Setelah kabar pernikahan Fene dan Bram terbuka di media pagi ini di Hongkong, dengan cepat berita itu membuka mata media di Eropa. Foto-foto Fene dan Bram seketika muncul diseluruh media eletronik dan tv.
"Ulah lo ni Vin, jadi aja gue ketemu daddy ngumpet-ngumpet gini." Kesel Fene.
"Udah sayang, jangan omelin dia lagi." Bela Bram pada Kevin.
"Kita ke Frankfurt menggunakan Jet pribadi daddy." Sambung Adrian.
"Lihat tuh dibawah, media sudah menunggu." Sahut Nichole.
"Gue nggak pernah ngebayangin ini yah Vin." Geram Fene sambil tersenyum.
"Udah lama kita nggak masuk tv Fen." Sambung Kevin.
Semenjak pertikaian keluarga mereka dulu, mereka sudah lama jauh dari kamera. Terakhir beberapa tahun lalu, pada saat Mr.Chiang Lim Papi Adrian meninggal. Setelah pemakaman Papi Adrian media seperti sengaja dibungkam.
Dua keluarga ini yang selalu ditunggu-tunggu wartawan, akan menikahkan anak tunggal mereka. "DUA PEWARIS TAHTA EROPA" Sesuatu yang indah bukan.??? Begitu kejam dunia media memberitakan mereka. Hehehee..
Ditengah-tengah hiruk pikuk berita pagi ini, Mark yang sedang mengurus pekerjaannya, mendengar dari pengawalnya bahwa Bram Lincoln akan menikahi Fene Claire Zurk.
"What... You kidding me.?" Tanya Mark geram.
"Nona Fene berada di Hongkong bersama tuan muda Bram tuan."
"Apa...??? Hongkong.?"
Mark memastikan pada kerabatnya di Hongkong, tentang keberadaan putrinya disana.
"Maaf tuan, mereka sudah meninggalkan bandara lima menit lalu." Jelas kerabat Mark.
Mark membanting telfonnya. Memerintahkan agar bawa Fene di hadapannya, atau dia akan menunggu Fene di Jakarta.
"Ini tidak bisa dibiarkan, ternyata Edward memperdaya putri ku." Geram Mark.
"Marisaaaaaa.... Marisaaaaa...."
Teriak Mark.
"Ada apa.?" Jawab Marisa dingin.
"Apa kau mengetahui tentang Fene dan Bram.?" Suara Mark bergetar.
"Aku tidak tau apa-apa." Jawab Marisa datar.
"Aaaaaagh...." Mark melempar barang yang ada dinakas kamarnya.
"Apa yang akan ku katakan pada Hanz dan Irene, Marisa.? Berita ini sudah menyebar." Erang Mark.
"Aku tidak mau ikut campur. Aku hanya ingin putriku bahagia di tangan pria yang baik." Jawab Marisa ketus.
"Apa maksudmu.? Apa kau tidak takut jika mereka menikah.?" Mark mencoba menyadarkan Marisa.
"Aku hanya ingin putriku bahagia Mark." Tegas Marisa.
"Kau tau, ini akan menurunkan kepercayaan mereka pada ku. Saham ku akan menurun dan..... Aaaaaagh." Geram Mark.
"Aku akan mengambil aset Fene di Jakarta jika dia benar akan menikahi Bram Lincoln." Tambahnya.
"Terserah..." Marisa pergi meninggalkan Mark yang masih emosi mendengar pernikahan putrinya.
Drrrrtt....drrrttt.....
'Hanz.'
"Ya Hanz."
"Apa kau ingin miskin mendadak Mark.?" Ancaman Hanz membuat jantung Mark berhenti seketika.
"Aku baru mendengar kabar ini Hanz. Aku tidak tau semua terjadi seperti ini." Suara Mark memohon.
"Sesuai perjanjian kita Mark, aku tidak pernah mengharapkan ini akan terjadi. Aku mohon batalkan pernikahan mereka." Bentak Hanz.
"Ya." Menutup telfonnya.
Mark merasa frustasi. Tidak menyangka putrinya akan melakukan hal segila ini.
'Aku akan mengatakan yang sebenarnya.' bisik Mark.
"Apa yang akan kamu rencanakan Mark.?" Mark kaget mendengar suara Marisa ada dibelakangnya.
"Aku mohon, tolong temui Fene, bawa dia kepada ku Marisa. Aku mohon." Mark menggenggam kedua tangan Marisa.
"Aku tidak ikut campur akan urusan mu Mark." Tunduk Marisa.
Mark menangis dihadapan Marisa. "Help me please darling." Mohon Mark.
Marisa tertawa, mendengar permohonan Mark.
"Memohonlah kepada Adriana, jangan pada ku Mark." Marisa meninggalkan Mark, tanpa merasa kasihan sedikitpun.
Kedatangan Fene di Frankfurt...
Seluruh media menghampiri mereka. Kevin yang lebih menebar pesona, dihadapan media.
"Rasa artis gue..." Tawanya.
Fene dan Bram memilih bungkam dari media untuk menjaga reputasi keluarga masing-masing, karena mereka bukan berasal dari kalangan artis atau pejabat publik. Mereka adalah pengusaha yang tertutup dari seluruh media.
Semua mata tertuju pada Edward Lincoln, mencari tau keberadaan Edward.
"Alberth... Jangan ada yang tau saya disini." Tegas Edward sambil tersenyum puas.
Ini akan menjadi gebrakan yang sangat luar biasa untuk Mark.
"Siap tuan. Nona Fene dan Bram sudah menuju kesini. Apa akan ada rapat besar tuan.?" Tanya Alberth.
"Ya, aku mengundang beberapa investor ku, untuk menanamkan modal pada Fene, dan aku akan mengundang personal media untuk wawancara pernikahan Bram dan Fene. Aku telah memikirkan semua ini." Jelas Edward.
Tiiiing... Lift terbuka.
Edward menyambut anak-anaknya.
"Haloooo... Wie gets.?" Edward menyambut dengan perasaan bahagia.
"Good dad." Bram memeluk erat Edward.
"Adrian, Kevin, Veni, Nichole, besok kita akan jumpa pers media personal. Bram dan Fene akan muncul di akhir wawancara."
"Wooooow.... Gue akan terkenal." Sahut Kevin dengan rona wajah bahagia.
"Lo... yang mau nikah Bram, kita yang repot." Jawab Adrian ngeloyor kepala Bram.
"Gue nggak nyangka jadi begini." Jawab Bram.
"Bravo Kevin." Tawa Edward.
"Fen... Beberapa investor saya akan hadir sebentar lagi. Kita akan meeting. Saya tunggu kamu." Tegas Edward menarik nafas dalam.
"Oke dad..." Senyum Fene.
Berlalu kekamarnya. Disusul Bram.
Adrian dan Kevin lebih menghabiskan waktu mengelilingi Frankfurt.
Veni dan Nichole lebih fokus membantu Fene mempersiapkan bahan untuk meeting beberapa saat lagi.
Drrrrt....drrrrt... Hp Fene berbunyi.
'Mami' bisiknya.
Fene sedikit menjauh.
"Ya Mi."
"Sweety, apakah benar berita kamu akan menikah dengan Bram Lincoln.?" Tanya Marisa seraya berbisik.
"Ya."
"Papimu akan segera menemuimu, hati-hati." Marisa menutup telfon.
Fene tertegun. Membayangkan sesuatu akan terjadi.
"Aaaaagh... Ini yang ku harapkan." Senyumnya.
Fene berlalu keruang meeting Edward, ditemani Bram.
Beberapa teman Edward, duduk melihat kehadiran Fene dan Bram.
Veni dan Nichole duduk di kedua sisi Edward.
Om Thomas, Teddy, dan Katty ada dihadapan Fene.
Fene manarik nafas dalam. Memulai persentasinya dengan sangat memukau hingga akhir.
Begitu banyak keuntungan yang ditawarkan Fene untuk mereka.
"Sangat menjanjikan." Bisik salah satu sahabat Edward.
Fene juga menjelaskan dokter-dokter yang akan membantu dalam project ini.
Setelah Fene menjelaskan, dan Fene menutup persentasinya, Edward mengumumkan pernikahan Bram dan Fene akan diadakan beberapa hari lagi di Frankfurt.
Kedua bola mata Fene dan Bram saling bertatapan.
Semua sahabat Edward saling bertepuk tangan, dan memberi selamat pada Edward.
"Tapi Edward, bukan kah Fene ini anak dari Mark Claire Zurk.?" Tanya Thomas. "Apakah Mark akan bertemu dengan mu.?" Tawanya lagi.
Edward hanya tersenyum menatap Thomas. "Bram dan Fene saling mencintai, tidak ada campur tangan saya ataupun Mark disini."
Jelasnya. "Saya hanya mendukung menantu dan anak saya, untuk terus memegang komitmen mereka." Tambah Edward.
Fene tersenyum sesekali menatap mata Bram penuh cinta.
Teddy meminta kontrak kerja segera ditanda tangani, karena dia akan melanjutkan perjalanannya ke Singapura.
Fene melihat nama belakang Teddy, Teddy Humberg. "Apakah Om, Papi dari Petter Humberg.?" Tanya Fene.
"Ya, kamu mengenal putraku.?" Senyum Teddy bangga.
"Petter juga akan menjadi partner kami om." Jelas Fene.
"Waaaaaah... Realy... Petter akan menjemputku, tadi dia masih dalam perjalanan, karena dia ingin menemui temannya." Cerita Teddy panjang lebar.
"Oooogh ya,?" Fene tertawa sangat hangat dan anggun.
"Edward, ternyata menantumu sedikit menarik perhatian putraku." Tawa Teddy.
Edward hanya tertawa, sambil mengangkat alisnya melirik ke arah Bram yang berada di samping Fene.
"Aku hanya bercanda, tapi beberapa kali putraku ingin mengenalkan temannya pada ku. Anaknya Mark." Lanjut Teddy.
Edward menepuk lengan teddy, "anak muda, mereka punya cara sendiri." Tawa Edward.
Ternyata Adrian membawa Petter masuk ke ruang meeting menemui Fene.
"Haaaaiii... Kami membicarakan mu." Ucap Fene seraya menyambut Petter dengan pelukan.
Bram mendekati Petter, "Bram." Sambut Bram mengulurkan tangan sambil memeluk Petter.
"Ooooh... Kamu beruntung sekali mendapatkan gadis seperti Fene. Aku pikir Fene akan menikahi Adrian." Tawanya.
Fene hanya tertawa mendengar gurauan Petter, "karena setau saya, Fene tidak pernah punya kekasih." Lanjutnya.
Adrian merangkul Petter, "cantik-cantik jomblo yah Pet." Gelak Adrian.
"Tapi dari kalian semua, aku lebih dulu menikah." Hahahahhaa....
"Karena aku sangat mencintai mu." Sambut Bram.
"Uuuuugh so sweet..." Petter dan Adrian terkekeh geli.
Tawa mereka makin hangat. Senda gurau masa dulu masih terasa sampai saat ini.
Setelah sign kontrak mereka semua berpisah.
Hanya Kevin dan Nichole yang tidak terlihat.
"Lo dimana.?" Tanya Adrian melalui telfon.
"Aaaaagh Vin." Suara desahan Nichole terdengar.
Adrian menutup telfonnya, beranjak keluar.
"Mister dimana kamar Kevin.?" Geram Adrian.
"Heeeeiii..." Veni mengejar Adrian, "Kenapa kamu marah.? Biarlah, Kevin selalu sendiri, saat ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama Nichole kekasihnya." Pujuk Veni.
Alberth hanya tersenyum, mendengar penuturan Veni.
"Hmmm... Kamu tu yah, sangat pengertian sekali." Adrian mengecup kepala Veni.
Diruangan yang hangat Fene tiba-tiba merasakan sesak. Tiba-tiba wajahnya membiru. Cuaca masih belum bersahabat.
Bram mendekati Fene. "You oke sweety." Peluk Bram.
Edward melihat wajah Fene dari kejauhan mendekati Bram.
"Kenapa dengan Fene.?" Tanya Edward.
"Bram permisi dad, Fene sedang kelelahan."
BRUUUK....
Fene tumbang seketika, disambut dengan kedua tangan Bram, Bram mengangkat tubuh Fene kekamar. Disusul oleh Petter.
"Ada apa dengan Fene Bram.?" Tanya Petter.
"Fene tidak bisa cuaca dingin. Dia kena hypotermia." Jelas Adrian yang juga menyusul ke kamar.
Petter berlari menuju mobilnya, mangambil perlengkapannya, kemudian segera memeriksa Fene.
Tidak lama, Petter keluar dari kamar, "Fene hanya kelelahan. Coba hangatkan saja Bram, dia baik-baik saja." Jelas Petter pada Bram.
Bram masuk kekamar, mengusap lembut punggung Fene.
Fene mengerang, "eeeeegh..."
"Sweety, kita akan segera ke Jakarta. Bertahanlah." Kecup Bram lembut.
Bram menutup tubuh Fene hingga kepalanya. Mengecup berkali-kali wajah mulusnya.
Adrian dan Veni masuk kekamar untuk melihat kondisi Fene.
"Gimana Fene Bram.?" Tanya Veni.
"Hmmm... Udah mendingan sepertinya." Bram membiarkan Veni memeluk Fene.
Sementara Bram dan Adrian keluar kamar, berkumpul dengan Edward.
"Gimana keadaan Fene Bram.?" Tanya Edward.
"Udah mendingan Dad, sekarang lagi ditemani Veni." Jelasnya.
"Biarlah dia istirahat, semoga besok lebih baik." Edward berlalu, melihat kondisi Fene kemudian menuju kamarnya.
"Keviiiin... Gue bom lo yah." Teriak Bram.
"Dia sering ngerjain kita kalau lagi diatas." Kekeh Adrian.
Sebelum masuk kekamarnya Edward mengetuk pintu kamar Kevin, dengan suara baritonya. "Vin, 1.....2....3..." Gertak Edward bercanda.
"Iya dad... I'm coming..." Berlari sambil membuka pintu.
Edward tertawa melihat Kevin. "Kunci kamarmu, daripada esok kamu sudah berada di parkiran." Gelak Edward.
"Daddy..." Teriak Kevin.
Adrian dan Bram tertawa terbahak-bahak melihat perlakuan Edward.
Petter dan Teddy menghampiri Bram, "Saya akan pulang besok, saya menunggu kabar dari Fene. Salam untuknya. Selamat yah Bram." Ujar Teddy.
Thomas juga berlalu setelah menyerahkan beberapa kontrak kepada Alberth dan Adrian.
"Terimakasih Om." Senyum Bram sumringah.
Petter memeluk Bram dan Adrian. "Nice to meet you." Peluk Petter.
Petter, Teddy, dan Thomas berlalu.
Katty memilih menyusul Edward kekamarnya untuk meminum wine bersama.
Meninggalkan Adrian dan Bram saling bertatapan. 'Mesum'
"Apa kau menginginkan ku Bram.?" Goda Adrian sambil mengarahkan bibir monyongnya.
Bram menyambut bibir Adrian menggunakan tapak tangannya.
"Gue normal dri..." Bram berlari menuju kamar Fene.
"Gue sendrian... Ogah... Kejarnya."
Adrian, Bram dan Veni tidur bersama malam itu, menemani Fene.
"Ich hoffe morgen wird es besser"
"Semoga besok lebih baik lagi."
Media...
Edward sudah mempersiapkan satu media untuk mewawancarai pernikahan Bram dan Fene.
Semua dilakukan Edward untuk menegaskan, bahwa anak-anaknya berhak bahagia atas pilihan mereka.
Kevin yang sangat antusias, berdandan sangat ekslusif. Kevin Stuard yang memiliki wajah tampan, mata biru, sangat yakin akan penampilannya hari ini.
"Acara langsungkan dad.?" Tanya Kevin.
"Ya..."
Kevin yang pedenya melebihi artis papan atas, sangat percaya diri memberikan penjelasan pada wartawan tentang pernikahan Bram dan Fene. Menceritakan pertemuan mereka, mengenalkan para sahabat, dan pekerjaan Fene di Jakarta. 'artis sehari.' batin Adrian sambil tersenyum.
Kevin juga menjelaskan, bagaimana Bram dan Fene menikmati hari-hari mereka yang sangat kompak. Kehangatan mereka dalam berkerja, dan berlibur bersama. Penuh tawa canda romansa anak muda.
Setelah panjang lebar Kevin berbicara, Bram dan Fene muncul. Mereka memberikan penjelasan tentang kebahagiaan mereka.
"Tuan Bram, kapan rencana pernikahannya.?" Tanya wartawan ingin tau.
"Hmmm... Beberapa hari lagi." Jawab Bram sesekali melihat Fene sambil menggenggam erat jemarinya.
"Apakah pernikahannya dilaksanakan dengan mewah.?"
"Tidak, pernikahan kami secara tertutup dan dihadiri beberapa tamu saja." Jelasnya.
"Apakah Mark akan datang.?"
Fene menjawab, "no." Sambil tersenyum.
Adrian membawa Bram dan Fene meninggalkan ruangan wawancara.
Beberapa kali wartawan melontarkan pertanyaan tentang Mark, tapi Fene memilih meninggalkan wartawan.
Terakhir wartawan mewawancarai Edward.
Edward menjelaskan semua tentang pilihan Bram dan Fene.
Tampak wajah Edward di selimuti rona bahagia.
Edward mempersilahkan pada wartawan untuk menyebarkan beritanya.
'I'm the winner Mark' Edward membatin.
Tibalah saatnya semua media meliput ulang berita Edward dan anak-anaknya. Kemarahan Mark semakin memuncak, membuat Adriana berfikir tentang kelicikan Edward pada keluarganya.
Media mulai mengorek keabsahan Fene Claire Zurk dan Adrian Moreno Lim.
Apakah mereka benar-benar anak kandung dari pasangan mereka.? Karena berita simpang siur. 'tak ada asap jika tak ada api'.
Media menemukan bukti bahwa Fene telah mengganti namanya, tanpa nama keluarga di Swiss.
Mark murka seketika. "Kenapa berita ini cepat beredar.?" Emosi Mark.
Saham Edward mulai meningkat, dengan bergabungnya beberapa musuh dalam selimut Mark ke Edward.
Anak-anak sangat senang. Fene tampak sumringah telah menggoyangkan Mark.
Adriana mulai mencari tau kenapa alasannya, Fene mengganti namanya secara hukum. Adriana yakin, ini adalah kelicikan Edward.
Adriana mencoba menghubungi Edward agar bisa bertemu, tapi sia-sia, Edward lebih memilih menghabiskan waktunya di Jerman.
Media juga membuka perceraian Edward dan Adriana, membuat mata tertuju pada Edward dan Adriana.
Mark mendengar kabar itu, hanya tersenyum sinis. 'akhirnya bercerai juga mereka' bisiknya sambil tertawa.
Banyak kabar dari media yang membuka tabir siapa Mark Claire Zurk. Dari penembakan Chiang Lim beberapa tahun lalu, perselingkuhannya dengan Adriana, hingga perubahan nama Fene tanpa menggunakan nama keluarganya.
Hanz Parker akan segera menenggelamkan Mark, jika dia membuka status Fene.
Mark tertekan, depresi, merasa kesempatan yang di beri padanya tidak berarti apa-apa.
Mark mengatur strategi untuk membatalan pernikahan Fene dan Bram yang akan berlangsung dalam hitungan hari.
"Aaaaaagh... Aku tidak dapat menemukan dimana pernikahan itu diselenggarakan." Sesalnya sambil mengusap wajah dengan kedua tapak tangannya.
"Daamn." Geram Mark.
Media juga tidak membuka dimana pernikahan Bram dan Fene diselenggarakan. Ini semua atas permintaan Edward. Hanya foto-foto mereka saat dihotel, villa, dan apartemen. Tapi tidak memberi informasi keberadaan sesungguhnya.
Tobe continue...