51. Menjadi Seseorang yang Lain [Bag. 21]

1837 Words
Namun, walau bagaimanapun aku melihat dan mendengar apa yang orang lain katakan tentang pendapatnya mengenai perempuan yang cantik itu seperti apa. Informasi-informasi yang aku dengar seperti nasihat-nasihat dan hati aku yang memang menilai begini, loh, perempuan yang cantik itu tapi ketika logika aku mengatakan hal yang berbeda, aku lebih memiliki mengikuti apa yang logika aku katakan. Sama hal nya dalam realita yang ada di standar masyarakat yang membuat aku stress dan aku ingin menjadi sama hal nya seperti yang lain tapi dengan segala keterbatasan yang aku miliki, kadang aku masih dengan rasa mengeluh ku.          "Gimana? Jadi, kapan bisa nya?" Gama masih terus menanyakan keinginannya ingin bertemu dengan aku. Aku gak tau kenapa Gama ngebet banget kayaknya mau bertemu sama aku sedangkan aku sendiri sama sekali belum siap. Aku masih dengan pikiran ku yang berkelana akibat rasa takut aku. Bagaimana jika Gama tahu ternyata orang yang chat-an sama dia selama ini adalah aku?          "Luna." Aku buru-buru memasukkan kembali hp aku ke kolong laci. Mahesa datang ke tempat kursi nya Kia. Aku seperti biasa selalu sendiri. Aku sudah tidak mau ikut ngumpul dengan yang lain karena aku sudah merasa lelah. Aku tahu kalau nyatanya mereka itu memanfaatkan diri ku. Karena aku yang memang terlalu baik, kalau kata Mahesa. Tapi, bukan hanya itu saja. Maksud ku, kadang aku gak bisa mengikuti gaya hidup mereka yang kelas-kelas tinggi. Jadi, bergaul sama mereka malah membuat aku merasa kesulitan dan tambah insecure. Lebih baik aku sendiri tapi kadang aku ditemani oleh Susi dan Dita.          "Kenapa?" tanya aku saat Mahesa duduk di sebelah aku. "Gue mau nanya sesuatu sama Lo," lanjut ia begitu sangat serius. Aku udah deg-degan lagi karena dia. Mahesa kan teman dekat Gama. Apa mereka ada membicarakan sesuatu hal? Eh, kenapa aku udah mulai ke-geer-an duluan? Gak... Gak... Mikirin apaan, sih, Lun? Lo ini suka terlalu berlebihan deh kalo punya pikiran. Dalem banget mikir nya. Batin ku meracau.          "Muka Lo kok tegang gitu, sih?" komentar Mahesa begitu mengamati wajah ku. Aku langsung mengerjapkan mata. Aku alihkan kepalaku ke arah lain karena sangking malu diperhatikan sama Mahesa. Aku juga baru sadar kalau aku belum menanggapi perkataan nya tadi. Cuma, aku tadi merasa gak nyaman kalau Mahesa memperhatikan aku itu begitu intens.          "Gak, ah. Udah, Lo emang nya mau nanya apa?" tanya ku lebih santai.          "Tapi, Lo mesti jujur sama gue," ucap nya lagi.          "Iya, bawel. Tinggal ngomong aja. Apa emang nya?" desak ku karena aku udah kepo banget soalnya.          "Gue mau nanya, Lo pernah gak, sih, ada rasa suka sama orang Lun?"          Pertanyaannya buat aku jelas kaget dan bingung.          "Kenapa nanya gitu?" tanyaku balik kepada nya.          Mahesa cuma mengangkat kedua bahunya.          "Sekedar nanya aja. Soalnya gue perhatiin Lo orang nya kek cuek gitu sama cowok."          "Biasa aja," balas ku datar.          "Ya elah, Lo ini... Masalahnya gue nanya gini karena ada yang nitip salam ke gue buat Lo." Aku menaikkan satu alisku.          "Ngotak Lo ya?" tuduh ku karena aku rasa itu tidak mungkin terjadi.          "Serius, nggak!"          "Siapa emang?"          "Kakak kelas. Ardiansyah. Gak tau, kan, Lo?"          "Gak. Gak mau tau juga."          "Lo ada naksir sama orang lain, ya?"          "Apaan, sih!!!!" cetusku padanya. "Nanya-nanya cowok terus. Gue gak ngebet banget punya pacar kek Lo. Yang gak bisa sama sekali ngejomlo lama-lama."          "Dih, iyalah. Ngapain lama-lama ngejomlo. Emangnya Lo."          "Hih! Apa? Apa?"          "Tapi gue saranin... Mending Lo kalo suka jangan sama anak sekolahan ini, deh. Kalo bisa anak sekolahan Laen gitu," nasihat nya.          "Lah, emangnya kenapa? Lo aja naksir anak sini?"          "Ya, gue... Cuman, kan, kalo Lo....,"          "Udah, ah, Sa. Bahas apa, sih, gak penting banget," selaku langsung menyudahi obrolan yang gak penting ini. Tiba-tiba hp aku berdenting dan memunculkan notifikasi dari Gama lagi. Aku melirik Mahesa yang masih memperhatikan diriku.          "Apa lagi? Kan, udah selesai."        Mahesa cuma menghela napas karena aku kembali sibuk memainkan hp ku saja. Gama menanyakan kembali soal rencana ketemuan tersebut. "Gimana kalo hari ini? Jam dan tempat gue yang nentuin." Aku pun terdiam. Mahesa sudah pergi dari tempat ku. Lalu, aku pun mematung di tempat ku. Jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya?        Aku mendesis pelan. Menarik napas dalam-dalam. Sudahlah. Aku tidak mau banyak beralasan. Aku lebih baik berpikir positif saja semoga semuanya akan baik-baik saja. Aku pun cepat-cepat membalas pesan Gama. Kemudian aku harus bersiap diri dengan apa yang terjadi selanjutnya. * * * * "Gama," panggil ku. Gama yang sudah seperti menunggu ku akhirnya menolehkan kepala nya ke belakang. Ekspresinya tak memperlihatkan jika ia benar-benar kaget melihat ku tapi ia mengamati ku dari atas dan ke bawah. Aku maju dengan perasaan malu yang tak bisa aku tutup-tutupi lagi. Namun, aku tak membuat senyuman aku hilang meskipun senyum ku ini tidak lah manis. Gama kemudian berdiri saat aku melangkah mendekatinya. "Luna?" Dia nampak heran dengan melihat keberadaan aku di sini. Aku membasahi bibir bawah ku yang mendadak terasa kering ini. "Iyaa... Itu gue Ma," kataku setelah aku mendorong rasa berani pada diriku untuk mengatakan nya pada Gama. Gama kemudian mengecek ponsel nya. Aku tidak tahu apa yang sedang ia cek. Aku hanya menunggu saja. Lalu, Gama baru mendongak kan kepalanya dan tersenyum pada ku. "Ayo, duduk," ajak ia. Aku pun mengangguk saja. Kemudian aku duduk di hadapan nya.  "Ini Lo?" tanya ia menunjukkan layar hp nya padaku dan terdapat foto ku di situ. Aku dengan perasaan yang luar biasa malu nya mengatakan, "iya..." Aku menunduk sejenak. "Beda, ya?" seru ku kemudian. Aku menatap ia dengan perlahan-lahan. Tidak ada yang tahu tentang foto ku selain Gama karena memang aku mengirimkan nomor wa ku yang lain pada Gama dan wa tersebut khusus hanya Gama yang menyimpan nomor ku tersebut agar memang tidak ada teman-teman ku yang mengomentari foto ku dan aku harapnya mereka tidak ada yang tahu sama sekali soal foto editan ku. "Iyaa, beda," jawab ia tapi terkesan biasa saja. "Luna Liniara," lanjutnya lagi. Tubuh ku menegang dan rasa degupan jantungnya kian cepat. "Kenapa gak bilang secara jujur kalo Lo itu Luna?" tanya ia. Aku kini tak lagi berani untuk memandang wajah nya yang selama ini selalu diam-diam aku perhatikan. Aku menggigiti bibir bawah ku. Menatap sendu Gama dan aku merasa nelangsa sekali jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepadanya. Tapi mau gak mau, aku gak bisa jika harus membuat Gama menunggu jawabanku. "Iya... Jujur itu emang foto gue tapi emang beda karena gue edit." "Iya, gue tau. Tapi Lo gak bilang kalo Lo itu Luna tapi Lo Liniara yang dipanggil dengan sebutan Ara." "Tapi..., Liniara itu tetep bagian dari nama gue," elak ku. Aku jujur aku tidak mau terlihat sebagai pembohong di sini. Iya, anggap lah memang aku mencari-cari kebenaran tapi aku gak mau terlihat sebagai pembohong dan lagian memang benar Liniara adalah bagian dari nama belakang ku dan hanya foto saja yang berbeda dari secara real facenya. Lagian emang aku gak foto secara full body hanya wajah saja dan sampai setengah d**a. "Oke... Tapi Lo gak bilang secara gamblang kalo Lo itu Luna, benar, kan, gue?" Gama seakan-akan memang masih terus mengintrogasi diriku. Seakan-akan memang aku harus mengakui sebuah kesalahan. "Jujur, gue gak berpikiran kalo di dalam foto ini itu Lo. Orang seakan sulit mengenalinya." "Apa Lo merasa tertipu soal foto itu dan dengan pemilik foto aslinya?" tanyaku. Aku mau tahu apakah memang rasa nyaman ia hilang hanya gara-gara tahu jika memang kenyataannya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Gama semula wajahnya terlihat marah dan masih terus menyudutkan diriku tapi ketika aku menanyakan hal tadi, ia menatap ku lama. Tatapannya berubah menjadi sendu. Lama-lama ia menyunggingkan senyuman ramahnya padaku. "Gak ada cewek lain yang bisa buat gue mau ngobrol banyak sampai berjam-jam Lun," kata ia. Itu kata DIA! Pernyataan dia jelas buat aku tak bisa berkata-kata. Rasa ketakutan aku kini berubah sirna. Aku senang sekali mendengar hal tersebut. Itu artinya secara komunikasi kami sama-sama merasa nyambung. "Tapi... Gue heran, kenapa Lo gak bilang langsung kalo Lo itu Luna? Gue... Gue jujur gak sempat kepikiran kalo selama ini gue chatan sama Lo." Aku menarik napas dalam-dalam. "Gimana ya... Malu aja gitu loh, Gama. Setelah kejadian sewaktu gue gagal di cheerleader dan gue di bully habis-habisan. Buat mau ngobrol sama Lo itu gue merasa sangat malu," ungkap ku. Dan selalu begitu, aku gak punya keberanian. Bahkan saat sebelum memang insiden yang sangat memalukan itu terjadi pun aku masih sangat malu untuk mengobrol dengan Gama. "Bisa gue bilang Lo menyembunyikan identitas Lo sendiri Lun, memang ini fotonya foto Lo tapi Lo mengeditnya sedemikian rupa hingga berbeda dengan aslinya dan Lo memakai nama belakang Lo yang gue sendiri gak tau kalo Liniara adalah nama belakang Lo. Pun Lo gak jujur sama gue. Dalam artian Lo memang tujuannya ingin menjadi orang lain, kan? Dan Lo tidak menunjukkan diri Lo yang sebenarnya. Gak menjadi diri Lo sendiri," papar Gama sedetail itu ia membaca yang memang sudah jelas semua orang juga bakal berpikiran seperti itu tapi aku tidak bisa menampik apa-apa yang Gama katakan karena semuanya memang, "iya, benar." Hanya itu yang dapat aku jawab dengan keberanian yang memumpuni ada di dalam diri ku. "Apa setelah Lo tau kalo Liniara itu gue, Lo gak mau lagi deket sama gue?" tanya aku. Cukup penuh dengan rasa menyemangati diri sendiri kalau semuanya bakalan berakhir baik-baik saja meskipun aku tidak tahu ke depannya seperti apa. "Deket gimana?" "Lo udah merasa nyaman, kan, katanya sama gue kemaren?" tanyaku balik. Mengungkit apa yang ia katakan. "Iya, memang. Gue merasa nyaman sama Lo," kata nya. Namun karena aku mendengar perkataan ia barusan. Di luar dugaan aku mengatakan hal ini kepada Gama. "Sebenarnya... Gue ada rasa sama Lo Gama." Aku spontan aja mengatakan hal tersebut entah ada dari mana pemikiran seperti itu hingga aku mau menyatakan perasaan aku tapi aku tidak meminta ia untuk menjadi pacar ku karena lagi-lagi seperti hal biasanya, aku terbayang-bayang akan ucapan mamah dan sikap overprotektif nya kedua orang tua ku. Gama reaksinya hanya tersenyum tapi aku tidak tahu senyuman dia dapat aku artikan dia memang tulus atau tidak? "Baiklah, kita dekat dulu aja. Saling tau karakter masing-masing dulu, gimana?" tanya ia. Wah, aku mendapatkan respons yang sungguh di luar dugaan ku. Baik sekali nyatanya ia. Tentu aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata ku ini. "Tentu," jawab ku ceria. Akhirnya aku sama Gama lebih banyak ngobrol berdua di sini sampai menjelang sore aku baru pulang dan segera bebersih. Untungnya mamah tidak ada di rumah dan aku bebas dari omelan beliau. Di dalam kamar, aku yang seharusnya belajar untuk besok ada ulangan harian jadi tidak fokus karena memikirkan perkataan manis Gama. Masih terekam jelas di kepala ku bagaimana ia mengiyakan semua ini. Aku menganggap nya adalah sebuah proses yang bakalan berakhir dengan baik-baik saja. Aku berharapnya begitu dan yah, karena memikirkan Gama terus, aku yang seharusnya membaca buku cetak yang ada di ranjang tidur ku tapi aku malah terfokuskan pada chatan aku dengan Gama sejak pertama kami ngobrol. Aku terus menghayal yang tidak-tidak tentang Gama. Seolah kita tengah menghabiskan waktu berpacaran seperti orang-orang. Aku tidak pernah untuk berhenti tersenyum karena perasaan ini sungguh sangat menggelitik diri ku. Lucu sekali. Manis sekali. Aku gak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Kenapa jatuh cinta terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD