Hasrat Tertahan

1072 Words
Di rumah permanen berlantai tiga, berwarna putih semi tradisional. Seorang pemuda memasukkan Jeep hitam ke dalam garasi bawah tanah. Ia melangkah masuk dengan gestur malas. Tangannya menyeka jambulnya yang tidak panjang, kemudian berkacak pinggang di ruang tamu. Matanya mengitari sekitar, tidak ada orang di sana... Pemuda itu adalah Joni, Putra semata wayang H. Marsudin. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua, memasuki sebuah ruangan berwarna putih abu- abu. Dihempaskan tubuhnya ke sebuah ranjang empuk dengan dipan jati terbaik penuh ukiran rumit khas Jepara. Ia menghela nafas panjang, matanya memandang ke langit-langit kamar, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum lebar menampakkan giginya yang tak putih bersih khas seorang perokok.. "Hmmm.. Siti.." Bisiknya pelan dan tersenyum. Perlahan pandangan matanya memburam, Ia merasa berada di tengah kabut asap berwarna putih. Ia berusaha menghalau kabut dengan mengibas tangannya berapa kali, di jarak yang tak terlalu jauh sosok wanita dengan gaun putih berselendang panjang berdiri di depannya. Mengulurkan tangan seperti memintanya mendekat. Wajah wanita itu familiar, sangat manis. Ia tersenyum mengulurkan tangannya agar segera diraih oleh Joni. Joni-pun berlari ingin segera meraih tangan wanita itu. Hanya saja, semakin Ia mendekat sesosok Wujud ada di belakang wanita itu. Wujud yang sangat Ia kenal sekali. Seiring berkurangnya kabut yang mengaburkan pandangan, semakin memperjelas kalau sosok itu tengah memeluk wanita itu dari belakang, menyandarkan wajahnya di bahu wanita itu sambil menatap Joni dengan senyuman kemenangan. Wanita berselendang dan berparas manis itu adalah Siti, masih mengulurkan tangan tanda Ia ingin Joni meraihnya. Hanya saja perlahan Sosok itu memegang tangan Siti dan menariknya. Belum sempat Joni meraih tangan Siti, sosok itu membalikkan tubuh Siti dan memeluknya, mencumbu Siti sambil melirik Joni dengan tatapan kemenangan. Sosok itu adalah Bunga yang berdandan nyentrik, dengan make up tebal dan menor, kuku jari jarinya berkutex, bibirnya bergincu hitam, yah Bunga sang Biduan Organ Tunggal yang sering manggung di setiap Pesta Hajatan. Joni benar benar marah, Ia berang demi melihat pemandangan Bunga mencumbu Siti. Siti samasekali tak berontak, dalam dekapan dan cumbuan Bunga, Ia masih menoleh ke Joni dengan mata yang tersenyum, mengulurkan tangannya meminta Joni meraihnya. Joni benar benar marah, Ia meneriaki Bunga dengan segala u*****n, hingga Ia terlonjak dan terduduk seketika. Ia terbangun dari mimpinya. Joni terkesiap, Ia menyadari dirinya tadi bermimpi. Pertama kali Ia bermimpi aneh seperti itu. Pertama kali Ia membenci sosok Bunga. "Kring.. Kring ... Kring.." HP Joni berbunyi, ada panggilan dari Tiara. "Hallo!" Suara diseberang menyahut "halileeeooo! Kitring jedong ken minahasa obama? Kepelong eykeh udin saskiaa indang!" (Hallo, kita jadikan minum obat? Kepalaku udah sakit ini). Joni hanya menyahut singkat "sebentar lagi aku kesana". Minum obat yg dimaksud oleh Tiara adalah melakukan Hobi Joni, malam ini ada acara hajatan di Desa sebelah. Joni berdiri mematung di depan cermin, Ia menatap tubuhnya yang hanya berbalut handuk putih. Ia perhatikan betul detil tubuhnya Terpampang otot-otot dambaan para wanita, kulitnya yang putih bersih semakin mempertegas kalau tubuhnya terawat. Perlahan Ia melangkahkan kaki mendekati lemari hitam di antara lemari putih di ruangan itu. Ya, Joni sedang berada dalam rungan gantinya. Kamarnya yang luas memiliki ruang ganti sendiri, di dalam ruangan ganti itu jejeran lemari menutupi keseluruhan dinding. Lemari itu semuanya berwarna putih, kecuali lemari yg sedang dibuka oleh Joni sekarang, Berwarna hitam. Ia membuka lemari hitam itu, berjejer pakaian yang tak biasa. Gaun gaun wanita bergliter, di bawah gaun yg menggantung rapi, terdapat sepatu dengan hak-hak nya yang tinggi dan tajam. Joni membuka lemari satunya lagi, terdapat tas-tas wanita brended dengan aksen bling-bling. Ia ambil satu stel pakaian berwarna hitam bergliter, dengan stiletto merah. Setelah memakainya, Ia membuka sebuah laci yang penuh dengan perangkat alat make up. ya, Joni sekarang berubah penampilan menjadi sesosok yang berpenampilan Wanita. Bunga namanya... Sebelum mengoles bibirnya dengan lipcream merah, sekelebat bayangan membuatnya tertegun. Bayangan Siti dengan gaun putih berselendang panjang, mengulur tangannya meminta Joni meraihnya. Saat itu pula Ia menatap cermin. Ia melihat pantulan dirinya sudah menjadi Bunga di dalam Cermin. Bunga yang hendak mengoleskan lipcrem ke bibirnya, Bunga yang bergaun hitam bergliter dengan stiletto merahnya. Joni menggeratakkan giginya, meninju meja, "jangan... Jangan hari ini! Aku ingin tenang dulu, aku ingin menikmatinya dulu" Ia pun menyambar tas gucci hitam dan berlalu dari ruang ganti. Ia menuruni anak tangga, Ia mendapati Bapak dan Ibunya sedang sibuk melihat lihat sesuatu dari sebuah I-pad di ruang tamu. Mendengar ada yang turun dari tangga mereka menoleh dan mendapati Putra semata wayang mereka sudah berubah menjadi Bunga. Pandangan kecewa kontras sekali di wajah Orangtua ini. Mereka bertanya, "mau kemana kamu Joni? Memang tak bisa kau tahan hasratmu itu sebulan ini saja?!" Joni tetap berlalu, mengabaikan Kedua Orangtuanya mematung. Namun, sepertinya Pak H. Marsudin kali ini tak mau diam seperti itu saja. Ia memberi kode pada dua orang laki-laki kekar berseragam hitam mencegat Joni. Joni berontak, Ia melawan. Berulang kali Ia melawan tapi Ia tak mampu beradu kekuatan dengan dua orang itu. "Bapak! Joni gak lama-lama koq! Sejaman saja! Joni janji akan segera pulang!". Rintihan Joni sepertinya tidak mempan kali ini. Ia diseret ke ruangan sebelah dapur. Sebuah gudang. Ruangan itu kosong, hanya tempat tidur busa tanpa dipan di sana. Joni di masukkan ke dalam secara paksa dan pintu dikunci. Dari dalam terdengar Joni mengamuk, Ia menendang nendang pintu, melempar tas dan sepatunya. Ia berteriak histeris, sepintas jika orang berlalu di depan rumah mewah itu, akan merinding mendengar teriakan histeris itu tapi bukan suara wanita. Tp bagi warga setempat, itu sudah biasa. Mereka sudah maklum dan tak heran lagi. Joni membentur-benturkan kepalanya di pintu, minta tolong untuk dibukakan. Berkali-kali HP nya berbunyi, tanda panggilan masuk. Ia angkat dan meneriaki orang yang menelfonnya tersebut. Tak lama kemudian, suasana hening. Perlahan terdengar suara musik dangdut kompilasi dari dalam ruangan itu. Yaa.. Joni sedang memutarnya keras-keras, Ia berlenggak lenggok, bokongnya Ia putar patah-patah, menungging dan menggeleng-geleng. Ia meloncat loncat, berjoget persis penari mabuk di panggung hajatan saat waktu sudah menunjukkan tengah malam. Dimana hanya tersisa penonton teler dengan musik disko kompilasinya. Joni membentur-benturkan kepalanya di pintu, berteriak "BUKA SETAAAAN!! HEEY! HAJI MARSUDINAH!! BUKAAAA!!!!" Sudah tiga jam Joni dikurung di ruangan itu. Ibunya yang sedari tadi menangis memeluk pak H. Marsudin memohon kepadanya untuk membuka pintu. Sudah tak ada suara apa-apa lagi sejak sejam yang lalu. Biasanya kalau sudah begini, Joni sudah tertidur atau bahkan pingsan. Pak H. Marsudin menyuruh dua orang laki laki kekar itu membuka pintu. Benar saja, Joni sudah terkapar mengenaskan di sana. 2 orang itu disuruh membopong Joni ke kamarnya, tak lupa mengikat tangannya untuk jaga jaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD