Holiday in Swedia

1704 Words
Bram, Fene, Adrian, Jasmine, Kevin dan Nichole melanjutkan perjalanan mereka menuju Swedia menggunakan pesawat pribadi Edward. Edward sangat tenang, karena anak-anaknya telah memiliki pasangan hidup sesuai pilihan mereka. 'Home sweet home.' adalah motto anak asuh Edward. Awalnya Edward berfikir Adrian memiliki sifat buruk seperti Mark. Ternyata, Edward salah. Adrian sangat berbeda dari yang lainnya. Jika sudah mencintai satu ya... satu. Tidak pernah berubah. Adrian sangat membenci penghianatan, sama seperti Chiang Lim. Jika mengenang sahabat baiknya, Edward akan terus menghabiskan waktu memutar video kebersamaan mereka didalam kamar bersama Katty. Wanita yang selalu menemaninya setelah berpisah dengan Adriana. "Hmmmm.... Apa kamu masih ingin bersama anak asuhmu honey.?" Katty berusaha memahami Edward yang terlihat murung setelah kepergian anak asuhnya. "Ya, aku merindukan mereka. Aku akan meminta Adrian menemani hari-hariku nanti." Sedihnya. "Honey, mereka sudah punya kehidupan, biarlah mereka menikmatinya. Aku akan selalu menemanimu." Rayu Katty. "Setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka, kita akan segera menyusul mereka ke LA." Jelas Edward. "Baik, aku akan menemanimu bertemu ibumu." "Termakasih sayang, kamu sangat baik padaku." Edward mencium punggung tangan Katty. Katty adalah secretaris Edward saat masih bersama Istri pertamanya dulu, dia wanita yang baik cerdas dan sangat setia. Semenjak Mami Bram meninggal dunia, Edward memutuskan menikahi Adriana, Edward masih menggunakan jasa Katty mengurus segala keperluannya. Tapi setelah penghianatan yang dilakukan Adriana, Edward lebih memilih menghabiskan waktu bersama Katty, karena Katty sangat memahami Edward. Ternyata apa yang dialami Edward, dialami oleh Adrian. Putra sambungnya. Tentu dengan satu alasan. 'Jika orang terdekatmu memberi kenyamanan, kenapa mesti mengenal orang baru.' Veni flasback... Setelah berpisah dari Adrian, Veni lebih memilih menghabiskan waktu mengurus pekerjaannya. Sesekali mengunjungi Marsel. Saat pernikahan Bram dan Fene, Veni tidak menggoda Petter, melainkan bertanya tentang Marsel. Petter adalah salah satu nasabah terbaik Marsel. Tapi Adrian berfikir bahwa Veni mencintai Petter. Pertemuan Marsel dan Veni, beberapa waktu lalu Marsel mengunjungi restorantnya di Jakarta. Saat itu Veni sedang menjalin hubungan bersama Adrian. Sebenarnya saat Adrian menyatakan putus, Veni memang ingin mengakhirinya, tapi Veni justru mencoba memperbaiki hubungannya, karena Bram tak yakin dengan keputusan Adrian. Jujur, Veni sakit hati mendengar Adrian dan Fene, Kevin terus meminta maaf padanya, Veni mencoba memahami. Keraguan Veni semakin yakin bahwa Adrian memang mencintai Fene saat Adrian mengungkapkan cintanya sebelum pernikahan Fene dan Bram, Veni mendengar kata cinta Adrian untuk Fene. Veni memutuskan menghindar. Apalagi setelah tau Adrian adalah putra Mark dan Adriana. Veni bingung, dan takut. Apakah keluarganya bisa menerima Adrian sepenuhnya. Papinya William Smith juga tidak merestui, jika Adrian benar putra biologis Mark, karena hubungan darah tidak pernah berbeda. Mark Claire Zurk memiliki tredrecord yang buruk dimata pengusaha yang lain semenjak kematian Chiang Lim. Saat Veni mengetahui tentang hubungan Adrian dengan Jasmine secretaris pribadinya itu. Veni sedikit kaget, karena setau Veni, Adrian tidak begitu menyukai orang baru. Fene memberi satu pengertian pada Veni, hingga membuat Veni mengerti apa yang dibutuhkan Adrian saat ini ada pada diri Jasmine. Kepolosan, kesederhanaan, kecantikan, ketulusan, kebaikan yang selalu dilakukan Jasmine dengan hatinya. Veni dapat menerima keputusan Adrian untuk segera mempersunting Jasmine. Adrian pernah menyambangi Veni untuk meminta maaf secara pribadi di restorant Veni. Mereka menyelesaikan semua kesalahpahaman mereka. Masing-masing mengintropeksi diri agar mereka tidak gagal lagi dihubungan selanjutnya. Veni dan Adrian benar-benar berpisah, saling memberi maaf karena akan menjalankan pekerjaan mereka secara profesional. Sulit memang, tapi harus bersahabat dengan keadaan. Adrian juga mengungkapkan niatnya menikahi Jasmine. Awalnya Veni tidak percaya akan keputusan Adrian. Tapi Adrian tetap menjalankan semua keputusan yang telah keluar dari mulutnya. Akhirnya Veni dapat melanjutkan hubungannya dengan Marsel, Adrian memulai hubungannya dengan Jasmine. Dengan membatasi pertemuan mereka berdua. Perdebatan yang terjadi di kantor kala itu, dipicu Veni belum dapat menerima Adrian berubah pada dirinya. Tapi setelah mereka membicarakan semua permasalahan mereka, semua dapat mereka atasi. Veni mendapatkan undangan agar hadir kepernikahan Adrian dari Fene dan Bram, tapi Veni tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. 'Tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, tapi mau atau tidak kita menyelesaikannya.' Holi dan Petter flashback... Jika ada pepatah mengatakan 'tak dapat kakaknya, adiknya pun jadi.' Hal yang sama dilakukan oleh Petter saat pertama kali Adrian memberi tahu, bahwa Holi Parker akan menghubunginya. Holi benar-benar menghubungi Petter. Berkenalan, bercerita tentang kegiatan mereka. Holi dan Petter hanya bertemu sekali saat Petter ada kegiatan di Newyork, kedua saat pernikahan Adrian dan Jasmine. Holi belum pernah bercerita tentang hubungannya kepada Fene. Karena mereka hanya ingin menjalani hubungan mereka. "Kamu berangkat kapan Hol.?" Tanya Petter saat mereka menghabiskan waktu dikediaman Petter di Berlin. "Hmmmm... Besok saja. Saya ingin menemui Fene dan Bram. Kita hangout yuuk Pet." Ajak Holi manja. "Boleh, apa mereka ada time hari ini.?" Tanya Petter. "Aku call yah.?" Petter hanya mengangguk mengusap lembut kepala Holi. Panggilan tersambung... ke 'Fene' "Ya Hol." "Lo sibuk nggak.? Gue masih di Berlin, lo ada time.?" "Oke, kita ketemu dimana.?" Tanya Fene. "Di resto, nanti gue shareloc yah darling." "Oke sayang." Holi dan Fene saling mengirimkan ciuman mereka, sebelum menutup telfonnya. Mereka bertemu disalah satu restorant seputaran Berlin. Holi dan Petter menggunakan baju dengan motif yang sama. Menandakan mereka adalah sepasang kekasih. Bram dan Fene lebih kepada kenyamanan mereka lebih santai dan mewah. "Halo darling." Holi berlari kecil mengejar sembari memeluk Fene sangat erat, dia sangat merindukan Fene. Fene membalas pelukannya. Saling tatap. Mencium kedua pipi Holi. "Hai Fen." Petter memeluk Fene, kemudian Bram. "Adrian." Holi menaikkan satu alisnya menanyakan keberadaan Adrian. Bram terkekeh, menceritakan Adrian berubah setelah menikah. "Bucin kaaan. Dia tu, susah di tebak." Kekeh holi. Fene hanya tersenyum mendengar cerita Holi tentang Adrian. "Oya, kalian hmmmm..." Fene menggoda Holi dan Petter. Petter hanya tersenyum mendengar godaan Fene. "Kebetulan." Jawab Petter. "Hmmm... Tapi gue yang bucin dibuatnya." Kekeh Holi. "Lo kapan balik.?" Tanya Fene. "Mungkin besok atau lusa, tergantung mood aja." Tawanya. "Hmmm... Ikut ke Swedia.?" Tanya Fene. "Hmmm... Sweety, kita ada kerjaan di Swedia. Ke LA aja, pas jenguk oma." Bisik Bram. "Ooooh... Mungkin gue dari Swedia akan lanjut ke LA ketemu oma Bram, kita bertemu disana.? Sekalian kumpul keluarga." antusias Fene saat mengajak Holi. "Hmmmm... Apa kalian aman.? Papi pasti mencari keberadaan lo kalau sudah keluar deutchland." Tunduk Holi. "Kan ada daddy Edward. Semua clear." "Yakin.?" Holi ragu. "Semoga saja." Senyum Fene. "Nggak mungkin Papi akan menyakiti kita kan darling, kita anak mereka." Fene menggenggam jemari Holi, berusaha meyakinkan Holi. "Gue nggak kawatir sama lo, tapi sama Bram, Adrian dan Kevin." Rundung Holi. "Hmmm... Gue pasrah kalau yang itu. Tapi gue akan terus berusaha, meyakinkan Papi Hanz atas keputusan gue menikahi Bram. Gue buciiin banget." Kekeh Fene sambil mengelus pelan pipi Bram yang duduk disampingnya. "Oya, gue baru tau lo bukan anak uncle Mark Fen.? Holi cerita." Tanya Petter penasaran. "Ya, anak Papi Mark Adrian." Jelas Fene sedikit berbisik. "Wooooow.... Pantes, hmmmm..." Petter mengingat kejadian saat dia menangani Adrian beberapa waktu lalu. "Trus, apa rencana kalian.?" "Yaaaah... Berhati-hati, ada timenya kita bertemu mereka." Senyum Fene. "Ya, harus dibicarakan dengan baik dan kepala dingin. Life must go on." Sambung Petter. "Tapi kemaren saat acara pernikahan Adrian, gue lihat Mami Adriana. Apakah dia bertemu Adrian.?" Tanya Petter penasaran. "Iya, gue ngelihat tapi kalau udah di kawal, males. Berarti daddy merasa terancam." Fene dan Bram saling tatap. "Hmmmm.... Gue tau aunty hanya ingin mengucapkan selamat pada Adrian." Petter berusaha memberi hal yang positif. "Meybe." Senyum Fene. Mereka menghabiskan waktu bersama menikmati kota Berlin hingga sore. Drrrrt... Drrrt... 'Adrian' bisik Bram pada Fene. "Ya..." "Lo dimana.? Gue cariin semua pada ngilang." Gerutu Adrian. "Lo dikamar mulu, makanya selesai meeting kita yaaah, jalan-jalan aja ama Holi dan Petter juga." Jelas Bram. "Gue susul, kirim lokasi lo." Adrian menutup telfon. Bram hanya geleng-geleng kepala mendengar Adrian kehilangan mereka. Adrian dan Jasmine menyusul Bram. Adrian menggenggam jemari Jasmine. "Beib... Temen kamu nggak ada orang aku yah. Bule semua." Racau Jasmine membuat Adrian sedikit tergelitik karena ucapannya. "Sayang mau aku gendong, atau jalan sendiri." Pujuk Adrian sambil menatap mata Jasmine. "Jalan aja." Manyunnya. Adrian merangkul mesra. "Haaaaaaaiiii...." Suara teriakan Holi mengejutkan lamunan Jasmine. Adrian mengusap kepal Holi sambil memeluknya, dan memeluk Petter. Jasmine di perlakukan sama oleh Holi dan Petter. "Hmmmm... Pengantin baru." "Bagaimana kita shoping, salon.?" Ide Fene. "Biarin para pria ini gosipin kita." Lanjutnya lagi. Fene, Holi berdiri sambil menarik tangan Jasmine. "Bebeb...." Jasmine menatap Adrian hingga kejauhan langkah kakinya. Bram hanya memukul pundak Adrian. "Gue pikir dia bakal minta balik ke Jakarta hari ini." Lega Bram. "Iya, tadi sesengukan, gue jelasin. Kata Jasmine bebeb ternyata traveling drug dealer. Mau ketawa takut ngambek, gue isengin aja." Sambil menatap Petter. "Bram, saat Adrian koma, gue nggak ngelihat Fene bersamanya." Kata-kata Petter menyentakkan Adrian kemudian mereka saling tatap. Bram menelan salavianya, menenangkan Adrian, "Fene saat itu baru mengetahui gimana keluarganya. Wajar dia merasa marah, dan kecewa." Jelas Bram. "Pantes, ketemu ama gue kayak ketemu hantu." Tawa Petter. "Yaaaah... Dia sedang shook, apalagi saat tau pelakunya Mark. Jujur Fene juga panik. Mikirin kondisi lo. Berapa kali gue berantem ama dia." Lanjut Bram. "Gue pikir lo nggak tau, lo anak Mark dri.? Maaf yah dri." Petter hanya meyakinkan apa yang dia dengar dari Holi. "Holi yah...." Gelak Adrian. "Gue tau semua Pet, dan gue udah bisa nerima. Belajar dari Jasmine. Ikhlas." Kekeh Adrian. "Bagus juga Jasmine, bisa merubah otak lo jadi waras." Kekeh Bram merangkul bahu Adrian. "Dia selalu doain gue setiap sholatnya." Bangga Adrian. "Oooh... Jasmine hmmm... muslim.?" Tanya Petter. "Ya... Tapi semua berjalan dululah, gue jalanin aja Pet." Jelas Adrian. "Trus... Kalau kalian makan hmmm." Bingung Petter. "Kami udah lama nggak makan itu Pet..." Jelas Bram. "Sama, kalau gitu." Kekehnya. "Apalagi Fene, sayuran aja." Senyum Bram. "Semoga kalian para istri cepat hamil." Doa Petter. "Semoga lo juga cepet nikah sama Holi." Kekeh Adrian. "Hmmm... Gue bingung justru, cara ngerem mulutnya." Tambah Petter. "Lo cipok terus." Canda Adrian. Mereka tertawa. Menunggu pujaan hati shoping. "Taaaaraaa...." Kejut Holi. "Hmmmm... Beli apaan.?" Kepo Petter. "Beliin kado buat istri sultan, yang nggak mau dibeliin apapun." Kekeh Holi. Fene hanya tersenyum. Jasmine duduk disebelah Adrian, memeluk Adrian manja. "Aku mau jalan-jalannya ama bebeb." Bisik Jasmine. "Iya, besok kita jalan-jalan yah." Jasmine tersipu malu akan perhatian Adrian. "Kevin mana dri.?" Tanya Fene. "Nggak tau, kita bubar yuuk. Besok kita harus berangkat. Jadi malam ini istirahat dulu." Senyum Adrian sambil mengusap punggung Jasmine. "Hmmmm... Mesum aja otak lo." Bram dan Fene teriak bersamaan. Mereka terkekeh, berlalu kemobil masing-masing menuju rumah Edward. Kecuali Holi, dia masih menghabiskan waktu bersama Petter. Tobe continue....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD