Beberapa hari di Jakarta Fene, Adrian dan Bram disibukkan dengan pekerjaan, dari tanda tangan kontrak, menyelesaikan seluruh kebutuhan pembangunan dan menyelesaikan kontrak garmennya. Fene mengajarkan Jasmine untuk merangkap semua pekerjaan. Tentu dengan gaji yang fantastis. Jasmine sangat cekatan, dan pintar. Ternyata seseorang punya kelebihan tersendiri jika dia mampu menggali kelebihannya, tidak mesti dilahirkan kaya untuk pintar, tapi ingin belajar dan saling memahami membuat Jasmine dapat berbaur dengan mudah bersama Fene, Bram dan juga Adrian, yang awalnya Adrian hanya main-main, ternyata seserius ini agar segera menikahi Jasmine. Hanya karena sebuah 'perasaan nyaman.'hehehe....
Jasmine juga mulai mengakrabkan diri dengan kehadiran Veni, kerena Veni juga memiliki saham pada pekerjaan Adrian, Bram dan Fene yang baru, tentu secara profesional. Jasmine sesekali mendapati Adrian agak kasar terhadap Veni. Ntahlah... Veni belum bisa menerima kenyataan. Bahwa Adrian bener-bener bucin dengan gadis indo kemayu dan alami ini. Membuat Veni merasa sedikit kesal pada Adrian, tapi Veni sama sekali tidak marah terhadap Jasmine. Menurut Veni lebih baik Adrian mendekati wanita yang sudah dikenalnya lebih lama, dibanding harus memulai dari awal, niatnya juga nggak tau untuk apa mendekati Adrian nantinya.
Ternyata dilain waktu, Mark menemui pengacara Fene atas permintaan Fene, karena Mark sering menyambangi kantornya. Fene sangat terganggu, beberapa kali Mark berteriak, digedung perkantoran itu. Membuat security mengambil tindakan.
Frans selaku pengacara sangat pintar dalam menyikapi kasus ini.
"Bu, Pak Frans di luar." Jasmine mempersilahkan pengacara handal itu menemui Fene diruangannya.
"Oooh... Suruh masuk." Fene menyambut Frans didepan pintu ruangannya.
"Halo... Apa kabar bang, silahkan duduk. Oya abang mau minum apa.?" Tanya Fene sambil tetap menatap Bram penuh kemesraan.
"Kopi saja." Frans duduk didepan Fene, Bram berada disamping Fene.
"Jasmine, buat kopi tiga. Saya teh saja." Bisik Fene sambil memegang lembut lengan Jasmine.
Jasmine permisi dan berlalu, meminta OG menyiapkan pesenan Fene.
"Kamu menikah tidak mengundang saya." Kekeh Frans.
Fene menatap Bram sambil tersenyum. "Acara keluarga saja bang." Senyum Fene.
"Adrian mana Fen.?"
"Adrian sedang diruangannya, Jasmine akan memanggil agar menyusul kita bang.
"Kita lanjut, atau nunggu Adrian.?" Tanya Frans sambil mengeluarkan berkas-berkas.
"Nggak apa-apa, kita lanjut aja bang." Senyum Fene.
"Oke." Menarik nafas, melanjutkan pembicaraannya. "Mark lemah, tidak bisa melakukan apapun, saya sudah memblokir permohonannya agar ditutup dan meminta agar tidak di teruskan. Mungkin hari ini Mark sudah harus meninggalkan Jakarta. Dia harus melapor, karena alasannya pekerjaan, sementara dia tidak ada pekerjaan disini, jadi Mark terancam deportasi jika tidak pulang hari ini.
Adrian muncul tiba-tiba. Jasmine membawa kopi mengikuti langkah Adrian dari belakang.
Adrian menyalami Frans dan duduk disofa.
Jasmine meletakkan cangkir kopi berlalu menutup pintu.
"Lanjutkan saja bang."
Frans melanjutkan pembicaraannya. "Jika Mark menuntut dia terancam, jika tidak menuntut dia masih bisa datang ke Jakarta untuk liburan."
"Apakah berdampak pada perusahaan kami bang.?" Tanya Adrian.
"Yaaaah, lumayan." Senyum Frans.
"Hmmmm..." Fene menarik nafas dalam.
"Sepertinya kamu berangkat sendiri sayang. Aku masih disini dulu mengurus pekerjaanku." Fene menatap Bram.
"Lebih baik begitu." Adrian menerima ide Fene.
"Ya sudah, aku berangkat besok, karena Kevin sudah menunggu ku." Bram makin menggenggam erat jemari Fene.
Frans memberikan semua berkas untuk menjadi pegangan Fene, dan menandatangani semua aset perusahaan secara keseluruhan yang berhasil diselamatkannya dari tangan Mark.
"Baik, tidak ada lagi yang mesti kita bahas, saya permisi." Frans memeluk Fene, Bram, dan Adrian, berlalu pergi.
Frans menitipkan amplop pada Fene, sebagai hadiah pernikahannya. "Ini buat kamu Fen."
"Apa ini bang.? Terimakasih." Fene tersenyum melihat isi amplop tersebut, "oooogh... Sweet kamar bulan madu." Kekehnya.
Bram memeluk Fene, "I love you Fen."
Fene hanya mencium bibir Bram.
Adrian melihat kelakuan kedua sahabatnya itu, hanya dongkol sambil menutup mata. "Gue anak dibawah umur."
Bram dan Fene melepas pelukannya.
"Fen, Mami Adriana ada menghubungi lo.?" Tunduk Adrian.
Fene mendekati Adrian sambil menghempaskan tubuhnya disofa.
Bram mulai sibuk dengan hpnya.
"Nggak, cuma Jasmine cerita Mark ingin menemuiku. Just it." Fene mengambil cemilan yang ada dihadapannya.
"Hmmmm... Gue juga bingung. Kenapa mereka lebih mengejar kita. Oya, apakah daddy sudah bertemu om Hanz.?" Lanjut Fene.
"Bram.? Lo denger kita ngobrol nggak.?" Kesel Adrian.
"Ya... Gue lagi ngecek lokasi Kevin saat ini. Sebab udah beberapa hari dia menghilang tanpa kabar." Jelas Bram.
"Serius.? Coba gue call." Adrian menekan nomor Kevin.
"Nyambung..."
"Ya halo vin... Vc yah." Adrian mengalihkan kameranya.
"Haaaaaiiii.... Keviiin..." Teriak Fene.
"Lo dimana.? Gue hubungi nggak dijawab." Kesal Bram.
"Sory guys, gue sibuk ngurusin pernikahan gue sama Nichole. Sekarang gue udah merit dong..." Kevin menunjukkan cincin nikahnya dengan rona bahagia.
"Aaaaaaaa.... Anjing.... Kenapa nggak ngasih tau siiiih..." Kesal Adrian.
"Iya, gue juga nggak enak ni, tiba-tiba gue disini mempercepat aja, berhubung perjalanan kita bakal panjang." Kekehnya.
"Dri, lo kapan.?"
"Hmmmm... Gue... Minta restu dulu sama sesepuh." Kekeh Adrian.
"Bule mana lagi.?" Tanya Kevin penasaran.
"Indo dong, gue mau beda dari kalian." Ejek Adrian.
"Oooh ya, Holi nyempetin datang pas gue pemberkatan, bareng Petter."
Mata Fene dan Bram bertatapan, 'kok bisa Holi sama Petter.??'
"Serasi banget mereka, karena wajahnya cantik dan ganteng." Cerita Kevin lagi.
"Besok gue udah di Paris, lo jemput gue Vin." Perintah Bram.
"Siiiaaap laksanakan. Lo bawa Adrian atau Fene.?"
"Gue sendiri dulu. Adrian dia mau melamar gadis indonya malam ini, buat dinikahin." Jelas Bram.
"Realy... Bagus donk, jadi kita bisa honeymoon bareng." Kekeh Kevin.
"Ya udah, see you all... Miss you." Kevin menutup telfonnya.
Semua saling bertatapan, "melamar.?"
"Aaaaaaaa.... Fene mengacak rambut Adrian. Lo udah gede sekarang yah, mau ngelamar karyawan gue." Teriak Fene sangat bahagia.
Adrian tersipu malu mengambil jemari Fene dan mencium pungung tangannya dengan sangat romantis. "Makasih, lo sahabat gue yang paling baik." Adrian menatap mata Fene.
Bram memukul bahu Adrian... "Bini gue bro... Bini..." Bram memeluk Adrian dari samping.
"Fen, gue bisa ngobrol ama Bram berdua.?" Tunduk Adrian.
"Hmmm... Bisa tinggalkan ruangan gue, bawa keruangan lo." Perintah Fene dengan wajah cembetut.
"Iya ibu CEO..." Adrian berlalu disusul oleh Bram.
Saat memasuki ruangannya, Mata Adrian tertuju pada Jasmine masih sangat sibuk tanpa mengacuhkan kehadiran Adrian.
"Haaaaiii gadis indo." Rayu Adrian.
"Ya... Bebeb Adri. Maaf pak saya masih sibuk. Bapak lanjut saja dulu." Jawab Jasmine tanpa menoleh pada Adrian ataupun Bram.
"Hmmmm..." Adrian berlalu mengacak rambut Jasmine, kemudian masuk menutup pintu rapat.
Adrian duduk disofa, menghembuskan nafas dalam.
"Napa lo dri." Tanya Bram santai.
"Gadis indo mau gue lamar, tapi gue belum bilang Daddy. Takut gue Bram." Adrian tertunduk lesu.
"Lo yakin.? Kita baru deket beberapa bulan.?" Tanya Bram serius.
"Hmmm... Yakin... Gue mau menjauh dari Veni. Gue males. Mungkin dengan menikah, dunia gue berubah kayak kalian. Gue seneng, kalian udah bahagia masing-masing. Naaaah gue, Jasmine baik, kenapa nggak gue perjuangin." Curhat Adrian.
"Tapi masalahnya lo beda dri, apa Jasmine mau dengan keyakinan berbeda.?" Bram menatap serius Adrian.
"Ya, gue tau. Makanya gue mau nanya ama lo. Apa gue, nikahin dia ikut ama lo ke Paris, atau gue...."
"Hmmmm... Lo nikahin di Paris, masalah keyakinan urusan lo. Gue nggak ikut campur. Jadi kita bareng aja." Jawab Bram.
"Oke, omongin ama daddy deh. Ntar gue di bilang anak durhaka lagi." Adrian memohon pada Bram.
"Oke, kita call daddy." Bram mengeluarkan hpnya, menghubungi Edward.
Nada tersambung... "Tapi belum... Ooogh ya..."
"Halo dad... Apa kabar.?" Basa basi Bram.
"Baik, kamu apa kabar.? Fene sudah hamil.?" Tanya Edward senang mendengar suara Bram.
"Belum dad, kami masih mengurus pekerjaan." Kekeh Bram.
"Hmmmm... Jangan lama-lama, sebab daddy merindukan cucu, karena kalian jauh semua." Tawanya.
"Daddy bisa aja, besok Bram ke Paris, kita ketemu dimana dad.?"
"Berlin aja, daddy belum mau keluar Deutchland, karena Mark dan Hanz terus memohon untuk bertemu. Daddy masih belum bisa bertemu mereka, karena mereka selalu membawa media." Jelas Edward.
"Mark hari ini pulang ke Italy bareng Mami Adriana. Kalau menunggu lama disini dia terancam dideportasi dad." Cerita Bram.
"Ya, om Frans sudah mengabari daddy."
"Oya dad.... Jikalau Adrian menikah gimana.?" Detakan jantung Bram terasa berpacu.
"Veni.?"
"No, not Veni, but Jasmine gadis indo dad. Apa daddy merestui.?"
"Menurutmu.?"
"Hmmmm... Good."
"Oke, daddy tunggu diberlin. Menikah disini." Pinta Edward.
"Tapi dad... Hmmmm.... Jasmine hmmmm....."
"Ya, daddy mengerti, kamu bawa mereka, kita nikahkan diberlin. Oke son. Adrian bersamamu.?"
"Hmmm... Ya, Adrian senang mendengar restu daddy." Kekeh Bram.
"Go home. I miss you son."
"Miss you too dad."
Mereka menutup telfonnya. Adrian berteriak mengguncang wajah Bram sembari mengacak rambut Bram. "I love you brother. I love you so much." Peluk Adrian.
"Gue akan memberikan yang terbaik buat lo. Lo udah pantes menikah. Umur kita cuma beda beberapa tahun dan bulan, gue rasa Jasmine cocok sama lo, pintar masak." Kekeh Bram.
"Biasanya pintar masak, pintar juga di eheeeem..." Tawa Adrian.
"Fene nggak bisa masak, mantap di ranjang kok." Geram Bram.
Hahahahaa.... Adrian dan Bram tertawa.
Fene membuka pintu. "Kita makan yuuuk, diresto bawah. Laper."
"Ya, udah time makan siang." Bram merangkul Adrian.
"Jasmine, kita lunch." Tarik Adrian tanpa memperdulikan pekerjaan Jasmine.
"I i iya beib... Tunggu. Heeeeeh." Kesal Jasmine mengikuti tangan Adrian.
Fene dan Bram hanya mengikuti langkah Adrian sambil menarik Jasmine.
"Iiiiigh... Bebeb Adri... Nggak sabaran." Gerutu Jasmine dibelakang Adrian.
Diresto, mata karyawan tertuju pada Jasmine.
"Beib, saya gabung sama temen saya yah. Segan duduk bareng sama bu Fene dan pak Bram." Tunduknya.
"Hmmmm... Mereka baru melihat, gimana kalau bertanya. Aaaagh... Payah kamu sayang." Adrian mendekap erat bahu Jasmine agar lebih dekat dengannya.
"Udah tenang aja. Besok saya ke Paris, kita ketemu diBerlin yah sweety." Bram mengecup bibir Fene. "Adrian akan menikahi kamu Jasmine di Berlin." Lanjut Bram santai.
Jasmine membesarkan matanya sambil menatap Adrian yang duduk disampingnya. "Ya Allah... Nikah sama bebeb Adrian pak Bram.? Mimpi apa saya yaaaa Allah." Jasmine menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Adrian mengusap punggung Jasmine lembut sambil berbisik, "perlahan saya mencintai kamu Jsamine." Adrian mengecup puncak kepala Jasmine yang masih menunduk malu.
Tiba-tiba Jasmine memeluk Adrian yang berada disampingnya. Merasakan desiran darah yang sangat berbeda. "Apakah ini cinta pak... Eeeh beib. Makasih bebeb Adri udah mencintai saya." Adrian mengangkat dagu Jasmine mengecup bibir Jasmin.
Adrian tersenyum menatap gadis indo yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Selamat yah Jasmine. Kamu akan menjadi bagian dari kita." Senyum Fene.
"Hmmmm... Tapi bu, saya nggak punya keluarga." Tunduk Jasmine dengan mata berkaca-kaca.
"Saya kan keluarga kamu, ada pak Bram, Adrian, sebentar lagi Kevin, yang sudah menikah dengan Nichole, daddy Edward. Kamu akan mengenal mereka, dan kita jadi keluarga." Ucap Fene lembut.
"Hmmmm... Iya bu. Makasih banyak." Senyum Jasmine sambil menatap Adrian.
Makan siang kali ini menu pilihan Fene, karena akhir-akhir ini nafsu makan Fene bertambah. Tapi bukan hamil.hehehehe....
"Hmmmm... Jasmine, keluarga kamu dimana.?" Bram mencoba mencari tau tentang keluarga Jasmine secara detail.
"Iya, kamu sudah lama sama saya, tapi saya tidak pernah mendengar kamu menghubungi keluarga mu." Sambung Fene.
Jasmine tertunduk, "ehmmmm.... Saya ini yatim piatu bu. Orang tua saya asli Magelang, tamat SMA di Magelang kemudian saya melanjutkan kuliah di Yogya dapat beasiswa, lanjut merantau ke Jakarta. Orang tua saya sudah lama meninggalkan saya, karena satu tragedy. Ayah dan ibu saya ditabrak warga negara asing saat saya berusia 12 tahun. Saya tidak mengenal mereka, mereka hanya memberi uang untuk pemakaman ayah dan ibu. Saya sendiri, karena orang susah, nggak ada yang peduli. Hingga saya menjual sawah bapak saya, dan memindahkannya ke Jakarta, itu sekarang apartemen saya bu. Awal saya bekerja di tempat ibu dan bebeb Adrian, saya merasa sangat bersyukur sekali. Bisa memberi saya hidup menjadi lebih baik." Cerita Jasmine panjang lebar.
"Tadi kamu bilang warga negara asing.? Siapa mereka.?" Membuat Adrian menjadi penasaran.
"Saya nggak tau, mereka sedang berlibur pada saat itu beib."
"Oooogh... Kamu tidak pernah mengusut tuntas atau mencari tau.? Tambah Fene.
"Ya nggaklah bu, toh kalau saya cari mana ada uang saya bu. Sodara nggak ada yang kenal sama saya." Kekehnya dengan polos.
Adrian mengusap kepala Jasmine, "good girl."
Mata Bram dan Adrian, saling tatap. Mengerti apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Trus kalau kamu menikah dengan Adrian gimana.?" Tambah Bram lagi.
"Yaaaah... Gimana yah pak Bram. Jujur saya masih nggak percaya, karena bagi saya pernikahan hal yang sakral, dan nggak mau kawin cerai kayak selebriti gitu, tapi saya akan berusaha menjadi istri yang baik buat bebeb. Jika berjodoh. Jika tidak saya akan tetap menjadi karyawan yang baik untuk bebeb Adrian dan mba Fene, pak Bram." Jawab Jasmine polos.
Bram hanya mengangguk, sambil menatap Adrian.
"Kami sangat senang kamu bisa menerima kami sebagai teman kamu Jasmine, bahkan kamu berbesar hati akan apa yang akan terjadi atau tidak dengan keinginan kamu." Fene menggenggam jemari Jasmine menatap gadis itu dengan penuh rasa sayang.
"Yaaa... Saya berusaha ikhlas menerima takdir bu... Eeeeh mba Fene." Kekehnya.
"Kamu sudah terlalu membuat saya kagum." Geram Adrian sambil meremas bahu Jasmine.
"Aduuuuh... Sakit pak... Eeeh bebeb." Kekehnya.
Adrian, Bram dan Fene ternyata memiliki pemikiran yang sama. Hmmmmm... What do you think.?
Tobe continue...