa investor termasuk Petter.
"Baik mister, nanti saya akan menghubungi anda. Saat ini saya masih meeting." Jelas Fene sedikit terkejut.
"Saya menunggu." Alberth menutup panggilannya memberi tau pada Edward.
"Nona Fene akan menghubungi kita tuan."
Edward tersenyum. Melanjutkan pekerjaannya ditemani segelas expresso.
Setelah melakukan persentasi dengan beberapa investor, Fene teringat akan janjinya untuk segera menghubungi Edward.
Fene mengambil telfonnya, segera menghubungi Edward.
"Ya."
"Daddy, sory aku baru selesai dengan kegiatan ku. Tadi mister Alberth menghubungiku tentang kontrak. Maksudnya dad.?" Tanya Fene.
"Hmmmm... Kenapa kamu masih menutupi rencanamu pada ku Fen.? Kamu gadis yang nakal tapi sangat pintar, pantas Bram sangat suka padamu." Sindir Edward.
"Aaaah daddy... Aku hanya melakukan sesuatu, agar dapat membantu sesama." Ujar Fene.
"Woooow... Tinggi sekali jiwa sosialmu. Apakah saya tidak boleh menanamkan modal pada rencanamu.?"
"Of course... Jika memang daddy mau bekerja sama dengan ku."
Suara Fene terdengar indah di telinga Edward.
"Baiklah, kapan kamu akan menemui saya. Saya tidak mau menandatangani ini tanpa mendengar langsung persentasi keuntungan dari mu." Kali ini Edward agak iseng terhadap Fene.
"Hmmmm,,, besok aku akan ke Hongkong. Berarti aku tidak melanjutkan perjalanan ku ke Ausi. Aku langsung menemui daddy saja." Jelas Fene.
"Daddy dimana sekarang.?" Tanya Fene sambil menebak.
"Saya akan menunggumu di Frankfurt, karena saya ada sedikit urusan disana. Nanti atur waktunya dengan Alberth, karena beberapa saat lagi aku tidak mengaktifkan nomor ku." Jelas Edward.
"Baik dad. Aku akan memberi kabar pada mu."
"Oke... Gutten nagh." Edward menutup telfonnya.
Fene bernafas lega. Ternyata orang-orang terdekatnya sangat memperdulikannya.
Fene menghubungi Bram, memberi tau, bahwa besok dia akan ke Hongkong lanjut ke Franfurt. Dia membatalkan dengan beberapa investor di Australi. Karena merasa sudah sangat cukup.
Bram merasa senang, karena Fene sudah mulai memberi ruang untuk kembali bersama seperti dulu.
"Apa gue bilang..... Fene nggak usah dikejar... Dia hanya mau nyaman." Sindir Adrian.
"Ya... Gue tau, baru sadar." Tawanya senang setelah mendapat telfon dari Fene.
Fene sangat mencintai Bram, hanya saja karena permasalahan kemaren lebih menguras emosi dan perasaannya, lebih baik Fene menyendiri menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia pergi bukan menghindar, tapi dia tidak bersahabat dengan cuaca di Eropa yang sangat dingin.
Ditambah dia ingin menyelamatkan asetnya di Jakarta sebelum direbut oleh Mark suatu saat nanti.
Pesan Marisa yang selalu Fene ingat, 'selamatkan seluruh aset dari Mark termasuk apartemennya.'
Begitu menguras tenaga dan pikiran, untung pengacara terbaik Fene selalu membantu Fene untuk menyelesaikan semua, dari sengketa suatu hari nanti. Fene juga membayar mahal pengacaranya itu, untuk mengurus perubahan perusahaannya.
Petter berpisah dengan Fene saat di bandara Singapura.
Petter sangat senang dapat menghabiskan waktu bersama, membicarakan rencana pekerjaan mereka, dan Fene sempat meluangkan waktu untuk dinner bersama.
Ntah apa yang dirasakan Petter masa itu. "Mengagumi, tapi tidak untuk mencintai."
"Mungkin lusa aku akan ke Frankfurt Pet. Kalau kamu ada waktu, kita bisa bertemu disana." Jelas Fene.
Petter sangat senang, karena Fene sudah mau menerimanya sebagai teman.
"Baik... Akan ku atur jadwalku. Semoga kita bisa bertemu." Jawabnya.
Flashback Petter dan Adrian On...
Baru beberapa menit Adrian masuk kerumah sakit ternama di Berlin, Petter mendapatkan mandat langsung untuk menjadi dokter khusus mengobati Adrian.
Seketika Petter kaget karena kondisi Adrian yang koma karena tembakan dipunggungnya hampir mengenai jaringan syaraf ke jantung. Petter melakukan tindakan cepat, agar Adrian bisa di selamatkan.
Edward membayar mahal Petter. Saat Petter melihat data dan wajah Adrian, disitu Petter yakin bahwa Adrian adalah sahabat kecilnya bersama Fene.
Petter sempat bertanya dimana Papi Adrian kepada Edward. Edward memberi tau Papi Adrian telah tiada.
Petter juga mengambil sample darah Adrian, ternyata darah Adrian murni darah bule Eropa, bukan Chines.
Ada beberapa pertanyaan dikepala Petter, tapi Petter lebih memilih menyimpan semua data ini.
Setiap hari, Petter melakukan pemeriksaan terhadap Adrian. Hingga Adrian siuman, dan mereka sering bercerita masa-masa kecil indah mereka.
Petter juga pernah bertanya pada Adrian dimana Fene, Adrian hanya diam tanpa menjawab.
Saat bertemu dengan Fene, Petter dapat merasakan Fene sedang tidak baik-baik saja.
Adrian sempat bertanya 'apakah Fene pernah mengunjunginya selama dia koma.' Petter hanya menjawab, mungkin Fene mampir sebentar kemudian pergi tanpa sepengatuhan ku.
Petter adalah dokter yang baik dalam menangani pasiennya. Berberapa kali Petter mendapatkan penghargaan menjadi dokter terbaik. Dokter Petter Humberg sangat terkenal di Berlin. Selain dia berprestasi dalam kariernya, dia juga sangat tampan. Memiliki pesona yang sangat luar biasa. Kedua orang tuanya tinggal di Singapura.
Maka dari itu Petter lebih sering menghabiskan waktu mengunjungi Mami dan Daddynya.
Petter orang yang sangat bijak menggunakan ilmunya. Menjadi dosen di Berlin membantu beberapa mahasiswanya.
Petter jarang menghabiskan waktu bersama wanita. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya. Saat bertemu Fene, dia ingin dekat sambil ingin mencari tau, siapa kekasih Fene. Karena Adrian tidak pernah memberi tau pada Petter.
Bagi Petter, Fene adalah sahabat kecilnya yang sedang menjalani perubahan berdiri diatas kakinya, tanpa kedua orang tuanya.
Petter tidak mengenal Mark papinya Fene. Petter hanya mengenal Marisa dan Adriana Mami Fene dan Adrian.
Sampai saat ini yang menjadi pertanyaannya, 'Kenapa Adrian sampai tertembak.? Siapa pelakunya.? Apa masalahnya.?'
Pertanyaan ini yang terus ada dikepala Petter, tapi tidak tau pada siapa mau ditanyakan.
Fene dan Bram bertemu di Hongkong. Bram menunggu dibandara, membawa Fene menemui Adrian dan Kevin.
Ternyata Veni sudah bersama Adrian. Begitu juga dengan Nichole sudah hadir kembali dalam pelukan Kevin.
Fene dan Veni menemui beberapa investor selama disana. Ada sedikit penolakan, karena mereka merubah perencanaannya menjadi Rumah Sakit khusus warga Asing khusus Eropa yang menetap di Jakarta.
Tujuannya adalah memberi kenyamanan bagi mereka yang menetap di Jakarta.
"Kenapa kalian merubah perencanaan kalian.? Berarti saya tidak bisa berobat disana.?" Tanya salah satu investor.
"Bukan begitu mister, kami mengalami kendala jika kami mencampurnya." Jelas Fene.
"Boleh tau apa kendalanya.?"
Veni menjelaskan beberapa poin-poinnya. 'Kenapa mereka ingin memiliki rumah sakit sendiri, karena bagi warga asing yang menetap di indonesia mengalami kesulitan dari bahasa dan juga makanan.'
Itulah kenapa mereka mengubah sedikit perencanaannya.
Beberapa investor ada yang mengerti, ada juga yang membatalkan.
Tapi Fene tidak menyerah. Setelah 3 hari disana, Fene mendapatkan 2 investor terbaiknya. Ada kepuasan tersendiri baginya dalam menjalani semua perencanaannya.
Bram menghampiri Fene yang sedang sibuk mengerjakan beberapa kontrak kerjanya, yang akan diberikan besok pagi, sebelum keberangkatannya ke Frankfurt.
Memijit pelan kedua bahu Fene, mecium puncak kepala Fene.
"Apa kamu belum ngantuk.?" Fene mengambil tangan Bram yang bertengger di bahunya.
"Aku menunggumu. Ingin memelukmu." Bram berbisik lembut ditelinga Fene.
"Hmmmm.... Bram, kamu tidurlah, aku masih ingin menyelesaikan pekerjaan ku." Fene menatap Bram sangat teduh.
Tanpa peduli dengan pekerjaan Fene, Bram menggendong tubuh Fene tanpa menghiraukan teriakan manja Fene yang meminta agar tubuhnya diturunkan. "Aaaaagh Bram, turunkan aku." Tawanya.
Bram merebahkan tubuh Fene keranjang hotel.
Sambil mengusap lebut kepala Fene mencium dalam keningnya.
"Bram..." Suara dan tatapan mata Fene sangat teduh, menatap Bram penuh perasaan rindu yang telah lama dia inginkan.
Bram mencium lembut bibir Fene, Fene menikmati ciuman Bram, decapan kecupan bibir mereka terdengar jelas ditiap sisi ruangan, membuat gairah kedua insan mulai bergelora.
Perlahan Bram membuka baju Fene, menyentuh perlahan kedua gunung kembar Fene, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana.
Desahan Fene makin terdengar sangat sexi ditelinga Bram. Tubuh Bram yang kekar, dengan bulu remang-remang didada Bram membuat Fene makin bergairah.
Perlahan jari Bram mengunjungi bagian intim Fene yang sejak tadi terasa basah. Bram memainkan sesuatu disana. Fene makin menjerit kecil, memutar kepalanya kekiri dan kekanan menyebut pelan nama Bram.
Bram berulangkali menciumi bibir dan payudara Fene.
"Aku sangat mencintaimu Fen." Bram menjelajahi tubuh Fene, Fene merasakan geli tapi nikmat. Desahan Fene makin terdengar. "Aaaaaagh Bram."
Bram sudah dengan mantap akan membawa Fene menjelajahi keindahan dunianya bersama, dengan perlahan pusaka Bram yang tegap besar menantang, telah berada di liang Fene.
"Apa kamu siap sweety." Bram lembali menciumi payudara Fene.
Fene hanya mengangguk perlahan, sambil menggigit bibir bawahnya.
Saat pusaka Bram melesat kedalam suara desahan Fene terdengar sangat merindukan Bram... "I love you." Bram terus membisikkan kalimat itu ketelinga Fene.
"Aaaaaagh.... Aaaaagh Bram..." Desahan Fene makin menggairahkan Bram membuat pinggul Bram menekankan lebih dalam lagi.
"Sweet banget seeeh fen.." Bram terus dengan sangat liaar membuat Fene merasakan klimaksnya.
"Bram... Uuuugh.... Aaaagh.... Bram...." Fene meremas erat punggung Bram yang masih berada diatasnya.
Bram terus meningkatkan ritme permainannya, hingga menyiramkan kenikmatan luar biasa didalam rahim Fene.
Nafas Bram dan Fene memburu, penuh kepuasan antara mereka berdua malam itu.
Perlahan Bram beralih kesamping tubuh Fene yang masih basah karena peluh. Bram mengusap sambil mencium kening fene, sesekali mencuri kecupan dibibir mungil itu. Membuat senyuman Fene terasa sangat menyejukkan Bram.
"I love you Fen." Kecup Bram.
"I love you too Bram." Sambut Fene lembut.
"You great Bram." Senyum Fene sambil menatap wajah Bram.
"Kita akan segera menikah." Bram mencium lagi kening Fene.
Fene hanya mengangguk memeluk erat tubuh Bram, hingga terlelap. Membawa Bram pun masuk ke dunia mimpi mereka berdua.
"Braaaaam..." Suara gedoran Kevin terdengar sangat khas pagi itu.
"1.... 2.... 3.... Gue dobrak ni pintu." Tawa Kevin.
Fene yang mendengar candaan Kevin terkekeh makin menciumi sesekali menggesekkan bagian intimnya keatas Bram.
Bram tidak membuang waktunya lagi seperti dulu, baginya Fene adalah cintanya yang akan dia perjuangkan.
Berkali-kali mereka bercinta tanpa memperdulikan acaman dan godaan Adrian. Baginya Bram adalah sahabat, kekasih dan temannya.
"Makasih yah, aku sangat mencintaimu." Fene memeluk dan mencium punggung Bram berkali-kali.
Bram menggendong tubuh Fene, kekamar mandi untuk segera membersihkan tubuh mereka, sebelum bom dilempar Kevin untuk mereka berdua.
Tawa mereka sangat sumringah saat keluar kamar, membuat Kevin dan Adrian merasa tak berarti bagi mereka.
"Guys.... Gue akan memberi pengumuman." Bram serius menatap Fene.
Mata Adrian dan Veni saling tatap, begitu juga Kevin dan Nichole.
"Bram...." Fene hanya menahan Bram agar tidak melakukannya sekarang.
"Gue akan menikahi Fene di Swiss." Bram merasa dia pemenangnya, dan memeluk Fene yang sejak tadi tersipu malu.
Adrian hanya menatap Bram dan Fene.
"Wooooow.... Realy." Kevin berdiri ditengah-tengah Bram dan Fene.
"Ya... Gue akan menikah." Senyum Bram.
Semua bertepuk tangan memberi selamat pada Fene dan Bram.
Adrian memeluk erat Fene. "Ini berita baik, aku sangat menyayangimu fen."
Fene membalas pelukan Adrian.
Begitu juga Veni, "Semoga gue nyusul." Sambil melirik kearah Adrian.
"Sory, apa kalian akan mengundang media.?" Tanya Kevin.
"Why not." Ucap Fene.
"Amaziiing..." Ucap Nichole.
"Ini akan menjadi berita teratas ngalahin artis papan atas." Sambung Kevin.
"Luar biasa." Seraya bertepuk tangan.
"Putra Edward Lincoln akan segera menikahi Putri Mark Claire Zurk."
"Apakah kedua mafia ini akan berbaikan.?"
"Edward akan melakukan pertemuan keluarga dengan Mark."
Media membuat berita pernikahan
Fene dan Bram.
Sahabat Fene dan Bram hanya tertawa saat kabar itu tersebar ke seluruh penjuru Eropa, dan Amerika.
Tobe continue...