Jasmine masih membayangkan wajah wanita yang dibawa dua pengawal Edward. Mencoba mencari tau dari Adrian.
Adrian tengah sibuk mengurus pekerjaannya.
"Beib..." Tanya Jasmine ragu.
"Hmm..." Adrian masih acuh.
"Ehmmm... Tadi diluar mesra, didalam cool abis." Kekehnya.
"Sebentar yah sayang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." Adrian masih fokus dilayar laptop.
"Aku boleh nanya nggak.?" Makin ragu dalam bertanya.
"Boleh, tanya aja. Aku sambil kerja yah, sebab harus aku kirim segera."
"Tadi aku melihat wanita, dibawa dua pengawal, apa dia akan dimutilasi oleh daddy.?" Jasmine terdiam seketika saat Adrian menatap wajahnya sangat datar, nggak ada ekspresi.
Adrian mengusap kepala Jasmine, "apa yang kamu lihat, dan kamu dengar, lebih baik kamu diam." Pesan Adrian pada Jasmine.
"Kenapa.?" Jawabnya polos.
"Karena siapapun yang masuk kerumah ini, jika berbahaya bagi kita akan kita keluarkan secara paksa. Jadi lebih baik kamu tenang jangan memikirkan apapun selain aku." Senyum Adrian menyeringai bak kuda poni.
"Tapi dia wanita beib." Jasmine berusaha mengingat.
"Buang jauh-jauh rasa kasihanmu. Karena ini bisnis. Bukan panti asuhan." Jawab Adrian tegas.
"Oooogh..." Jasmine mengangguk pelan.
"Hmmmm... Apakah daddy pembunuh berdarah dingin beib.?" Jasmine menutup bibirnya seketika Adrian menatapnya kembali.
Adrian meletakkan laptopnya. Duduk disamping Jasmine, yang sedang menikmati juice campur yang dibuat Maya asisten daddy.
"Sayang, kamu denger saya. Kita... Hmmmm... Kita akan melakukan perjalanan bisnis, dan melibatkan kamu, fene, dan nichole. Kita berlibur sambil berkerja. Tidak menutup kemungkinan, kamu akan mendengar suara tembakan, bom, ataupun nuklir. Aku akan berusaha menjaga kamu tetap aman. Ingat... Selama di eropa, atau nanti dimana pun, kita tetap sama-sama. Kalau ada yang sakit, atau kecelakaan kita akan mengobati hingga sembuh."
"Kalau meninggal.?" Tanya Jasmine tanpa wajah berdosa.
Adrian menarik nafas dalam menangkup wajah Jasmine dengan kedua tangannya. Membuat Jasmine memajukan bibirnya. Adrian malah menutup bibir Jasmin dengan tangannya.
"Listen, ini serius. Jika ada yang mengatakan aku adalah teman Adrian atau sahabat atau ibu Adrian, kamu lebih baik diam. Jangan pernah menerima orang luar untuk merasuki pikiranmu. Paham sayang. Satu lagi, komitmen, kita memegang teguh komitmen.?" Geram Adrian.
"Dan kalau ada yang meninggal, kita akan kubur menurut kepercayaan masing-masing. Kamu mengerti sayang." Adrian mengecup kening Jasmine melanjutkan pekerjaannya.
"Yaa... Hmmm... Okay." Jasmine menghabiskan juice nya menarik selimut tidur dipangkuan Adrian.
"Nanti bebeb bangunin aja, kalau mau melakukan." Jasmine tidur dengan manja dipaha Adrian.
Adrian hanya tersenyum sambil mengusap kepala, melanjutkan pekerjaannya.
Tok tok tok....
Bram menelfon Adrian.
"Masuk aja, pintu nggak dikunci. Gue nggak bisa berdiri."
Bram terkekeh mendorong pintu dan menyaksikan Adrian sangat romantis memperlakukan Jasmine.
"Gue pikir lo nggak bisa jalan karena malam pertama." Tawa Bram makin menjadi.
"So sweet..." Fene menyusul Bram.
"Iiiigh... Resek. Ssssst... Jangan brisik. Bentar yah, gue pindahin Jasmine dulu."
Adrian dengan sigap mengangkat tubuh Jasmine keatas ranjang. Menyelimutkan tubuh Jasmine, mengecup kepala Jasmine.
"Ciiiieeee.... Bucin ni yeee..." Goda Kevin menyaksikan Adrian sangat romantis.
Adrian cuek banget dibuly sahabatnya. Asal siap juga dibuly habis-habisan. Karena pembalasan lebih menyakitkan.hahaha.
"Udah lo kirim dri.?" Bram duduk didepan laptop Adrian.
"Sedikit lagi. Tapi kenapa account Mr.Huang berbeda.?" Adrian mencurigai sesuatu.
"Naaaah itu dia yang mesti kita selidiki dulu. Takutnya nanti ada yang mengalihkan data seperti kemaren." Jelas Bram.
"Dri, lo hub Mr.Huang, buat mastiin." Perintah Bram.
"Oke."
Bram, Kevin dan Fene hanya mendengar Adrian berbicara menggunakan bahasa mandarin. Mereka hanya menunggu dan mengangguk.
"Ternyata data disadap... Clouse. Perintah Adrian."
"Kita disuruh menunggu kabar setelah tiba di Swedia. Lusa kita berangkat. Mr.Huang minta ditunda, karena ada penyadapan."
Bram melakukan semua yang diperintahkan Adrian.
"Lega gue, bisa malam pertama." Kekeh Adrian. "Keluar kalian." Adrian mengusir sahabatnya.
"Ntar dulu kenapa seeeh...?? Mesum amat otak lo." Kevin menahan pintu kamar Adrian.
"Biarin... Udah bini..." Adrian mengejek Kevin, yang masih meracau didepan pintu.
Adrian menatap wajah Jasmine. Membelai lembut pipi Jasmine yang mulus, exotic terlihat sexi. Senyum Adrian.
"Bebeb..." Jasmine memanjakan wajahnya tepat dibawah leher Adrian.
"Hmmmm..." Adrian membelai lembut rambut Jasmine yang ikal, membuat Jasmine makin nyaman.
'Tidur yang nyenyak sayang, saat ini aku terjerat cintamu.' bisik hati Adrian.
Pagi di Berlin...
"Morning beib..." Jasmine menunggu Adrian di meja makan, menghidangkan sarapan.
Edward menyapa Adrian yang begitu tampak panik, "kamu belum mandi dri.?" Edward tersenyum menatap wajah bantal Adrian.
"Belum dad, aku kawatir Jasmine kemana." Adrian mendekati Jasmine menarik tangan Jasmine agar masuk kekamar.
"Beb... Hmmmm."
"Hajar terus dri." Teriak Kevin terkekeh.
Adrian menutup pintu kamar memeluk Jasmine.
"Kamu kenapa beib.?" Jasmine kebingungan.
"Hmmm... Aku kawatir." Manja Adrian.
"Aku tadi sholat subuh, trus buatin sarapan, aku lihat kamu masih tidur. Ya udah aku lanjut nemanin daddy sarapan bareng Kevin dan yang lainnya." Jelas Jasmine lembut.
"Sory, aku yang terlalu takut kamu kenapa-napa."
Adrian menangkup wajah Jasmine.
"Hmmm... Bebeb, mandi dulu. Mau sarapan dikamar atau bareng-bareng.?" Tanya Jasmine mengusap rambut Adrian.
"Boleh dikamar aja nggak.? Bareng kamu."
"Ya, aku siapin dulu yah." Jasmine berlalu menyiapkan sarapan untuk Adrian.
"Adrian sarapan dimana Jasmine.?" Tanya Bram, sambil melirik Kevin, fene, Nichole, dan Edward.
"Minta dikamar pak Bram." Jujur Jasmine.
Semua tertawa menyambangi kamar Adrian.
"Gue seret lo keluar..." Teriak Kevin.
"Hayuuuk keluar, jangan biarkan simesum ini merem di kamar." Bram membawa Adrian keluar.
Fene dan Nichole tertawa terbahak-bahak. Edward tertawa melihat kelakuan putra asuhnya.
"Lo makin aneh yah dri, baru sehari nikah uring-uringan." Kekeh Fene.
Akhirnya setelah Adrian berpakaian rapi, duduk sarapan bersama dikawal oleh Bram dan Kevin.
"Lo nggak boleh ngamar, kalau nggak urgent." Ujar Kevin. "Lagi ribet, lagi berantem, lagi rame, lagi sangek." Tambah Kevin.
"Tau tu, ini dirumah daddy lhoo... Kita harus sama-sama mumpung lagi ngumpul. Nanti kalau kita dah balik maaaah bebas, atau dimana pun kita kerja, bebas. Tapi kalau dirumah daddy, hmmm..." Sambung Kevin lagi.
"Bener... Bener....beneer." bela Fene dan Bram.
"Urut dada aja deh gue, nggak pernah baik gue dimata kalian. Sayang, sini temanin bebeb." Manja Adrian.
"Iya beib."
Jasmine memperlakukan Adrian bak raja, makan diambilin semua diurusin. Edward sangat mengagumi Jasmine yang sangat patuh pada Adrian. Walau Kevin selalu menggoda dengan sebutan secretaris bebeb, Jasmine tidak pernah marah atau tersinggung. Jasmine memang wanita baik yang polos. Bisik hati Bram.
"Apa sudah kalian bereskan semuanya sesuai perimintaan Mr.Huang.?" Tanya Edward.
"Sudah dad... Account yang diberi bukan atas nama Mr. Jadi kami masih clouse tunggu instruksi." Jelas Adrian.
"Oke kapan waktunya.?"
"Lusa dad." Lanjut Adrian.
"Oke, catat semua data, lusa semua jenis yang diminta Mr.Kohl sesuai."
Adrian memberikan semua data pada Jasmine untuk mencatat dan mengatur jadwal sesuai perintah. Jasmine melakukan semua dengan tidak banyak bertanya.
"Berapa keuntungan kita minggu ini Bram.?"
Bram mengirim semua laporan keuangan dan rating saham bisnis haram mereka.
Jasmine menelan slavianya. Diotaknya penuh tanda tanya. Sambil sesekali menatap wajah Adrian. 'siapa mereka.? Apa aku salah menjadi bagian dari mereka.' batinnya.
Fene memahami keterkejutan Jasmine, memberi kode pada Adrian, Adrian menggenggam jemari Jasmine. Jasmine berusaha melepaskan genggaman Adrian.
"Eheeeem... Dad... Aku permisi, Jasmine sedang tidak nyaman." Tatapan mata mereka bertemu mengangguk mengerti membiarkan Adrian berlalu membawa Jasmine ke kamarnya.
"Hmmmm.... Kamu kenapa.?"
Adrian langsung memeluk, Jasmine memukul dada tegap Adrian dengan kedua tangannya menangis sesengukan. Adrian membiarkan Jasmine melepaskan kekecewaan atau kemarahannya.
"Aku pengen pulang." Tangisnya.
"Hmmmm... Apa dengan pulang masalah selesai.?" Pujuk Adrian.
"Ternyata kamu bohongin aku." Tangis Jasmine makin menjadi.
Adrian membawa Jasmine duduk disampingnya meminta waktu pada Jasmine agar Adrian menceritakan pekerjaan yang sesungguhnya.
"Saya, tidak pernah bohong sama kamu, karena kamu tidak pernah bertanya. Bisnis keluarga saya selain Garmen di Jakarta adalah yang kamu dengar tadi. Jadi saya harap kamu dapat memahami saya dan sahabat saya."
"Saya memahami bapak, tapi tidak dengan bisnis haram ini pak." Tangisnya.
"Kamu masih sangat shook saya sangat mengerti. Uang yang saya dapat disini untuk mengelola rumah sakit kita sayang. Bukan untuk yang lain. Karena Fene butuh dana cepat, perputaran yang lebih cepat, kamu mengerti.?"
"Trus kamu ngasih aku.?"
"Aku sudah memikirkan itu semua, kewajibanku akan kuberikan dari garmen, bukan dari sini, trust me. Kamu percaya aku.?" Adrian mengangkat dagu Jasmine agar mereka bisa saling menatap.
"Sejak tadi malam aku sudah memikirkan yang terbaik untuk kamu, aku dan kita. Di jakarta, kamu akan pindah ke apartemenku mengurus rumah tangga kita dengan baik. Bekerja sesuai jadwal. Jika kita butuh refreshing kita akan jalan-jalan seperti saat ini. Kami hanya menyelesaikan satu misi sayang, bukan untuk selamanya melakukan ini." titah Adrian.
"Ternyata kamu sering traveling kamu drug dealer." Senyum Jasmine menyeringai seketika membuat hati Adrian sedikit tenang.
"Apa tujuan kamu melakukan ini.?" Tanya Jasmine.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke sofa, menceritakan semua misi dan visinya melakukan ini semua.
"Pertama, aku ingin mencari tau pembunuh Papi ku sebenarnya.
Kedua, tanpa kami sadari semua rahasia orang tua kami terbuka lebar. Aku adalah anak hasil perselingkuhan dari ibu yang kamu lihat kemarin bersama sahabatnya Papi angkat Fene.
Ketiga, aku ingin mencari tau, siapa yang menabrak orang tua kamu sebenarnya. Awalnya dua project yang akan kami tuntaskan, tapi karena kamu sudah menjadi bagian hidupku, menjadi tiga project. Paham sayang." Jelas Adrian.
Jasmine mengangguk mendengar penjelasan Adrian. "Jujur masih kaget mendengar ini semua, tapi sedikit tenang, karena kamu mau jujur sama aku." Senyumnya.
"Aku nggak pernah basa basi. Iya... Iya... Tidak... Ya ... Tidak... Jadi tidak susah berdebat dengan ku." Tegas Adrian. "Apa selama kamu berkerja dengan ku, aku pernah memarahi mu.? Aku selalu mamahami." Jelas Adrian.
Jasmine mengangguk.
"Apa ibu kemaren itu ibu kandung bebeb.?" Mata Jasmine menatap Adrian.
"Ya, dia ibuku. Ibu Adriana. Mark Claire Zurk ayah biologis ku." Tunduk Adrian.
"Yang datang kekantor waktu itu.? Mencari bebeb.?" Jasmine meyakinkan dirinya.
"Ya. Saat ini mereka berusaha mencari aku dan Fene, agar kami melunak untuk menyerahkan perusahaan pada mereka. Maka dari itu, aku menegaskan padamu, jangan pernah berinteraksi pada mereka." Perintah Adrian.
"Iya beib. Sekarang aku paham. Masalah bebeb ternyata sangat mengerikan, makanya kesel diselingkuhi bu Veni." Kekeh Jasmine.
"Sssssst.... Jangan sebut dia kalau lagi sama aku, nanti aku jadi kangen ama dia... Mau...." Goda Adrian.
"Hmmmm.... Kangen doang kan.? Nggak mesum." Jasmine kembali menggoda.
Adrian mendekatkan kening mereka sambil tertawa merayu, Adrian menangkup bibir Jasmine dengan sangat lembut, wajah Jasmine panik seketika, Adrian mengusap lembut rambutnya, mengalungkan tangan Jasmine kelehernya menikmati ciumannya. Memainkan lidahnya, di dalam mulut Jasmin yang sangat wangi, segar wangi mint soft. Nafas Jasmine memburu seketika. Saat perlahan Adrian menciumi leher Jasmine yang kenyal menggairahkan, meninggalkan tanda kepemilikan dileher itu. Meremas kedua gunung kembar Jasmine yang masih berbalut baju. Jasmine sangat menikmati ciuman dan sentuhan Adrian. Sedikit desahan Jasmine sangat tertahan saat Adrian mulai memainkan puncak gunung kembarnya. Sangat pas ditangan Adrian, hingga Adrian menggigit kecil puncak gunung kembar itu yang masih tebalut bra, membuat Jasmine terbakar gairah. Adrian melepaskan baju Jasmine membuka bra, melihat tubuh mulus yang saat ini tidak menggunakan benang. "Woooow... You sexi girl." Bisik Adrian ketelinga Jasmine.
"Beib... Aaaaaaagh."
Adrian perlahan menciumi perut, menyentuh lembut paha Jasmine, membuka celana yang menutupi bagian inti Jasmine. Jasmine sangat menikmati sentuhan Adrian. "Is very... very sweet." Bisik Adrian lagi dan lagi ketelinga Jasmine.
Jasmine merasakan gairah yang sangat luar biasa saat jari Adrian menyentuh dan memain kan daging kecil yang terselip. Jasmine mendesah, menggigit bibir bawahnya yang sexi membuat Adrian tak bisa menahan hastratnya lagi untuk menyatukan tubuh bugil itu. "Aaaaagh.... Uuuugh.... Beib.... Aaaagh."
Adrian mengangkat tubuh Jasmine keatas ranjang. Adrian meremas payudara Jasmine lagi dan lagi. Adrian menyentuh bagian intim Jasmine menggunakan lidahnya, "hmmmm... wangi banget sayang, terasa manis." Jasmine meremas kepala Adrian saat lidah Adrian bermain disana.
Adrian kembali melihat wajah Jasmine, "apa kamu siap.?" Nafas Adrian memburu seketika ingin melakukan lebih bersama istri indonya.
Jasmine mengangguk sambil melihat punya Adrian besar dan panjang. "Pelan-pelan beib." Jasmine sedikit shook saat melihat pusaka Adrian.
"Ini pasti akan sakit, tapi aku yakin, kamu mencintai aku."
Adrian membuka sedikit kaki Jasmine, memposisikan pusakanya tepat di liang intim Jasmine. Mulai mendorong masuk karena memang sangat basah, "ooooh... Sayang... Seret banget."
Adrian mencium bibir Jasmine sedikit menekan perlahan 'srrreeet.' Jasmine berteriak meremas menggigit kuat bahu Adrian.
"Aaaagh.... sakit beib... Sakit banget...." Rintih Jasmine.
Adrian mencium bibir Jasmine meremas lagi gunung kembar Jasmine, sambil mengoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan, membuat Jasmine berteriak dan mendesah. "Aaaagh... Uuugh... Penuh banget beib, sakit" rintihnya membuat Adrian makin bergairah mempercepat ritme goyangannya.
Jasmine mendesah hebat saat tubuhnya merasakan klimaks pertamannya. Adrian terus memompa membuat Jasmine terus mendesah hingga, Adrian mencapai satu titik pelepasan yang sempurna. Adrian sangat menikmati bermain dengan tubuh sintal Jasmine. "You great honey. I love you." bisiknya.
"I love you too beib."
Adrian mengusap manja kepala Jasmine, mencium bahu Jasmine yang sangat sempurna setelah dinikahinya. "Kamu memang wanita baik, aku sangat mencintai kamu. Jangan pernah pergi dari ku, karena aku akan mencarimu."
"Bebeb puisi...?" Kekeh Jasmine.
"Hmmmm... Aku cinta.... Bukan puisi sayang." Adrian masih sangat manja, karena nyaman.
Jasmine memperlakukannya sangat berbeda.
"Makasih yah beib, aku bersyukur punya suami kayak kamu, jujur, ganteng, kaya, walau suka maksa, tapi aku senang banget. Aku nggak pernah mau tau kamu seperti apa dulunya, yang pasti bebeb dikirim Allah, untuk menaikkan derajat ku. Maafkan aku, jika aku nggak sempurna. Yang pasti aku sangat ingin menjadi istri yang baik buat bebeb." Jasmine mencium berkali kali wajah Adrian. Hingga membuat dua insan ini terlena dalam alunan mimpi.
Tobe continue....