2. Kapan Menikah? [Bag. 2]

2147 Words
"Udah banyak lelaki yang sudah kamu tolak. Kamu harusnya jangan terlalu asik sama dunia kamu sendiri, beri ruang buat yang lain masuk. Jangan selalu menutup hati." Aku mendadak menghentikan langkah kakiku. Menoleh ke belakang di mana mobil yang tadi mengantarkan telah tidak ada lagi di tempat sebelumnya. Kata-kata itu terus teriang-iang di benak dan pikiranku. Bang Rio mengatakan hal tersebut ketika aku hendak akan keluar mobil. Aku tidak menjawab apa-apa selain pergi setelah berpamitan. Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau merusak suasana hatiku ya walaupun sudah  rusak tapi setidaknya jangan sampai pikiranku sendiri yang malah menambah rusaknya suasana hatiku hanya karena hal yang tidak harus terlalu aku khawatirkan untuk jam-jam di mana aku harus fokus untuk bekerja. Aku tidak mau saat menghadapi pasien, aku sedang berada di suatu keadaan di mana aku tertekan. Itu akan memengaruhi kualitas pekerjaanku sebagai psikolog klinis. Berat? Iya, jelas. Tapi pekerjaan tidak bisa aku campur adukkan dengan masalah pribadiku. Aku sudah pernah belajar untuk mengatur yang namanya emosional. Dan aku sedang menghadapi ujian dari Tuhan di dalam pekerjaan dan lingkungan kehidupan ku sendiri.             "HUWWAAAAA!!!!"            Aku terperanjat kaget. Sumpah. Aku kaget banget sewaktu cowok paling nyebelin sedunia malah bikin jantungku berdetak cepat tak karuan. Nyaris aku mau jatuh ke lantai kalau tidak segera bersandar pada tembok. Ku pegang dadaku yang masih terasa getar shock akibat ulah sahabatku, Mahesa. Seorang dokter spesialis jantung. Dokter muda yang digandrungi banyak wanita terkecuali denganku. Cowok rese kayak dia, banyak yang ngeidolain? Hah!            "Lo!! Ihh!!! Reseeee banget, sihhhhh!!!!!" Aku pukul dia. Aku cubit terus pinggang, badannya. Dia menutupinya dengan kedua tangan, membungkuk. Menyembunyikan wajahnya juga dengan kepalanya yang tertunduk. Aku menarik napas dalam-dalam. Menyelipkan rambut ku ke belakang dua telingaku. Perlahan dia menurunkan kedua tangannya. Menampakkan wajah tengilnya yang buat moodku tambah jelek lagi. Dan apa yang paling mengerikannya? Dia nyengir tak berdosa. Sialan!             "Lo," jariku menunjuk wajahnya. Satu tanganku yang lainnya bertolak pinggang. "Sehari Lo gak cari gara-gara sama gue bisa gak, sihhhhh!!!!" geramku tak tahan dengan sikap jailnya. Kedua tanganku siap mencengkeramnya. Ingin mencakar muka yang dikata ganteng oleh seantero perempuan-perempuan genit yang terus mencari perhatiannya. Terutama para suster yang bekerja di rumah sakit ini. Dia melepaskan tali yang melingkari dari dagu sampai ujung kepalanya. Namun, ia kesulitan nampaknya. Gila apa ya. Masih pagi berdandan layaknya pocong dan muncul begitu saja dari balik tembok saat aku mau berbelok menuju ke ruangan ku. Apa nggak sport jantung masih pagi ya ampun. Sumpah. Isengnya bukan main dia ini.             "Eh, bantuin gue dulu dong, lepasin ini. Sshhh.. sakit ini kepala gue," ringisnya.             "Bodo amat!" balasku acuh.             "Lun... astaga... please," mohonnya. Meski aku tidak rela menolongnya, iya mau tidak mau aku harus membantunya. Kasihan juga ikatan yang ada di kepalanya tidak bisa lepas. "Nunduk," titahku. Ia mengulas senyum. Aku masih dengan muka jutek dan kesalku, menceletuk, "gak usah senyam-senyum." Ekspresinya balik berubah jadi datar. Akhirnya ikatan talinya bisa lepas juga. "Punya utang budi Lo sama gue," ucapku menunjukkan tali ke mukanya. Kemudian aku meninggalkannya. Ia ternyata mengikuti tapi tak kugubris kehadirannya yang berjalan beriringan di sampingku.             "Pulang nanti ke rumah gue, yok, nyokap mau ketemu sama Lo, tuh." Aku pun mendadak menghentikan langkah kakiku. Ku lirik ia sambil otak berjalan berpikir. Dia menatapku dengan kedua alis terangkat hingga dahinya mengerut menimbulkan banyak garis. Ini sepertinya cara yang bagus supaya aku bisa lari dari kejaran seorang Bagaskara yang pas sekali hp ku berdenting. Ku keluarkan hpku dari dalam saku jasku. Ku lihat notifikasi berasal dari dia. Aku memutar bola mataku malas. Sudah gak mood, gak mau balas. Badmood. Sebel. Isi pesan w******p dari dia itu, katanya... "Kamu nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya. Mau ajak kamu makan malam, nih. Sekalian nonton. Ada film bagus, loh." Dohhhhh!!!! Bodo amat dahhhh!!!! Pusinggg kepala aku ngadepin kamu yang keras kepala banget masih mengharapkan orang yang sudah jelas-jelas menolak diri kamu, Bagaskara Pratama. Sudah seperti tidak ada perempuan lain saja. Kenapa harus aku, sih?             "Cieeeee!!! Bagaskara," celetuk Mahesa. Ku lirik ia yang taunya berdiri di sampingku dengan memanjangkan lehernya untuk melihat isi di dalam hp ku. "Gebetan baru Lo, tah?" lanjut Mahesa lagi. Ku berikan tali tadi ke tangannya dan ku letakkan di atas telapak tangannya secara kasar. "Ngaco Lo botak!" Aku langsung minggat dari hadapannya. Botak itu sudah panggilan akrabku ke dia. Soalnya dia kepalanya gundul. Rambutnya sudah tidak berjambul lagi seperti waktu SMA. Sekarang rambutnya bergaya fade. Gaya rambut fade ini cirinya, rambut yang dipangkas sampai tipis hingga kulit kepala. Rambut yang tipis ini mengelilingi semua bagian samping kiri dan kanan hingga ke belakang kepala. Tampilan rambut seperti ini diberi gradasi yang halus untuk mempertegas tampilan. Padahal menurutku bagusan seperti dulu, soalnya, kan bentuk mukanya itu bulat. Jadi, kan biar tidak terlihat chubby juga kalau sekarang ya ampun pipinya udah jadi korban atas kekejaman jariku yang selalu merajalela mencubitnya kalau lagi gemas dan kesal sama kelakuannya yang buat aku jadi naik darah. Bisa kena darah tinggi, sih, aku lama-lama dekat sama dia.           Aku menaruh tasku di atas meja. Mahesa mendudukkan bokongnya ke sofa yang ada di sudut ruangan ku. "Bagaskara itu cowok yang seminggu lalu pernah jemput Lo di rumah sakit, kan pas ujan-ujan gitu."           "Hm," dehamku. Aku memakai kacamataku dan membaca catatan-catatan yang telah berisi tentang masalah-masalah pasienku. Aku berusaha fokus tapi Mahesa membuyarkan konsentrasi ku.           "Dia ganteng, tajir, terus Lo bilang dia kerja jadi pengacara. Bagus dong itu, kenapa gak Lo jadiin coba?"           "Kenapa gak Lo aja yang jadian sama dia coba?" tanyaku balik seusai melepas kacamata ku, ku tunjukkan senyuman yang ku buat semanis mungkin padanya. Dan aku langsung duduk saat itu juga.           "Dih, masih normal gue njir." Dia bergidik geli di tempatnya. Aku menggeleng pelan kepalaku. Aku pun sebaiknya memanfaatkan Mahesa untuk masalahku hari ini.           "Nanti pulang gue bareng Lo, ya. Gue mau ke rumah Lo aja," seruku kepadanya. Tiba-tiba teringat hal sebelumnya yang membuat moodku jelek.           "Kan Lo mau jalan sama Bagas," balasnya.           "Gue gak jalan sama dia," cetusku judes. "Gue gak pernah bilang mau jalan sama dia. Okey?" ulangku lebih tegas lagi. Mahesa bukannya membuat moodku jadi bagus tapi ini malah ditambah dibuat hancur.              Mahesa berjalan ke mejaku. Dia duduk di hadapanku. "Gue tau kenapa Lo mau dateng ke rumah. Bukan karena ajakan gue yang tadi tapi lebih tepatnya Lo mau menghindar, kan, dari itu cowok? Trus Lo lebih baik manfaatin gue, kan? Dengan begini Lo bisa kabur dari itu cowok." Aku tidak menyangkal apa yang dia utarakan. Justru aku memohon padanya.            "Please, kali ini aja. Gue butuh bantuan Lo."            "Bantuan, bantuan. Udah sering Lo nyusahin gue. Guenya aja yang bego baru sadar, kenapa Lo kalo pulang kerja udah kayak buronan pake acara nyamar segala, nyuruh gue cepet-cepet anterin Lo pulang. Terus Lo pake rela segala nungguin gue yang lagi ada jam mau mulai praktik. Nungguin gue bejam-jam lagi operasi pasien," matanya membulat besar. Bicaranya didrama-dramain gitu. "Dan parahnya lagi gue harus jadi pacar pura-pura Lo!" sambungnya.            "Yah, kan cuma Lo yang bisa gue harepin," kataku. Yang dia katakan itu benar. Aku pernah sangking gak mau ketemu sama Bagas, harus menyamar jadi OB, harus minjem baju karyawan OB dan memakai hijab dengan muka ditutup make masker dan aku pernah berpapasan sama dia tapi untungnya dia tidak ciren dengan penampilanku. Belum lagi aku harus meneror Mahesa untuk mengantar aku pulang di hari lain.             "Pokoknya Lo harus pura-pura jadi pacar gue dulu. Sementara doang kok." Mahesa sebelumnya udah pernah ketemu sama Bagas saat dia menjemputku pulang. Lalu, di lain waktu aku harus cari cara supaya Bagas tidak menjemputku lagi karena dia itu suka datang tiba-tiba jadi buat aku kelimpungan.             "Gue gak mau!" tolak Mahesa mentah-mentah. Aku langsung mengancamnya.             "Oke! Kalo gitu, sekalian aja Lo gak usah ngomong-ngomong lagi sama gue. Gak usah temenan. Udah, anggep aja gue bukan temen Lo." Aku akui, aku drama banget waktu itu tapi ya gimana lagi, gak gitu, kan dia mana mau menolongku. Buktinya ia langsung menyetujui rencana ku. Meskipun ia tidak paham kenapa aku memaksanya untuk jadi pacar pura-puraku. Aku sengaja bilang padanya untuk tidak banyak bertanya dulu.            Sialnya. Rencanaku itu gagal. Sewaktu Bagas ternyata menjemputku di rumah sakit. Aku sudah siap berakting mesra dengan Mahesa. Masih make jas lagi, di depan rumah sakit saat itu.            "Lun," panggilnya. Sangat kaget melihatku bergandengan, bahkan aku benar-benar memeluk lengan Mahesa. Posisi kami sangat dekat sekali. Aku merasa seperti perempuan murahan tapi ya bodo amatlah. Udah lagi urgent, mana keburu harus dibatalin, kan.            "Ah... Bagas, kenalin ini pacar aku. Mahesa Singgih Swasono." Mahesa mengulurkan tangannya ke Bagas. Pria yang tubuhnya lebih sedikit tinggi dari Mahesa dengan rambutnya bergaya pompadour yang bentuk rambutnya disisir dibuat berjambul sedikit tinggi di bagian depan.            "Bagaskara Pratama." Keduanya melepaskan tangan masing-masing. Aku tersenyum kaku saat mata kami bertemu pandang. "Dia pacar kamu?" tanyanya datar. Aku berdeham. Mengangguk berkali. Mengiyakan sebagai bentuk jawaban dari pertanyaannya. "Mamah kamu bilang katanya kamu nggak punya pacar?" Oke, mamah. Mereka sudah dekat jadi ya aku yakin dia pasti banyak bertanya. Dan mamah menjawab yang menurut dia benar. Yang menurut dia jawabannya dapat membuat Bagas bisa lebih dekat lagi kepadaku. Itulah trik mamah.            "Iya, mamah sebenarnya nggak tau kalo aku udah punya pacar. Soalnya aku emang... ng---nggak pernah ngenalin cowok ke mamah. Iya, kan, sayang?" Ku tenggol lengan Mahesa dengan bahuku.            "Iya.." dia melirikku. Ku beri ia tatapan tajam dengan senyum selebar mungkin. Artinya, aku ingin Mahesa bisa berkata lebih panjang lagi. Kalau iya saja ya Bagas tidak akan percaya dengan drama yang sedang ku karang ini. "Saya belum sempet dateng ke rumahnya karna ya saya, kan, dokter spesialis jantung, jadi suka gak ketemu waktu yang pas," terangnya. Wah pintar juga Mahesa berakting. Kenapa nggak jadi aktor saja ini anak daripada jadi dokter. Aktor secara bisa lebih tebar-tebar pesona.            "Oh.." dia ber'o' ria. Ekspresi datarnya, dan arti tatapan matanya yang menunjukkan ketidaksukaannya. Jelas dia terbakar api cemburu.            "Emangnya kalian udah berapa lama pacaran?" tanya Bagas dengan kedua tangan dilipat di depan d**a. Mimik wajahnya seolah lagi mengetes kita berdua. Apakah kita bersandiwara atau tidak? Duh, banyak tanya banget, sih, ini orang. Batinku mengomel. Segininya, loh. Iya, jelas aku gak suka. Kelihatan dia itu tipe orang yang protektif dan bakal gampang curigaan.            "Ah, udah lama, sih, ya..." Aku tuh bingung. Aku jujur gak pandai boong.            "Dua tahun," jawab Mahesa cepat. Aku langsung mengangguk dengan memasang senyum lebar. Semakin aku mengeratkan pelukanku kepada lengannya. "Jadi... gini kita itu sahabat-an tadinya. Kita sama-sama teman SMA dan deket. Yah, friendzone, lah, ya, dulunya kita, kan, ya, sayang." Haha! Geli aku denger dia manggil aku sayang.            "Apa!!!" Suara wanita-wanita menginterupsi kami, kita menoleh ke belakang. Ada tiga perawat yang sepertinya mau keluar dari rumah sakit. Entah tujuannya apa, tapi aku punya firasat tidak enak setelah ini. Aku refleks menjaga jarak dari Mahesa sedikit. Tidak lagi semesra tadi.             "Dokter Mahesa pacaran sama dokter Luna selama dua tahun?" tanya mereka bertiga serempak. "Tapi bukannya dokter Mahesa itu nggak punya pacar, ya?" Salah satu dari mereka bertanya.             "Iya! Dokter Luna juga, kan, cuma sekedar sahabat-an. Kok sekarang jadi pacar? Katanya dokter Luna nggak suka sama dokter Mahesa. Dokter Luna mau nikung kita yang perempuan-perempuan ini yang suka banget sama dokter Mahesa," sahut perawat yang tubuhnya agak besar dengan hijab yang ia kenakan. Dia langsung menuduhku yang nggak-nggak saja. Ah! Mereka merusak rencanaku. Mulut cewek kenapa kebanyakan susah banget, sih, diremnya!?             "Parah banget, sih, Dok. Bilangnya nggak suka tapi di belakang taunya demen. Tajem banget main nikungnya," tambah satu temannya lagi.             "Ah, udah, yuk. Kita pergi aja." Perawat yang berdiri di tengah pun menarik kedua temannya untuk pergi dari hadapan kami. Sekarang aku dimusuhi sama mereka dan aku yakin pastinya akan bertambah banyak lagi pekerja di rumah sakit yang bergender perempuan ini memusuhiku setelah tahu kenyataan yang sebenarnya kebohongan yang kita rangkai.           Sekarang matilah aku. "Luna... Luna... segitunya kamu bohongin aku." Dia mendekat. Sedikit merendahkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajahku. "Nggak pandai bohong jangan belajar bohong. Mau seberapa jauh kamu menghindar dari aku, aku gak bakalan menyerah, ya, sayang." Uh! Aku gak suka dia manggil-manggil aku sayang kayak tadi. Bagas sebelum pergi memandang sinis ke arah Mahesa yang Mahesa sendiri bersikap biasa saja dan tenang. Dia masih terlihat cool. "Akting Lo tadi bagus bro," kekehnya lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sini. Memalukan!!! Memalukan banget! Aku menggelengkan kepalaku jika harus mengingat kejadian tempo lalu. Karena itulah, aku tidak mau pulang sama Bagas. Selain aku tidak menyukai diri lelaki itu, aku juga tidak menyukai ia yang pastinya membahas masalah waktu itu dan menyeret nama Mahesa, sahabatku ini.            "Jadi, gimana? Tawaran yang Lo tadi masih berlaku, kan? Gue mau ke rumah Lo aja, Sa." Aku udah mohon-mohon dengan kedua tanganku yang menyatu. Harusnya, sih, nggak segitunya tapi aku udah kayak putus asa aja gitu. Soalnya kalo udah soal Bagas, Mahesa pasti bakal sensitif gitu. Mengingat ya waktu itu aku udah membuat dia malu di hadapan Bagas karena rencana kita gagal dan ketahuan kalau kita berbohong.            Dia menghela napas gusar. "Terserah Lo aja enaknya gimana," balasnya pun pergi setelahnya menuju ke ruangannya. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD